Leadership adalah salah satu fungsi manajemen untuk mempengaruhi, mengarahkan memotivasi dan mengawasi orang lain untuk menyelesaikan tugas-tugas yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. keterampilan Leadership akan sangat mempengaruhi kinerja organisasi, khususnya dalam hal mencapai tujuan organisasi. Sampai saat ini masih banyak perbedaan pendapat para ilmuan bahwa apakah hanya orang-orang yang sudah di takdirkan jadi pemimpin lah yang mempunyai jiwa leadership atau semua orang memiliki jiwa leadership, bagaimana menurut kamu?
Setiap Orang Memiliki Potensi Kepemimpinan
Ada potensi kepemimpinan dalam diri setiap individu. Kebanyakan orang tetap berada di zona nyaman mereka, dan akibatnya, potensi kepemimpinan mereka tersembunyi. Ketika kita mendorong orang, potensi kepemimpinan mereka yang sebenarnya muncul. Bagi sebagian orang, potensi kepemimpinan yang sebenarnya hanya dilepaskan ketika mereka terprovokasi. Misalnya, Mahatma Gandhi adalah seorang pengacara yang berpraktik di Afrika Selatan. Saat bepergian di kompartemen kelas satu, dia diusir karena diskriminasi rasial. Dia kemudian menyadari sejauh mana perlakuan buruk yang dijatuhkan kepada orang India, dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui cara-cara damai. Jelas bahwa potensi kepemimpinan telah tersembunyi dalam diri Mahatma Gandhi. Namun, itu hanya muncul ketika dia dihina dan diprovokasi.
Potensi kepemimpinan yang nyata sering terlihat hanya selama masa-masa sulit. Masa-masa sulit menghasilkan pemimpin terbaik. Ketika kita melihatnya secara historis, kita melihat beberapa pemimpin muncul selama masa-masa sulit untuk menavigasi dunia ke arah yang benar. Pemimpin seperti Alexander dan Abraham Lincoln muncul selama masa-masa sulit. Misalnya, Abraham Lincoln bertanggung jawab untuk menyatukan Amerika dan memainkan peran penting dalam penghapusan perbudakan. Meskipun masa jabatannya sebagai Presiden Amerika singkat, ini adalah babak yang tak terlupakan dalam sejarah Amerika. Beberapa Presiden Amerika memandang Lincoln dan menganggapnya sebagai contoh setiap kali mereka menghadapi tantangan.
Sumber :
ada 2 teori yang akan membahas terkait hal ini,
a. Teori Sifat (Trait Theory of Leadership)
Menurut Robbins dan Judge (2017), teori kepemimpinan berdasarkan sifat adalah teori yang mempertimbangkan kualitas dan karakterisrik pribadi yang membedakan pemimpin dan bukan pemimpin. Teori yang berusaha mengidentifikasi sifat tertentu (fisiologis, mental, dan kepribadian) yang berkaitan dengan keberhasilan pemimpin. Sehingga berdasarkan teori ini seseorang yang menjadi pemimpin adalah orang-orang tertentu yang sebelumnya harus sudah memiliki kepribadian yang menjukkan bahwa dia memiliki bakat seorang pemimpin sejak ia lahir. seperti berwibawa, berani mengambil resiko, jujur, adil, mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain.
b. Teori Perilaku (behavioural Theory of Leadership)
Kemudian teori yang kedua adalah teori perilaku, dimana menurut teori ini menyatakan bahwa perilakulah yang membedakan setiap pemimpin bukan karakteristik individu tersebut sehingga teori menyatakan bahwa kita dapat melatih seseorang untuk menjadi pemimpin, sekalipun ia tidak memiliki karakteristik seperti pemimpin pada awalnya. Teori ini menyatakan bahwa ada dua perilaku dasar yang harus dimiliki untuk menjadi seorang pemimpin, yaitu :
a. Memprakarsasi struktur
sampai sejauh mana seseorang memprakarasi dalam menstrukturasi peran para pekerjanya dalam mencapai tujuan kelompok.
b. Keramahan
sejauh mana seseorang itu percaya terhadap anggotanya dalam mengerjakan tugas dan perannya, menhormati gagasan mereka, serta memperhatikan perasaan pekerjanya.
Pemimpin ini disebut juga sebagai pemimpin yang berorientasi pada pekerja.
Referensi :
Stephen, P. R., and Timothy A. J. (2017). Organizational Behavior, Sixteenth Edition. Person Education, Inc.