Menurut Sachari (2004), Gambar Ekspresif adalah gambar yang dibuat secara bebas berdasar pada imajinasi, persepsi, dan penafsiran penggambar kepada objeknya. Sobandi (2008) berpendapat bahwa gambar ekspresi berarti gambar ungkapan perasaan.
Ekspresif merupakan salah satu sifat dalam aliran seni lukis ekspresionisme. Yang mempunyai arti yaitu aliran dalam seni lukis yang selalu mengutamakan perasaan si pembuat karya seninya (Luthfansa, 2008).
Menurut Nugraha dan Suhernawan (2010) dalam menggambar ekspresif pada dasarnya sama dengan teknik menggambar lain. Perbedaannya terletak pada cara menangkap objek dan cara mengolahnya yang lebih bebas dalam aturan dan kaidah menggambar.
Menggambar ekspresif adalah sebagai berikut:
1) Menekankan spontanitas, maksudnya adalah pelukis harus bisa menangkap suasana secara spontan dengan cara membuat garis besarnya, kemudian secara bertahap diselesaikan atau disempurnakan.
2) Berekspresi dengan warna dan garis secara bebas tanpa harus sesuai dengan warna dan bentuk benda aslinya.
3) Menuangkan emosi sesuai dengan keadaan hati. Emosi bisa dikendalikan jika sering membuat gambar ekspresi.
4) Merekam suasana, artinya setiap kejadian yang telah di lihat atau ketika berkhayal dapat dituangkan ke dalam gambar secara ekspresif sehingga perwujudan gambar menjadi lebih dinamis dan tidak monoton atau dilebih-lebihkan.
Menggambar ekspresif juga memerlukan adanya kualitas dari garis. Seperti yang dijelaskan oleh Ching (2002) bahwa karakteristik sebuah garis yang ditarik juga memiliki daya sugestif. Daya tersebut dapat membuat sebuah gambar mempunyai kemampuan yang unik untuk mengekspresikan kualitas tertentu tanpa mempunyai kemiripan yang sebenarnya terhadap subyek yang digambarkannya.
Kegunaan pokok dari menggambar ekspresif adalah sebagai media mengekspresikan diri. Dengan mengekspresikan diri, akan tumbuh kepekaan rasa, meningkatkan daya imajinasi, dan mampu mengkomunikasikan gagasan. Kegunaan lain seperti pelengkap sebuah cerita, merekam sebuah kejadian, mengkritisi atau menyindir keadaan sosial, bahkan sebagai sarana untuk berkomunikasi.
Dalam teknik ini terdapat asas menggambar ekspresif, yang meliputi:
1) Komposisi gambar ekspresif ialah cara mengatur atau mengorganisasikan unsur-unsur gambar sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan gambar tersebut terlihat harmonis. Seperti yang dijelaskan oleh Nugraha dan Suhernawan (2010) bahwa komposisi merupakan suatu cara menyusun unsur-unsur yang akan memberikan bentuk pada sebuah karya seni seperti garis, warna, bidang, ruang, tekstur dan gelap terang. Dengan adanya komposisi sebuah karya seni akan terlihat harmonis.
2) Keseimbangan gambar ekspresif ialah cara mengatur objek gambar secara serasi dalam bidang gambar, sehingga objek gambar utama terlihat jelas. Keseimbangan terdiri dari keseimbangan simetris dan asimetris. Keseimbangan merupakan prinsip desain yang berkaitan dengan pengaturan bobot akibat gaya berat dan letak kedudukan bagian-bagian, sehingga susunan dalam keadaan seimbang (Sunaryo, 2002).
3) Proporsi gambar ekspresif ialah asas kesebandingan atau kepatutan bentuk, kewajaran visual yang dapat diterima oleh logika.
4) Dinamika dan irama gambar ekspresif ialah kesan bergerak sebuah garis, warna, atau bentuk baik secara berulang maupun dinamis sehingga secara keseluruhan tidak monoton.
Contoh-contoh gambar ekspresif adalah sebagai berikut











