Ada fase yang terasa begitu akrab: malam dipotong lebih pendek, makan ditunda, tubuh dipaksa “menyusul nanti”—semua demi satu hal yang saat itu terasa sangat penting. Nilai ujian, deadline, pencapaian akademik. Di momen itu, keputusan terasa rasional. Ada sesuatu yang harus dikejar, dan tubuh dianggap cukup “kuat” untuk menunggu.
Namun beberapa waktu kemudian, ketika fase itu lewat, muncul kesadaran yang agak sunyi: banyak dari yang dikejar ternyata tidak benar-benar tinggal. Nilainya mungkin masih tercatat, tapi urgensinya hilang. Sementara dampak ke tubuh—lelah yang menumpuk, ritme yang berantakan—justru lebih terasa.
Ilusi Urgensi: Ketika yang Dekat Terasa Lebih Penting
Salah satu alasan kenapa hal ini terus berulang adalah karena cara otak memproses prioritas. Kita cenderung memberi bobot lebih besar pada sesuatu yang dekat dan terlihat jelas, dibanding yang jauh dan abstrak.
Deadline terasa nyata. Nilai terasa terukur. Sementara kesehatan—tidur cukup, makan teratur—tidak memberikan “feedback instan”. Dampaknya tidak langsung terlihat hari itu juga. Akibatnya, secara tidak sadar, tubuh ditempatkan di urutan kedua.
Dalam “Thinking, Fast and Slow”, Daniel Kahneman menjelaskan bagaimana sistem berpikir cepat kita cenderung fokus pada hasil jangka pendek yang konkret, sementara konsekuensi jangka panjang sering diremehkan. Ini bukan karena kita tidak peduli, tapi karena cara kerja kognitif kita memang seperti itu.
Produktivitas yang Disalahartikan
Ada juga narasi yang diam-diam tertanam cukup dalam: semakin mengorbankan diri, semakin terlihat serius. Begadang menjadi simbol dedikasi. Melewatkan makan dianggap bagian dari “fokus”.
Di banyak lingkungan, ini bahkan tidak dipertanyakan. Justru sering divalidasi. Orang yang tidur cukup kadang terlihat “kurang berjuang”, sementara yang memaksakan diri dianggap lebih pantas diapresiasi.
Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Cal Newport dalam “Deep Work”, bahwa produktivitas yang sebenarnya bukan diukur dari seberapa lama kita bekerja, tapi dari seberapa berkualitas fokus yang kita berikan. Ironisnya, kualitas itu justru sangat bergantung pada kondisi fisik yang sering kita abaikan.
Hubungan yang Terputus dengan Tubuh Sendiri
Ada aspek yang lebih dalam dari sekadar manajemen waktu: hubungan kita dengan tubuh.
Sering kali tubuh diperlakukan seperti alat, bukan bagian dari diri yang perlu didengar. Rasa lelah diabaikan, lapar ditunda, kantuk dilawan. Seolah-olah tubuh bisa terus mengikuti apa pun yang diminta tanpa konsekuensi.
Dalam “The Body Keeps the Score”, Bessel van der Kolk menulis bahwa tubuh menyimpan pengalaman dan tekanan, bahkan ketika pikiran mencoba mengabaikannya. Artinya, apa yang kita anggap “pengorbanan kecil” bisa terakumulasi menjadi sesuatu yang lebih besar.
Yang Sedikit “Nyentil”: Kita Tahu, Tapi Tidak Benar-Benar Percaya
Ada satu hal yang cukup jujur untuk diakui: kita sebenarnya tahu bahwa kesehatan itu penting. Semua orang tahu. Tapi sering kali, kita tidak benar-benar percaya bahwa dampaknya akan terjadi pada diri kita sendiri.
Ada semacam bias halus—seolah-olah kita masih punya “ruang aman” untuk terus menunda. Bahwa efek buruk itu mungkin terjadi, tapi bukan sekarang, bukan dalam waktu dekat.
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan optimism bias—keyakinan bahwa kita lebih kecil kemungkinannya mengalami hal buruk dibanding orang lain. Bias ini membuat kita merasa aman untuk terus mengorbankan sesuatu yang sebenarnya fundamental.
Makna yang Dipinjam dari Luar
Ada juga dimensi lain yang jarang dibicarakan: kita sering mengejar sesuatu bukan karena benar-benar bermakna, tapi karena itu yang terlihat penting di mata lingkungan.
Nilai akademik, misalnya, sering menjadi simbol validasi—bukan hanya soal belajar, tapi soal pengakuan. Dalam konteks ini, mengorbankan kesehatan terasa “worth it” karena ada sesuatu yang ingin dibuktikan.
Namun ketika fase itu lewat, dan validasi itu tidak lagi relevan, yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih dalam: apakah yang dikejar benar-benar milik kita, atau hanya sesuatu yang kita pinjam dari ekspektasi sekitar?
Erich Fromm dalam “To Have or To Be?” menyinggung bagaimana manusia sering mengejar “memiliki”—nilai, status, pencapaian—tanpa benar-benar mempertanyakan apakah itu memperkaya “menjadi”. Di situlah sering terjadi ketimpangan.
Penutup: Tubuh Selalu Menunggu, Tapi Tidak Tanpa Batas
Mengabaikan tidur dan makan demi sesuatu yang terasa penting bukanlah keputusan yang aneh. Ia sangat manusiawi. Ada dorongan untuk mencapai, untuk membuktikan, untuk tidak tertinggal.
Namun yang sering terlupakan adalah: tubuh tidak pernah benar-benar diam. Ia mungkin menunggu, menyesuaikan, bahkan “mengalah” untuk sementara. Tapi ada batas yang tidak selalu terlihat.
Mungkin pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar kenapa kita melakukan ini, tapi sampai kapan kita menganggap tubuh sebagai sesuatu yang bisa ditunda.
Karena ironisnya, banyak hal yang kita kejar hari ini mungkin memang akan terlupakan. Tapi cara kita memperlakukan tubuh sendiri hampir selalu meninggalkan jejak yang jauh lebih lama.
Daftar Pustaka
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
Newport, C. (2016). Deep Work. Grand Central Publishing.
van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score. Viking.
Fromm, E. (1976). To Have or To Be? Harper & Row.