Indie folk itu sendiri sih Independent dan Folk kan. Folk menurut definisi musik yang bernuansa budaya dan kultur tergantung dari negara mana (menurut saya) Folk juga sebenarnya pernah sangat booming di tahun 50-60an. Kita semua tahu siapa itu Bob Dylan, Dan setelahnya banyak berkembang seperti Folk Rock, Folk Punk. Mungkin kalau untuk membahas folk di era dahulu, kanal soundcloud Smithsonian Folkways merupakan jawabannya. Wow, sangat luas dan berkembang. Kalau bahas era dahulu, tidak ada habisnya. Tapi idola saya ya... Pete Seeger.
Di Indonesia. Oke saya bahas era dahulu dulu. Ebiet G. Ade. Seorang bapak musisi yang sebenernya musiknya sangat bernuansa Folk.Oia! Saya Lupa! IWAN FALS! oke semua sudah jelas Folk sendiri di Indonesia seperti apa di jaman dahulu. Dan bapak-bapaknya juga sudah jelas siapa saja. Tapi pertanyaan dari awal masih belum bisa terjawab. Menurut saya berbicara sejarah tidak dapat menghasilkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Sebenernya di kancah internasional Folk juga sedang melonjak. Saya harus membahas musik internasional kenapa, karena musik di Indonesia juga pastinya terpengaruh dari musik di dunia luar sana yang sangat beragam. Di kancah internasional sendiri sangat banyak band Indie Folk yang berpengaruh pada dunia musik indie di dunia. Mumford and Sons, Bon Iver, Fleet Foxes, First Aid Kit, Novo Amor, dan yang sedang di gandrungi anak muda jaman sekarang, Daughter. Sangat banyak, tidak bisa disebutkan satu-satu. Apa ini jawabannya? Bisa jadi.
Suatu budaya dan kultur akan terus berputar, layaknya rambut anak muda jaman sekarang yang Rockabilly, yang kembali lagi ke rambut era 50an. Mungkin begitupula musik. Selalu ada perputaran, namun yang dipertanyakan kenapa di Indonesia Indie Folk ini sangat membludak. Pernyataan tersebut merupakan teori dari sosiologi sendiri yang saya lupa nama teorinya,
Oke. 2009. Saya mendengar band asal Bekasi, The Trees and The Wild (TTATW) dan saya berkata Wow. Sakit. Apa lahirnya TTATW merupakan jawabannya? belum tentu. Saya melanjutkan ke Dialog Dini Hari, Nosstress, dan Float yang melegenda, Sejak itu saya merasa "wah sekarang jamannya folk". Oke saya lanjutkan eksplorasi dengan Indie Folk di Indonesia. 2013. Saya kaget. Stars and Rabbit, Payung Teduh, Tigapagi, Banda Neira, Deugalih and Folk, Angsa dan Serigala, Rusamilitan dan masih sangat banyak lagi yang lahir. wow wow wow wow. Sekarang? Rintik Hujan, Asteriska, MarcoMarche, Silampukau, Matajiwa, Tetangga Pak Gesang, dan yang saya belum tahu Wow wow wow wow. Saya bingung dan hampir tidak sempat mengikuti apalagi beli CDnya karena keterbatasan ekonomi sehingga saya harus serius memilih saat membeli CD.
Hipotesis pertama saya sebenarnya, mungkin telinga anak muda di Indonesia butuh musik yang santai, ringan, tidak gladakgluduk. Oke saya tanya kepada teman-teman saya yang juga mencintai musik folk mereka menjawab ya. Hipotesis saya benar. Tapi apa fenomena ini karena hanya sebatas itu saja? tidak. Hipotesis kedua saya, mungkin band jaman sekarang ingin membuat konsep yang lebih tenang dan simpel. Namun hipotesis ini saya patahkan sendiri, karena otak dan ide setiap manusia berbeda-beda. Dan musik folk juga tidak setenang dan sesimpel yang saya hipotesiskan, Derau dan Kesalahan dari TTATW bukan lah musik yang simpel.
Selain itu masih banyak faktor dari setiap band untuk membuat konsep nuansa folk. Namun dibalik semua fenomena ini, saya suka. Karena musik folk di Indonesia ini bisa dicampur adukkan sehingga bukan musik folk yang simpel. Folk di Indonesia sendiri termasuk folk yang berwarna menurut saya, didalamnya ada cinta, puitis, dan bahkan kritisi pada pemerintah. Oke saya belum bisa menyimpulkan ini semua dan belum bisa menjawab pertanyaan saya. Mungkin yang bisa saya jadikan kesimpulan, "Let Indonesian Band naturally growing up". Terimakasih.
http://zookeeperboy.blogspot.co.id/2015/11/indie-folk-membludak-di-indonesia-ada.html