Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Siapa saja tokoh seni lukis aliran surealisme ?

Banyaknya seniman seni lukis yang terkenal di seluruh dunia, beriringan dengan itu para tokoh tersebut tanpa disadari memiliki gaya dan ciri khas berbeda-beda, dalam artian para seniman lukis memiliki aliranya masing-masing salah satunya aliran realisme. Lalu, siapa saja tokoh seni lukis aliran surealisme ?

18

Tokoh – Tokoh Seni Lukis Aliran Surealisme

  • Salvador Daliseni

Lukisan The Persistence of Memory 1931 merupakan gambaran ruang dalaman dan ruang ilusi. Menggambarkan alam semula jadi yang terdapat di dalam latar belakangnya. Menggunakan gabungan warna sejuk dan warna panas yang menunjukkan perbedaan ruang. Imaje jam yang lembut dan hampir cair mewakili massa dan juga pengalaman lampaunya.

  • Rene Magritte

Lukisan The Lovers 1928 Imej sepasang kekasih yang mukanya bertutup menunjukkan bahwa cinta itu buta. Magritte menjelaskan di dalam lukisan ini mengenai misteri dan persepahaman antara kekasih yang tidak diketahui.

Tokoh Surealisme di Indonesia

Di indonesia , aliran surealisme ini diusung oleh beberapa pelukis terkenal salah seorang yang dikenal kalangan seniman karena karya-karyanya yang khas adalah Soedibio, beliau di sebut sebagai bapak surealis di indonesia karena keunikan karyanya.

  • Soedibio

Lahir di Madiun, Jawa Timur, 17 Juni 1912. Belajar melukis dilakoninya secara otodidak. Semasa hidup aktif di berbagai organisasi kesenian, diantaranya pada tahun 1940 bergabung menjadi anggota PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) di Jakarta, lalu pada tahun 1946 ikut mendirikan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1967 menjadi anggota Sanggar Puring di Surabaya, Jawa Timur, serta pada tahun 1970 menjadi anggota Himpunan Budaya Surakarta (HBS) di Solo, Jawa Tengah. Pernah bekerja bersama Trisno Sumarjo di Jawatan Kereta Api (1942) di kota asalnya, Madiun, Jawa Timur. Pada jamannya, ia di kenal sebagai satu-satunya pelukis potret, yang sanggup membuat potret orang tanpa model. Lukisan tentang pengalamannya di tahanan Belanda di Yogyakarta pada tahun 1949 adalah salah satu bukti kemahirannya tersebut.

Selain melukis potret orang, ia juga mahir melukis pemandangan alam. Rumah-rumah orang di desa dan pohon nyiur berkipas-kipas daun bersatu dalam satu ayunan tenang dengan galengan-galengan sawah di sekitarnya, di gambarkan secara tepat olehnya. Keunikan lain yang dimilikinya yang membedakan dirinya dengan pelukis lain adalah, ia selalu membuat perubahan pada gaya lukisannya yang berubah dengan drastis sesuai kisah hidupnya. Lukisannya pada zaman revolusi bernuansa kelam dan menunjukkan kekerasan. Kemudian setelah sempat menghilang selama 15 tahun dari dunia seni rupa karena persoalan pribadi, ia akhirnya kembali lagi, namun dengan gaya lukisan yang lebih lembut.