Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa kita sering mengabaikan kesehatan fisik (waktu tidur dan makan) demi mengejar nilai yang mungkin akan kita lupakan pada masa yang akan datang?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
30

Ada fase yang terasa begitu akrab: malam dipotong lebih pendek, makan ditunda, tubuh dipaksa “menyusul nanti”—semua demi satu hal yang saat itu terasa sangat penting. Nilai ujian, deadline, pencapaian akademik. Di momen itu, keputusan terasa rasional. Ada sesuatu yang harus dikejar, dan tubuh dianggap cukup “kuat” untuk menunggu.

Namun beberapa waktu kemudian, ketika fase itu lewat, muncul kesadaran yang agak sunyi: banyak dari yang dikejar ternyata tidak benar-benar tinggal. Nilainya mungkin masih tercatat, tapi urgensinya hilang. Sementara dampak ke tubuh—lelah yang menumpuk, ritme yang berantakan—justru lebih terasa.

Ilusi Urgensi: Ketika yang Dekat Terasa Lebih Penting

Salah satu alasan kenapa hal ini terus berulang adalah karena cara otak memproses prioritas. Kita cenderung memberi bobot lebih besar pada sesuatu yang dekat dan terlihat jelas, dibanding yang jauh dan abstrak.

Deadline terasa nyata. Nilai terasa terukur. Sementara kesehatan—tidur cukup, makan teratur—tidak memberikan “feedback instan”. Dampaknya tidak langsung terlihat hari itu juga. Akibatnya, secara tidak sadar, tubuh ditempatkan di urutan kedua.

Dalam “Thinking, Fast and Slow”, Daniel Kahneman menjelaskan bagaimana sistem berpikir cepat kita cenderung fokus pada hasil jangka pendek yang konkret, sementara konsekuensi jangka panjang sering diremehkan. Ini bukan karena kita tidak peduli, tapi karena cara kerja kognitif kita memang seperti itu.

Produktivitas yang Disalahartikan

Ada juga narasi yang diam-diam tertanam cukup dalam: semakin mengorbankan diri, semakin terlihat serius. Begadang menjadi simbol dedikasi. Melewatkan makan dianggap bagian dari “fokus”.

Di banyak lingkungan, ini bahkan tidak dipertanyakan. Justru sering divalidasi. Orang yang tidur cukup kadang terlihat “kurang berjuang”, sementara yang memaksakan diri dianggap lebih pantas diapresiasi.

Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Cal Newport dalam “Deep Work”, bahwa produktivitas yang sebenarnya bukan diukur dari seberapa lama kita bekerja, tapi dari seberapa berkualitas fokus yang kita berikan. Ironisnya, kualitas itu justru sangat bergantung pada kondisi fisik yang sering kita abaikan.

Hubungan yang Terputus dengan Tubuh Sendiri

Ada aspek yang lebih dalam dari sekadar manajemen waktu: hubungan kita dengan tubuh.

Sering kali tubuh diperlakukan seperti alat, bukan bagian dari diri yang perlu didengar. Rasa lelah diabaikan, lapar ditunda, kantuk dilawan. Seolah-olah tubuh bisa terus mengikuti apa pun yang diminta tanpa konsekuensi.

Dalam “The Body Keeps the Score”, Bessel van der Kolk menulis bahwa tubuh menyimpan pengalaman dan tekanan, bahkan ketika pikiran mencoba mengabaikannya. Artinya, apa yang kita anggap “pengorbanan kecil” bisa terakumulasi menjadi sesuatu yang lebih besar.

Yang Sedikit “Nyentil”: Kita Tahu, Tapi Tidak Benar-Benar Percaya

Ada satu hal yang cukup jujur untuk diakui: kita sebenarnya tahu bahwa kesehatan itu penting. Semua orang tahu. Tapi sering kali, kita tidak benar-benar percaya bahwa dampaknya akan terjadi pada diri kita sendiri.

Ada semacam bias halus—seolah-olah kita masih punya “ruang aman” untuk terus menunda. Bahwa efek buruk itu mungkin terjadi, tapi bukan sekarang, bukan dalam waktu dekat.

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan optimism bias—keyakinan bahwa kita lebih kecil kemungkinannya mengalami hal buruk dibanding orang lain. Bias ini membuat kita merasa aman untuk terus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya fundamental.

Makna yang Dipinjam dari Luar

Ada juga dimensi lain yang jarang dibicarakan: kita sering mengejar sesuatu bukan karena benar-benar bermakna, tapi karena itu yang terlihat penting di mata lingkungan.

Nilai akademik, misalnya, sering menjadi simbol validasi—bukan hanya soal belajar, tapi soal pengakuan. Dalam konteks ini, mengorbankan kesehatan terasa “worth it” karena ada sesuatu yang ingin dibuktikan.

Namun ketika fase itu lewat, dan validasi itu tidak lagi relevan, yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih dalam: apakah yang dikejar benar-benar milik kita, atau hanya sesuatu yang kita pinjam dari ekspektasi sekitar?

Erich Fromm dalam “To Have or To Be?” menyinggung bagaimana manusia sering mengejar “memiliki”—nilai, status, pencapaian—tanpa benar-benar mempertanyakan apakah itu memperkaya “menjadi”. Di situlah sering terjadi ketimpangan.

Penutup: Tubuh Selalu Menunggu, Tapi Tidak Tanpa Batas

Mengabaikan tidur dan makan demi sesuatu yang terasa penting bukanlah keputusan yang aneh. Ia sangat manusiawi. Ada dorongan untuk mencapai, untuk membuktikan, untuk tidak tertinggal.

Namun yang sering terlupakan adalah: tubuh tidak pernah benar-benar diam. Ia mungkin menunggu, menyesuaikan, bahkan “mengalah” untuk sementara. Tapi ada batas yang tidak selalu terlihat.

Mungkin pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar kenapa kita melakukan ini, tapi sampai kapan kita menganggap tubuh sebagai sesuatu yang bisa ditunda.

Karena ironisnya, banyak hal yang kita kejar hari ini mungkin memang akan terlupakan. Tapi cara kita memperlakukan tubuh sendiri hampir selalu meninggalkan jejak yang jauh lebih lama.

Daftar Pustaka

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
Newport, C. (2016). Deep Work. Grand Central Publishing.
van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score. Viking.
Fromm, E. (1976). To Have or To Be? Harper & Row.

Ada sebuah anomali dalam perilaku manusia yang sering terlihat di koridor-koridor institusi pendidikan atau ruang kerja: kecenderungan untuk memperlakukan tubuh sebagai mesin yang bisa dipaksa demi angka-angka di atas kertas. Kita sadar bahwa kekurangan tidur menurunkan fungsi kognitif dan melewatkan makan merusak metabolisme, namun saat tenggat waktu mendekat, kesadaran itu sering kali kalah oleh dorongan untuk mencapai nilai atau performa yang tinggi. Fenomena ini bukan sekadar masalah manajemen waktu yang buruk, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara arsitektur saraf kita, tekanan sosial yang terinternalisasi, dan cara otak memproses penghargaan (reward) yang terdistorsi.

Secara neurobiologis, perilaku ini berkaitan erat dengan sistem dopaminergik kita yang sangat sensitif terhadap validasi eksternal. Nilai atau skor bertindak sebagai Secondary Reinforcer—sesuatu yang secara intrinsik tidak berguna (seperti kertas atau angka digital), tetapi kita asosiasikan dengan keberhasilan, penerimaan sosial, dan keamanan masa depan. Hal ini mengingatkan pada apa yang dibahas oleh Daniel Kahneman mengenai Loss Aversion; rasa takut akan "kehilangan" nilai atau reputasi jauh lebih kuat daripada keinginan untuk mendapatkan kesehatan yang stabil. Otak kita mempersepsikan nilai rendah sebagai ancaman terhadap eksistensi sosial kita, sehingga amigdala memicu respons stres yang memerintahkan kita untuk tetap terjaga, meskipun korteks prefrontal tahu bahwa itu merugikan dalam jangka panjang.

Masalahnya, kesehatan fisik bersifat abstrak dan kumulatif, sementara nilai bersifat konkret dan segera. Dalam psikologi, kita mengenal istilah Hyperbolic Discounting, di mana manusia cenderung memilih penghargaan yang lebih kecil namun segera (seperti rasa lega setelah melihat nilai A) daripada penghargaan yang lebih besar namun tertunda (seperti kesehatan jantung atau umur panjang di masa depan). Kita mengabaikan rasa lapar dan kantuk karena sinyal biologis tersebut dianggap sebagai "gangguan" terhadap misi pencapaian identitas kita. Kita terjebak dalam delusi bahwa tubuh adalah wadah yang terpisah dari pikiran, padahal keduanya adalah satu sistem yang terintegrasi secara utuh.

Ilusi Meritokrasi dan Tekanan Identitas

Faktor lain yang membuat kita rela mengabaikan kebutuhan dasar adalah narasi budaya yang mengagungkan pengorbanan diri sebagai simbol dedikasi. Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dalam lingkungan yang mengaitkan harga diri (self-worth) dengan prestasi akademik atau profesional. Hal ini menciptakan apa yang disebut Carol Dweck sebagai risiko dari Fixed Mindset; jika kita percaya bahwa nilai adalah bukti kecerdasan kita yang permanen, maka mendapatkan nilai buruk terasa seperti vonis terhadap identitas kita sebagai manusia. Akibatnya, tidur menjadi sesuatu yang bisa dikorbankan demi menjaga citra diri yang rapuh tersebut.

Fragmen kehidupan mahasiswa yang begadang dengan asupan kafein berlebih adalah contoh nyata dari Performance Anxiety yang terinternalisasi. Kita sering kali tidak mengejar nilai karena rasa ingin tahu (intrinsik), melainkan karena kebutuhan untuk memenuhi ekspektasi lingkungan (ekstrinsik). Hal ini selaras dengan teori Abraham Maslow mengenai hierarki kebutuhan; ironisnya, kita sering kali melompati kebutuhan fisiologis dasar (tidur dan makan) demi mencoba mencapai kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri. Namun, aktualisasi diri yang dibangun di atas pondasi kesehatan yang runtuh adalah sebuah ilusi yang tidak akan bertahan lama.

Pengabaian terhadap tubuh ini juga diperparah oleh apa yang disebut Alain de Botton sebagai Status Anxiety. Di masyarakat yang meritokratis, kita percaya bahwa posisi kita di masa depan ditentukan sepenuhnya oleh performa saat ini. Ketakutan akan kegagalan sistemik ini membuat kita memandang tidur sebagai "kemewahan" atau bahkan "kemalasan", bukan sebagai kebutuhan biologis untuk konsolidasi memori dan pemulihan seluler. Kita lupa bahwa tanpa tidur yang cukup, apa yang kita pelajari tidak akan tersimpan secara efektif dalam memori jangka panjang, yang menjelaskan mengapa kita sering melupakan materi ujian segera setelah nilai keluar.

Disintegrasi Diri dan Kehilangan Koneksi Tubuh

Kecenderungan untuk mengabaikan fisik juga merupakan tanda dari kurangnya Interoception, yaitu kemampuan otak untuk merasakan dan memahami sinyal-sinyal dari dalam tubuh. Dalam karyanya, Daniel Siegel menekankan pentingnya koneksi antara otak dan tubuh untuk mencapai kesehatan mental yang optimal. Ketika kita terlalu fokus pada target eksternal (nilai), kita melakukan "dissociation" atau pemutusan hubungan dengan tubuh sendiri. Kita berhenti mendengarkan lambung yang perih atau mata yang lelah karena kita menganggap sinyal tersebut sebagai musuh dari produktivitas.

Hal ini membawa kita pada pemikiran Viktor Frankl tentang makna. Jika kita mengejar nilai tanpa memahami makna di baliknya, kita akan mudah terjebak dalam stres kronis. Nilai yang dikejar demi "masa depan yang mungkin akan kita lupakan" adalah bentuk pengejaran makna yang dangkal. Frankl berpendapat bahwa kebahagiaan dan kesehatan adalah produk sampingan dari hidup yang bermakna. Ketika kita menjadikan angka sebagai tujuan utama, kita kehilangan kemampuan untuk menikmati proses belajar itu sendiri. Kita mengorbankan "saat ini" (kesehatan fisik) demi "nanti" yang tidak pasti, yang pada akhirnya sering kali berujung pada kelelahan emosional atau burnout sebelum kita sempat menikmati hasil dari perjuangan tersebut.

Keinginan untuk selalu tampil sempurna juga berkaitan dengan dorongan narsistik yang tidak disadari untuk menjadi "superhuman". Kita ingin membuktikan bahwa kita bisa melampaui batas-batas kemanusiaan kita. Namun, seperti yang sering diingatkan dalam psikologi klinis, tubuh selalu menyimpan catatan (the body keeps the score). Setiap jam tidur yang dicuri dan setiap nutrisi yang diabaikan akan terakumulasi dalam bentuk penurunan imunitas, gangguan suasana hati, dan penurunan fungsi eksekutif otak. Pada akhirnya, nilai yang kita kejar dengan cara yang merusak ini tidak akan memiliki arti apa pun jika kita tidak memiliki kesehatan untuk menggunakannya.

Menemukan Kembali Keseimbangan dan Prioritas Eksistensial

Untuk keluar dari pola destruktif ini, kita perlu melakukan redefinisi terhadap apa yang kita anggap sebagai "keberhasilan". Keberhasilan yang sejati harus mencakup integritas fisik dan mental. Mengalokasikan waktu untuk tidur dan makan secara teratur bukanlah penghambat kesuksesan, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas pemikiran dan daya tahan kita. Ini adalah bentuk Self-Compassion yang menurut penelitian mampu meningkatkan motivasi dan kinerja lebih efektif daripada kritik diri yang keras atau pemaksaan fisik.

Kita perlu menyadari bahwa hidup adalah sebuah maraton, bukan lari sprint yang berakhir di lembar ijazah. Nilai yang kita lupakan di masa depan adalah pengingat bahwa proses pertumbuhan karakter, ketangguhan, dan pemahaman diri jauh lebih berharga daripada angka sesaat. Menghargai kebutuhan tubuh adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang utuh. Seperti yang dikatakan oleh para filsuf eksistensialis, kita adalah subjek dari hidup kita, bukan objek dari sistem penilaian. Kemerdekaan sejati dimulai saat kita berani berkata "tidak" pada tuntutan eksternal yang merusak kesehatan kita dan mulai memprioritaskan fungsi biologis yang memungkinkan kita untuk terus berkarya.

Pada akhirnya, masa depan yang kita impikan hanya bisa dinikmati oleh diri kita yang sehat dan sadar. Mengorbankan kesehatan demi nilai adalah sebuah pertukaran yang tidak adil dan tidak logis secara psikologis. Mari kita bangun kembali koneksi dengan sinyal-sinyal tubuh, menghormati ritme sirkadian kita, dan memberi makan jiwa serta raga dengan seimbang. Saat kita belajar untuk merawat diri sendiri dengan baik, kita sebenarnya sedang meningkatkan kapasitas kita untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia, tanpa harus menghancurkan diri kita sendiri dalam prosesnya. Kesehatan adalah modal dasar dari segala bentuk aktualisasi diri; tanpa itu, segala pencapaian hanyalah monumen hampa di atas reruntuhan fisik kita.

Daftar Pustaka

Botton, A. d. (2004). Status Anxiety. Hamish Hamilton.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Frankl, V. E. (1946). Man's Search for Meaning. Beacon Press.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. Harper & Row.

Siegel, D. J. (2010). Mindsight: The New Science of Personal Transformation. Bantam Books.