Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Menurut kalian, apakah penting menerapkan sikap senioritas pada saat ospek?

SH sheila sausan 5 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
27

Menurut saya adanya senioritas saat ospek mahasiswa baru sangat tidak perlu dan tidak penting. Adanya senioritas nantinya akan berujung pada tindakan semena-mena kakak tingkat kepada mahasiswa baru. Setiap tahunnya ada saja kasus-kasus tentang senioritas selama ospek dan sudah menjadi rahasia umum kalau senioritas ini telah menjadi budaya pada beberapa jurusan/kampus. Menurut saya senioritas ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Lagipula apa yang dihasilkan dari senioritas selain dampak negatif bagi fisik dan mental. Saat ini yang dituntut bukan lagi membuat topi dari kardus, kalung dari permen, nametag atau pin yang harus sama satu angkatan, atau atribut lainnya. Cara-cara seperti diteriaki senior untuk kompak, penerapan aturan salah satu salah semua, hukuman fisik dan lain sebagainya adalah cara-cara primitif yang dimanfaatkan oleh mahasiswa tidak bertanggung jawab yang haus akan perhatian dan rasa hormat. Alih-alih metode primitif seperti itu, saya rasa akan jauh lebih efektif jika menggunakan pendekatan yang lebih friendly dan bisa membangun soft skill mahasiswa baru, seperti mengadakan diskusi terbuka terkait isu-isu terkini, pemberian tugas ospek yang diganti menjadi membuat esai atau karya tulis ilmiah lain yang tidak perlu dibarengi dengan bentakan atau teriakan.

Sudah tidak diperlukan lagi karena di zaman sekarang senioritas bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam ospek. Banyak dampak negatif  yang ditimbulkan akibat dari senioritas yang berlebihan, salah satunya bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Penggunaan atribut ospek yang sudah setiap tahun menjadi budaya juga sangat tidak relevan dengan perkembangan zaman saat ini, ospek seakan menjadi ajang untuk memperlmalukan. Padahal di era sekarang pengembangan soft skill sangatlah dibutuhkan alih-alih mendewakan senioritas. Perlu adanya kreativitas dari pihak kampus dan panitia ospek dalam membuat sebuah orientasi yang tidak hanya berkesan tetapi juga memberikan dampak positif bagi para mahasiswa baru agar lebih semangat menjalani rutinitas di kampus.

Menurut saya pribadi, sistem senioritas yang diterapkan kepada mahasiswa baru sangatlah tidak penting. Karena, banyak sistem senioritas ini disalahgunakan oleh para senior untuk melakukan bully terhadap adik tingkatnya. Dibanding dengan dampak positifnya, menurut saya senioritas lebih banyak dampak negatifnya. Tidak dipungkiri, setiap tahunnya pasti ada saja kasus kasus baru mengenai senioritas pada saat ospek, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini berujung dengan kematian.

Masih banyak cara lain yang bisa digunakan saat ospek, alangkah lebih baik jika ospek menjadi ajang perkembangan dan pelatihan softskill kepada mahasiswanya dengan cara yang friendly dan menarik. Memperkenalkan mahasiswa tentang bagaimana dunia perkuliahan, bagaimana tugas-tugas yang biasa diberikan, dan lain sebagainya.

Menurut saya, tidak perlu. Senioritas sendiri merupakan sebuah budaya yang dapat kita temui serta berkembang dalam beberapa aspek kehidupan, misalnya di tempat kerja dan sekolah. Sekolah-sekolah di Asia cenderung masih menerapkan sistem senioritas untuk menunjukkan rasa sopan atau hormat dari yang lebih muda ke yang lebih tua. Adanya senioritas saat ospek saya rasa tidak perlu karena akan menimbulkan suatu hal yang kurang ramah rasanya. Ospek adalah ajang pengenalan kampus yang diberikan kepada mahasiswa baru, harusnya sebagai sesama mahasiswa yang berkuliah di kampus yang sama mahasiswa yang berpartisipasi sebagai panitia ospek hanya perlu fokus untuk memberikan pengenalan kampus secara baik dan ramah kepada para mahasiswa baru, agar mereka memiliki semangat untuk bisa belajar Senioritas tidak masalah untuk diterapkan sebagai sebuah budaya kespoanan yang memang dijunjung tinggi, tapi bukan berarti jika sudah menjadi senior bisa melakukan hal yang seenaknya kepada junior begitu pula dengan junior. Menjadi saling hormat tanpa ada pengaruh senioritas merupakan hal yang paling penting daripada fokus kepada penerapan senioritas itu sendiri.

Senioritas sendiri menurut KBBI artinya keadaan yang lebih tinggi dalam hal pangkat, usia dan pengalaman. Namun, semakin kesini, senioritas diartikan dalam makna yang negatif, seperti orang dengan keadaan lebih tinggi merendahkan orang dengan keadaan yang lebih rendah darinya. Menurut saya, hal tersebut sudah melenceng dari makna senioritas itu sendiri. Seorang senior, yang sudah lebih berpengalaman dalam suatu lingkungan, seharusnya justru melindungi dan membimbing juniornya yang baru belajar dan mengenali lingkungan tersebut.

Lagipula, dalam lingkungan kampus sendiri, tidak semua senior berusia lebih tua dari juniornya. Sehingga, seharusnya seorang senior tetap memperhatikan etika kesopanan baik juniornya lebih muda darinya, apalagi jika ternyata juniornya lebih tua darinya. Mendisiplinkan seseorang tidak perlu dengan cara memberikan treatment seperti lomba bertahan hidup. Seorang anak sudah dirawat dan dididik dengan penuh cinta dan kasih sayang oleh orang tuanya. Maka, jangan rusak kebahagiaannya padahal kita sama sekali tidak mengenalinya dan tidak membantu merawatnya.

Pertanyaan tentang senioritas dalam ospek sering memunculkan perdebatan yang cukup emosional. Sebagian orang menganggapnya sebagai tradisi yang penting untuk membentuk mental. Sebagian lainnya melihatnya sebagai sesuatu yang sudah tidak relevan dengan dunia pendidikan modern.

Namun jika kita mencoba melihatnya lebih pelan—bukan hanya dari sisi pengalaman pribadi, tetapi juga dari cara manusia memahami kekuasaan, identitas kelompok, dan dinamika hubungan sosial—pertanyaan ini sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar “boleh atau tidak boleh”.

Karena pada dasarnya, ospek bukan hanya kegiatan orientasi. Ia adalah momen pertama ketika seseorang memasuki sebuah sistem sosial baru.

Dan bagaimana sistem itu memperlakukan anggotanya di awal sering meninggalkan jejak psikologis yang cukup panjang.


Mengapa Senioritas Mudah Muncul Dalam Kelompok

Ketika sekelompok manusia membentuk struktur sosial, hampir selalu muncul sesuatu yang disebut hierarki.

Hierarki bukan selalu sesuatu yang buruk. Dalam banyak situasi, ia membantu kelompok berjalan lebih teratur. Dalam organisasi kerja misalnya, hierarki membantu menentukan siapa yang mengambil keputusan dan siapa yang menjalankan tugas tertentu.

Namun dalam konteks kelompok yang baru terbentuk—seperti mahasiswa baru yang memasuki lingkungan kampus—hierarki sering berkembang menjadi sesuatu yang lebih emosional: senioritas.

Senioritas bukan hanya tentang siapa yang lebih dulu datang. Ia sering berkembang menjadi simbol status.

Orang yang lebih dulu masuk merasa memiliki posisi yang lebih tinggi. Orang yang baru masuk ditempatkan pada posisi yang lebih rendah.

Dalam psikologi sosial, fenomena seperti ini berkaitan dengan konsep social identity theory yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John Turner (Tajfel & Turner, 1979). Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membentuk identitas kelompok dan membedakan antara “kami” dan “mereka”.

Senior menjadi kelompok “kami”.
Mahasiswa baru menjadi kelompok “mereka”.

Dan dalam banyak kasus, perbedaan ini kemudian diperkuat melalui ritual-ritual tertentu.


Tradisi, Tekanan Kelompok, dan Siklus yang Berulang

Menariknya, banyak tradisi senioritas dalam ospek sebenarnya tidak pernah dirancang secara sadar sebagai sistem yang kejam.

Sebagian besar muncul dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: warisan pengalaman.

Seseorang yang pernah menjalani ospek keras sering berkata, “Kami dulu juga diperlakukan seperti ini.”

Kalimat ini terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya menyimpan dinamika psikologis yang sangat kuat.

Dalam penelitian tentang dinamika kelompok, fenomena ini sering disebut sebagai cycle of abuse atau siklus perlakuan yang diwariskan (Bandura, 1977). Ketika seseorang pernah mengalami perlakuan keras dalam suatu sistem, ada kemungkinan ia menganggap perlakuan itu sebagai bagian normal dari sistem tersebut.

Bukan karena ia ingin menyakiti orang lain.

Tetapi karena pengalaman yang pernah ia alami mulai terlihat normal setelah waktu berlalu.

Dan di sinilah siklus itu sering berlanjut.

Orang yang dulu diperlakukan keras menjadi orang yang memperlakukan generasi berikutnya dengan cara yang sama.


Apakah Tekanan Bisa Membentuk Mental?

Salah satu argumen yang paling sering digunakan untuk membenarkan senioritas dalam ospek adalah bahwa tekanan bisa membentuk mental yang kuat.

Argumen ini tidak sepenuhnya salah.

Penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa manusia memang bisa berkembang melalui pengalaman yang menantang. Konsep ini dikenal sebagai post-traumatic growth, yaitu kemampuan seseorang untuk menemukan kekuatan baru setelah mengalami kesulitan (Tedeschi & Calhoun, 2004).

Namun ada perbedaan penting yang sering tidak disadari.

Kesulitan yang membantu seseorang berkembang biasanya memiliki tiga karakteristik:

  1. Tantangan tersebut memiliki makna yang jelas.
  2. Tantangan tersebut tidak merendahkan martabat individu.
  3. Tantangan tersebut terjadi dalam lingkungan yang tetap memberikan rasa aman psikologis.

Jika tekanan hanya berbentuk penghinaan, teriakan, atau perlakuan yang mempermalukan seseorang di depan orang lain, hasilnya sering berbeda.

Alih-alih membentuk mental, pengalaman seperti itu bisa menimbulkan sesuatu yang disebut psychological humiliation, yaitu perasaan dipermalukan secara sosial yang dapat meninggalkan jejak emosional cukup lama (Lindner, 2006).

Dan yang sering tidak terlihat adalah bahwa luka seperti ini kadang tidak muncul dalam bentuk tangisan atau protes.

Ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: rasa tidak percaya diri, ketakutan berbicara, atau perasaan bahwa lingkungan baru bukan tempat yang aman.


Perbedaan Antara Disiplin dan Dominasi

Ada satu perbedaan yang sangat penting tetapi sering kabur dalam praktik ospek: perbedaan antara mendidik dan mendominasi.

Mendidik berarti membantu seseorang berkembang.

Mendominasi berarti menunjukkan kekuasaan.

Dalam banyak kegiatan orientasi yang sehat, mahasiswa baru diperkenalkan pada budaya kampus, nilai-nilai akademik, serta keterampilan untuk bertahan dalam kehidupan kuliah yang sering menantang.

Namun ketika senioritas berubah menjadi ajang menunjukkan kekuasaan—teriakan tanpa makna, hukuman yang mempermalukan, atau aturan yang sengaja dibuat tidak masuk akal—orientasi mulai kehilangan tujuan awalnya.

Yang terbentuk bukan karakter, tetapi rasa takut.

Dan rasa takut jarang menjadi fondasi yang baik untuk proses belajar.


Kenapa Banyak Orang Masih Membela Senioritas?

Jika banyak penelitian menunjukkan dampak negatif dari senioritas yang berlebihan, mengapa praktik ini masih bertahan di banyak tempat?

Jawabannya sering berkaitan dengan sesuatu yang sangat manusiawi: kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok.

Ketika seseorang berhasil melewati proses ospek yang keras, ada rasa bangga tertentu yang muncul.

“Aku berhasil melewati ini.”

Perasaan ini kemudian menjadi bagian dari identitas kelompok.

Jika tradisi tersebut dihilangkan, sebagian orang merasa seolah-olah pengalaman mereka kehilangan makna.

Ini mirip dengan fenomena yang disebut effort justification dalam psikologi sosial (Festinger, 1957). Ketika seseorang mengeluarkan usaha atau mengalami kesulitan untuk mendapatkan sesuatu, ia cenderung menilai pengalaman itu sebagai sesuatu yang lebih berharga.

Dengan kata lain, semakin berat prosesnya, semakin kuat kecenderungan seseorang untuk membela proses tersebut.


Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Mahasiswa Baru

Ketika seseorang memasuki dunia kampus, ia sedang berada dalam fase kehidupan yang cukup sensitif.

Banyak hal berubah sekaligus.

Lingkungan baru.
Teman baru.
Sistem belajar yang berbeda.
Ekspektasi yang lebih besar terhadap kemandirian.

Dalam psikologi perkembangan, masa ini sering disebut sebagai fase emerging adulthood, sebuah periode di mana seseorang mulai membentuk identitas dewasa tetapi masih dalam proses mencari arah hidup (Arnett, 2000).

Pada fase ini, pengalaman pertama di lingkungan baru memiliki pengaruh yang cukup besar.

Jika pengalaman itu penuh penghinaan, seseorang mungkin belajar bahwa dunia baru ini adalah tempat yang harus dihadapi dengan rasa takut.

Namun jika pengalaman itu penuh tantangan yang bermakna, seseorang mungkin belajar bahwa lingkungan baru ini adalah tempat untuk berkembang.


Sebuah Renungan

Tradisi sering memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia. Ia memberi rasa kontinuitas antara generasi yang satu dengan generasi berikutnya.

Namun setiap tradisi juga memiliki satu pertanyaan yang perlu diajukan dari waktu ke waktu:

apakah tradisi itu masih membantu manusia tumbuh, atau hanya bertahan karena sudah lama ada?

Senioritas dalam ospek sering berdiri di antara dua kemungkinan itu.

Ia bisa menjadi sarana pembelajaran yang membangun kebersamaan, tanggung jawab, dan kedewasaan.

Namun ia juga bisa berubah menjadi ritual kekuasaan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipertanyakan.

Dan mungkin pada akhirnya, pertanyaan tentang senioritas bukan hanya tentang ospek itu sendiri.

Ia juga tentang bagaimana manusia memperlakukan orang yang datang setelah mereka.

Karena cara suatu generasi menyambut generasi berikutnya sering mengatakan sesuatu yang sangat dalam tentang siapa mereka sebenarnya.


Referensi

Arnett, J. J. (2000). Emerging Adulthood: A Theory of Development from the Late Teens Through the Twenties. American Psychologist.

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

Lindner, E. (2006). Making Enemies: Humiliation and International Conflict. Praeger Security International.

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict. In The Social Psychology of Intergroup Relations.

Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic Growth: Conceptual Foundations and Empirical Evidence. Psychological Inquiry.

Pertanyaan tentang senioritas dalam ospek sebenarnya menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar tradisi kampus. Ia menyentuh cara manusia memahami kekuasaan, hierarki, rasa memiliki kelompok, dan—yang sering kali luput disadari—bagaimana pengalaman sosial awal dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri dalam komunitas.

Ketika seseorang pertama kali masuk ke lingkungan baru seperti universitas, ia sedang berada dalam fase psikologis yang cukup rentan. Identitas lama perlahan berubah, peran sosial bergeser, dan otak sedang mencoba memahami aturan tidak tertulis dari dunia yang baru dimasukinya.

Dalam ilmu perkembangan manusia, masa ini sering disebut sebagai masa transisi identitas dewasa awal. Dalam buku Development Through Life: A Psychosocial Approach, Barbara Newman dan Philip Newman menjelaskan bahwa masa awal dewasa ditandai oleh kebutuhan besar untuk menemukan tempat dalam struktur sosial yang baru. Seseorang mulai bertanya dalam diam: di mana posisi saya di sini? Apakah saya diterima? Apakah saya dihargai?

Dalam konteks itulah kegiatan seperti ospek muncul. Secara teori, ospek dimaksudkan untuk membantu mahasiswa baru memahami budaya kampus, mengenal lingkungan akademik, serta membangun rasa kebersamaan.

Namun dalam praktiknya, di banyak tempat, ospek sering berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks: sebuah sistem senioritas yang menempatkan kelompok tertentu pada posisi dominan dan kelompok lain pada posisi yang harus patuh.

Dan di titik inilah pertanyaan menjadi menarik: apakah sistem seperti itu benar-benar penting?

Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat bagaimana otak manusia bereaksi terhadap hierarki sosial.

Manusia adalah makhluk yang sangat peka terhadap struktur kekuasaan. Bahkan sejak kecil, otak kita belajar mengenali siapa yang memiliki otoritas dan siapa yang harus mengikuti.

Penelitian dalam bidang neuropsikologi sosial menunjukkan bahwa struktur otak seperti amygdala dan anterior cingulate cortex sangat aktif ketika seseorang berada dalam situasi sosial yang melibatkan dominasi dan subordinasi. Dalam buku Social: Why Our Brains Are Wired to Connect, Matthew Lieberman menjelaskan bahwa otak manusia memiliki sistem yang sangat sensitif terhadap penerimaan sosial maupun ancaman terhadap status sosial.

Artinya, ketika seseorang ditempatkan dalam situasi di mana ia harus tunduk secara sosial—terutama di lingkungan yang baru—tubuh dan otaknya tidak hanya memproses itu sebagai pengalaman sosial biasa.

Ia juga memprosesnya sebagai pengalaman biologis.

Rasa gugup, takut melakukan kesalahan, atau keinginan kuat untuk diterima bukan sekadar emosi ringan. Itu adalah respons sistem saraf yang sangat nyata.

Karena itu, pengalaman ospek bisa memiliki dampak psikologis yang berbeda-beda pada setiap orang.

Ada yang menganggapnya sekadar pengalaman lucu yang akan dikenang.

Ada juga yang diam-diam membawa pulang rasa malu, tertekan, atau bahkan terluka secara psikologis.

Saya pernah mengenal seseorang yang tampaknya sangat percaya diri ketika memasuki dunia kampus. Ia aktif di sekolah, memiliki banyak teman, dan terbiasa menjadi sosok yang cukup menonjol.

Namun setelah melewati masa orientasi yang penuh tekanan sosial, sesuatu dalam dirinya berubah. Ia mulai merasa tidak nyaman berada dalam forum besar. Setiap kali berbicara di depan kelompok senior, ia merasakan ketegangan yang tidak bisa dijelaskan.

Tidak ada kejadian ekstrem yang terjadi. Tidak ada kekerasan fisik atau peristiwa dramatis.

Namun pengalaman berada dalam posisi sosial yang sangat rendah di awal masa kuliah ternyata meninggalkan bekas emosional yang cukup lama.

Hal-hal seperti ini sebenarnya bukan fenomena yang langka.

Dalam penelitian tentang bullying dan hierarki sosial di institusi pendidikan, ditemukan bahwa pengalaman dipermalukan secara sosial dapat memicu respons stres yang cukup kuat pada otak. Naomi Eisenberger dalam penelitiannya tentang social pain menunjukkan bahwa rasa dipermalukan atau ditolak secara sosial dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik.

Dengan kata lain, pengalaman sosial tertentu benar-benar dapat terasa seperti luka bagi otak manusia.

Namun di sisi lain, ada juga argumen yang sering digunakan untuk membela praktik senioritas dalam ospek.

Beberapa orang mengatakan bahwa tekanan tersebut diperlukan untuk membangun mental yang kuat. Bahwa mahasiswa perlu belajar menghormati hierarki. Bahwa pengalaman itu akan membentuk solidaritas.

Argumen ini tidak sepenuhnya salah.

Dalam banyak kelompok manusia—mulai dari militer hingga organisasi tradisional—ritual inisiasi memang sering digunakan untuk menciptakan rasa kebersamaan yang kuat. Dalam buku The Righteous Mind, Jonathan Haidt menjelaskan bahwa ritual kolektif yang melibatkan kesulitan bersama sering kali memperkuat identitas kelompok.

Ketika sekelompok orang melalui pengalaman yang sulit bersama, mereka cenderung merasa lebih terikat satu sama lain.

Namun ada perbedaan yang sangat penting antara ritual kebersamaan dan praktik dominasi sosial.

Ritual kebersamaan biasanya membuat semua orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Dominasi sosial sering kali membuat sebagian orang merasa kecil.

Perbedaan ini mungkin terlihat halus dari luar, tetapi dampaknya terhadap psikologi seseorang bisa sangat besar.

Dalam literatur tentang stres kronis, khususnya dalam buku Stress and the Brain, Bruce McEwen menjelaskan bahwa pengalaman sosial yang melibatkan rasa tidak berdaya dapat meningkatkan aktivitas hormon stres seperti kortisol.

Jika pengalaman itu berlangsung terus-menerus atau sangat intens, tubuh dapat memasuki kondisi yang disebut sebagai allostatic load—keadaan di mana sistem stres tubuh terus aktif dalam jangka panjang.

Dalam situasi seperti ini, yang terjadi bukan hanya perubahan emosi.

Konsentrasi dapat terganggu.
Motivasi menurun.
Rasa percaya diri perlahan terkikis.

Ironisnya, pengalaman seperti ini sering kali terjadi pada orang-orang yang sebenarnya memiliki potensi besar.

Ada satu kisah lain yang sering teringat ketika topik ini muncul.

Suatu hari saya berbincang dengan seseorang yang kini bekerja sebagai profesional yang sangat sukses. Ia dikenal tenang, cerdas, dan mampu memimpin tim dengan baik.

Namun ketika percakapan sampai pada masa awal kuliahnya, ia tiba-tiba tertawa kecil.

Ia bercerita bahwa pada masa ospek dulu, ia termasuk mahasiswa yang sering dijadikan target lelucon oleh senior. Ia diminta melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak berbahaya, tetapi cukup memalukan.

Saat itu ia ikut tertawa bersama teman-temannya.

Namun bertahun-tahun kemudian, ia menyadari sesuatu yang menarik.

Ia mengatakan bahwa pengalaman itu membuatnya berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti, jika ia berada dalam posisi berkuasa, ia tidak akan memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Kadang pengalaman sosial yang tidak nyaman justru menjadi pelajaran moral yang kuat.

Tetapi tentu tidak semua orang mengolah pengalaman seperti itu dengan cara yang sama.

Beberapa orang justru menginternalisasi pola yang mereka alami. Mereka percaya bahwa jika dulu mereka diperlakukan keras oleh senior, maka generasi berikutnya juga harus mengalami hal yang sama.

Fenomena ini dalam psikologi sosial sering disebut sebagai cycle of abuse—siklus di mana seseorang yang pernah berada dalam posisi lemah akhirnya mereproduksi pola dominasi yang sama ketika ia memperoleh kekuasaan.

Ini bukan karena mereka orang yang jahat.

Sering kali ini terjadi karena otak manusia memiliki kecenderungan kuat untuk menormalisasi pengalaman masa lalu.

Jika sesuatu dianggap sebagai “tradisi”, otak cenderung menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal tradisi tidak selalu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam banyak institusi modern, pendekatan terhadap orientasi mahasiswa sebenarnya mulai berubah. Banyak universitas di berbagai negara mulai mengganti model ospek yang bersifat hierarkis dengan pendekatan yang lebih kolaboratif.

Alih-alih menekankan dominasi senior terhadap junior, orientasi difokuskan pada mentoring, kerja sama tim, dan pengenalan budaya akademik.

Pendekatan seperti ini ternyata tidak membuat mahasiswa menjadi lebih lemah.

Sebaliknya, penelitian dalam bidang pendidikan tinggi menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasa diterima dan dihargai sejak awal cenderung memiliki keterikatan akademik yang lebih kuat.

Mereka lebih aktif dalam diskusi.
Lebih percaya diri mengemukakan ide.
Dan lebih berani mengambil peran kepemimpinan.

Hal ini dijelaskan dalam berbagai penelitian tentang sense of belonging dalam pendidikan tinggi, salah satunya dalam buku How College Affects Students oleh Ernest Pascarella dan Patrick Terenzini.

Rasa memiliki terhadap komunitas akademik ternyata memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan intelektual dan psikologis mahasiswa.

Dan rasa memiliki jarang tumbuh dari pengalaman dipermalukan.

Ia lebih sering tumbuh dari pengalaman dihargai.

Namun mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar apakah senioritas dalam ospek penting atau tidak.

Mungkin pertanyaan yang lebih dalam adalah ini:

Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh tradisi tersebut?

Apakah tujuannya membangun karakter?

Apakah tujuannya memperkenalkan budaya kampus?

Ataukah sebenarnya ia hanya menjadi cara bagi sebagian orang untuk merasakan kekuasaan, meskipun hanya untuk sementara?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jarang dijawab secara jujur, bahkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Namun setiap generasi mahasiswa selalu berada pada titik yang sama: mereka mewarisi sebuah tradisi, lalu harus memutuskan apakah tradisi itu akan dilanjutkan, diubah, atau ditinggalkan.

Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari kedewasaan sosial.

Karena pada akhirnya, setiap komunitas selalu dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil tentang bagaimana manusia memilih memperlakukan manusia lainnya.