Makna lukisan "Mbiodo" karya Andry Firmansyah
Beberapa pernikahan di lingkungan saya yang tergolong masyarakat penganut budaya Jawa, sebagai wujud tenggangrasa, dan perwujutan atas rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama orang Jawa, persiapan suatu pernikahan pasti akan dilakukan secara maksimal. Dalam persiapan ini, terbagi dua kelompok yakni kelompok laki-laki (nyinoman) dan perempuan (mbiodo)dimana semua kerabat, teman dan tetangga ikut berbaur jadi satu untuk mempersiapkan pernikahan secara sukarela.
Seorang mbiodo yang didominasi oleh kaum hawa ini, justru lebih bekerja ekstra keras 1 minggu sebelum pernikahan, sampai hari pernikahan tersebut di gelar. Kelompok mbiodo ini, oleh sang tuan rumah diberikan otoritas penuh terhadap segala urusan yang berhubungan dengan dapur dan makanan. Keberadaan seorang mbiodo dahulu sangat dibutuhkan dan justru menjadi sesuatu yang sangat vital no dua, setelah adanya penghulu dalam sebuah pernikahan. Dalam kelompok Mbiodo terdapat berbagai macam divisi, yang menangani berbagai urusan dapur. hal ini dimaksudkan agar makanan yang disuguhkan tidak telat, dan akan selalu ada. Seorang mbiodo dalam mengerjakan pekerjaanya, selalu di bubuhi oleh percakapan khas ibu-ibu seperti ngossip untuk mencairkan suasana di dapur. dan sebagai sarana hiburan bagi mereka. Selain itu solidaritas para Mbiodo ini sangat terlihat jelas, bahkan pada para wanita yang baru dikenalnya.