Surat ini dinamakan surah al-Baqarah karena di dalamnya menceritakan tentang penyembelihan sapi betina yang di bebankan kepada umat Yahudi sebagai penghilang penghormatan mereka terhadap sapi, dimana sebelumnya mereka biasa menjadikan sapi betina sebagai sembahan.
Terkait penamaan surah al-Baqarah Ahmad Saiful Islam Hasan al-Banna di dalam kitab tafsirnya Hasan al-Banna, menjelaskan bahwa hikmah penamaan surah al-Baqarah dalam artian sapi betina memberikan simbol penghancuran keyakinan dalam jiwa manusia yang mensakralisasikan sapi dan penyembahannya selain Allah. Saat itu Bani Israil yang mengikuti tradisi orang-orang Mesir menjadikan sapi sebagai hewan yang paling sering dijadikan obyek ibadah dan pengkultusan. Keyakinan semacam ini harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.
Nama lain dari surah al-Baqarah adalah al-sinam yang berarti puncak, karena tiada lagi puncak petunjuk setelah kitab suci ini, dan tiada puncak setelah kepercayaan kepada Allah yang Maha Esa dan keniscayaan hari Kiamat. Selain al-Sinam, al- Baqarah juga di namai al-*Zahra*; yakni terang benderang, karena kandungan surah ini menerangi jalan dengan benderang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menjadi penyebab bersinar terangnya wajah siapa yang mengikuti petunjuk-petunjuk surah ini.
Surah al-Baqarah sebagai surah awal dalam mushaf al-Qur’an, mempunyai makna untuk :
-
Menerangkan tentang akidah, sifat-sifat orang Kafir dan Munafik juga orang-orang beriman sebagai peringatan dan penguat keimanan.
-
Menerangkan tentang penciptaan Adam dan juga kisah-kisah beberapa para nabi supaya masyarakat muslim mengetahui dari mana kehidupan manusia berawal dan hakikat tujuan dari kehidupan manusia di Dunia.
-
Menerangkan tentang syariat islam baik itu ibadah, seperti shalat, puasa, haji, juga masalah muamalah.
Dari tema di atas, memberikan pengertian bahwa fungsi utama dari surah al-Baqarah adalah merupakan syariat awal yang diturunkan untuk mengatur kehidupan baru umat Islam dan juga pembentukan awal masyarakat islam di Madinah.
Referensi :
- Abu Nizhan, Mutiara Shahih Asbabun Nuzul (Komplikasi Kitab-Kitab Asbabun Nuzul), (Cet, I; Bandung: PT Grafindo Media Pratama, 2011)
- Sayyid Qutub, Tafsir fi Zilal al-Qur’an di Bawah Naungan al-Qur’an , terj. oleh As’ad Yasin dkk, (Jilid. I; Jakarta: Gema Insani, 2000)
- Ahmad Saiful Islam Hasan al-Banna, Tafsir Hasan al-Banna, (Cet, I; Jakarta Timur: Suara Agung, 2010 )
- Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Edisi Baru, (Vol. I; Cet.III; Jakarta : Lentera Hati, 2010).