Selingkuh adalah perbuatan mengingkari komitmen dalam suatu hubungan, saat salah satu pasangan berpaling atau menjalin hubungan dengan orang lain secara sembunyi-sembunyi. Lalu, bagaimana kondisi psikologis individu yang diselingkuhi? Apakah menjadi korban perselingkuhan menyebabkan trauma atau gangguan psikologis lainnya?
Penelitian yang dilakukan oleh M. Rosie Shrouta dan Daniel J. Weigel [1] menunjukkan bahwa perselingkuhan atau ketidaksetiaan pasangan kita dapat menyebabkan peningkatan kecemasan, depresi dan juga stres.
Bagaimana hal itu terjadi ?
Cinta, merupakan salah satu trigger yang dapat melepaskan oksitosin dan dopamin (zat yang dapat membuat kita tenang dan nyaman) dan memicu perasaan euforia. Hal itu akan membuat otak Anda ketagihan terhadap efek dopamin tersebut. Lalu bagaimana dengan adanya perselingkuhan ? Hal itu akan membuat perubahan terbalik dimana kita akan merasakan "penderitaan" karena terputusnya zat-zat tersebut didalam otak kita.
Selain itu, adanya perselingkuhan dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan stres pasca-trauma akibat pelanggaran hubungan yang sebelumnya tidak ada sebelum perselingkuhan. Beberapa gejala umum mungkin termasuk mengalami mimpi buruk, dan terobsesi tentang peristiwa tersebut. Kita juga mungkin akan mengalami hyperarousal dan menjadi reaktif pada setiap ancaman yang dirasakan terhadap diri sendiri atau hubungan Anda. Hal lainnya adalah kita bisa mengalami gangguan pola tidur dan makan.
Yang menarik adalah, penelitian yang dilakukan oleh Manoochehr [2], 2019, menemukan bahwa wanita cenderung lebih tertekan apabila terjadi "perselingkuhan emosional" dari pasangannya sedangkan pria cenderung menjadi lebih tertekan karena adanya "perselingkuhan fisik".
Oleh karena itu, sebaiknya buang kosakata "selingkuh" dalam pikiran kita, karena perselingkuhan atau ketidaksetiaan terhadap pasangan kita akan berdampak buruk terhadap kesehatan mental pasangan kita, yang ujungnya juga dapat berakibat buruk pada kesehatan fisik pasangan kita.
Referensi :
[1] M. Rosie Shrout and Daniel J. Weigel, 2019, Coping with infidelity: The moderating role of self-esteem, Personality and Individual Differences.
[2] Manoochehr Taghi Pour, Asmah Ismail, Wan Marzuki Wan Jaafar and Yusni Mohamad Yusop, 2019, Infidelity in Marital Relationships, Psychology & Psychological Research International Journal, Volume 4 Issue 2.
Orang yang mengalami pengkhianatan dalam hubungan percintaan seringkali menghadapi dampak psikologis yang kompleks dan mendalam. Salah satu dampak utamanya adalah terjadinya trauma emosional yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental secara keseluruhan. Pengkhianatan dapat menciptakan rasa kehilangan, kepercayaan diri yang rusak, dan perubahan paradigma mengenai cinta dan keamanan hubungan.
Pertama-tama, pengkhianatan cenderung menciptakan rasa tidak aman dan tidak percaya pada diri sendiri dan orang lain. Korban seringkali merasa seperti kepercayaan mereka telah disalahgunakan, dan ini dapat merusak fondasi kepercayaan pada hubungan manusiawi. Mereka mungkin bertanya-tanya apakah orang lain juga akan mengecewakan mereka, dan ini dapat menyulitkan dalam membangun kembali kepercayaan.
Selain itu, dampak psikologis dari perselingkuhan bisa mencakup perubahan dalam persepsi diri. Orang yang diselingkuhi mungkin mengalami perasaan rendah diri, meragukan daya tarik mereka, dan bahkan merasa bersalah atas kegagalan hubungan tersebut. Ini dapat menyebabkan penurunan harga diri dan perasaan tidak berharga.
Pengkhianatan juga dapat menimbulkan rasa cemas dan depresi. Ketidakpastian mengenai masa depan hubungan, perasaan ditolak, dan perasaan ditinggalkan dapat memicu gejala-gejala kecemasan dan depresi yang signifikan. Hal ini dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional seseorang dan bahkan mengganggu fungsi sehari-hari.
Selanjutnya, orang yang diselingkuhi mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk kembali hubungan yang sehat. Mereka dapat menjadi skeptis terhadap niat baik pasangan baru, atau sebaliknya, mereka mungkin menjadi terlalu waspada dan cemas dalam hubungan baru. Ini bisa menghambat kemampuan mereka untuk membuka hati dan merasakan kebahagiaan dalam hubungan selanjutnya.
Pengkhianatan juga dapat memicu emosi marah dan kebencian yang mendalam. Orang yang diselingkuhi mungkin mengalami kesulitan dalam memaafkan pasangan yang berselingkuh, dan rasa marah ini dapat berlanjut untuk waktu yang lama. Meresapi emosi negatif seperti ini dapat merugikan kesejahteraan mental dan bahkan fisik.
Dalam beberapa kasus, pengkhianatan dapat menciptakan sirkuit emosional yang sulit diputus. Orang yang diselingkuhi mungkin mengalami flashback emosional yang merusak, di mana mereka terus-menerus mengalami kembali kejadian pengkhianatan tersebut. Ini dapat mempertahankan tingkat stres dan kecemasan yang tinggi.
Kesimpulannya, dampak psikologis pengkhianatan dalam hubungan dapat sangat signifikan dan bervariasi. Dengan memahami kerumitan emosi yang terlibat, orang yang mengalami pengkhianatan dan mereka di sekitarnya dapat mencari dukungan yang diperlukan untuk proses penyembuhan. Terapi individu atau bersama pasangan, dukungan sosial, dan waktu yang cukup mungkin diperlukan untuk membantu seseorang pulih dari dampak psikologis yang mendalam ini.