Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan?

YU Yuni Kartika 5 years ago Resolved

Banyak yang bilang kalau kebiasaan menunda pekerjaan itu tidak baik untuk dilakukan. Tapi jujur saja deh, kita pasti masih sering menunda-nunda melakukan sesuatu yang seharusnya mudah untuk dikerjakan dan dituntaskan secepatnya, kan?

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology menunjukkan, kebiasaan menunda pekerjaan ada hubungannya dengan bagaimana kita memadukan antisipasi, kegembiraan, dan ketakutan. Jadi kita cenderung enggak sabar dan bersemangat saat melakukan sesuatu yang kita sukai. Tapi sebaliknya, jika hal yang hendak kita lakukan enggak membuat kita gembira dan antusias, kita jadi enggak menyukai perasaan harus melakukan hal tersebut. Kenapa kita sering menunda pekerjaan, apa penyebabnya?

17

Dalam psikologi menunda pekerjaan disebut dengan prokratinasi. Terdapat bbrp penyebab seseorang mengalami prokratinasi yaitu:

1. Ketidakmampuan mengelola suasana hati: Prokrastinasi menjadi cara seseorang mengatasi emosi serta suasana hati yang negatif karena tugas-tugas tertentu. Misalnya kebosanan, kebencian, kecemasan, rasa tidak aman, frustasi, dan keraguan diri.

2. Kecenderungan mendahulukan hal yang lebih mudah: Tugas yang mudah memberikan kamu rasa puas yang instan karena dapat dicapai dengan cepat. Sebaliknya semakin banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk melakukan tugas semakin besar kemungkinan seseorang akan melakukan prokrastinasi.

3.Tujuan yang tidak jelas: Motivasi yang kurang biasanya dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  • Kelelahan
  • Kurangnya energi
  • Stres
  • Kesulitan menemukan ide baru
  • Dikelilingi oleh orang-orang yang negatif

4.Kurangnya pengetahuan akan tugas yang dihadapi: Terkadang ketidakpastian karena kurangnya pengetahuan terhadap suatu pekerjaan dapat menjadi alasan lain seseorang menunda pekerjaan.  Misalnya tugas tersebut terlalu rumit dan unik sehingga kamu tidak tahu harus memulai bekerja dari mana.

5.Banyaknya gangguan: Tidak dapat dipungkiri ada banyak hal yang dapat menganggu perhatian kita saat bekerja. Hal tersebut bisa jadi berupa email, pesan teks, media sosial, gawai, rapat, tugas sampingan dan masih banyak contoh distraksi lainnya. Banyaknya gangguan menjadi faktor lain yang menyebabkan orang tidak fokus hingga akhirnya tanpa disadari melakukan prokrastinasi.

Orang sering menunda-nunda karena mereka tidak menyukai tugas yang harus mereka lakukan. Misalnya, jika kalian perlu melakukan panggilan telepon penting kepada seseorang yang tidak disukai, kalian mungkin akan menunda-nunda daripada menyelesaikannya, karena tidak ingin berbicara dengannya. Ini terjadi karena, secara umum, semakin banyak orang menganggap tugas tertentu tidak menarik, semakin besar kemungkinan mereka ingin menghindarinya, dan oleh karena itu semakin besar kemungkinan mereka menunda-nunda.

Perhatikan bahwa ada banyak hal yang dapat membuat seseorang menolak suatu tugas sehingga menyebabkan mereka menunda-nundanya. Misalnya, seseorang mungkin menunda-nunda karena mereka menganggap tugas sebagai frustasi, membosankan, atau mereka mungkin menunda-nunda karena mereka percaya ada kesenjangan antara kesulitan tugas dan kemampuan mereka sendiri, yang berarti bahwa mereka merasa bahwa tugas terlalu sulit untuk mereka selesaikan.

Ada banyak alasan seseorang seting menunda nunda pekerjaan yaitu Pertama, meremehkan pekerjaan yang akan dilakukan sering meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan dan cenderung menunda pekerjaan tersebut karena merasa bahwa pekerjaan yang akan dilakukan bisa diselesaikan dengan cepat. Padahal, pekerjaan yang harus dilakukan ternyata cukup sulit dan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Kedua, merasa pekerjaan tersebut sulit dilakukan. Ketiga, takut pekerjaan yang dilakukan akan gagal Sebagian besar alasan menunda-nunda adalah terkait dengan takut akan kegagalan. Sama kaitannya dengan kecemasan kinerja, perfeksionisme, dan kurang percaya diri. Faktanya, akan lebih baik untuk mencoba daripada tidak sama sekali. Keempat, terlalu perfeksionis Menjadi perfeksionis bukanlah hal yang buruk. Tapi tak jarang membuat orang menjadi menunda-nunda pekerjaannya karena khawatir hasilnya tidak sempurna.

Ada satu momen yang sering terjadi, hampir seperti ritual kecil yang berulang tanpa kita sadari.

Kamu tahu ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak terlalu sulit, sebenarnya. Bahkan mungkin kamu sudah tahu harus mulai dari mana. Tapi entah kenapa, kamu memilih membuka sesuatu yang lain—media sosial, video pendek, atau sekadar memikirkan hal-hal yang tidak mendesak.

Kamu bilang ke diri sendiri, “sebentar saja.”

Lalu satu jam berlalu.

Dan di dalam dada, mulai muncul sesuatu yang familiar: campuran antara bersalah, cemas, dan sedikit marah pada diri sendiri.

Menunda pekerjaan bukan hanya soal malas. Kadang, itu adalah percakapan diam antara dirimu… dan sesuatu yang belum selesai di dalam dirimu.


Menunda Bukan Ketiadaan Niat, Tapi Konflik Internal

Banyak orang mengira bahwa penundaan terjadi karena kurang disiplin.

Padahal, kalau diperhatikan lebih jeli, sering kali orang yang menunda justru adalah orang yang sangat ingin melakukan tugasnya dengan baik.

Di sinilah letak paradoksnya.

Dalam penelitian tentang procrastination, menjelaskan bahwa penundaan bukan sekadar masalah manajemen waktu, melainkan masalah regulasi emosi.

Artinya, yang kita hindari sering kali bukan pekerjaannya… tapi perasaan yang muncul saat mengerjakannya.

  • Rasa takut gagal
  • Rasa tidak yakin
  • Rasa kewalahan
  • Bahkan rasa bosan yang terasa menekan

Dan ketika perasaan itu muncul, otak kita secara otomatis mencari cara untuk menjauh darinya.


Ketika Perfeksionisme Diam-Diam Menghambat

Ada seseorang yang pernah mengatakan dengan jujur:

“Aku nunda bukan karena nggak mau ngerjain… tapi karena aku takut hasilnya jelek.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya ada sesuatu yang sangat dalam.

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai standar tinggi. Padahal, dalam banyak kasus, ia justru menjadi penghambat.

Karena ketika standar terlalu tinggi, memulai menjadi terasa berisiko.

Kalau belum sempurna, lebih baik tidak mulai sama sekali.

Dalam konsep yang banyak dibahas oleh , ada hubungan antara perfeksionisme dan rasa takut terhadap penilaian. Perfeksionisme bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menghindari rasa malu, kritik, atau kegagalan.

Dan ironisnya, semakin kita ingin menghindari kegagalan, semakin besar kemungkinan kita tidak bergerak sama sekali.


Ketika Tugas Terasa Terlalu Besar

Ada jenis penundaan lain yang lebih sunyi.

Bukan karena takut gagal, tapi karena tugas itu terasa… terlalu besar.

Seperti berdiri di depan gunung tanpa tahu harus mulai dari langkah mana.

Otak kita tidak dirancang untuk menghadapi ketidakjelasan dalam skala besar. Ketika sesuatu terasa kompleks dan tidak terstruktur, muncul rasa kewalahan.

Dalam Cognitive Load Theory yang dikembangkan oleh , dijelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Ketika beban kognitif terlalu tinggi, kemampuan untuk memulai dan memproses informasi menurun drastis.

Akhirnya, menunda menjadi semacam “istirahat sementara”… meskipun sebenarnya hanya menunda tekanan yang sama ke waktu yang lebih sempit.


Dopamin dan Kenyamanan Instan

Ada juga faktor yang lebih biologis.

Ketika kita membuka media sosial atau melakukan aktivitas ringan yang menyenangkan, otak melepaskan dopamin—zat yang berkaitan dengan rasa senang dan reward.

Tugas yang sulit, sebaliknya, sering tidak memberikan reward langsung.

Dalam buku Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia cenderung memilih jalur yang lebih mudah dan cepat memberikan kepuasan.

Jadi ketika dihadapkan pada dua pilihan:

  • mengerjakan tugas yang menantang dan melelahkan
  • atau mendapatkan kesenangan instan

otak kita sering memilih yang kedua.

Bukan karena kita lemah, tapi karena sistem kita memang dirancang untuk menghindari ketidaknyamanan jangka pendek.


Rasa Bersalah yang Memperpanjang Siklus

Yang menarik, penundaan tidak berhenti di satu titik.

Setelah menunda, muncul rasa bersalah.
Rasa bersalah itu membuat tugas terasa lebih berat.
Karena terasa lebih berat, kita semakin menunda.

Ini menjadi lingkaran yang berulang.

Dalam beberapa studi tentang self-regulation failure, penundaan sering dikaitkan dengan kesulitan mengelola emosi negatif terhadap tugas.

Dan semakin kita menyalahkan diri sendiri, semakin sulit untuk kembali memulai.

Karena kita tidak hanya menghadapi tugas… tapi juga menghadapi perasaan gagal tentang diri sendiri.


Ketika Menunda Menjadi Bentuk Perlindungan Diri

Ada perspektif lain yang jarang dibahas.

Kadang, menunda adalah cara tubuh melindungi diri.

Jika sebuah tugas berkaitan dengan sesuatu yang sensitif—misalnya evaluasi diri, pekerjaan yang menentukan masa depan, atau sesuatu yang menyentuh harga diri—maka menunda bisa menjadi cara untuk menjaga jarak dari kemungkinan luka.

Seperti seseorang yang tidak segera membuka hasil ujian, bukan karena tidak peduli… tapi karena takut melihat kenyataan.

Menunda, dalam beberapa kasus, bukan kelemahan. Tapi bentuk perlindungan yang belum menemukan cara yang lebih sehat.


Mulai dari Hal yang Tidak Sempurna

Ada seseorang yang mencoba pendekatan sederhana.

Ia berhenti menunggu motivasi.
Ia berhenti menunggu kesiapan.

Ia hanya membuat aturan kecil: mulai selama 5 menit.

Bukan untuk menyelesaikan.
Hanya untuk memulai.

Awalnya terasa sepele. Tapi dari sana, sesuatu berubah.

Karena ternyata, yang paling berat bukan mengerjakan… tapi memulai.

Dalam konsep behavioral activation, tindakan kecil bisa memicu perubahan emosi. Bukan sebaliknya.

Kadang, kita tidak butuh merasa siap untuk bertindak. Kita justru perlu bertindak untuk mulai merasa siap.


Menerima Bahwa Tidak Semua Hari Sama

Ada hari di mana kita bisa fokus dengan mudah.
Ada hari di mana pikiran terasa berat, bahkan untuk hal kecil.

Dan itu manusiawi.

Masalahnya, banyak orang mengukur dirinya dengan standar yang sama setiap hari.

Ketika tidak bisa memenuhi standar itu, muncul rasa gagal—yang akhirnya memicu penundaan lagi.

Padahal, produktivitas bukan garis lurus.

Ia naik turun, mengikuti kondisi fisik, emosi, dan pikiran.


Sebuah Hal yang Jarang Diakui

Sering kali, kita terlalu keras pada diri sendiri ketika menunda.

Kita menyebut diri kita malas, tidak disiplin, tidak bertanggung jawab.

Padahal mungkin, ada bagian dari diri kita yang sedang kelelahan.
Atau takut.
Atau bingung.

Dan bagian itu tidak sedang butuh dimarahi.

Ia sedang mencoba menyampaikan sesuatu—hanya saja, bahasanya adalah diam.


Referensi

  • Steel, P. (2007). The Nature of Procrastination: A Meta-Analytic and Theoretical Review. Psychological Bulletin.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
  • Sweller, J. (1988). Cognitive Load During Problem Solving. Cognitive Science.
  • Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the Priority of Short-Term Mood Regulation.
  • Brown, B. (2010). The Gifts of Imperfection.
  • Baumeister, R. F., & Heatherton, T. F. (1996). Self-Regulation Failure.
  • Tice, D. M., & Baumeister, R. F. (1997). Longitudinal Study of Procrastination. Psychological Science.

Mungkin pada akhirnya, menunda bukan hanya tentang waktu yang terbuang.

Tapi tentang bagian dari diri yang belum siap untuk menghadapi sesuatu—dan memilih diam sebagai cara paling aman yang ia tahu.

Dan di antara semua hal yang tertunda itu, mungkin ada satu pertanyaan yang pelan-pelan menunggu untuk dijawab:

apakah yang sebenarnya kamu hindari—pekerjaannya, atau perasaan yang muncul ketika kamu mulai mengerjakannya?

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan tentang kebiasaan menunda pekerjaan.

Saya pernah mengenal seseorang yang terlihat sangat sibuk setiap hari.
Laptopnya selalu terbuka, notifikasi terus berdatangan, dan to-do list-nya panjang.

Namun ketika dilihat lebih dekat, ada sesuatu yang janggal.

Tugas yang benar-benar penting justru tidak pernah disentuh.
Ia lebih sering mengerjakan hal-hal kecil, hal-hal yang terasa “ringan,” atau bahkan sekadar berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun.

Suatu hari, ia berkata dengan nada lelah,
“Saya tahu harusnya saya kerjakan… tapi setiap mau mulai, rasanya berat sekali.”

Kalimat itu sederhana.
Namun di baliknya, ada sesuatu yang sering disalahpahami tentang penundaan:

menunda bukan karena malas.


Menunda Bukan Soal Kemauan, Tapi Emosi

Banyak orang mengira bahwa menunda pekerjaan adalah masalah disiplin.
Seolah-olah solusinya hanya “harus lebih tegas pada diri sendiri.”

Namun jika dilihat lebih dalam, penundaan sering kali adalah cara seseorang menghindari emosi yang tidak nyaman.

Ketika seseorang menghadapi tugas tertentu, yang muncul bukan hanya “apa yang harus dilakukan,” tetapi juga:

  • Rasa cemas
  • Rasa takut gagal
  • Rasa tidak percaya diri
  • Rasa kewalahan

Dan secara alami, otak manusia akan mencoba menghindari hal-hal yang terasa tidak nyaman.

Penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi berkaitan erat dengan regulasi emosi, bukan sekadar manajemen waktu (Sirois & Pychyl, 2013).

Artinya, ketika seseorang menunda, ia sebenarnya sedang mencoba merasa lebih baik—meskipun hanya sementara.


Peran Otak dalam Penundaan

Di dalam otak, ada dua sistem yang sering “bertarung”:

  • Sistem limbik (emosional, mencari kenyamanan instan)
  • Korteks prefrontal (logika, perencanaan, kontrol diri)

Ketika seseorang ingin mengerjakan tugas yang sulit atau menegangkan, sistem limbik akan bereaksi lebih cepat.

Ia berkata:
“Ini tidak nyaman. Hindari saja dulu.”

Sementara bagian yang lebih rasional belum sempat mengambil alih.

Akibatnya, seseorang memilih aktivitas yang memberikan kepuasan cepat:

  • Scroll media sosial
  • Menonton video
  • Mengerjakan hal lain yang lebih mudah

Ini bukan karena ia tidak tahu prioritasnya.
Tetapi karena otaknya sedang memilih cara tercepat untuk mengurangi ketegangan.

Penundaan adalah kemenangan jangka pendek dari emosi atas logika.


Perfeksionisme: Musuh yang Tersembunyi

Ada satu hal yang sering tidak disadari:
orang yang menunda justru sering memiliki standar yang terlalu tinggi.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Saya ingin mengerjakan dengan baik… tapi justru jadi tidak mulai-mulai.”

Ini adalah pola yang cukup umum.

Ketika seseorang merasa bahwa hasilnya harus sempurna,
maka memulai menjadi sesuatu yang menakutkan.

Karena setiap langkah terasa seperti risiko untuk gagal.

Daripada menghadapi kemungkinan itu,
otak memilih menunda.

Karena selama belum dimulai, kegagalan belum terjadi.


Ilusi “Nanti Saya Lebih Siap”

Penundaan sering dibungkus dengan alasan yang terdengar logis:

  • “Nanti saja, saya lagi tidak mood.”
  • “Saya butuh waktu yang lebih tepat.”
  • “Saya harus siap dulu.”

Namun ada satu pola yang sering muncul:
“waktu yang tepat” itu tidak pernah benar-benar datang.

Saya pernah mengenal seseorang yang terus menunggu momen ideal untuk memulai sesuatu yang penting dalam hidupnya.

Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.

Dan ia masih berada di tempat yang sama.

Karena tanpa disadari, yang ia tunggu bukan waktu,
tetapi rasa nyaman.

Padahal dalam banyak hal,
rasa nyaman justru muncul setelah kita mulai, bukan sebelum.


Penundaan sebagai Bentuk Perlindungan Diri

Ada satu cara melihat penundaan yang jarang dibicarakan.

Bagaimana jika menunda sebenarnya adalah bentuk perlindungan?

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Kalau saya gagal, setidaknya saya bisa bilang saya belum mencoba sepenuhnya.”

Kalimat ini terdengar jujur, tetapi juga menyakitkan.

Karena di baliknya, ada ketakutan yang lebih dalam:
takut mengetahui batas kemampuan diri.

Jika seseorang tidak pernah benar-benar mencoba,
ia tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa ia mungkin tidak sebaik yang ia harapkan.

Penundaan menjaga harapan tetap hidup, dengan cara menghindari kenyataan.


Kelelahan Mental yang Tidak Terlihat

Ada juga kondisi lain yang sering menjadi akar penundaan: kelelahan mental.

Seseorang mungkin terlihat “baik-baik saja,”
tetapi sebenarnya sedang kehabisan energi secara emosional.

Ketika otak lelah, kemampuan untuk memulai dan mempertahankan fokus menurun.

Hal-hal sederhana terasa berat.
Keputusan kecil terasa melelahkan.

Saya pernah mengenal seseorang yang berkata,
“Saya bukan tidak mau… saya cuma tidak punya tenaga.”

Dalam kondisi seperti ini, penundaan bukanlah pilihan aktif,
melainkan konsekuensi dari sistem yang sudah kelelahan.


Lingkaran yang Sulit Diputus

Masalah dari penundaan bukan hanya pada tugas yang tertunda,
tetapi pada efek setelahnya.

Setelah menunda, biasanya muncul:

  • Rasa bersalah
  • Rasa cemas
  • Rasa menyesal

Perasaan ini membuat tugas tersebut terasa semakin berat.

Dan ketika mencoba kembali,
emosi yang muncul justru lebih intens dari sebelumnya.

Akhirnya, seseorang kembali menunda.

Terbentuklah lingkaran:
menunda → merasa buruk → tugas terasa lebih berat → menunda lagi

Dan semakin lama dibiarkan, semakin sulit untuk keluar dari pola ini.


Mengubah Cara Memahami “Memulai”

Banyak orang berpikir bahwa untuk mengerjakan sesuatu, mereka harus siap sepenuhnya.

Namun dalam banyak kasus, kesiapan itu tidak datang secara alami.

Saya pernah mengenal seseorang yang mencoba mengubah satu hal kecil:
ia tidak lagi menunggu motivasi,
ia hanya mencoba memulai dalam kondisi apa pun.

Awalnya terasa dipaksakan.
Tidak nyaman.
Tidak ideal.

Namun perlahan, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Setelah beberapa menit bekerja,
fokus mulai muncul.
Alur mulai terasa.

Karena sering kali, yang paling sulit bukan mengerjakan, tetapi memulai.


Tentang Diri yang Ingin Dilindungi

Jika dilihat lebih dalam, penundaan sering kali bukan tentang tugas itu sendiri.

Ia tentang hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Apakah ia merasa cukup mampu?
Apakah ia merasa aman untuk mencoba?
Apakah ia siap menghadapi kemungkinan gagal?

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata,
“Saya sadar… yang saya hindari bukan tugasnya, tapi perasaan saya sendiri.”

Kalimat itu sederhana, tetapi membuka sesuatu yang penting.

Karena di balik setiap penundaan,
sering kali ada bagian diri yang sedang berusaha dilindungi.


Refleksi Akhir

Menunda pekerjaan bukan hanya tentang waktu yang terbuang.
Dan bukan sekadar kebiasaan buruk yang harus diperbaiki.

Ia adalah jendela kecil untuk melihat sesuatu yang lebih dalam:
bagaimana seseorang menghadapi tekanan, ketakutan, dan dirinya sendiri.

Di antara keinginan untuk bergerak maju dan dorongan untuk menghindar,
ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting daripada sekadar “bagaimana cara berhenti menunda”:

Apa sebenarnya yang sedang Anda hindari setiap kali Anda memilih untuk tidak memulai?

Dan mungkin, di balik tugas yang tertunda itu,
ada sesuatu yang lebih sunyi—
sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ingin Anda hadapi.


Referensi

  • Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the priority of short-term mood regulation. Social and Personality Psychology Compass.
  • Steel, P. (2007). The nature of procrastination. Psychological Bulletin.
  • LeDoux, J. (1996). The Emotional Brain.
  • Baumeister, R. F., & Heatherton, T. F. (1996). Self-regulation failure.
  • American Psychiatric Association. (2013). DSM-5.