Mengapa Perilaku Attention Seeking Semakin Marak?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki pengalaman dan faktor yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi perilaku attention seeking. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab perilaku ini secara individual.
Selain itu, perilaku attention seeking juga dapat menjadi masalah jika mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal. Jika Anda merasa khawatir dengan perilaku attention seeking Anda atau seseorang yang Anda kenal, penting untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental.
Kalau bicara soal attention seeking, aku sering kali merasa seolah sedang bercermin pada bagian-bagian diriku yang dulu pernah haus sekali akan diperhatikan. Rasanya seperti ada lubang di dada yang tak pernah bisa penuh, meski orang-orang di sekitarku sudah memberi banyak cinta.
Aku masih ingat waktu SMA, aku pernah sengaja membuat status panjang di Facebook, penuh kalimat dramatis yang aku tahu akan memancing komentar. Saat notifikasi berdenting, aku merasa hidup. Tapi ketika layar ponsel padam, keheningan itu kembali—dan rasanya bahkan lebih sunyi dari sebelumnya. Dari situ aku sadar: sering kali kebutuhan untuk diperhatikan bukan soal orang lain yang kurang memberi, tapi soal kita yang tak pernah benar-benar merasa cukup dengan diri sendiri.
Kenapa perilaku ini semakin marak sekarang? Menurutku karena dunia kita berubah. Dulu, untuk “dilihat”, kita harus benar-benar melakukan sesuatu di dunia nyata. Sekarang, cukup satu unggahan di Instagram, satu curhatan di Twitter, atau satu video di TikTok, dan kita bisa meraih ratusan pasang mata. Dunia digital mengajarkan kita bahwa validasi itu instan, semudah klik tombol “like”.
Tapi masalahnya, semakin sering kita mendapatkannya, semakin kita merasa butuh lebih banyak. Aku pernah berada di fase itu: menghapus foto kalau jumlah likenya tak sesuai harapan, mengulang-ulang story hanya supaya terlihat “sempurna”. Lucunya, aku tahu itu konyol, tapi tetap melakukannya. Attention is addictive. Ia seperti gula—memberi energi cepat, tapi membuat kita lapar terus-menerus.
Aku rasa banyak orang melakukan hal yang sama sekarang, karena ada rasa sepi yang tak mudah diakui. Kadang kita hanya ingin ada yang berkata: “Aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Kamu berarti.” Bukankah itu inti dari semua usaha kita untuk tampil, berbicara, mengunggah? Kita ingin memastikan bahwa kehadiran kita tidak menguap begitu saja di tengah keramaian.
Namun, semakin dewasa aku belajar, ada perhatian yang justru datang ketika kita berhenti mengejarnya. Aku pernah bertemu seorang teman yang tidak pernah sibuk memoles citra diri di media sosial, tapi kehadirannya selalu dicari di dunia nyata. Dia tidak berusaha menjadi pusat perhatian, tapi orang-orang justru merasa nyaman di sekitarnya. Dari situ aku belajar, ada perhatian yang tumbuh dari ketulusan, bukan dari pencarian.
Kini, setiap kali aku merasa ingin sekali diperhatikan, aku coba berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya aku butuhkan? Apakah aku butuh komentar orang lain, atau aku butuh berdamai dengan diriku sendiri? Jawabannya tidak selalu mudah, tapi perlahan aku sadar bahwa perhatian yang paling menenangkan justru datang dari hati kita yang belajar menerima dirinya sendiri.
Mungkin itu juga mengapa perilaku attention seeking semakin marak—karena kita hidup di zaman di mana lebih mudah untuk terlihat daripada benar-benar dimengerti. Dan rasa ingin dimengerti itulah yang sering salah kita salurkan dalam bentuk pencarian perhatian.
Dan kalau kamu bertanya apa yang bisa kita lakukan, aku tak punya jawaban pasti. Aku hanya tahu, kadang kita perlu menoleh ke dalam, bukan ke luar.
“Ada saatnya kita mencari sorot lampu, tapi hanya untuk menemukan bahwa cahaya paling hangat sebenarnya berasal dari api kecil di dalam dada kita sendiri.”
Attention seeking atau perilaku mencari perhatian bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari dinamika sosial manusia sejak dahulu. Secara psikologis, perilaku ini berakar pada kebutuhan dasar manusia untuk merasa diakui, dihargai, dan dilihat keberadaannya. Abraham Maslow, melalui teorinya tentang hierarki kebutuhan, menempatkan kebutuhan akan rasa memiliki dan penghargaan (belongingness and esteem) sebagai salah satu pilar utama dalam perkembangan manusia. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi melalui cara yang sehat, individu dapat beralih pada strategi kompensasi, salah satunya dengan mencari perhatian secara berlebihan.
Dalam praktik psikologi klinis, attention seeking juga sering dikaitkan dengan kepribadian tertentu. Misalnya, individu dengan ciri histrionik cenderung menunjukkan perilaku dramatis, berlebihan, dan penuh warna untuk mendapatkan reaksi dari orang lain. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak semua perilaku mencari perhatian merupakan tanda gangguan. Banyak di antaranya adalah respons adaptif terhadap lingkungan sosial yang semakin kompetitif dan padat informasi.
Salah satu alasan mengapa perilaku attention seeking semakin marak di era ini adalah karena perubahan sosial dan budaya digital. Dulu, perhatian hanya bisa diperoleh dalam lingkup kecil: keluarga, teman, atau komunitas. Kini, dengan adanya media sosial, perhatian bisa diperoleh dari ribuan hingga jutaan orang dalam hitungan detik. Hal ini menciptakan apa yang disebut oleh Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together sebagai paradoks keterhubungan: semakin terhubung secara digital, manusia justru semakin haus akan validasi.
Platform digital seperti Instagram, TikTok, atau Twitter dibangun dengan algoritma yang mendorong interaksi cepat: like, komentar, share. Setiap notifikasi menjadi semacam "dopamine hit", memberikan sensasi menyenangkan yang membuat seseorang ingin mengulanginya lagi. Dalam kerangka neuroscience, hal ini sangat mirip dengan mekanisme adiksi. Akibatnya, individu terdorong untuk terus menampilkan sesuatu yang dapat memancing perhatian, bahkan jika itu harus mengorbankan privasi atau menampilkan sisi dramatis yang tidak sepenuhnya autentik.
Perilaku attention seeking tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan validasi. Erik Erikson, seorang psikolog perkembangan, menekankan pentingnya pembentukan identitas, terutama pada masa remaja dan dewasa muda. Dalam fase ini, individu berusaha mencari jawaban atas pertanyaan "siapa saya?". Namun, dalam konteks sosial yang penuh tekanan dan perbandingan, identitas sering kali dibangun melalui penilaian orang lain.
Ketika validasi eksternal menjadi sumber utama rasa harga diri, maka perilaku mencari perhatian menjadi sangat sulit dihindari. Misalnya, seseorang merasa dirinya bernilai hanya ketika unggahannya mendapat banyak likes. Pola ini menciptakan lingkaran umpan balik: semakin tinggi respons yang diperoleh, semakin kuat dorongan untuk terus mencari perhatian melalui cara-cara yang bahkan lebih ekstrem.
Aspek lain yang sering terabaikan adalah bagaimana latar belakang keluarga dan pengalaman masa kecil berperan dalam perilaku ini. Anak yang tumbuh dalam keluarga di mana kasih sayang bersyarat—misalnya hanya dipuji ketika berprestasi, atau diabaikan ketika gagal—lebih cenderung mengembangkan pola mencari perhatian. Psikolog John Bowlby melalui teori attachment menjelaskan bahwa keterikatan emosional yang aman di masa kecil sangat menentukan bagaimana seseorang membangun relasi dan mencari pengakuan di masa dewasa.
Individu dengan insecure attachment sering kali menggunakan strategi berlebihan untuk menarik perhatian karena ada rasa takut tidak dianggap penting. Maka, perilaku seperti drama, posting berlebihan, atau bahkan menciptakan kontroversi sering kali merupakan cerminan dari luka batin yang tidak terselesaikan.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga turut memperkuat perilaku attention seeking. Dalam masyarakat yang serba cepat, ada tekanan untuk selalu terlihat relevan, update, dan tidak ketinggalan tren. Kehadiran orang lain di media sosial—dengan kehidupan yang tampak sempurna—menjadi pemicu perasaan rendah diri dan dorongan untuk "ikut tampil".
Psikolog sosial Leon Festinger melalui teori social comparison menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika perbandingan itu menimbulkan rasa inferior, salah satu mekanisme pertahanan diri adalah berusaha menarik perhatian agar setidaknya ada pengakuan bahwa dirinya juga layak diperhitungkan.
Tidak bisa diabaikan pula bahwa perhatian kini bukan sekadar kebutuhan psikologis, melainkan juga komoditas ekonomi. Ekonom dan pakar media sering menyebut era ini sebagai attention economy. Perusahaan besar seperti Google, Meta, hingga TikTok secara aktif bersaing memperebutkan fokus pengguna, karena dari sanalah keuntungan iklan mengalir.
Akibatnya, individu pun ikut terdorong untuk menjadikan dirinya "produk" yang menarik. Influencer culture memperlihatkan bagaimana perhatian bisa diubah menjadi uang, status, bahkan kekuasaan. Maka, tidak heran jika semakin banyak orang yang secara sadar maupun tidak sadar menginternalisasi pola pikir bahwa mendapatkan perhatian sebanyak mungkin adalah tujuan hidup yang sah dan penting.
Meskipun terlihat negatif, perilaku attention seeking tidak selalu buruk. Ada sisi fungsional dari perilaku ini. Misalnya, seorang anak kecil yang menangis untuk mendapatkan perhatian orang tua sebenarnya sedang berusaha bertahan hidup. Dalam interaksi sosial, mencari perhatian juga bisa menjadi cara membangun koneksi, membuka percakapan, atau menunjukkan keunikan diri.
Namun, masalah muncul ketika perhatian menjadi satu-satunya sumber harga diri. Ahli psikologi klinis seperti Dr. Mark Leary menekankan bahwa kebutuhan untuk dianggap penting adalah universal, tetapi jika diekspresikan secara berlebihan, maka akan menimbulkan resistensi sosial. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, individu malah dianggap manipulatif, narsistik, atau menyebalkan. Di sinilah paradoks attention seeking terlihat jelas: semakin keras usaha untuk mendapatkan perhatian, semakin besar risiko penolakan.
Generasi muda, khususnya Gen Z dan generasi setelahnya, tumbuh dalam ekosistem digital yang berbeda sama sekali dari generasi sebelumnya. Kehidupan mereka sejak awal sudah bersentuhan dengan smartphone, media sosial, dan ekspresi diri yang terhubung global. Tidak mengherankan jika ekspresi mencari perhatian menjadi bagian alami dari cara mereka membangun identitas.
Buku iGen karya Jean Twenge menunjukkan bahwa anak muda kini lebih rentan terhadap kecemasan, depresi, dan ketergantungan pada validasi digital. Salah satu faktor utamanya adalah paparan terus-menerus pada budaya perhatian. Bagi sebagian dari mereka, menghilang dari media sosial sama artinya dengan "tidak ada". Maka, perilaku mencari perhatian bisa dipahami bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk adaptasi terhadap struktur sosial baru.
Perilaku attention seeking yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang. Riset menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan rendahnya kepuasan hidup, gangguan kecemasan, dan depresi. Hal ini terkait dengan pola validasi eksternal yang rapuh: ketika perhatian hilang, individu merasa kosong, tidak berharga, bahkan terjebak dalam krisis identitas.
Lebih jauh lagi, dalam konteks relasi interpersonal, perilaku mencari perhatian berlebihan bisa merusak kepercayaan. Pasangan, teman, atau rekan kerja mungkin merasa lelah menghadapi drama atau manipulasi yang terus menerus. Dalam jangka panjang, alih-alih memperkuat ikatan sosial, perilaku ini justru memperburuk kesepian—sebuah kondisi yang ironis, mengingat motivasi awalnya adalah untuk merasa terhubung.
Mengatasi maraknya perilaku attention seeking tidak bisa dilakukan dengan sekadar menghakimi. Ada kebutuhan manusiawi di baliknya yang perlu dipahami dengan empati. Para ahli psikologi menyarankan pendekatan yang menekankan pada pembangunan harga diri internal (self-esteem) yang tidak bergantung sepenuhnya pada validasi eksternal.
Praktik seperti mindfulness membantu individu untuk lebih sadar pada dirinya sendiri, bukan sekadar reaksi orang lain. Terapi kognitif-perilaku juga bisa digunakan untuk menantang keyakinan maladaptif bahwa nilai diri hanya ditentukan oleh perhatian yang didapat. Selain itu, membangun keterikatan emosional yang sehat dalam relasi nyata—bukan hanya digital—dapat mengurangi kebutuhan untuk mencari perhatian secara ekstrem.
Perilaku attention seeking yang semakin marak adalah hasil dari pertemuan kompleks antara kebutuhan psikologis dasar, dinamika keluarga, budaya digital, hingga struktur ekonomi modern. Ia mencerminkan sisi rapuh manusia yang ingin diakui, tetapi juga sekaligus tantangan sosial yang perlu dihadapi dengan bijak. Alih-alih menganggapnya sekadar perilaku "haus perhatian", lebih produktif jika kita melihatnya sebagai cermin zaman yang menuntut manusia untuk menemukan cara baru dalam membangun harga diri, keintiman, dan makna hidup di tengah derasnya arus informasi dan kompetisi sosial.
Perilaku attention seeking—keinginan untuk selalu diperhatikan, diakui, atau divalidasi oleh orang lain—bukanlah fenomena baru. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan kemunculan media sosial dan perubahan pola interaksi sosial, perilaku ini tampak semakin marak. Untuk memahami mengapa orang kian terdorong untuk menuntut perhatian, kita perlu menelaahnya dari perspektif psikologis yang lebih dalam, mengamati motivasi, konteks sosial, dan dinamika emosi yang melingkupinya.
Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diterima dan diakui. Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhan menempatkan kebutuhan sosial dan penghargaan sebagai lapisan penting dalam pencapaian aktualisasi diri. Ketika seseorang merasa diabaikan atau kurang diterima, perilaku mencari perhatian muncul sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional ini.
Saya pernah mendengar cerita seorang remaja yang selalu mengunggah foto-foto dramatis di media sosial. Dari luar, kelihatannya dia sekadar ingin tampil eksis, tapi ketika ditelusuri lebih jauh, ia mengalami tekanan di rumah: perhatian orang tua terbagi dengan adik-adiknya dan komunikasi emosional jarang terjadi. Unggahan di media sosial menjadi cara untuk “menuntut” pengakuan yang tidak ia dapatkan di dunia nyata. Ini menunjukkan bahwa attention seeking sering kali adalah respons terhadap kekosongan emosional atau kekurangan validasi.
Media sosial telah merevolusi cara manusia memperoleh perhatian. Likes, komentar, dan share memberikan reward instan yang memperkuat perilaku attention seeking. Fenomena ini tidak hanya berlaku pada remaja, tetapi juga orang dewasa. Para psikolog seperti Jean Twenge telah meneliti efek media sosial terhadap kepuasan diri dan self-esteem, menemukan bahwa interaksi digital memunculkan tekanan untuk tampil sempurna dan terus divalidasi, sehingga perilaku attention seeking semakin umum.
Selain itu, algoritma platform media sosial memprioritaskan konten yang menarik perhatian, sehingga orang cenderung “memamerkan” kehidupan mereka secara dramatis untuk mendapatkan engagement. Ini menciptakan lingkaran umpan balik: semakin banyak perhatian yang diterima, semakin sering perilaku ini diulang, dan semakin ia menjadi norma sosial.
Beberapa perilaku mencari perhatian berakar dari pengalaman masa lalu. Trauma masa kecil, pengabaian, atau ketidakstabilan emosional dapat membuat seseorang mengalami kekurangan penguatan positif saat tumbuh. Dalam psikologi perkembangan, John Bowlby menekankan pentingnya keterikatan (attachment) yang aman untuk membangun rasa aman dan percaya diri. Jika keterikatan ini terganggu, orang mungkin mengembangkan perilaku attention seeking sebagai kompensasi: cara untuk merasa aman dengan memperoleh pengakuan dari luar.
Misalnya, seseorang yang tumbuh dengan orang tua kritis mungkin merasa tidak pernah cukup baik. Maka ia mencari perhatian melalui prestasi, penampilan, atau dramatisasi masalah, sebagai upaya untuk membuktikan nilai dirinya.
Attention seeking juga bisa terkait dengan karakteristik kepribadian dan kondisi psikologis tertentu. Beberapa orang memiliki kecenderungan narsistik, yang ditandai dengan kebutuhan berlebihan untuk dikagumi. Lainnya mungkin menunjukkan sifat impulsif, atau kesulitan mengelola emosi, sehingga perhatian dari orang lain menjadi cara untuk menenangkan kegelisahan internal.
Dalam konteks ini, perilaku seeking attention tidak selalu berarti superficial atau egois. Kadang, ia adalah strategi adaptif untuk mengatasi rasa cemas, kesepian, atau ketidakpastian, walaupun terlihat mengganggu bagi orang lain.
Budaya dan lingkungan juga memainkan peran besar. Dalam masyarakat yang kompetitif dan berfokus pada pencapaian, menunjukkan diri dan keberhasilan menjadi cara untuk mengamankan status sosial. Di sisi lain, budaya yang menekankan ketenaran atau popularitas sebagai ukuran keberhasilan memperkuat perilaku ini.
Selain itu, lingkungan keluarga yang permisif atau terlalu memuji perilaku dramatik bisa tanpa sadar mengajarkan anak-anak bahwa perhatian adalah mata uang sosial. Jadi, orang yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung menggunakan perhatian sebagai alat untuk memanipulasi interaksi sosial atau memenuhi kebutuhan emosionalnya.
Sering kali, perilaku mencari perhatian adalah upaya untuk berkomunikasi ketika kata-kata gagal. Beberapa orang merasa tidak mampu mengekspresikan emosi mereka secara verbal atau mengalami kesulitan menyatakan kebutuhan secara langsung. Dengan menunjukkan perilaku mencolok, dramatis, atau provokatif, mereka “memberi sinyal” bahwa mereka membutuhkan perhatian, pengakuan, atau bantuan.
Dalam praktik psikologi, hal ini terlihat nyata: beberapa orang tampak “selalu butuh diperhatikan”, tapi di baliknya ada perasaan kesepian, cemas, atau ketidakmampuan mengekspresikan diri. Behavior ini bisa dipahami sebagai bahasa alternatif dari kebutuhan yang tidak terpenuhi, meskipun cara penyampaiannya sering menimbulkan konflik.
Meskipun ada dasar psikologis, attention seeking bisa menimbulkan masalah. Overt attention seeking yang terus-menerus dapat membuat orang lain merasa terganggu atau dimanipulasi, yang justru berpotensi memperkuat isolasi sosial bagi pelaku. Fenomena ini juga bisa menciptakan lingkaran negatif: semakin mereka mencari perhatian dengan cara yang dramatis, semakin mereka dikritik, dan semakin mereka merasa tidak dihargai, sehingga perilaku ini berulang.
Psikolog sosial seperti Baumeister dan Leary menekankan pentingnya “belongingness” untuk kesehatan mental. Attention seeking yang tidak efektif bisa menghambat pencapaian hubungan yang sehat karena orang lain melihatnya sebagai perilaku manipulatif, bukan komunikasi emosional.
Melihat perilaku attention seeking dari perspektif psikologi membuka wawasan bahwa tidak semua yang tampak berlebihan adalah sekadar narsisme atau keegoisan. Ada lapisan kebutuhan manusia yang mendalam: kebutuhan validasi, rasa aman, komunikasi emosional, dan strategi adaptif untuk menghadapi ketidakpastian. Seringkali, orang yang tampak “terlalu mencari perhatian” adalah orang yang mengalami kekosongan, kecemasan, atau kesepian, dan perilaku ini adalah cara mereka mencoba bertahan atau terhubung dengan dunia di sekitarnya.
Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa setiap interaksi sosial memiliki nuansa psikologis yang rumit. Kadang, perhatian bukan sekadar apa yang ditampilkan di permukaan, tetapi sebuah tanda bahwa seseorang membutuhkan pengakuan, pengertian, dan tempat untuk merasa dilihat. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan penuh tekanan, mungkin perilaku attention seeking adalah cermin dari kebutuhan manusia akan koneksi dan pemahaman yang sejati, bahkan ketika cara mengekspresikannya terlihat dramatis atau berlebihan.
Referensi:
Perilaku attention seeking, ketika diamati lebih dalam, bukan sekadar upaya egois untuk tampil, tetapi cerminan kompleks dari kebutuhan manusia akan pengakuan, rasa aman, dan koneksi sosial yang seringkali sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Saya masih ingat dengan jelas sebuah kisah yang selalu muncul dalam pikiran ketika membicarakan fenomena perilaku attention seeking. Suatu hari, seorang kenalan yang tampak selalu tegar dan tersenyum dari luar, bercerita tentang hidupnya yang penuh tekanan. Ia merasa sering diabaikan oleh lingkungan sosial dan keluarga, walaupun secara objektif banyak hal tampak berjalan baik. Dalam kesehariannya, ia mulai mengembangkan kebiasaan kecil: mengunggah cerita yang dramatis di media sosial, mencari komentar atau reaksi dari teman, bahkan bersikap lebih mencolok dari biasanya agar diperhatikan. Ia sendiri merasa bersalah, tapi ada kelegaan aneh setiap kali mendapat tanggapan. Kisah ini memberi gambaran awal tentang mengapa perilaku mencari perhatian semakin marak di era modern ini.
Secara psikologis, attention seeking muncul sebagai respon terhadap kebutuhan dasar manusia untuk diakui, diperhatikan, dan diterima. Abraham Maslow dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan menekankan bahwa setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuhi, manusia secara alami mencari pengakuan dan rasa harga diri. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara stabil dalam keluarga, pendidikan, atau lingkungan sosial, individu cenderung mengembangkan strategi kompensasi untuk memastikan mereka “dilihat” atau diperhatikan. Hal ini bisa muncul dalam bentuk perilaku dramatis, pencitraan diri yang berlebihan, atau pencarian validasi melalui media sosial.
Di era digital, fenomena ini menjadi semakin kompleks. Media sosial memberi reward instan dalam bentuk like, komentar, dan share. Reward ini menstimulasi sistem dopamin di otak—yang sama dengan mekanisme otak ketika seseorang menerima pujian atau pengakuan nyata—sehingga perilaku attention seeking menjadi reinforcing. Saya pernah mengenal seorang remaja yang merasa lebih dihargai ketika setiap unggahannya mendapatkan ribuan likes, sementara di kehidupan nyata ia jarang merasa diakui. Efek ini membuat perhatian eksternal menjadi semacam “bahan bakar emosional” untuk menjaga mood tetap stabil.
Namun, perilaku ini bukan semata-mata tentang narsisme atau ego yang berlebihan. Banyak individu yang secara internal mengalami ketidakamanan, rasa rendah diri, atau trauma masa kecil. Pengabaian atau ketidakpastian di masa kecil dapat membentuk pola pikir bahwa “harus membuat orang lain memperhatikan saya agar saya penting”. Buku The Drama of the Gifted Child oleh Alice Miller menjelaskan bagaimana anak-anak yang kebutuhan emosionalnya diabaikan, secara tidak sadar mengembangkan pola perilaku untuk mendapatkan perhatian—kadang melalui cara dramatis atau manipulatif—untuk memenuhi kekosongan emosional yang mereka rasakan.
Selain itu, tekanan sosial dan budaya turut memengaruhi. Dalam masyarakat modern, prestasi dan penampilan sering lebih diapresiasi daripada proses internal seseorang. Hal ini membuat banyak orang merasa perlu menunjukkan versi terbaik dari diri mereka, kadang dengan cara yang tidak autentik, demi mendapatkan pengakuan dan validasi sosial. Saya pernah mengenal seseorang yang selalu terlihat “sempurna” di mata teman-temannya, tapi di balik itu, ia berjuang dengan kecemasan yang luar biasa. Untuk menenangkan rasa gelisahnya, ia mencari perhatian sebagai mekanisme coping—sebuah cara untuk memastikan bahwa eksistensinya tidak hilang atau tidak dianggap remeh.
Dari sisi neurobiologi, perhatian dan pengakuan sosial memengaruhi sistem reward otak. Aktivitas yang memberi perhatian dari orang lain, terutama yang tak terduga, meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin, yang sementara menurunkan ketegangan dan meningkatkan perasaan puas. Buku Social: Why Our Brains Are Wired to Connect oleh Matthew Lieberman menjelaskan bahwa otak manusia sangat sensitif terhadap sinyal sosial, dan penolakan atau pengabaian bisa menimbulkan rasa sakit emosional yang nyata—mirip rasa sakit fisik. Dengan kata lain, attention seeking menjadi strategi adaptif untuk mengurangi rasa sakit sosial dan menjaga kesejahteraan emosional.
Namun, ada sisi gelap dari perilaku ini jika berlebihan. Individu yang terlalu bergantung pada perhatian eksternal bisa mengalami mood swings, kecemasan, atau depresi ketika perhatian yang dicari tidak datang. Hal ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus: semakin banyak mencari perhatian, semakin rentan terhadap penolakan, dan semakin besar kebutuhan untuk mencari perhatian kembali. Pengalaman saya dengan beberapa orang dewasa muda menunjukkan bahwa mereka yang bergantung pada validasi eksternal sering mengalami perasaan hampa dan tidak stabil secara emosional, meskipun dari luar tampak sukses dan bahagia.
Faktor lain yang semakin memperkuat perilaku ini adalah kompetisi sosial yang intens di era digital. Setiap individu, dari remaja hingga orang dewasa, dihadapkan pada arus informasi dan pencapaian orang lain yang terus-menerus di media sosial. Banding sosial ini menimbulkan tekanan tambahan: jika saya tidak menunjukkan sesuatu yang menonjol, apakah saya tetap dianggap penting? Pola pikir ini menimbulkan kecenderungan untuk menampilkan diri secara dramatis, kadang menyesatkan, demi menjaga citra dan relevansi sosial.
Tidak kalah penting adalah faktor psikodinamik. Dalam beberapa kasus, attention seeking muncul sebagai strategi untuk mengatur emosi internal. Individu yang merasa cemas, kesepian, atau tidak cukup dicintai belajar bahwa perilaku dramatis atau pencitraan diri bisa memicu respon dari lingkungan, sehingga mereka merasa lega secara emosional. Buku Games People Play oleh Eric Berne menjelaskan bagaimana perilaku interpersonal sering berfungsi sebagai “transactional strategy” untuk memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Attention seeking, dalam kerangka ini, adalah salah satu bentuk strategi tersebut.
Dalam praktik sehari-hari, saya sering melihat kombinasi faktor ini—biologis, psikologis, sosial, dan budaya—membentuk perilaku attention seeking. Tidak ada satu penyebab tunggal. Setiap individu membawa sejarahnya sendiri, dengan trauma, pengalaman sosial, dan pola pikir yang unik, sehingga perilaku ini muncul dalam bentuk yang beragam. Seseorang bisa tampak narsistik di media sosial, tetapi pada hakikatnya ia mencari pengakuan karena rasa takut tidak cukup dicintai atau diabaikan.
Refleksi dari fenomena ini mengajak kita untuk memikirkan kembali cara kita memahami perilaku manusia di era modern. Perilaku attention seeking bukan sekadar masalah “ego besar” atau “sikap manja”; ia adalah cerminan dari kebutuhan dasar manusia untuk diakui, dihargai, dan diterima, yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara otak, emosi, dan lingkungan sosial. Jika kita mampu melihat di balik permukaan dramatis tersebut, kita akan menemukan kerentanan manusia yang sama di setiap individu—keinginan untuk merasa penting dan terhubung, yang kadang terungkap melalui cara-cara yang tidak selalu mudah dipahami.
Referensi:
Kadang, melihat perilaku attention seeking memberi kita pelajaran penting: di balik pencarian perhatian, tersimpan luka, ketidakamanan, dan kebutuhan untuk diterima—sesuatu yang manusiawi dan mendalam. Dan di sanalah kita diingatkan bahwa memahami manusia bukan hanya melihat apa yang tampak, tetapi juga menelisik dunia batin yang sering tersembunyi di balik setiap aksi yang mencolok.
Notifications