Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa manusia menyukai musik?

Musik|690x350

Menurut Plato, seorang filsuf dan matematikawan Yunani mengatakan bahwa Musik merupakan hukum moral. Musik mempersembahkan jiwa kepada semesta, memberikan sayap pada pikiran, menerbangkan imajinasi, memberi pesona dan keriangan serta segalanya.

Musik dapat dikatakan sebagai sesuatu yang dibilang abstrak, namun memberi dampak yang lebih besar daripada bebunyi lainnya pada diri. Mengapa?

Valorie Salipoor, seorang ahli saraf di McGill University berkata, "Musik dapat mempengaruhi pusat emosi di dalam otak. Mendengarkan nada tunggal saja tidak akan menyenangkan namun jika nada-nada tersebut disatukan dalam pengaturan tertentu, maka ia akan memiliki kekuatan yang luar biasa."

Musik dapat memicu keluarnya dopamin

20

Alasannya adalah:
1. Otak manusia menyukai pola
Riset menunjukkan, ketika manusia mendengarkan musik, otak melepaskan dopamin yang membuatnya bahagia.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Neroscience, peneliti menemukan fakta bahwa pelepasan dopamin paling tinggi terjadi ketika suatu bagian musik mencapai puncak emosional.

Saat itu, pendengar musik merasakan “chills” atau rangsangan spesifik pada tulang belakang yang menimbulkan sensasi kegembiraan dan kekaguman.

Penelitian yang dipimpin oleh Zatorre tersebut berhasil menjelaskan alasan manusia menyukai musik.

Secara khusus, otak manusia melepaskan dopamin selama melakukan aktivitas yang esensial untuk bertahan hidup, seperti kegiatan seksual dan makan.

“Musik melibatkan sistem reaksi yang sama, meskipun itu tidak penting secara biologis untuk bertahan hidup,” ujar Zatorre.

Ada satu kemungkinan bahwa reaksi tersebut merupakan fungsi dari kecintaan manusia terhadap pola. Barangkali, manusia dikembangkan dengan kemampuan mengenali pola karena itu adalah keterampilan esensial untuk bertahan hidup.

Misalnya, manusia akan mengenali pola-pola bunyi yang menandakan apakah gemerisik pohon mengindikasikan adanya hewan berbahaya yang akan menyerang, atau apakah asap menandakan manusia harus lari karena api bisa saja segera datang.

Pada kenyataannya, musik adalah suatu pola. Karena itu, selama manusia mendengar, mereka secara konstan bisa memprediksi melodi, harmoni, dan ritme seperti apa yang akan hadir selanjutnya.

  1. Musik Buat otak Berpikir Tentang Sebuah Pembicaraan
    Ketika seseorang mendengar suatu bagian musik, ritme yang ia dengar mengalami suatu proses entrainment. Jika musik dipercepat, detak jantung dan pola napas pendengar juga akan dipercepat untuk mencocokkan irama.

Kemudian, gairah tersebut ditafsirkan oleh otak pendengar sebagai sebuah kegembiraan. Penelitian telah menemukan bahwa semakin menyenangkan suatu musik, semakin besar level entrainment-nya.

Hipotesis lain mengungkapkan bahwa musik berhubungan dengan wilayah otak yang bertugas untuk aktivitas berbicara dan menyampaikan seluruh emosi manusia.

“Masuk akal jika otak kita sangat baik dalam memilih emosi saat berbicara,” ungkap The French Institute of Science’s Aucoturier. Hal tersebut penting untuk memahami keadaan sekeliling kita, misalnya senang, sedih, marah, atau ketakutan.

Informasi semacam itu terdapat dalam nada bicara seseorang. Sebagai contoh, semakin tinggi suara seseorang menandakannya semakin senang.

Musik juga bisa dipandang sebagai sebuah pembicaraan dalam versi yang berlebihan. Hal itu dapat kita lihat dari persamaan musik dengan sebuah pembicaraan.

Misalnya, manusia bisa mengerti bahwa suara bernada tinggi dan cepat dalam sebuah pembicaraan berkonotasi dengan kegembiraan. Hal itu selaras dengan pilihan musik yang bernada tinggi dan cepat yang juga berkonotasi dengan hal yang sama.

“Semakin bahagia suara yang saya produksi, piano atau biola atau terompet bisa membuatnya 100 kali lebih bahagia,” pungkas Aucoutorier.

Menurutnya, hal itu karena instrumen tersebut bisa memproduksi range nada yang lebih luas dibandingkan dengan suara manusia.

Seseorang cenderung menyamakan emosi ketika mendengar suara orang lain. Karena itu, jika musik menirukan nuansa pembicaraan yang bahagia, maka pendengar juga akan merasa bahagia.