Apresiasi sastra merupakan kegiatan internalisasi sastra, dimana kritik sastra dan apresiasi sastra merupakan kegiatan rasionalisasi sastra.
Dalam internalisasi sastra, jarak harus dileburkan dan jurang harus ditimbun antara manusia dan karya sastra, sementara dalam rasionalisasi sastra, jarak justru harus diciptakan-direntangkan dan jurang mesti digali antara manusia-pengritik dan karya sastra.
Hal ini berarti bahwa kegiatan apresiasi sastra lebih merupakan suatu seni (kiat), sedang kritik sastra dan pengkajian sastra lebih merupakan kegiatan keilmuan.
Sebagai suatu seni (kiat), apresiasi sastra menekankan perilaku pengindahan, penikmatan, pemahaman, dan penghargaan sastra. Kritik sastra menekankan perilaku pencarian, penilaian, dan penghakiman kebenaran nilai-nilai atau segala sesuatu yang ada dalam sastra. Pengkajian sastra menekankan perilaku pengamatan (observasi), pemerian (deskripsi), dan penjelasan (eksplanasi) segala sesuatu yang ada dalam sastra. Hal ini mengimplikasikan, dalam apresiasi sastra berlangsung penerimaan sepenuhnya karya sastra, sedangkan dalam kritik sastra dan pengkajian sastra berlangsung pencurigaan atau penyangsian karya sastra.
Dengan demikian, apresiasi sastra lebih meminta keakraban antara pembaca dan karya sastra, sedang kritik sastra dan pengkajian sastra justru meminta keformalan antara pengritik dan peneliti dengan karya sastra. Hal ini dapat diibaratkan bahwa dalam apresiasi sastra, hubungan antara apresiator dengan karya sastra merupakan hubungan dua kekasih (bukan orang lain); sementara dalam kritik sastra dan pengkajian sastra, hubungan kritikus dan peneliti dengan karya sastra merupakan hubungan orang lain.
Agar bidang garap apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra yang dikemukakan di atas lebih jelas, saya akan mengilustrasikan dalam sebuah contoh.
”Balada Terbunuhnya Atmo Karpo”
Karya W.S. Rendra
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokan tubuhnya di pucuk-pucuk para mengepit kuat-kuat lutut punggung perampok yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang Segenap warga desa mengepung hutan itu dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri
Satu demi satu yang maju tersadap darahnya Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muda
-Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia karena padanya seorang kukandung dosa
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang
-Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa
Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
-Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa
Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba
Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak
angsoka Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.
Jika kita melakukan apresiasi sastra terhadap puisi di atas, maka dengan penuh keakraban tanpa jarak kita menginternalisasinya (membatinkannya) dengan cara mengindahkannya, menikmatinya, memahaminya, kemudian menghargainya. Sesudah itu, kita men- ceritakannya atau melisankannya atau menuturkannya kepada diri sendiri atau orang lain.
Contoh menceritakannya, misalnya demikian: “Seorang perampok perkasa bernama Atmo Karpo, suatu ketika ia mendatangi desa. Kali ini bukan untuk merampok, melainkan didorong oleh kesia- siaan hidup yang dirasakannya sangat pahit dan oleh perasaan berdosa kepada anaknya sendiri, Joko Pandan. Ia datang untuk menantang anaknya ... (dan seterusnya). Dapat juga cara menceritakannya demikian: Puisi tersebut bercerita tentang dunia Atmo Karpo, dunia kekerasan yang mesti dijalaninya. Dunia kekerasan penuh permusuhan baik dengan orang-orang kampung maupun dengan orang dekat, bahkan anak kandungnya sendiri. Atmo Karpo memasuki dunia kekerasan itu dengan perkasa meskipun akhirnya binasa juga, justru di tangan anaknya. Akhir kehidupan di dunia kekerasan itu ...” (dan seterusnya). Dapat juga wujud kegiatan apresiasi sastranya melisankan puisi tersebut secara ekspresif di muka umum/banyak orang.
Sebaliknya, jika kita melakukan kritik sastra terhadap puisi “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” tersebut di atas, maka dengan penuh “kecurigaan dan keraguan” -ada kesangsian metodis yang direntangi oleh jarak, kita merasionalisasinya dengan cara menyelidikinya, menilainya, dan mungkin menghakiminya secara mendasar. Ini semua kita kerjakan lazimnya dipandu oleh teori kritik tertentu, dapat formalisme, strukturalisme, pragmatisme, semiotika, historisisme baru atau lainnya.
Andaikata puisi tersebut dilakukan kritik dengan teori tekstual, maka kita dapat berbicara tentang susunan tematisnya dan pengembangan tema, waktu, ruang, pola-pola makna, verifikasi, dan sebagainya. Kita dapat menyatakan bahwa subjek lirik puisi tersebut implisit dan dengan demikian juga pendengar. Pengembangan tema puisi tersebut dilakukan dengan sederetan momen perbuatan sebagaimana tampak pada larik-lariknya. Pengembangan tema sekaligus penggambaran tema yang terlihat pada deretan larik tersebut termasuk memikat dan bagus karena kohesif dan koheren serta mampu menciptakan suatu dunia utuh. Demikianlah, kritik sastra bekerja di wilayah yang lebih objektif, teknis, dan juridis (judgement).
Pengkajian sastra bekerja di wilayah yang lebih teoretis, objektif, dan teknis lagi. Ia berusaha menjelaskan puisi tersebut, bukan mengkomunikasikannya. Ia bekerja di wilayah yang harus jelas teori dan metodologinya: teori apa yang digunakan (struktural, semiotika, sosiologis, antropologis, psikologis, feminis, dan sebagainya) dan metodologi apa yang dipakai (kuantitatif atau kualitatif), dan metode berpikir apa yang digunakan (deduktif atau induktif), dan sebagainya).
Andaikata kita mengkaji puisi “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” tersebut, misalnya mengkaji majasnya (teori stilistika), kita dapat berbicara tentang metafora, simile, personifikasi, hiperbola, dan sebagainya. Kita dapat mengulas personifikasi dalam larik ‘bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para’ atau metafora dalam larik ‘panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka’. Secara stilistik, kita dapat juga menyelidiki gaya bahasa (style) khususnya citraan (imagery) yang terkandung dalam larik ‘Anak panah empat arah dan musuh tiga silang/Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang’ atau larik ‘Bedah perutnya tapi masih setan ia/menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala’. Sesudah kita jabarkan majas dan citraannya, kita dapat menjelaskan bagaimana pemakaian majas dan citraan dalam puisi tersebut: apakah majas dan citraan dalam puisi tersebut mampu membangun sebuah gambaran kuat, dan apakah gaya puisi tersebut memiliki koherensi dan kohesi yang kuat, dan seterusnya.
Dari contoh langkah-langkah apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra tersebut di atas makin jelaslah wilayah garap masing- masing; paling tidak wilayah garap apresiasi sastra. Dari uraian tersebut di atas kita dapat menyimpulkan bahwa yang digarap oleh apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra adalah sastra; ketiganya sama-sama menggarap sastra. Namun, ketiganya menggarap sastra secara berbeda-beda. Apresiasi sastra lebih merupakan internalisasi, subjektif, komunikatif, dan tak dapat selalu dipandu oleh teori tertentu, sedangkan kritik sastra dan pengkajian sastra lebih merupakan rasionalisasi, objektif, dan dipandu oleh teori tertentu serta evaluatif. Dengan demikian, jelaslah bidang garap apresiasi sastra, yaitu bidang garap yang menuntut internalisasi, subjektivitas yang jujur dan luhur serta mulia, dan individual bergantung pada apresiator.
Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya percakapan dan keakraban antara manusia-apresiator dan sastra-yang diapresiasi. Oleh karena itulah apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumpaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia- percakapan.
Sejalan dengan itu, pada kehadirannya sendiri (by self), apresiasi sastra sesungguhnya mempunyai satu tujuan saja, yaitu membangun dunia-perjumpaan yang memungkinkan adanya dunia-percakapan dan dunia-keakraban sehingga terselenggara percakapan-percakapan dan keakraban manusia-apresiator dengan sastra-yang diapresiasi. Di dalam perjumpaan dan percakapan inilah dunia-kewacanaan sastra menawar-kan, menyuguhkan, dan menghidangkan sesuatu kepada manusia-apresiator. Sebaliknya, pembaca/apresiator boleh dan dapat mene-rima, mencicipi, dan memperoleh sesuatu itu. Sesuatu yang dimaksud di sini setidak-tidaknya dapat dipilah menjadi empat macam, yaitu:
- Pengalaman
- Pengetahuan
- Kesadaran
- Hiburan
Pada pengkajian sastra tujuannya adalah membongkar struktur karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur yang membangun karya sastra dalam keterjalinannya satu dengan lainnya dan mengungkapkan makna sastra berupa gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya.
Dalam pengkajian sastra semua deskripsi tentu harus didasarkan pada teori dan interpretasi sastra secara metodologis. Dengan demikian dalam proses pengkajian sastra, paradigma ilmiah dan koridor akademik harus dikedepankan. Meskipuin interpretasi sastra itu subjektif, pengkajian/analisisnya harus didasarkan pada objektivitas data teks dan dilandasi oleh teori dan argumentasi ilmiah.