Kebiasaan Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Yang Sangat Efektif?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Dalam buku yang berjudul "The 7 Habits of Highly Effective People" karya Steven Covey, terdapat kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang efektif.
Kebiasaan terdiri dari pengetahuan, keahlian dan keinginan.
7 Kebiasaan Orang yang sangat efektif, menurut Steven Covey, adalah :
Salah satu kebiasaan buruk yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di dunia adalah mengeluh. Dan mungkin salah satu keluhan yang paling sering kita dengar adalah mahalnya biaya hidup saat ini apabila dibandingkan dengan biaya hidup pada saat sepuluh sampai dua puluh tahun yang lalu. Orang-orang ini adalah contoh dari Orang Reaktif, mereka akan mengeluh akan banyak hal tanpa memikirkan solusi yang bisa mereka lakukan.
Sebaliknya yang dilakukan oleh orang-orang yang proaktif adalah mereka menyadari bahwa memang hal seperti ini menjengkelkan dan memang merugikan, akan tetapi mereka tidak terus-menerus membahas permasalahan ini; justru mereka berpikir bagaimana cara mereka memanfaatkan keadaan ini untuk membuat suatu usaha atau inovasi dimana itu akan memberikan kemudahan bagi orang lain.Ingatlah bahwa semakin banyak anda mengeluh, maka waktu anda akan banyak yang terbuang sia-sia
Ketika anda sering mengeluh, secara tidak langsung pikiran anda akan terfokuskan pada keluhan-keluhan tersebut, sehingga anda akan memikirkannya dan mencari tahu kejelekan-kejelakan yang ada secara terus-menerus.
Coba bayangkan jika anda telah meninggal dunia, namun anda diberi kesempatan untuk menjelaskan atau memberi pidato tentang diri anda yang telah meninggal tersebut; apa yang akan anda katakan? Anda harus jujur pada diri anda sendiri, karena anda hanya bisa berbicara jujur pada kesempatan itu dan anda disaksikan oleh semua orang yang anda kenal.
Hampir semua dari kita harus mengatur ulang pola berpikir kita, karena saya yakin bahwa sebagian besar dari kita ingin dikatakan sebagai orang yang baik atau jujur atau mungkin pekerja keras dan sebagainya, akan tetapi sudahkah kita membuktikan bahwa kita layak disebut seperti itu? Renungkanlah kebiasaan ini agar anda dapat selalu berintrospeksi terhadap diri anda sendiri
Apabila saya bertanya, apakah yang paling penting dalam hidup anda? Jawaban paling banyak yang akan saya terima adalah, saya ingin sehat, saya ingin menjadi kepala keluarga yang baik atau saya ingin masuk surga. Jawaban-jawaban tersebut terdengar sangat mulia, tidak mungkin anda menjawab menonton tv atau bekerja. Namun bagaimana dengan kenyataannya? Waktu yang anda gunakan lebih banyak yang terpakai untuk menonton tv atau anda hanya fokus terhadap pekerjaan anda, bahkan anda tidak memiliki waktu untuk keluarga, untuk berolahraga dan untuk menjalankan ibadah menurut agama anda.
Coba bayangkan apabila saya dan anda adalah seorang penulis dan kita sama-sama baru menyelesaikan sebuah buku dan kita memiliki kesempatan untuk mengundang 1000 penggemar untuk mendengarkan anda berbicara.
Coba bandingkan dua hal ini:
Apabila anda memiliki sebuah saluran di youtube dan mengunduh sebuah video, anda tidak perlu mengatakan bahwa anda telah bekerja keras untuk video yang anda unduh dan menyuruh penonton saluran anda untuk berlangganan (subscribe) saluran anda, 99% dari orang yang menonton video anda tidak akan peduli dengan hal tersebut. Akan tetapi jika anda mengunduh sebuah video yang bermanfaat dan tidak membosankan, maka dengan otomatis para penonton akan berlangganan saluran youtube anda. Maka anda harus mengerti bagaimana kualitas yang anda berikan sebelum anda ingin dimengerti oleh orang lain
Hampir sama seperti poin “mengerti sebelum dimengerti”; jika ada sebuah pohon yang terdapat 5 buah apel segar dan dua anak yang sama-sama tidak dapat meraih apel tersebut, jika salah satu dari mereka mengangkat anak yang lainnya maka mereka akan sama-sama mendapatkan apel tersebut. Lain halnya apabila mereka berdua justru saling berkelahi karena keserakahan mereka.
Ada seorang lelaki yang sedang berusaha memotong sebuah batang kayu yang cukup besar menggunakan sebuah gergaji, namun setelah satu jam hasil yang didapatkan nihil. Lalu datang seseorang dan memberi saran kepada lelaki tersebut untuk mengasah gergaji agar lebih tajam, tapi yang dijawab olah laki-laki tersebut adalah mengasah pisau gergaji itu membuang-buang waktu. Disini yang saya maksud adalah banyak dari kita yang terlalu malas untuk mengasah pisau kita atau otak kita sebelum melakukan suatu hal karena kita selalu ingin segera mendapatkan apa yang kita mau.
Ada satu gambaran yang sering muncul ketika membicarakan orang yang “sangat efektif”.
Mereka terlihat rapi.
Terorganisir.
Produktif.
Seolah-olah tahu apa yang harus dilakukan setiap saat.
Namun ketika dilihat lebih dekat, efektivitas mereka bukan hanya soal manajemen waktu,
melainkan cara mereka memahami diri, energi, dan batasan.
Ada seseorang yang pernah berkata dengan jujur,
“Aku sudah coba pakai banyak metode produktivitas, tapi tetap saja berantakan.”
Masalahnya bukan pada metodenya.
Tapi pada asumsi bahwa efektivitas hanya soal teknik.
Padahal dalam banyak kasus, efektivitas justru dimulai dari hal yang lebih dalam:
bagaimana seseorang berhubungan dengan dirinya sendiri ketika tidak sempurna.
Ada kebiasaan yang sering dianggap sebagai tanda efektivitas:
selalu sibuk.
Kalender penuh.
To-do list panjang.
Tidak ada waktu kosong.
Namun sering kali, kesibukan justru menjadi cara untuk menghindari hal yang sebenarnya penting.
Dalam penelitian tentang attention economy, manusia cenderung lebih mudah mengerjakan hal yang terasa mendesak dibanding yang benar-benar bermakna.
Akibatnya, hari terasa penuh,
tapi tidak selalu terasa berarti.
Orang yang sangat efektif memiliki kebiasaan yang berbeda.
Mereka berani memilih.
Bukan hanya memilih apa yang dilakukan,
tapi juga apa yang tidak dilakukan.
Efektivitas bukan tentang melakukan lebih banyak,
tapi tentang tidak terjebak pada hal yang tidak penting.
Ada pola yang sering terlihat:
menunggu mood.
“Kalau lagi semangat, aku bisa produktif.”
“Kalau lagi capek, ya sudah.”
Orang yang sangat efektif tidak selalu memiliki mood yang stabil.
Namun mereka tidak menjadikan mood sebagai penentu utama tindakan.
Ada seseorang yang setiap hari menulis, meskipun tidak selalu merasa ingin.
Bukan karena ia disiplin secara ekstrem,
tapi karena ia sudah mengurangi keputusan.
Ia tidak lagi bertanya, “aku mau atau tidak?”
melainkan “ini bagian dari apa yang aku lakukan.”
Dalam teori habit formation oleh Wendy Wood, perilaku yang diulang dalam konteks yang sama akan menjadi otomatis, mengurangi kebutuhan akan motivasi.
Efektivitas tumbuh ketika tindakan tidak lagi bergantung pada perasaan sesaat.
Banyak orang mengatur waktunya,
tapi mengabaikan energinya.
Padahal dua jam dalam kondisi segar tidak sama dengan dua jam dalam kondisi lelah.
Orang yang efektif cenderung mengenali ritme dirinya.
Kapan mereka paling fokus.
Kapan mereka mudah terdistraksi.
Kapan mereka butuh istirahat.
Ada seseorang yang dulu memaksa dirinya bekerja sepanjang hari.
Namun hasilnya tidak maksimal.
Setelah ia mulai bekerja mengikuti energinya—
melakukan tugas berat saat fokus tinggi, dan tugas ringan saat lelah—
hasilnya justru lebih baik.
Dalam penelitian tentang ultradian rhythms, energi manusia memang naik turun dalam siklus tertentu sepanjang hari.
Efektivitas bukan hanya tentang mengatur waktu,
tapi tentang selaras dengan energi.
Ada hambatan yang sering tidak disadari:
keinginan untuk melakukan semuanya dengan sempurna.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu kondisi ideal.
Menunggu hasil yang sempurna.
Akibatnya, banyak hal justru tertunda.
Ada seseorang yang selalu menunda memulai karena takut hasilnya tidak bagus.
Namun ketika ia mulai mengizinkan dirinya untuk “tidak sempurna”,
ia justru menjadi lebih produktif.
Dalam konsep perfectionism oleh Brené Brown, keinginan untuk sempurna sering kali berakar pada rasa takut dinilai.
Dan ini bisa menghambat tindakan.
Orang yang efektif tidak menunggu sempurna,
mereka bergerak meskipun belum sempurna.
Ada anggapan bahwa orang efektif selalu bekerja keras tanpa henti.
Padahal kenyataannya, mereka justru tahu kapan harus berhenti.
Bukan karena malas,
tapi karena memahami batas.
Ada seseorang yang dulu terus bekerja sampai kelelahan.
Namun setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa kelelahan justru membuatnya tidak efektif.
Ia mulai belajar berhenti sebelum habis.
Dalam penelitian tentang burnout oleh Christina Maslach, kelelahan kronis dapat menurunkan produktivitas dan kesejahteraan secara signifikan.
Efektivitas jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk berhenti,
bukan hanya terus berjalan.
Banyak orang berpikir bahwa agar efektif, mereka harus memiliki fokus yang kuat.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya:
gangguan datang dari berbagai arah.
Notifikasi.
Media sosial.
Pikiran sendiri.
Orang yang efektif tidak selalu memiliki fokus yang sempurna.
Namun mereka mengelola gangguan.
Mereka menciptakan lingkungan yang mendukung.
Mengurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian.
Dalam teori environmental design, perilaku sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Efektivitas sering kali bukan soal memperkuat diri,
tapi melemahkan gangguan.
Ada pola yang cukup umum:
ketika gagal menjalankan rencana, seseorang menjadi keras pada dirinya sendiri.
“Kenapa aku selalu gagal?”
“Aku memang tidak disiplin.”
Alih-alih kembali, ia justru berhenti.
Orang yang efektif memiliki hubungan yang berbeda dengan kegagalan kecil.
Mereka tidak mengabaikannya,
tapi juga tidak membesar-besarkannya.
Dalam penelitian tentang self-compassion oleh Kristin Neff, sikap lembut pada diri sendiri justru berkaitan dengan motivasi yang lebih stabil.
Efektivitas tidak tumbuh dari tekanan berlebihan,
tapi dari kemampuan untuk kembali tanpa menyalahkan diri secara berlebihan.
Ada seseorang yang sangat sibuk,
namun merasa kosong.
Karena apa yang ia lakukan tidak terasa terhubung dengan sesuatu yang bermakna.
Orang yang efektif biasanya memiliki kejelasan,
bukan hanya tentang apa yang harus dilakukan,
tapi mengapa itu dilakukan.
Dalam teori self-determination oleh Deci dan Ryan, motivasi yang berasal dari makna internal lebih bertahan dibanding yang hanya didorong oleh tekanan eksternal.
Ketika seseorang tahu “mengapa”,
“bagaimana” menjadi lebih mudah dijalani.
Ada kecenderungan untuk mencari satu sistem yang sempurna.
Satu metode yang bisa menyelesaikan semua masalah.
Namun orang yang efektif biasanya lebih fleksibel.
Mereka mencoba, menyesuaikan,
dan mengubah pendekatan sesuai kebutuhan.
Karena mereka memahami bahwa hidup tidak selalu stabil.
Dan sistem yang terlalu kaku justru mudah runtuh.
Efektivitas bukan tentang menemukan sistem terbaik,
tapi tentang kemampuan untuk beradaptasi.
Banyak hasil terlihat di permukaan:
pencapaian, output, keberhasilan.
Namun di balik itu, ada proses yang sering tidak terlihat:
kebiasaan kecil.
pengulangan yang membosankan.
usaha yang tidak selalu terasa berarti.
Orang yang efektif tidak hanya fokus pada hasil.
Mereka juga menghargai proses.
Karena mereka tahu, hasil hanyalah konsekuensi.
Apa yang dilakukan setiap hari, meskipun kecil,
perlahan membentuk sesuatu yang besar.
Mungkin pada akhirnya, orang yang sangat efektif bukanlah mereka yang selalu melakukan segalanya dengan benar.
Bukan juga mereka yang tidak pernah gagal, atau tidak pernah merasa lelah.
Tapi mereka yang perlahan memahami sesuatu yang lebih sederhana:
bahwa hidup tidak selalu bisa dikendalikan,
bahwa energi tidak selalu stabil,
bahwa diri sendiri tidak selalu sempurna—
dan justru dari penerimaan itulah,
muncul cara bekerja yang lebih tenang,
lebih realistis,
dan entah bagaimana,
lebih bertahan lama.
Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul ketika orang berbicara tentang “efektivitas”.
Banyak yang membayangkannya sebagai kemampuan untuk bekerja lebih cepat, lebih keras, lebih banyak. Seolah-olah orang yang efektif adalah mereka yang selalu sibuk, selalu produktif, selalu bergerak tanpa henti.
Namun setelah melihat begitu banyak kehidupan dari jarak yang cukup dekat—dengan segala kelelahan, kecemasan, dan tekanan yang tidak selalu terlihat—satu hal perlahan menjadi jelas:
orang yang sangat efektif bukanlah mereka yang melakukan banyak hal, tetapi mereka yang tahu hal apa yang tidak perlu dilakukan.
Dan dari titik itu, kita bisa mulai memahami bahwa efektivitas bukan hanya soal manajemen waktu.
Ini adalah kombinasi antara cara berpikir, kondisi sistem saraf, kebiasaan sehari-hari, dan kemampuan memahami diri sendiri.
Ada satu kisah yang selalu teringat.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat produktif. Jadwalnya penuh. Pekerjaannya selesai tepat waktu. Ia dikenal sebagai orang yang “bisa diandalkan”.
Namun suatu hari, dalam sebuah percakapan yang cukup jujur, ia mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan:
“Aku capek… tapi aku tidak tahu sebenarnya aku sedang mengejar apa.”
Kalimat itu sederhana, tapi sangat dalam.
Karena di situ terlihat bahwa efektivitas yang ia jalani bukan berasal dari kejelasan, tetapi dari dorongan tanpa arah.
Dan ini lebih sering terjadi daripada yang kita kira.
Banyak orang terlihat efektif di luar, tetapi di dalam, mereka bergerak tanpa struktur yang jelas.
Efektivitas sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang keselarasan antara apa yang dilakukan dan apa yang benar-benar penting.
Kebanyakan orang belajar mengatur waktu.
Namun orang yang sangat efektif belajar sesuatu yang lebih fundamental:
mengatur energi.
Karena waktu bersifat tetap.
Tapi energi tidak.
Dalam satu hari yang sama, seseorang bisa merasa:
Ini bukan masalah disiplin.
Ini adalah ritme biologis.
Dalam penelitian tentang cognitive performance, fungsi eksekutif otak (yang mengatur fokus, perencanaan, dan pengambilan keputusan) sangat dipengaruhi oleh kondisi energi.
Itulah sebabnya orang yang efektif tidak hanya bertanya:
“Apa yang harus saya lakukan hari ini?”
Tetapi juga:
“Kapan saya berada dalam kondisi terbaik untuk melakukan ini?”
Mereka tidak memaksakan diri bekerja di saat otak tidak siap.
Mereka menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi internal.
Ada kecenderungan untuk terus menambah:
Seolah-olah semakin banyak yang dilakukan, semakin tinggi nilai diri seseorang.
Namun orang yang sangat efektif justru melakukan kebalikan.
Mereka menyederhanakan.
Mereka berani mengatakan tidak.
Mereka memilih dengan sangat selektif.
Dalam essentialism (Greg McKeown), disebutkan bahwa efektivitas sejati datang dari kemampuan untuk fokus pada hal yang paling penting dan mengeliminasi yang lain.
Secara neurologis, ini masuk akal.
Otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.
Semakin banyak hal yang harus diproses, semakin cepat terjadi kelelahan kognitif.
Setiap “ya” terhadap sesuatu adalah “tidak” terhadap hal lain.
Dan orang yang efektif sangat sadar akan hal ini.
Ada satu pola yang cukup konsisten:
orang yang tidak efektif cenderung menghindari hal yang sulit.
Sebaliknya, orang yang efektif tidak selalu nyaman—tetapi mereka tetap bergerak.
Ini bukan soal keberanian yang besar.
Tetapi tentang kebiasaan kecil untuk tetap melakukan hal yang perlu, meskipun tidak menyenangkan.
Misalnya:
Dalam konteks otak, ini berkaitan dengan delay discounting—kecenderungan manusia untuk memilih kenyamanan jangka pendek dibanding manfaat jangka panjang.
Orang yang efektif melatih dirinya untuk menunda kepuasan.
Bukan karena mereka kuat sepanjang waktu.
Tetapi karena mereka terbiasa.
Efektivitas sering kali lahir dari keputusan kecil yang tidak nyaman—yang diulang cukup lama hingga menjadi kebiasaan.
Ini mungkin yang paling sering diabaikan.
Banyak orang ingin menjadi efektif, tetapi mengabaikan satu hal:
pemulihan.
Ada keyakinan bahwa semakin lama bekerja, semakin besar hasilnya.
Namun penelitian menunjukkan bahwa kelelahan kronis justru menurunkan kualitas kinerja secara signifikan.
Sistem saraf manusia tidak dirancang untuk terus aktif tanpa jeda.
Jika dipaksa, yang terjadi adalah:
Orang yang sangat efektif memahami bahwa istirahat bukan kemewahan.
Ini adalah bagian dari strategi.
Mereka tidak hanya tahu kapan harus bekerja.
Mereka juga tahu kapan harus berhenti.
Ada sesuatu yang menarik.
Dua orang bisa memiliki kemampuan yang sama, waktu yang sama, bahkan peluang yang sama.
Namun hasilnya bisa sangat berbeda.
Salah satu faktor yang membedakan adalah cara berpikir.
Orang yang efektif cenderung memiliki pola pikir yang lebih adaptif:
Dalam cognitive behavioral theory (Aaron Beck), pikiran memengaruhi emosi, dan emosi memengaruhi tindakan.
Jika seseorang terus-menerus berpikir:
“Aku tidak mampu”
“Aku pasti gagal”
maka sistem sarafnya akan merespons dengan kecemasan atau penghindaran.
Sebaliknya, jika pikirannya lebih fleksibel, maka tindakannya juga lebih terbuka.
Efektivitas tidak hanya terjadi di luar.
Ia dimulai dari dialog yang terjadi di dalam kepala.
Banyak orang sangat baik dalam memulai sesuatu.
Namun kesulitan dalam menyelesaikannya.
Ini sering berkaitan dengan dopamin—neurotransmitter yang berkaitan dengan motivasi.
Memulai sesuatu memberikan lonjakan dopamin.
Namun mempertahankan usaha membutuhkan sistem yang berbeda—lebih stabil, lebih disiplin.
Orang yang efektif tidak selalu termotivasi.
Namun mereka memiliki struktur.
Mereka menyelesaikan hal-hal kecil.
Mereka membangun momentum.
Dan yang terpenting:
mereka tidak bergantung sepenuhnya pada perasaan untuk bergerak.
Ini mungkin yang paling mendasar.
Karena tanpa ini, semua strategi menjadi tidak stabil.
Orang yang efektif biasanya memiliki pemahaman yang cukup baik tentang dirinya:
Tanpa pemahaman ini, seseorang akan terus mencoba meniru orang lain.
Padahal yang bekerja untuk satu orang belum tentu bekerja untuk yang lain.
Dalam banyak kasus, kelelahan muncul bukan karena terlalu banyak pekerjaan.
Tetapi karena menjalani pola hidup yang tidak sesuai dengan diri sendiri.
Efektivitas bukan tentang menjadi seperti orang lain.
Tetapi tentang menemukan cara kerja yang paling sesuai dengan diri sendiri.
Ada orang-orang yang terlihat sangat efektif.
Mereka terorganisir, disiplin, dan produktif.
Namun di balik itu, ada yang bergerak dari kecemasan.
Takut gagal.
Takut tidak cukup.
Takut tertinggal.
Efektivitas seperti ini sering tidak bertahan lama.
Karena ia dibangun di atas tekanan, bukan keseimbangan.
Sebaliknya, ada orang yang tampak biasa saja.
Tidak terlalu sibuk, tidak terlalu mencolok.
Namun ketika dilihat lebih dalam, ada satu kualitas yang berbeda:
ketenangan.
Mereka tahu apa yang mereka lakukan.
Mereka tidak terburu-buru.
Mereka tidak perlu membuktikan apa-apa.
Dan justru dari sana, efektivitas yang lebih stabil muncul.
Mungkin pada akhirnya, efektivitas bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita lakukan dalam sehari.
Tetapi tentang seberapa jujur kita dalam memilih apa yang benar-benar layak untuk kita lakukan—
dan seberapa tenang kita ketika memutuskan untuk tidak melakukan sisanya.
Notifications