Kita sering merasa punya kendali atas emosi, tapi tanpa sadar sedang “meminjam” emosi orang lain
Ada momen yang cukup familiar: masuk ke ruangan dengan perasaan biasa saja, lalu keluar dengan perasaan yang berbeda—lebih tegang, lebih lelah, atau justru lebih ringan—tanpa tahu persis kenapa.
Tidak ada kejadian besar. Tidak ada percakapan yang signifikan. Tapi suasananya terasa “menular”.
Di titik ini mulai terlihat bahwa emosi tidak selalu berasal dari dalam diri sendiri—sering kali ia dipengaruhi oleh lingkungan, bahkan sebelum sempat disadari.
Emosi bersifat “menular”, bahkan tanpa interaksi langsung
Fenomena ini dalam psikologi sering disebut sebagai emotional contagion—kecenderungan manusia untuk secara otomatis menyerap dan mencerminkan emosi orang lain.
Daniel Goleman dalam Social Intelligence menjelaskan bahwa otak manusia memiliki mekanisme untuk membaca ekspresi, nada suara, dan bahasa tubuh secara cepat, lalu menyesuaikan respons emosional.
Artinya, tanpa percakapan pun, kita sudah “terpengaruh” hanya dengan berada di sekitar seseorang.
Inilah alasan kenapa berada di lingkungan yang penuh stres bisa membuat seseorang ikut merasa tertekan, meskipun tidak terlibat langsung.
Semakin dekat secara emosional, semakin besar pengaruhnya
Tidak semua orang memiliki dampak yang sama. Mood orang asing mungkin terasa, tapi tidak terlalu dalam.
Namun ketika itu datang dari orang yang dekat—teman, pasangan, rekan kerja—pengaruhnya bisa jauh lebih kuat.
Daniel Siegel dalam The Developing Mind menjelaskan bahwa hubungan yang memiliki keterikatan emosional tinggi menciptakan sinkronisasi yang lebih dalam, termasuk dalam regulasi emosi.
Semakin kuat hubungan, semakin besar kemungkinan kita “ikut merasakan” apa yang mereka rasakan.
Kondisi internal menentukan seberapa mudah terpengaruh
Menariknya, tidak semua orang terpengaruh dengan cara yang sama. Ada hari-hari di mana seseorang lebih “tahan”, dan ada hari-hari di mana emosi orang lain terasa lebih mudah masuk.
Ini sering berkaitan dengan kondisi internal: kelelahan, stres, atau kapasitas mental yang sedang menurun.
Matthew Walker dalam Why We Sleep menjelaskan bahwa kelelahan dapat menurunkan kemampuan regulasi emosi.
Ketika energi mental rendah, batas antara emosi sendiri dan emosi orang lain menjadi lebih tipis.
Kesadaran menentukan apakah kita “terbawa” atau hanya “terpapar”
Ada perbedaan penting antara terpapar dan terbawa.
Terpapar berarti kita merasakan perubahan suasana. Terbawa berarti kita ikut masuk ke dalam emosi tersebut tanpa sadar.
Ellen Langer dalam konsep mindfulness menekankan pentingnya kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Semakin sadar seseorang terhadap emosinya sendiri, semakin besar kemampuannya untuk tidak larut dalam emosi orang lain.
Insight yang sering terlewat: kita tidak hanya “dipengaruhi”, tapi juga “mempengaruhi”
Pertanyaan tentang seberapa mudah kita terpengaruh sering membuat kita lupa satu hal: kita juga menjadi sumber pengaruh bagi orang lain.
Setiap ekspresi, nada suara, bahkan cara merespons, secara halus membentuk suasana di sekitar.
Artinya, dinamika emosi dalam sebuah lingkungan bukan satu arah, tapi saling mempengaruhi secara terus-menerus.
Ini menjelaskan kenapa satu orang dengan energi tertentu bisa mengubah suasana dalam satu tim—baik ke arah positif maupun negatif.
Penutup: bukan soal menghindari pengaruh, tapi memahami batasnya
Pada akhirnya, manusia memang tidak sepenuhnya “kebal” terhadap emosi orang lain. Itu bagian dari cara kita terhubung sebagai makhluk sosial.
Pertanyaannya bukan apakah kita terpengaruh, tapi seberapa sadar kita terhadap pengaruh tersebut.
Karena ketika tidak disadari, kita mudah terbawa. Tapi ketika disadari, kita punya pilihan—apakah ingin mengikuti arus emosi itu, atau tetap berdiri di posisi sendiri.
Dan mungkin di situlah keseimbangannya: tetap terbuka untuk merasakan, tanpa kehilangan arah atas apa yang sebenarnya kita rasakan sendiri.
Daftar Pustaka
Goleman, Daniel. Social Intelligence. Bantam Books, 2006.
Siegel, Daniel J. The Developing Mind. Guilford Press, 2012.
Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.
Langer, Ellen J. Mindfulness. Addison-Wesley, 1989.