Masalahnya bukan tidak tahu penyebab stres, tapi merasa “tidak punya alternatif yang cukup aman”
Ada pola yang cukup sering muncul: seseorang sadar bahwa rutinitasnya melelahkan, lingkungan kerjanya menekan, atau kebiasaannya sendiri justru memicu stres. Tapi anehnya, semua itu tetap dipertahankan. Bahkan diulang setiap hari, seolah tidak ada pilihan lain.
Di permukaan, ini terlihat seperti irasional. Tapi jika dilihat lebih dalam, yang dipertahankan bukan kebiasaannya, melainkan rasa aman yang sudah terbentuk di dalamnya.
Kebiasaan memberi rasa “terkendali”, meskipun menyakitkan
Charles Duhigg dalam The Power of Habit menjelaskan bahwa kebiasaan tidak hanya tentang efisiensi, tetapi juga tentang stabilitas. Ia memberi pola yang bisa diprediksi.
Dalam konteks stres, ini menciptakan paradoks: aktivitas yang melelahkan sekalipun tetap dipertahankan karena sudah dikenal.
Otak sering lebih memilih sesuatu yang pasti tapi tidak nyaman, dibanding sesuatu yang belum jelas meskipun berpotensi lebih baik.
Inilah kenapa seseorang bisa terus berada dalam pola yang sama—bukan karena menyukainya, tetapi karena sudah tahu bagaimana menjalaninya.
Reward kecil yang tersembunyi di balik stres
Tidak semua kebiasaan yang memicu stres terasa sepenuhnya negatif. Banyak di antaranya menyimpan “reward” kecil yang membuatnya terus diulang.
Bekerja berlebihan bisa memberi rasa produktif. Overthinking bisa memberi ilusi kontrol. Perfeksionisme bisa memberi validasi.
Judith Beck dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy menjelaskan bahwa perilaku yang memberikan penguatan, sekecil apa pun, cenderung dipertahankan.
Meskipun secara keseluruhan melelahkan, adanya reward kecil membuat otak tetap menganggap kebiasaan itu “berfungsi”.
Identitas yang melekat pada pola lama
Ada juga faktor yang lebih dalam: identitas diri.
Ketika seseorang sudah lama menjalani pola tertentu—misalnya selalu sibuk, selalu perfeksionis, selalu mengorbankan diri—pola itu tidak lagi sekadar kebiasaan, tapi menjadi bagian dari cara melihat diri sendiri.
James Clear dalam Atomic Habits menekankan bahwa perubahan perilaku sering gagal bukan karena sulit secara teknis, tetapi karena bertabrakan dengan identitas.
Mengubah kebiasaan berarti juga mengubah cara melihat diri sendiri—dan itu jauh lebih sulit.
Kelelahan mental mengurangi kapasitas untuk berubah
Ironisnya, stres itu sendiri membuat perubahan menjadi lebih sulit.
Matthew Walker dalam Why We Sleep menjelaskan bahwa kelelahan mental menurunkan fungsi eksekutif otak—bagian yang bertanggung jawab untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol diri.
Semakin lelah seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk kembali ke pola otomatis yang sudah ada.
Ini menciptakan lingkaran: stres membuat sulit berubah, dan ketidakmampuan untuk berubah memperpanjang stres.
Insight yang sering terlewat: bertahan dalam stres kadang terasa lebih mudah daripada menghadapi perubahan
Ada satu aspek yang jarang diakui secara terbuka: perubahan itu menuntut ketidakpastian.
Mengubah kebiasaan berarti menghadapi kemungkinan gagal, kehilangan stabilitas, atau bahkan kehilangan identitas yang selama ini dipegang.
Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia cenderung menghindari kerugian lebih kuat daripada mengejar keuntungan (loss aversion).
Akibatnya, meskipun kondisi sekarang tidak ideal, tetap terasa “lebih aman” dibanding risiko perubahan yang belum jelas.
Penutup: mempertahankan kebiasaan bukan selalu karena tidak sadar, tapi karena belum siap melepas
Pada akhirnya, seseorang yang tetap mempertahankan kebiasaan yang memicu stres bukan berarti tidak tahu atau tidak peduli. Sering kali, itu adalah hasil dari kombinasi kebiasaan, reward tersembunyi, identitas, dan keterbatasan energi untuk berubah.
Masalahnya bukan pada kurangnya kesadaran, tetapi pada belum adanya alternatif yang terasa cukup aman untuk dijalani.
Dan mungkin di situlah titik pentingnya: perubahan bukan dimulai dari memaksa berhenti, tetapi dari perlahan membangun rasa aman terhadap kemungkinan hidup yang berbeda.
Daftar Pustaka
Duhigg, Charles. The Power of Habit. Random House, 2012.
Beck, Judith S. Cognitive Behavior Therapy: Basics and Beyond. Guilford Press.
Clear, James. Atomic Habits. Avery, 2018.
Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux, 2011.
Walker, Matthew. Why We Sleep. Scribner, 2017.