Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Bioekologi Penyu?

RI Riani Daisi 7 years ago

penyu|690x350

Bioekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi makhluk hidup (tanaman dan patogen) dengan lingkungan hidupnya. Kejadian penyakit (disease incidence) merupakan hasil interaksi antara patogen (jamur, bakteri, fitoplasma, dan virus) yang virulen, tanaman inang yang rentan dan faktor lingkungan yang mendukung. Konsep ini dikenal dengan konsep segitiga penyakit (disease triangle) (Agrios 1979). Jadi meskipun terdapat patogen yang virulen, dan tanaman ubi kayu yang rentan, namun apabila kondisi lingkungan tidak mendukung (misal
udara terlalu panas dan kering) maka tidak akan terjadi penyakit. Demikian juga meski terdapat varietas yang rentan, kondisi lingkungan mendukung terjadinya penyakit, tapi apabila patogennya lemah/avirulen juga tidak terjadi penyakit.

24

Bioekologi Penyu


1. Reproduksi Penyu

Reproduksi penyu adalah proses regenerasi yang dilakukan penyu dewasa jantan dan betina melalui tahapan perkawinan, peneluran sampai menghasilkan generasi baru (tukik). Penyu membutuhkan kurang lebih 15-50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu laut jantan menarik perhatian betinanya dengan menggosok-gosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Penyu jantan kemudian mengaitkan tubuhnya ke bagian
belakang cangkang penyu betina. Setelah itu penyu jantan melipat ekornya yang panjang ke bawah cangkang penyu betina. Beberapa jantan dapat saling berkompetisi untuk merebut perhatian penyu betina. Hanya penyu betina yang pergi kepantai untuk bersarang dan menetaskan telurnya.

Penyu jantan jarang sekali kembali ke pantai setelah mereka menetas. Penyu laut pergi untuk menetaskan telurnya ke pantai dimana mereka dulu dilahirkan. Penyu betina naik ke pantai untuk bertelur. Dengan kaki depannya, mereka menggali lubang untuk meletakkan telur-telurnya. Kemudian mereka mengisi lubang itu dengan telur-telurnya sebanyak kurang lebih 100 butir (bahkan mungkin lebih). Kemudian mereka dengan hati-hati menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakan pasir tersebut untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya. Setelah proses melelahkan ini selama kurang lebih 1-3 jam berakhir, mereka kembali ke laut. Penyu umumnya lambat dan canggung apabila berada di darat, dan bertelur adalah hal yang sangat melelahkan, Penyu yang sedang bertelur sering terlihat mengeluarkan air mata, padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam yang
berlebihan di dalam tubuhnya.

2. Perkawinan Penyu

Penyu melakukan perkawinan dengan cara penyu jantan bertengger di atas punggung penyu betina Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu, dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak 1–3% yang berhasil mencapai dewasa. Penyu melakukan perkawinan di dalam air laut, terkecuali pada kasus penyu tempayan yang akan melakukan perkawinan meski dalam penangkaran apabila telah tiba masa kawin. Pada waktu akan kawin, alat kelamin penyu jantan yang berbentuk ekor akan memanjang ke belakang sambil berenang mengikuti kemana penyu betina berenang. Penyu jantan kemudian naik ke punggung betina untuk melakukan perkawinan. Selama perkawinan berlangsung, penyu jantan menggunakan kuku kaki depan untuk menjepit tubuh penyu betina agar tidak mudah lepas. Kedua penyu yang sedang kawin tersebut timbul tenggelam di permukaan air dalam waktu cukup lama, bisa mencapai 6 jam lebih.

Untuk membedakan kelamin penyu Jantan dan betina dapat dilakukan dengan cara ”sexual dimorphism”, yaitu membedakan ukuran ekor dan kepala penyu sebagai berikut :

image|479x118

3. Perilaku Peneluran

Ketika akan bertelur penyu akan naik ke pantai. Hanya penyu betina yang datang ke daerah peneluran, sedangkan penyu jantan berada di daerah sub-tidal. Penyu bertelur dengan tingkah laku yang berbeda sesuai dengan spesies masingmasing. Setiap spesies penyu memiliki waktu (timing) peneluran yang berbeda satu sama lain. Lama antara peneluran yang satu dengan peneluran berikutnya (interval peneluran) dipengaruhi oleh suhu air laut. Semakin tinggi suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin pendek. Sebaliknya semakin rendah suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin panjang. Tahapan bertelur pada berbagai jenis penyu umumnya berpola sama.

  1. Pada tahapan 1, Penyu menuju pantai, muncul dari hempasan ombak.

  2. Tahapan 2 dan 3, penyu naik ke pantai, diam sebentar dan melihat sekelilingnya, bergerak melacak pasir yang cocok untuk membuat sarang. Jika tidak cocok, penyu akan mencari tempat lain.

  3. Tahapan 4 penyu akan membersihkan tempatnya dengan menggunakan sirip depan dan sirip belakang sebelum menggali kubangan.

  4. Tahapan 5 dan 6, penyu menggali kubangan untuk tumpuan tubuhnya (body pit), dilanjutkan menggali sarang telur di dalam body pit.

  5. Tahapan 7, penyu mengeluarkan telurnya satu per satu, kadangkala serentak dua sampai tiga telur. Ekor penyu melengkung ketika bertelur. Umumnya penyu membutuhkan waktu masing-masing 45 menit untuk menggali sarang dan 10-20 menit untuk meletakkan telurnya.

  6. Tahapan 8 dan 9 sarang telur ditimbun dengan pasir menggunakan sirip belakang, lalu menimbun kubangan (body pit) dengan ke empat kakinya. Dan penyu akan membuat penyamaran jejak untuk menghilangkan lokasi bertelurnya.

  7. Tahapan 10 dan 11, Penyu kembali ke laut, menuju deburan ombak dan menghilang diantara gelombang. Pergerakan penyu ketika kembali ke laut ada yang bergerak lurus atau melalui jalan berkelok-kelok.

4. Pertumbuhan Embrio

Telur yang baru keluar dari perut penyu betina diliputi lendir, berbentuk bulat seperti bola pingpong, agak lembek dan kenyal. Penyu betina akan kembali ke ruaya pakannya setelah musim peneluran berakhir, dan tidak akan bertelur lagi untuk 2 – 8 tahun mendatang. pertumbuhan embrio penyu tempayan, berdasarkan informasi dari Yayasan Alam Lestari (2000) dapat dijelaskan sebagai berikut :

Embrio umur 30 hari :
- Panjang 2 cm.
- Kepala besar, mata berwarna hitam besar.
- Karapas sudah mulai terbentuk sebagian.
- Kaki dengan 5 tulang jari terlihat jelas.

Embrio umur 40 hari :
- Panjang mencapai 4 cm.
- Kaki dan mata mulai bergerak perlahan-lahan.
- Karapas berwarna hitam, mulai mengeras.

Embrio dan permukaan telur umur 50 hari :
- Permukaan telur berwarna putih jernih dan kering. Apabila digerakgerakan terasa akan pecah.
- Seluruh tubuh tukik yang sudah terbentuk berwarna hitam.

Embrio umur 52 hari :
- Telur menetas apabila sisa kuning telur sudah
- Panjang tukik mencapai 7 cm, berat 19 gram.
- Anak penyu keluar dari pasir pada hari ke- 52.

Pertumbuhan embrio sangat dipengaruhi oleh suhu. Embrio akan tumbuh optimal pada kisaran suhu antara 24–33 ºC, dan akan mati apabila di luar kisaran suhu tersebut. Kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan embrio sampai penetasan, antara lain :

  1. Suhu pasir
    Semakin tinggi suhu pasir, maka telur akan lebih cepat menetas. Penelitian terhadap telur penyu hijau yang ditempatkan pada suhu pasir berbeda menunjukkan bahwa telur yang terdapat pada suhu pasir 32 ºC menetas dalam waktu 50 hari, sedangkan telur pada suhu pasir 24 ºC menetas dalam waktu lebih dari 80 hari.

  2. Kandungan air
    Dalam pasir diameter telur sangat dipengaruhi oleh kandungan air dalam pasir. Makin banyak penyerapan air oleh telur dari pasir pantai menyebabkan pertumbuhan embrio makin besar yang berakibat diameter telur menjadi bertambah besar. Sebaliknya, pasir yang kering akan menyerap air dari telur karena kandungan garam dalam pasir lebih tinggi. Akibatnya embrio dalam telur tidak akan berkembang dan mati. Kandungan oksigen Oksigen sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan embrio. Air hujan yang menyerap ke dalam sarang ternyata dapat menghalangi penyerapan oksigen oleh telur, akibatnya embrio akan mati.

5. Proses Penetasan

Embrio dalam telur akan tumbuh menjadi tukik mirip dengan induknya, masa inkubasi yang dilewati kurang lebih 2 bulan. Tahapan proses penetasan hingga tukik keluar dari sarang disajikan pada gambar dibawah ini.

image|420x172

Keterangan :
1. Telur dalam sarang.
2. Tukik memecahkan cangkang telur dengan menggunakan paruh (caruncle) yang terdapat di ujung rahang atas.
3. Tukik mulai aktif dan berusaha keluar dari sarang setelah selaput embrio terlepas.
4. Tukik bersama-sama dengan saudaranya berusaha menembus pasir untuk mencapai ke permukaan.

6. Tukik Menuju Laut

Tukik menetas setelah sekitar 7-12 minggu. Kelompok tukik memerlukan waktu dua hari atau lebih untuk mencapai permukaan pasir, biasanya pada malam hari atau siang hari. Untuk menemukan arah ke laut tukik berpatokan pada arah yang paling terang serta menggunakan topografi garis horison di sekitarnya. Begitu mencapai laut tukik menggunakan berbagai
kombinasi petunjuk (arah gelombang, arus dan medan magnet) untuk orientasi ke daerah lepas pantai yang lebih dalam. Kegiatan tukik melewati pantai dan berenang menjauh adalah upaya untuk merekam petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menemukan jalan pulang saat mereka akan kawin.

Saat tukik sudah berada di laut diduga memasuki kawasan dimana arusarus laut bertemu. Tukik-tukik tersebut menggunakan rumput-rumput laut yang mengapung, benda apung lain yan terperangkap oleh arus laut serta hewanhewan Tukik jarang terlihat lagi hingga karapasnya mencapai ukuran 20-40 cm dengan usia sekitar 5-10 tahun setelah menetas. Pada saat itu tukik yang telah menjadi dewasa berenang kembali ke ruayan pakan di pesisir dan tinggal di
daerah tersebut sampai siap memijah, dan saat itu siklus hidup.

7. Habitat Bertelur Penyu

Pasir merupakan tempat yang mutlak diperlukan untuk penyu bertelur. Habitat peneluran bagi setiap penyu memiliki kekhasan. Umumnya tempat pilihan bertelur merupakan pantai yang luas dan landai serta terletak di atas bagian pantai. Rata-rata kemiringan 30 derajat di pantai bagian atas. Jenis tanaman atau formasi vegetasi pantai yang biasanya terdapat di sepanjang daerah peneluran penyu secara umum dari daerah pantai ke arah daratan adalah sebagai berikut :
1. Tanaman pioner.
2. Zonasi jenis-jenis tanaman yang terdiri dari Hibiscus tiliaceus, Gynura procumbens, dan lainnya.
3. Zonasi jenis-jenis tanaman seperti Hernandia peltata, Terminalia catappa, Cycas rumphii, dan lainnya.
4. Zonasi terdalam dari formasi hutan pantai Callophyllum inophyllum, Canavalia ensiformis, Cynodondactylon, dan lainnya.

8. Siklus Hidup Penyu

Seluruh spesies penyu memiliki siklus hidup yang sama. Penyu mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluh-puluh tahun untuk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh (hingga 3000 km) dari ruaya pakan ke pantai peneluran. Pada umur yang belum terlalu diketahui (sekitar 20-50 tahun) penyu jantan dan betina bermigrasi ke
daerah peneluran di sekitar daerah kelahirannya. Perkawinan penyu dewasa terjadi di lepas pantai satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut. Baik penyu jantan maupun betina memiliki beberapa pasangan kawin.

Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuhnya untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3-7 sarang) yang akan ditelurkan pada musim tersebut. Penyu jantan biasanya kembali ke ruaya pakannya sesudah penyu betina menyelesaikan kegiatan bertelur dua mingguan di pantai. Penyu betina akan keluar dari laut jika telah siap untuk bertelur, dengan menggunakan sirip depannya menyeret tubuhnya ke pantai peneluran. Penyu betina membuat kubangan atau lubang badan (body pit) dengan sirip depannya lalu menggali lubang untuk sarang sedalam 30-60 cm dengan sirip belakang. jika pasirnya terlalu kering dan tidak cocok untuk bertelur, si penyu akan berpindah ke lokasi lain.

Referensi :
* Dermawan, Agus. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi dan
Taman Nasional Laut. Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta. 2009.