Lee Man-Fong
https://www.christies.com/img/LotImages/2013/HGK/2013_HGK_03255_0041_000(lee_man_fong).jpg
Pelukis istana yang saya ketahui selain yang telah disebutkan di atas adalah Lee Mang-Fong.
Pada tahun 1946, Bung Karno mulai mendengar nama Lee Man-fong, ketika pelukis ini melakukan pameran tunggal di Jakarta. Bahkan, Bung Karno selintas tahu bahwa Man-fong akhirnya memperoleh beasiswa Malino dari petinggi Belanda, Van Mook. Di Eropa, Man-fong memperoleh sukses lewat berbagai pameran. Kembali ke Indonesia sebentar, dan lantas berangkat lagi untuk bikin pergelaran, dari Den Haag sampai Paris.
Tahun 1952,Lee Man-fong kebali hidup di Jakarta. Bung Karno semakin terpikat kepadanya. Lalu, bersama Dullah ia mengunjungi pelukis ini di rumahnya di Jalan Gedong, Jakarta. Spirit Man-fong semakin terpicu. Seni lukis bagi Man-fong tak lagi cuma alat ekspresi individual, namun juga sebagai perabot yang membantu sebuah pengabdian. Lantaran itulah pada tahun 1955 ia lalu mendirikan perkumpulan Yin Hua. Organisasi ini mengumpulkan para pelukis Tionghoa. Yin Hua, yang bermarkas di Lokasari, Jakarta Kota, sering mengadakan pameran. Dan Bung Karno tidak lupa mengunjungi. Bahkan, ketika seni lukis Yin Hua bertandang ke Tiongkok tahun 1956, dan Man-fong bertindak sebagai ketua delegasi, Bung Karno dengan salut merestui.
Hubungan Bung Karno dan Man-fong terjalin baik. Lukisan Man-fong yang perfek, manis, teknis, estetik dan justru terbebas dari paradigma gelora perjuangan, sangat selaras dengan jiwa seni Bung Karno. Karya-karya Man-fong dipandangnya sebagai ventilasi dari kesibukan revolusi. "A thing of beauty is a joy forever", adalah ucapan yang sering keluar dari bibir Bung Karno saat ini. Setelah itu, akhirnya usulan Dullah agar Man-fong menggantikannya jadi pelukis Istana, diterima oleh Soekarno dengan sukacita.