Walaupun lahir di lingkungan dalam Kraton, tapi acuan geraknya menggunakan gerak tari ledhek yang lahir di masyarakat biasa, hal ini terlihat jelas karena menggunakan kareografi golek dengan gendhing ladrang ayun-ayun. Bisa dikatakan bahwa tarian ini merupakan perpaduan antara budaya kraton dengan rakyat (diluar tembok kraton), yang didalam Kraton disesuaikan dengan pakem-pakem yang sudah ada di dalam Kraton sejak dulu, mulai dari gerak, busana, riasan sampai iramanya.
Unsur gerak Tari Golek Ayun-Ayun yang merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang mempunyai prinsip gerak yang pakem, gerakan itu harus sawiji (konsentrasi), greged (penuh semangat), sengguh ( percaya diri dan ora mengkuh (pantang menyerah). Untuk geraknya terbagi menjadi 3, dimana awalnya disebut dengan maju beksan yang diawali dengan gerakan menyembah, kemudian inti beksan yang berisi gambaran cara-cara seorang gadis sedang berhias agar terlihat cantik dan menarik seperti gerakan memakai bedak (tarikan), bercermin (ngilo), memakai hiasan sanggul (atrap cundhuk), memakai jamang (atrap jamang), memakai sabuk ( atrap slepe) dan pada bagian akhir atau mundur beksan, seperti gerakan berjalan (kapang-kapang), mohon pamit dan diakhiri gerakan duduk sembahan (sila panggung).