Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Saat melihat orang lain lebih sukses dari kamu, apa hal yang paling sering kamu rasakan?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
30

Bukan Sekadar Iri, Tapi Campuran yang Sulit Dijelaskan

Ada momen yang cukup sunyi tapi terasa dalam: melihat orang lain melangkah lebih jauh—kariernya naik, usahanya berkembang, atau pencapaiannya terlihat jelas. Reaksi pertama sering bukan satu emosi tunggal, tapi campuran yang agak rumit.

Ada kagum, iya. Tapi juga ada perasaan tertinggal. Ada dorongan untuk ikut bergerak, tapi juga muncul pertanyaan diam-diam: “Kenapa bukan diri ini?”

Perbandingan yang Datang Tanpa Diundang

Menariknya, perasaan ini sering muncul bukan karena sengaja membandingkan, tapi karena perbandingan itu terjadi hampir otomatis.

Leon Festinger dalam teori social comparison menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai diri dengan membandingkan dengan orang lain. Ini bukan kelemahan, tapi mekanisme untuk memahami posisi diri.

Masalahnya, ketika yang dibandingkan hanya bagian terbaik dari orang lain dengan keseluruhan diri sendiri, hasilnya hampir selalu terasa timpang.

Antara Termotivasi dan Tertekan

Ada dua arah yang bisa muncul dari situasi ini.

Di satu sisi, melihat orang lain sukses bisa memicu semangat—seolah ada bukti bahwa sesuatu itu mungkin dicapai. Tapi di sisi lain, jika jaraknya terasa terlalu jauh, justru bisa berubah menjadi tekanan.

Carol Dweck dalam Mindset menggambarkan bagaimana perbedaan cara pandang memengaruhi respons ini. Dengan growth mindset, keberhasilan orang lain bisa dilihat sebagai inspirasi. Tapi dengan fixed mindset, hal yang sama bisa terasa seperti ancaman.

Rasa Tertinggal yang Tidak Selalu Rasional

Salah satu hal yang sering tidak disadari adalah bahwa rasa tertinggal tidak selalu berdasarkan perbandingan yang adil.

Latar belakang berbeda, timing berbeda, peluang berbeda. Tapi pikiran cenderung menyederhanakan semuanya menjadi satu garis lurus—seolah semua orang memulai dari titik yang sama.

Padahal, yang terlihat di permukaan sering hanya hasil, bukan proses panjang di belakangnya.

Insight yang Jarang Diakui: Ada Rasa Takut Tidak Cukup

Di balik rasa iri atau tidak nyaman, sering tersembunyi sesuatu yang lebih dalam: ketakutan bahwa diri ini mungkin tidak cukup.

Bukan hanya soal pencapaian, tapi soal nilai diri.

Brené Brown dalam The Gifts of Imperfection banyak membahas tentang rasa scarcity—perasaan bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup sukses, atau tidak cukup cepat. Dan momen perbandingan sering memperkuat perasaan ini.

Perlahan Mengubah Arah Perhatian

Yang membantu bukan menghilangkan perasaan itu sepenuhnya—karena itu cukup alami—tapi menggeser fokusnya.

Dari:

“Kenapa dia bisa?”
Menjadi:
“Bagian mana dari perjalanannya yang bisa dipelajari?”

Perubahan kecil ini tidak menghapus rasa tidak nyaman, tapi membuatnya lebih produktif.

Penutup: Antara Mengakui dan Tidak Terjebak

Melihat orang lain lebih sukses hampir selalu memicu sesuatu—kagum, iri, atau bahkan ragu pada diri sendiri. Dan itu manusiawi.

Yang penting bukan menolak perasaan itu, tapi tidak membiarkannya mendefinisikan diri.

Karena setiap perjalanan punya ritmenya sendiri. Dan mungkin, yang lebih penting bukan seberapa cepat dibanding orang lain, tapi apakah tetap bergerak, meskipun pelan.

Karena pada akhirnya, perbandingan tidak benar-benar memberi arah. Tapi kesadaran atas langkah sendiri bisa.

Melihat kesuksesan orang lain sering kali memicu respons emosional yang kompleks dan berlapis. Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan erat dengan Social Comparison Theory (Teori Perbandingan Sosial) yang dikemukakan oleh Leon Festinger. Otak kita secara otomatis melakukan kalibrasi diri terhadap orang lain untuk mengevaluasi posisi sosial, pencapaian, dan harga diri kita. Hal ini selaras dengan pemikiran Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow; Sistem 1 kita sering kali bereaksi secara instan dengan emosi yang bersifat komparatif sebelum Sistem 2 sempat memberikan konteks rasional tentang perjalanan hidup yang berbeda-beda.

Berikut adalah beberapa hal yang paling sering dirasakan oleh seseorang saat dihadapkan pada kesuksesan orang lain:

  • Rasa Kurang atau Insekuritas: Ini adalah respons paling umum. Kita cenderung membandingkan "bagian belakang layar" hidup kita yang penuh perjuangan dengan "cuplikan terbaik" (highlight reel) hidup orang lain. Hal ini memicu perasaan bahwa kita tidak cukup cepat, tidak cukup pintar, atau telah gagal dalam jalur yang kita ambil.
  • Envy (Iri Hati) – Benign vs. Malicious: Psikologi membedakan iri menjadi dua. Benign envy (iri positif) memicu keinginan untuk menyamai kesuksesan tersebut, sedangkan malicious envy (iri negatif) disertai keinginan agar orang tersebut kehilangan kesuksesannya.
  • Fear of Missing Out (FOMO): Perasaan takut tertinggal atau merasa bahwa peluang-peluang besar telah habis diambil oleh orang lain, sehingga menciptakan kecemasan akan masa depan sendiri.

Dinamika Kognitif dan Perangkap 'Fixed Mindset'

Reaksi kita terhadap kesuksesan orang lain sangat ditentukan oleh mindset yang kita miliki. Sebagaimana dijelaskan oleh Carol Dweck dalam Mindset, seseorang dengan Fixed Mindset akan melihat kesuksesan orang lain sebagai ancaman terhadap ego mereka. Mereka merasa bahwa kemampuan bersifat statis, sehingga keberhasilan orang lain dianggap sebagai bukti kegagalan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka yang memiliki Growth Mindset akan melihat kesuksesan orang lain sebagai roadmap atau bukti bahwa pencapaian tersebut mungkin untuk diraih, yang kemudian berubah menjadi inspirasi.

Secara neurobiologis, Daniel Siegel dalam Mindsight menekankan pentingnya integrasi saraf untuk mengelola emosi reaktif ini. Jika kita tidak memiliki kesadaran diri (self-awareness) yang kuat, rasa iri dapat mengaktifkan sistem limbik yang memicu stres kronis. Namun, dengan mindsight, kita bisa mengamati rasa iri tersebut tanpa menjadi bagian darinya, menyadari bahwa "kesuksesan orang lain bukanlah kegagalan saya."

Sintesis: Mengubah Komparasi Menjadi Refleksi

Secara filosofis, Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning mengingatkan bahwa makna hidup bersifat unik bagi setiap individu. Membandingkan kesuksesan lahiriah dengan orang lain sering kali merupakan pencarian makna yang salah alamat. Kesuksesan orang lain sebenarnya adalah "data", bukan "hakim". Data tersebut bisa memberi tahu kita tentang apa yang mungkin, tentang strategi yang bekerja, atau tentang area yang ingin kita kembangkan.

Penutup dari dialektika emosional ini adalah menyadari bahwa rasa iri atau rasa kurang adalah bagian alami dari menjadi manusia. Langkah paling efektif bukan dengan menekan perasaan tersebut, melainkan dengan mengakuinya dan mengalihkan energinya untuk memperbaiki diri sendiri. Fokuslah pada kemajuan diri Anda dibandingkan diri Anda yang kemarin, bukan dibandingkan dengan orang lain yang memiliki garis start dan rintangan yang berbeda. Pada akhirnya, satu-satunya perbandingan yang sehat adalah perbandingan yang mendorong Anda untuk tumbuh tanpa mengikis rasa hormat terhadap perjalanan unik yang sedang Anda tempuh.


Daftar Pustaka

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. Bantam Books.