Saturnus merupakan planet terbesar kedua di Tata Surya. Jika di perhatikan maka planet ini adalah benda langit sangat istimewa. Apa yang anda ketahui tentang planet Saturnus ?
Saturnus merupakan planet terbesar kedua di Tata Surya. Jika di perhatikan maka planet ini adalah benda langit sangat istimewa. Apa yang anda ketahui tentang planet Saturnus ?
Saturnus merupakan planet keenam dalam tata surya. Saturnus adalah bagian dari empat planet raksasa sehingga memiliki ukuran jauh lebih besar dari ukuran bumi. Massa Saturnus 95 kali lebih besar dari massa bumi.
Seperti benda langit lain, saturnus juga terdiri dari beberapa bagian penyusun. Saturnus terdiri dari beberapa penyusun yaitu, hidrogen sebanyak 96%, helium sebanyak 0,4%, ammonia sebanyak 0,1%, deuterium sebanyak 0,01% dan 0,49 % lainnya tersusun oleh zat lain. Unsur yang menyusun saturnus sama dengan unsur yang menyusun bintang muda, sehingga massanya diperbesar 4000 kali. Hal ini menyebabkan saturnus akan berubah menjadi bintang yang berspektrum warna pada kelas F. Warnanya adalah kuning keputih putihan.
Lapisan pada planet Saturnus tersusun dari hidrogen, helium, dan hidrgen metalik. Semua lapisan yang terdapat dalam planet saturnus adalah dalam bentuk cairan kecuali pada lapisan intinya yang berbentuk padat.
Hal yang paling menarik dari planet saturnus adalah cincinnya. Saturnus memiliki cincin yang luas dan lebar. Cincin saturnus merupakan cincin planet yang paling terang yang terdapat dalam tata surya. Hal ini menyebabkan cincin tersebut dapat terlihat dengan mudah meskipun tanpa menggunakan alat bantu seperi binokuler dan teleskop. Cincin planet ini tersusun atas 935% es, 7% karbon yang tidak berbentuk. Cincin ini membentang sejauh 6.630 km sampai 120.70 km diatas ekuator saturnus dengan ketebalan rata-rata 20 meter. Cincin saturnus terbagi menjadi beberapa bagian yaitu cincin A, B, C, D, E dan F. Cincin D merupakan cincin terdalam planet saturnusyang terlihat sedikit lebih transparan dan sulit dilihat. Sedangkan cincin terluarnya adalah cincin E, cincin ini tampak agak buran dan sangat tebal, dengan ketebalan mencapai 4000 km – 30.000 km. pada cincin saturnus terdapat daerah yang memisahkan antara cincin yang satu dengan cincin lainnya. Daerah pemisah ini disebut dengan Gap atau Divisi. Gap yang paling sering didengar adalah Encke Gap. Encke gap ini merupakan Gap yang menjadi pemisah antara cincin A dengan cincin F. Kemudian ada pula Cassini Division. Cassini Division ini merupaka gap yang menjadi pemisah antar cincin dengan cincin B.
Sumber :
https://www.ilmudasar.com/2017/03/Pengertian-Struktur-Ciri-dan-Karakteristik-Saturnus-adalah.html
Planet Saturnus adalah planet keenam dalam sistem tata surya. Planet raksasa kedua ini merupakan planet yang sangat indah. Sistem cincin Saturnus memberikan pemandangan yang menakjubkan. Sebagai kelompok empat planet raksasa dalam sistem taat surya, Saturnus mempunyai diameter 119.871 km dengan massa kira-kira 586,5 x 1024 kg. Massa Saturnus 95 kali massa Bumi.
Dengan mata telanjang, sistem cincin Saturnus tidak dapat dilihat. Keindahan Saturnus dapat kita nikmati setelah adanya penemuan teleskop pada abad XVII. Pada tanggal 12 Juli 1981, pesawat ruang angkasa Voyager 2 berhasil mengabadikan gambar Saturnus yang diambil dari jarak 43 juta km.
Jarak rata-rata Saturnus dari Matahari adalah 1.428 juta km. Planet dengan diameter 120.536 km ini membutuhkan waktu 29,5 tahun Bumi untuk sekali mengorbit Matahari. Waktu yang dibutuhkan Saturnus untuk satu kali rotasi adalah 10,67 jam.
Seperti Jupiter, atmosfer Saturnus merupakan lapisan permukaan yang tipis dibandingkan luas bagian dalamnya. Suhu di permukaan Saturnus mencapai −170 oC. Awan Saturnus tidak lebih berwarna dibandingkan Jupiter. Ini dikarenakan atmosfer Saturnus mengandung belerang. Belerang inilah yang menyebabkan Saturnus terlihat berwarna kuning. Ada tiga lapisan awan di Saturnus dan masing-masing tersusun oleh melokul yang berbeda. Ada awan Amonia, awan Hidrogen Sulfida, dan awan air. Ketiga lapisan awan ini terdapat di troposfer.
Gambar Planet Saturnus diambil oleh Teleskop ruang angkasa Hubble.
Foto di atas menunjukkan sebuah badai yang terjadi di dekat ekuator Saturnus. Besar badai ini mencapai 12.700 kilometer, sama dengan garis tengah Bumi. Angin terkencang yang pernah terjadi di Saturnus tercatat oleh pesawat ruang angkasa Voyager mencapai kecepatan 1.600 kilometer/jam.
Saturnus tidak memiliki lapisan-lapisan seperti planet terestrial. Saturnus tidak memiliki banyak bahan-bahan padat di dalamnya. Sebaian bahan penyusun Saturnus adalah Hidrogen dan Helium yang berwujud cair dalam tekanan yang tinggi berada di lapisan luar. Saturnus tersusun oleh 75 persen Hidrogen dan 25 persen Helium dengan sedikit air, Metana, amoniak, dan batu. Gerakan yang terjadi di bagian dalam Saturnus menyebabkan munculnya medan maget yang menghasilkan magnetosfer.
Gambar Bagian dalam Saturnus
Bagian dalam Saturnus :
* Hidrogen cair
* Cairan logam Hidrogen
* Hidrogen, Helium, Gas Metana
* Mantel (air, Ammonis, Es Metana)
* Inti (es, batu)
Galileo adalah orang pertama yang mengamati Saturnus menggunakan teleskop, yaitu pada tahun 1610. Dalam pengamatannya, Galileo menemukan keanehan pada Saturnus. Galileo melihat adanya dua gumpalan di sekeliling Saturnus, tapi dia tidak tahu gumpalan apakah itu. Selanjutnya, Christian Huygens menemukan bahwa gumpalan itu adalah cincin.
Sesuai data yang diperoleh pesawat ruang angkasa Cassini, cincin Saturnus ternyata memiliki atmosfernya sendiri. Atmosfer itu terpisah dari atmosfer Saturnus.
Pada tahun 1675, Cassini menemukan celah di antara cincin A dan B. Selanjutnya celah ini disebut divisi Cassini. Cincin ketiga, yang dinamakan cincin C, ditemukan pada tahun 1800. Selanjutnya, sampai tahun 1979, ditemukan cincin E, F, dan G, ketika pesawat ruang angkasa Pioner 11 dan Voyager terbang ke Saturnus. Mereka juga menemukan celah kecil di antara cincin A dan F, dan disebut sebagai divisi Encke.
Gambar Cincin-cincin Saturnus
Cincin-cincin Saturnus masih merupakan misteri bagi para ilmuwan. Adanya gravitasi Saturnus menyebabkan partikel-partikel kecil tersusun dalam daerah cincin. Ini juga mencegah bongkahan-bongkahan es dan batu untuk bersatu membentuk satelit alam.
Setiap planet mempunyai jarak tertentu dari planet yang disebut sebagai batas Roche. Tergantung dari besar kecil gaya gravitasi planet, sesuatu yang berada di dalam batas Roche tidak dapat bersatu membentuk sebuah benda yang lebih besar. Itulah sebabnya kebanyakan partikel hanya berukuran beberapa sentimeter. Bagaimanapun, sebagian besar satelit alam-satelit alam Saturnus berada di luar batas Roche, sehingga mereka dapat berkumpul bersama.
Cincin Saturnus terutama tersusun oleh partikel-partikel es dan batu. Cincin-cincin Saturnus terlihat berada dalam satu luasan yang lebar dan serupa pita berwarna, tapi sebenarnya antar cincin terpisah oleh pita kecil. Ukuran partikel penyusun cincin beragam, dari beberapa sentimeter sampai lebih dari satu kilometer.
Cincin Saturnus merupakan lapisan yang luar biasa tipis. Cincin yang diameternya mencapai 250.000 km atau lebih ini mempunyai ketebalan yang tidak lebih dari 1 km! Meskipun memberikan penampakan yang mengesankan, sesungguhnya cincin Saturnus hanya mengandung sedikit material. Jika cincin-cincin Saturnus dipadatkan maka diperoleh sebuah benda yang membentang tidak lebih dari 100 km.
Lalu, mengapa lapisan cincin Saturnus yang sangat tipis dapat terlihat begitu indah?
Partikel-partikel es dalam cincin membentuk efek pelangi seperti semprotan warna yang terpancar dari Matahari. Sinar Matahari dibiaskan oleh partikel-partikel es sehingga memberikan penampakan warna yang begitu indah. Banyak orang yang terpesona dengan keindahan cincin Saturnus. Meskipun Saturnus bukan satu-satunya planet bercincin, tetapi Saturnus merupakan planet terkenal di antara planet-planet bercincin.
Gambar Satelit-satelit alam Saturnus
Berikut adalah satelit-satelit planet Saturnus yang terkenal, antara lain :
Titan
Titan ditemukan oleh astronom Belanda Christian Huygens pada tahun 1655. Titan merupakan satelit alam Saturnus yang terbesar. Diameter Titan mencapai 5.150 kilometer. Titan lebih besar daripada Merkurius dan Pluto. Titan mengorbit Saturnus pada jarak 1.221.830 kilometer.
Titan memiliki atmosfer seperti Bumi. Atmosfer Titan sebagian besar tersusun atas Nitrogen. Titan merupakan satelit alam yang memiliki atmosfer yang tebal. Tekanan atmosfer Titan kira-kira 60 persen lebih banyak daripada tekanan atmosfer Bumi di atas permukaan laut, kira-kira sama dengan tekanan di dasar kolam renang.
Permukaan Titan cukup dingin. Suhunya mencapai 178 derajat celcius di bawah nol.
Tethys
Tethys ditemukan oleh Giovanni Cassini pada tahun 1864. Tethys memiliki kepadatan 1,2 gram/cm3. Kepadatan ini menandakan hampir seluruhnya Tethys tersusun dari air beku (es). Permukaan Tethys dipenuhi kawah dan rekahan-rekahan yang merupakan patahan es. Di pemukaan Tethys terdapat palung yang panjangnya mencapai 65 kilometer. Suhu permukaan Tethys mencapai 187 derajat di bawah nol.
Rhea
Rhea ditemukan pada tahun 1672 oleh Giovanni Cassini. Rhea tidak memiliki atmosfer dan permukaannya diselimuti es. Dengan kepadatan hanya 1,33 gram/cm3, menandakan Rheaa terususun sebagian besar atas air beku atau es. Susunan Rheaa hampir sama dengan Dionee. Suhu permukaan Rheaa yang menghadap Matahari sebesar 174 derajat celcius di bawah nol, sedangkan permukaan yang tidak terkena cahaya Matahari 200 derajat celcius di bawah nol.
Dione
Dione ditemukan pada tahun 1684 oleh Giovanni Cassini. Sebagian besar tubuh Dione tersusun atas es. Kepadatannya hanya sekitar 1,43 gram/cm3. Beberapa daratan
Dione dipenuhi kawah dan beberapa tidak. Permukaan Dione yang dipenuhi kawah
memiliki kawah dengan garis tengah lebih dari 30 kilometer.
Notifications