Cukup sependapat dengan balasan-balasan sebelumnya, menurut saya mesin penerjemah semacam Google Translate kurang efektif dalam menerjemahkan karya sastra. Bukan berarti tidak efektif sama sekali, mesin penerjemah dalam batas-batas tertentu cukup efektif, tapi tidak sepenuhnya sehingga saya mengatakan kurang.
Secara umum, dalam penerjemahan kita harus selalu memperhatikan konteks. Menurut KBBI konteks adalah bagian uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Penerjemah harus memperhatikan konteks agar mampu memahami nuansa makna bagian tertentu dalam teks atau keseluruhan teks yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran. Pemahaman akan makna dari sebuah karya sastra pun sangatlah erat kaitannya dengan konteks. Sebagai ungkapan dari gambaran hidup manusia yang menggunakan bahasa, sastra memiliki keterkaitan dengan teks dan konteks. Teks adalah dimana sastra dituliskan dan konteks menentukan maknanya.
Mesin penerjemah seringkali masih memiliki kesalahan dalam menerjemahkan tulisan sesuai konteksnya. Seringkali ia hanya menyajikan terjemahan word-per-word yang kurang padu dibanding penerjemah manusia. Hasil penerjemahannya mungkin benar, tapi seringkali kurang sesuai dalam pemilihan kata yang sesuai dengan konteks yang diinginkan.
Belum lagi, dalam karya sastra seringkali terdapat figurative language alias kiasan. Faktor ini menyebabkan konteks semakin dibutuhkan. Kata yang tertulis belum tentu memiliki makna yang harfiah/ literal. Dalam hal memahami makna implisit seperti ini, saya rasa penerjemah manusia masih jauh lebih efektif.
[details="Referensi"]
Larson, M.L. (1984) Meaning Based Translation. A Guide to Cross-Language Equivalence. Second Edition. Lanham: University Press.
Sakan, P. (2020). Peran Konteks Dalam Penerjemahan. Diambil dari https://www.pacesepricesakan.com/blog/penerjemahan-dan-penjurubahasaan/peran-konteks-dalam-penerjemahan
[/details]