Kita semua pasti pernah bergosip. Gak hanya perempuan saja yang senang bergosip, tetapi laki-laki juga tanpa mereka sadari. Ketika lagi kumpul-kumpul sama temen, pasti rasanya ada yang kurang kalau kita nggak bergosip atau ngomongin orang lain. Jadi, apa sih sebenernya yang membuat gosip itu disukai ?
Salah satu bentuk komunikasi yang mungkin dianggap tidak menyenangkan adalah gosip. Dikategorikan sebagai bentuk komunikasi yang tidak menyenangkan karena pada umumnya gosip telah dianggap sebagai omongan-omongan tak menyenangkan terhadap orang lain. Omongan itu umumnya terkait aib atau keburukan pihak lain. Tidak mengherankan jika dampak dari gosip dianggap berbahaya pada diri orang yang dibicarakan sampai pihak yang menyebarkannya. Bahkan pada keyakinan agama, membicarakan aib orang lain atau gosip adalah tingkah laku yang diharamkan.
Sedemikian rupa kekhawatiran terhadap gosip justru menimbulkan pertanyaan tersendiri, apakah memang gosip semata hanya bentuk komunikasi buruk atau ada bentuk lainnya? Apakah gosip sebatas yang buruk-buruk saja sehingga dikategorikan haram? Secara umum masyarakat lebih senang untuk mendengar hal-hal buruk dari orang lain daripada berita-berita yang bagus. Hal ini didasari bahwa ketika membicarakan yang buruk kita mengetahui bahwa ada pihak pihak yang melanggar norma sosial, sehingga informasi ini menarik. Sementara itu, informasi yang sekedar menyampaikan bahwa orang-orang patuh pada norma dianggap biasa-biasa saja.
Gosip merupakan pertukaran informasi (bisa positif maupun negatif) dalam bentuk evaluatif (positif atau negatif) terhadap pihak ketiga yang tak hadir dari kejadian pertukaran informasi tadi. Tentunya dengan definisi tadi perlu dipertegas dengan tiga hal utama yang membedakannya, yaitu (a) pihak yang dibicarakan tidak hadir dalam percakapan yang sedang berlangsung; (b) isi dari komunikasi tersebut utamanya adalah evaluasi atau penilaian terhadap orang atau pihak yang dibicarakan, baik itu yang bersifat negatif maupun yang positif; dan (c) pentingnya faktor situasional dalam percakapan (Foster, 2004). Berdasar berbagai temuan tadi tampaknya bisa diasumsikan bahwa gosip penting bagi kehidupan sosial. Bahkan Baumeister, Zhang dan Vohs (2004) menegaskan bahwa gosip bisa memberikan informasi yang berharga.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa gosip terkait dengan kehidupan sosial. Gosip secara prinsip memiliki fungsi melebihi tataran hubungan antarpribadi, dengan demikian tentunya gosip juga mempunyai fungsi-fungsi yang berguna bagi masyarakat. Ada cukup banyak fungsi-fungsi itu, tapi Foster secara garis besar membaginya ke dalam empat fungsi utama (Foster, 2004).
Pertama, gosip berfungsi sebagai sumber informasi. Sebagai sebuah mekanisme pertukaran informasi, gosip seringkali dianggap sebagai alat yang efisien dan ekslusif dalam mengumpulkan dan menyebarkan informasi. Melalui gosip, seseorang akan mendapatkan gambaran umum mengenai lingkungan sosialnya (Hannerz, dalam Foster 2004). Dalam pembahasan pertukaran sosial di bidang psikologi, gosip digambarkan sebagai sejenis “mata uang” yang diperjualbelikan dan dinilai berdasarkan waktu, manfaat, dan tingkat kesulitan dalam mendapatkannya. Rosnow dan Fine (dalam Foster, 2004) melihat bahwa sifat transaksional gosip tampak serupa dengan pola pertukaran ekonomi.
Kedua, sebagai hiburan. Gosip juga memiliki fungsi sebagai hiburan. Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat bergosip untuk mendapatkan kesenangan belaka, bukan untuk tujuan tertentu lainnya. Kesenangan inilah yang membuat orang-orang sangat nyaman terlibat dalam percakapan yang mengandung gosip. Dalam penelitiannya pada masyarakat pedesaan Spanyol, Gilmore(1978) menemukan masyarakat pedesaan sangat menikmati gosip karena gosip merupakan sumber utama dari hiburan yang bisa mereka dapatkan. Fungsi hiburan ini lah yang kemudian mendorong berbagai media massa banyak mengangkat tema gosip sebagai porsi utama dari tayangan atau artikel mereka.
Ketiga, gosip sebagai pertemanan. Fungsi lain dari gosip adalah merekatkan tali persahabatan dan ikatan dalam kelompok yang lebih luas. Melalui gosip, akan tercipta pertukaran informasi yang kemudian menjadi norma bersama, lalu menciptakan batasan yang jelas antara ingroup dan outgroup. Pertukaran informasi yang tadinya bersifat privat antara satu orang dengan orang lain pada tingkat kelompok berkembang menjadi pengetahuan, norma, dan ikatan kepercayaan kelompok. Pertukaran gosip merupakan tanda bahwa telah terjalin lingkaran kepercayaan antara penggosip dengan pendengar. Bila pertukaran ini terus terjadi, maka kerekatan dalam persahabatan dan kelompok akan meningkat.
Dan fungsi terakhir, gosip sebagai alat untuk mempengaruhi. Terakhir, fungsi gosip menurut Foster (2004) adalah sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh di dalam masyarakat. Gosip biasa digunakan sebagai hukuman sosial bagi orang-orang yang melanggar norma dan ketentuan masyarakat setempat. Melalui gosip, anggota masyarakat juga dapat memahami peran dan tingkah laku apa yang diharapkan darinya oleh masyarakat. Sebagai alat untuk mempengaruhi yang bersifat evaluatif khususnya ketika membicarakan moral. Baumesiter, Zhang dan Vohs (2004) juga menyimpulkan bahwa gosip juga memberi pendidikan kepada para pelaku atau pendengarnya tentang norma-norma sosial yang diharapkan tetap tegak di masyarakat.
Sumber:
Foster, E.K. (2004). Research on Gosip: Taxonomy, Methods, and Future Directions. Review of General Psychology. Vol. 8, No. 2, 78–99.
Gilmore, David. (1978). Varieties of gosip in a Spanish rural community. Ethnology, Vol. 17, No. 1, (Jan.), pp. 89-99.
Meinarono, E.A., S. Bagaskara, dan M.P.K. Rosalina. (2011). Apakah Gosip bisa menjadi Kontrol Sosial?. Jurnal Psikologi Pitutur, 1(2): 78-85.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh McAndrew et al (2007) dalam penelitian mereka menemukan bahwa mengungkapkan gosip dapat berfungsi sebagai mekanisme peningkatan status individu, serta mekanisme kontrol sosial terhadap individu atau kelompok lain yang terlihat berbeda.
Peningkatan status maksudnya adalah orang yang menjadi bahan gosip biasanya adalah mereka yang menarik perhatian masyarakat sehingga disini dapat menjadi peluang untuk lebih menarik perhatian masyarakat agar selalu menjadi bahan gosip, khususnya hal-hal positif.
Selain sebagai peningkatan status sosial, gosip juga berperan sebagai sosial kontrol. Individu atau kelompok yang menjadi bahan gosip seringkali mereka yang tidak dapat memenuhi ekspektasi dalam suatu kelompok, sehingga gosip disini lebih seperti menekankan bahwa kelompok ini punya norm yang harus di ikuti jika tidak di ikuti maka konsekuensinya kita akan menjadi bahan gossip anggota kelompok lain. Dalam masyarakat opini publik sangat berpengaruh sehingga bisa di jadikan sebagai kontrol sosial terhadap suatu kelompok ataupun individu.
sumber :
McAndrew, F. T., Bell, E. K., & Garcia, C. M. (2007). Who do we tell and whom do we tell on? Gossip as a strategy for status enhancement 1. Journal of Applied Social Psychology, 37(7), 1562-1577.
Gosip atau ghibah lekat dengan kehidupan sehari-hari. Baik itu obrolan di tempat kerja, berbagi berita keluarga, atau teks grup antar teman, tidak dapat dihindari bahwa setiap orang yang berbicara, pasti berbicara tentang orang lain. Beberapa peneliti berpendapat bahwa gosip membantu nenek moyang kita bertahan hidup. Psikolog Robin Dunbar pertama kali memelopori gagasan ini, membandingkan gosip dengan primata yang menggunakannya sebagai alat bonding.
Bergosip, menurut penelitian Dunbar, memberi manusia kemampuan untuk menyebarkan informasi berharga ke jaringan sosial yang sangat besar. Karena manusia adalah makhluk sosial, dan setiap pembicaraan antar manusia adalah mengenai manusia lain, maka pembicaraan tersebut dianggap sebagai gosip/gibah. Gosip/gibah belum tentu bersifat negatif, jahat dan menjelekkan orang lain.
Menurut Mark Leary, PhD, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di Duke University yang memiliki spesialisasi dalam psikologi sosial dan pribadi menjelaskan, "Bergosip adalah sifat naluriah manusia karena kehidupan kita berakar dalam kelompok. Manusia tidak hanya hidup dalam satu kelompok tetapi juga bergantung pada orang-orang dalam kelompok untuk bertahan."
Aryanti (2014) mengungkapkan gosip merupakan salah satu topik pembicaraan yang digunakan
remaja untuk berinteraksi dengan teman sebayanya khususnya di lingkungan sekolah selain
berdiskusi mengenai pelajaran dan berdiskusi mengenai kegiatan di sekolah. Gosip dapat
membantu remaja dalam menyelesaiakan tugas perkembangannya karena memiliki 4 fungsi
utama dalam kehidupan sosial, yaitu informasi, persahabatan, hiburan dan alat untuk mempengaruhi (Foster, 2004).
Interaksi terus-menerus yang terjadi dalam pembicaraan gosip bisa membangun kedekatan antar individu dan terwujudnya hubungan remaja di lingkungan sosial. Sebagaimana fungsi gosip sebagai persahabatan. Selain itu, gosip juga bisa digunakan sebagai alat pengaruh, baik diri sendiri maupun orang lain yang terlibat dalam pembicaraan gosip. dimana gosip dapat digunakan untuk memahami perilaku apa yang layak untuk dilakukan sehingga remaja dapat berperilaku sesuai dengan harapan
masyarakatnya.
Referensi:
Foster, E. K. (2004). Research on : Taxonomy, methods, and future directions. Review of
General Psychology, 8, 78-99.
Aryanti, Nina Yuda. (2014). Pengembangan identitas remaja transmigran jawa di lampung
melalui pertemanan antar budaya di sekolah. Jurnal Kajian Komunikasi, 2, (1), 93-
104.