Saat stres berat, apa pelarian yang paling sering kamu lakukan?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Ada momen ketika stres tidak lagi terasa seperti emosi yang bisa dijelaskan, melainkan seperti ruang yang penuh sesak di kepala—tidak ada pintu keluar yang jelas, hanya dorongan untuk “melakukan sesuatu” tanpa benar-benar tahu apa yang sedang diselesaikan.
Dalam observasi kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan mahasiswa dan pekerja awal karier, stres berat jarang berhenti di tahap refleksi. Ia hampir selalu berubah menjadi perilaku. Dan menariknya, perilaku itu sering tidak diarahkan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk meredam intensitas rasa yang sedang muncul.
Dalam fase seperti itu, pelarian bukan lagi pilihan sadar, melainkan semacam autopilot psikologis yang bekerja lebih cepat daripada logika.
Dalam banyak kasus yang diamati di kehidupan sehari-hari, doomscrolling menjadi salah satu bentuk pelarian yang paling sering muncul. Layar kecil menjadi ruang tanpa batas, di mana pikiran bisa “teralihkan” tanpa harus benar-benar berhenti berpikir. Scroll tanpa akhir di media sosial atau berita bukan sekadar kebiasaan digital, tetapi bentuk cognitive avoidance—upaya untuk tidak menghadapi emosi yang terlalu padat untuk diproses saat itu juga.
Sherry Turkle dalam Alone Together pernah menyinggung bagaimana teknologi menciptakan ilusi kehadiran yang konstan, tetapi sekaligus mengurangi kedalaman kehadiran itu sendiri. Dalam kondisi stres, ilusi ini menjadi sangat menggoda. Ada rasa sibuk, ada rasa terhubung, tetapi tidak ada tuntutan untuk benar-benar memproses apa yang sedang dirasakan.
Di sisi lain, tidur seharian juga sering muncul sebagai bentuk pelarian yang berbeda. Jika doomscrolling adalah upaya mengisi ruang pikiran, tidur adalah upaya mematikan ruang itu sementara. Ada kecenderungan untuk “pause” seluruh sistem kesadaran, bukan karena ingin istirahat yang sehat, tetapi karena sistem emosional sedang overload.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Matthew Walker dalam Why We Sleep, bahwa tidur memang memiliki fungsi restoratif bagi otak, tetapi ketika digunakan sebagai pelarian emosional, ia bisa berubah menjadi bentuk penghindaran yang pasif. Bukan pemulihan yang sadar, melainkan shutdown yang tidak sepenuhnya terkontrol.
Lalu ada pola lain yang lebih halus: belanja impulsif. Dalam banyak observasi perilaku digital, momen stres sering beriringan dengan keputusan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Di sini, aktivitas konsumsi bukan tentang barang, tetapi tentang sensasi kontrol instan. Ada rasa “aku masih bisa memilih sesuatu” di tengah situasi yang terasa tidak terkendali.
Fenomena ini pernah dibahas dalam literatur perilaku konsumen sebagai retail therapy, di mana tindakan membeli barang menjadi bentuk regulasi emosi jangka pendek. Namun efeknya sering bersifat sementara, karena masalah utama tidak pernah benar-benar disentuh.
Dan tentu saja, emotional eating menjadi bentuk pelarian yang paling primal. Makanan menjadi medium yang paling mudah diakses untuk mengisi kekosongan emosional. Dalam perspektif psikologi evolusioner, ini tidak mengherankan—otak manusia terhubung kuat dengan sistem reward yang merespons makanan sebagai sumber keamanan. Namun dalam konteks modern, respons ini sering tidak lagi selaras dengan kebutuhan fisik, melainkan kebutuhan emosional yang tidak terverbaliskan.
Daniel Siegel dalam The Developing Mind menjelaskan bahwa regulasi emosi sering terjadi melalui tubuh sebelum melalui pikiran. Makan berlebihan dalam kondisi stres bisa dilihat sebagai bentuk somatic regulation yang terjadi tanpa narasi kognitif yang jelas.
Dalam kehidupan nyata, terutama di lingkungan akademik dan kerja awal, stres jarang hadir sebagai satu peristiwa tunggal. Ia biasanya merupakan akumulasi dari banyak hal kecil: tekanan ekspektasi, ketidakpastian masa depan, kelelahan sosial, dan rasa tidak cukup baik yang terus menumpuk.
Ketika beban ini mencapai titik tertentu, otak tidak lagi memproses dalam bentuk analisis, tetapi dalam bentuk respons otomatis. Inilah mengapa pelarian terasa begitu natural—bukan karena dipilih secara sadar, tetapi karena sudah menjadi jalur yang paling cepat untuk mengurangi ketegangan internal.
Erving Goffman, dalam teorinya tentang presentation of self, menjelaskan bahwa manusia selalu berada dalam panggung sosial. Namun ketika stres berat terjadi, panggung itu runtuh untuk sementara. Yang tersisa bukan lagi “diri yang ditampilkan”, melainkan “diri yang bertahan”. Dan di titik ini, perilaku pelarian muncul sebagai upaya sederhana untuk menjaga sistem tetap berjalan, meskipun tidak ideal.
Salah satu kesalahpahaman paling umum tentang perilaku pelarian adalah menganggapnya sebagai kegagalan kontrol diri. Padahal, dalam banyak kasus, ia adalah bahasa terakhir yang digunakan tubuh ketika kata-kata sudah tidak cukup.
Doomscrolling, tidur berlebihan, belanja impulsif, atau makan emosional bukan sekadar “kebiasaan buruk”, tetapi sinyal bahwa sistem regulasi emosi sedang mencari cara tercepat untuk menurunkan intensitas tekanan.
Brené Brown dalam Daring Greatly menekankan bahwa rasa tidak nyaman emosional sering mendorong manusia untuk mencari anestesi psikologis. Namun yang lebih penting dari sekadar menghentikan perilaku tersebut adalah memahami apa yang sebenarnya sedang dicoba diredam.
Di titik ini muncul perspektif yang sering terlewat: pelarian bukan masalah utama, tetapi indikator dari masalah yang lebih dalam.
Ketika seseorang terus-menerus kembali ke pola yang sama—scrolling tanpa akhir, tidur berlebihan, belanja impulsif—yang sedang bekerja bukan sekadar kebiasaan, tetapi sistem regulasi emosi yang belum menemukan cara yang lebih adaptif.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan “mengapa melakukan ini?”, tetapi “apa yang sebenarnya sedang terlalu berat untuk ditahan tanpa pelarian ini?”
Dalam realitas yang semakin cepat dan penuh tekanan, pelarian bukan lagi sesuatu yang jarang terjadi, melainkan bagian dari cara manusia modern bertahan. Ia bisa muncul dalam bentuk yang sangat halus, hampir tidak terlihat sebagai masalah, atau justru sangat jelas sebagai penghindaran.
Namun di balik semua bentuknya, ada satu benang merah yang sama: usaha untuk mengurangi beban emosional dengan cara tercepat yang tersedia.
Matthew Walker, Sherry Turkle, Daniel Siegel, hingga Brené Brown, dalam karya-karya mereka, secara tidak langsung mengarah pada satu kesimpulan yang sama: manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari emosinya, hanya mencari cara berbeda untuk mengelolanya.
Mungkin yang paling penting bukan menghilangkan pelarian sepenuhnya, tetapi memahami bahwa setiap bentuk pelarian selalu membawa pesan tentang apa yang sedang tidak tertampung dalam kesadaran.
Dan di antara doomscrolling, tidur panjang, belanja impulsif, atau makan berlebihan, yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar perilaku, tetapi percakapan diam antara tubuh dan pikiran yang sedang kelelahan.
Brown, Brené. Daring Greatly. Gotham Books, 2012.
Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books, 1959.
Siegel, Daniel J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press, 2012.
Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books, 2011.
Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.
Ada momen ketika stres tidak lagi terasa seperti emosi yang bisa dijelaskan, melainkan seperti ruang yang penuh sesak di kepala—tidak ada pintu keluar yang jelas, hanya dorongan untuk “melakukan sesuatu” tanpa benar-benar tahu apa yang sedang diselesaikan.
Dalam observasi kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan mahasiswa dan pekerja awal karier, stres berat jarang berhenti di tahap refleksi. Ia hampir selalu berubah menjadi perilaku. Dan menariknya, perilaku itu sering tidak diarahkan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk meredam intensitas rasa yang sedang muncul.
Dalam fase seperti itu, pelarian bukan lagi pilihan sadar, melainkan semacam autopilot psikologis yang bekerja lebih cepat daripada logika.
Dalam banyak kasus yang diamati di kehidupan sehari-hari, doomscrolling menjadi salah satu bentuk pelarian yang paling sering muncul. Layar kecil menjadi ruang tanpa batas, di mana pikiran bisa “teralihkan” tanpa harus benar-benar berhenti berpikir. Scroll tanpa akhir di media sosial atau berita bukan sekadar kebiasaan digital, tetapi bentuk cognitive avoidance—upaya untuk tidak menghadapi emosi yang terlalu padat untuk diproses saat itu juga.
Sherry Turkle dalam Alone Together pernah menyinggung bagaimana teknologi menciptakan ilusi kehadiran yang konstan, tetapi sekaligus mengurangi kedalaman kehadiran itu sendiri. Dalam kondisi stres, ilusi ini menjadi sangat menggoda. Ada rasa sibuk, ada rasa terhubung, tetapi tidak ada tuntutan untuk benar-benar memproses apa yang sedang dirasakan.
Di sisi lain, tidur seharian juga sering muncul sebagai bentuk pelarian yang berbeda. Jika doomscrolling adalah upaya mengisi ruang pikiran, tidur adalah upaya mematikan ruang itu sementara. Ada kecenderungan untuk “pause” seluruh sistem kesadaran, bukan karena ingin istirahat yang sehat, tetapi karena sistem emosional sedang overload.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Matthew Walker dalam Why We Sleep, bahwa tidur memang memiliki fungsi restoratif bagi otak, tetapi ketika digunakan sebagai pelarian emosional, ia bisa berubah menjadi bentuk penghindaran yang pasif. Bukan pemulihan yang sadar, melainkan shutdown yang tidak sepenuhnya terkontrol.
Lalu ada pola lain yang lebih halus: belanja impulsif. Dalam banyak observasi perilaku digital, momen stres sering beriringan dengan keputusan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Di sini, aktivitas konsumsi bukan tentang barang, tetapi tentang sensasi kontrol instan. Ada rasa “aku masih bisa memilih sesuatu” di tengah situasi yang terasa tidak terkendali.
Fenomena ini pernah dibahas dalam literatur perilaku konsumen sebagai retail therapy, di mana tindakan membeli barang menjadi bentuk regulasi emosi jangka pendek. Namun efeknya sering bersifat sementara, karena masalah utama tidak pernah benar-benar disentuh.
Dan tentu saja, emotional eating menjadi bentuk pelarian yang paling primal. Makanan menjadi medium yang paling mudah diakses untuk mengisi kekosongan emosional. Dalam perspektif psikologi evolusioner, ini tidak mengherankan—otak manusia terhubung kuat dengan sistem reward yang merespons makanan sebagai sumber keamanan. Namun dalam konteks modern, respons ini sering tidak lagi selaras dengan kebutuhan fisik, melainkan kebutuhan emosional yang tidak terverbaliskan.
Daniel Siegel dalam The Developing Mind menjelaskan bahwa regulasi emosi sering terjadi melalui tubuh sebelum melalui pikiran. Makan berlebihan dalam kondisi stres bisa dilihat sebagai bentuk somatic regulation yang terjadi tanpa narasi kognitif yang jelas.
Dalam kehidupan nyata, terutama di lingkungan akademik dan kerja awal, stres jarang hadir sebagai satu peristiwa tunggal. Ia biasanya merupakan akumulasi dari banyak hal kecil: tekanan ekspektasi, ketidakpastian masa depan, kelelahan sosial, dan rasa tidak cukup baik yang terus menumpuk.
Ketika beban ini mencapai titik tertentu, otak tidak lagi memproses dalam bentuk analisis, tetapi dalam bentuk respons otomatis. Inilah mengapa pelarian terasa begitu natural—bukan karena dipilih secara sadar, tetapi karena sudah menjadi jalur yang paling cepat untuk mengurangi ketegangan internal.
Erving Goffman, dalam teorinya tentang presentation of self, menjelaskan bahwa manusia selalu berada dalam panggung sosial. Namun ketika stres berat terjadi, panggung itu runtuh untuk sementara. Yang tersisa bukan lagi “diri yang ditampilkan”, melainkan “diri yang bertahan”. Dan di titik ini, perilaku pelarian muncul sebagai upaya sederhana untuk menjaga sistem tetap berjalan, meskipun tidak ideal.
Salah satu kesalahpahaman paling umum tentang perilaku pelarian adalah menganggapnya sebagai kegagalan kontrol diri. Padahal, dalam banyak kasus, ia adalah bahasa terakhir yang digunakan tubuh ketika kata-kata sudah tidak cukup.
Doomscrolling, tidur berlebihan, belanja impulsif, atau makan emosional bukan sekadar “kebiasaan buruk”, tetapi sinyal bahwa sistem regulasi emosi sedang mencari cara tercepat untuk menurunkan intensitas tekanan.
Brené Brown dalam Daring Greatly menekankan bahwa rasa tidak nyaman emosional sering mendorong manusia untuk mencari anestesi psikologis. Namun yang lebih penting dari sekadar menghentikan perilaku tersebut adalah memahami apa yang sebenarnya sedang dicoba diredam.
Di titik ini muncul perspektif yang sering terlewat: pelarian bukan masalah utama, tetapi indikator dari masalah yang lebih dalam.
Ketika seseorang terus-menerus kembali ke pola yang sama—scrolling tanpa akhir, tidur berlebihan, belanja impulsif—yang sedang bekerja bukan sekadar kebiasaan, tetapi sistem regulasi emosi yang belum menemukan cara yang lebih adaptif.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan “mengapa melakukan ini?”, tetapi “apa yang sebenarnya sedang terlalu berat untuk ditahan tanpa pelarian ini?”
Dalam realitas yang semakin cepat dan penuh tekanan, pelarian bukan lagi sesuatu yang jarang terjadi, melainkan bagian dari cara manusia modern bertahan. Ia bisa muncul dalam bentuk yang sangat halus, hampir tidak terlihat sebagai masalah, atau justru sangat jelas sebagai penghindaran.
Namun di balik semua bentuknya, ada satu benang merah yang sama: usaha untuk mengurangi beban emosional dengan cara tercepat yang tersedia.
Matthew Walker, Sherry Turkle, Daniel Siegel, hingga Brené Brown, dalam karya-karya mereka, secara tidak langsung mengarah pada satu kesimpulan yang sama: manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari emosinya, hanya mencari cara berbeda untuk mengelolanya.
Mungkin yang paling penting bukan menghilangkan pelarian sepenuhnya, tetapi memahami bahwa setiap bentuk pelarian selalu membawa pesan tentang apa yang sedang tidak tertampung dalam kesadaran.
Dan di antara doomscrolling, tidur panjang, belanja impulsif, atau makan berlebihan, yang sebenarnya sedang terjadi bukan sekadar perilaku, tetapi percakapan diam antara tubuh dan pikiran yang sedang kelelahan.
Brown, Brené. Daring Greatly. Gotham Books, 2012.
Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books, 1959.
Siegel, Daniel J. The Developing Mind: How Relationships and the Brain Interact to Shape Who We Are. Guilford Press, 2012.
Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books, 2011.
Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.
Notifications