Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan kenakalan remaja, yang terkadang antar satu faktor dengan faktor lainnya saling berhubungan. Selain itu, kenakalan remaja terjadi karena akumulasi beberapa faktor, bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Tetapi kontribusi tiap-tiap faktor sangat berbeda antar individu. 

Lingkungan Sekolah yang Buruk

Lingkungan sekolah yang buruk adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kenakalan. Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar dan tumbuh; itu juga merupakan rutinitas terstruktur yang memberi anak-anak tujuan untuk dicapai setiap hari.

Kegiatan bangun pagi, bersiap-siap, bersekolah, menyelesaikan pekerjaan, dan pulang ke rumah setiap hari membentuk rutinitas yang menjadi dasar pilihan yang baik di masa depan. Anak-anak yang tidak didorong untuk mempelajari jenis rutinitas ini kehilangan cara untuk membangun kebiasaan yang baik. Mereka juga mengalami banyak waktu luang yang dapat digunakan untuk “belajar” tentang hal-hal lain yang tidak akan meningkatkan kehidupan atau masa depan mereka.

Kegagalan untuk menerima rutinitas bersekolah sebenarnya menanamkan pada anak-anak bahwa mereka tidak harus mematuhi norma-norma masyarakat dan bahwa mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan.

Standar Pendidikan yang Buruk

Jenis sekolah yang dimasuki seorang anak juga dapat berkontribusi terhadap kenakalan mereka. Sekolah yang penuh sesak dan kekurangan dana cenderung kurang disiplin dan tertib. Kekacauan yang sering dialami di sekolah-sekolah ini membuat anak-anak bertindak lebih defensif karena takut dengan lingkungan sekitar. Keterlibatan orang tua dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan berbasis sekolah telah ditemukan menjadi pencegah yang sangat besar untuk kegiatan kenakalan. Ketika orang dewasa aktif dalam kehidupan seorang anak, anak itu lebih cenderung berprestasi baik di sekolah dan lingkungan sosial karena mereka tahu bahwa orang dewasa akan melihat tindakan mereka.

Kekerasan Di Rumah

Salah satu faktor penyumbang terbesar untuk kenakalan adalah kekerasan di rumah. Setiap pengacara pembela kriminal remaja akan memberi tahu Anda bahwa ketika seorang anak menjadi sasaran kekerasan, mereka pada gilirannya adalah orang-orang yang kejam. Mengecam orang lain karena kekerasan yang mereka alami di rumah adalah hal yang sangat umum.

Remaja yang menjadi sasaran tindakan kekerasan, atau mereka yang sering menyaksikan kekerasan, lebih mungkin untuk menunjukkan ketakutan dan frustrasi mereka. Mereka sering memiliki sikap “tidak peduli” dan ini membuat mereka lebih mudah mendapat masalah.

Kekerasan Di Lingkungan Sosialnya

Jika lingkungan tempat tinggal anak penuh kekerasan, anak akan cenderung lebih rentan terhadap kenakalan. Banyak orang menggambarkan ini sebagai metode bertahan hidup di jalan karena anak mendapat masalah sebagai cara untuk menghindari masalah dari anggota geng daerah atau orang yang melakukan kekerasan. Dalam banyak kasus, ketika Anda mengeluarkan anak dari situasi seperti ini, kecenderungan mereka untuk melakukan tindakan nakal akan hilang.

Tekanan Rekan

Mirip dengan tekanan lingkungan, tekanan teman sebaya dari pergaulannya dapat berdampak pada bagaimana seorang remaja bereaksi terhadap situasi yang buruk. Jika semua temannya melakukan tindakan kenakalan, anak mungkin merasa tertekan untuk melakukan hal yang sama agar diterima. Cara terbaik untuk menghindari situasi seperti ini adalah dengan terlibat secara aktif dengan siapa anak Anda bergaul secara teratur. Kenali teman-teman mereka. Tahu tentang orang tua teman mereka. Ini tidak hanya menanamkan kepercayaan pada anak Anda untuk melakukan hal yang benar, tetapi juga dapat membantu orang tua menjauhkan anak-anak mereka dari pengaruh buruk.

Faktor Sosial Ekonomi

Kenakalan remaja lebih sering terjadi di lingkungan yang lebih miskin. Sementara semua lingkungan tidak dibebaskan dari kegiatan nakal, diyakini hal itu terjadi lebih banyak di daerah di mana anak-anak merasa mereka harus melakukan kejahatan untuk sejahtera. Pencurian dan kejahatan serupa sebenarnya bisa menjadi akibat kebutuhan dan bukan hanya kejahatan kecil. Satu-satunya bantuan sejati untuk situasi ini adalah memastikan bahwa anak-anak di daerah ini memiliki akses ke apa yang mereka butuhkan dan memahami bahwa mereka tidak harus melakukan kejahatan untuk maju dalam hidup.

Penyalahgunaan Zat

Penyalahgunaan zat di rumah atau oleh anak adalah penyebab yang sangat umum untuk kenakalan. Anak-anak yang terpapar penyalahgunaan zat seringkali tidak memiliki kebutuhan yang mereka butuhkan untuk berkembang dan dipaksa untuk menemukan kebutuhan ini dengan cara lain. Orang lain, yang menjadi tergantung pada suatu zat mungkin juga perlu melakukan kejahatan untuk mempertahankan kebiasaan mereka. Konseling dan pengobatan untuk situasi seperti ini adalah satu-satunya obat yang nyata untuk membantu anak-anak ini. Jenis situasi ini dapat menyebabkan harga diri mereka memburuk dan memungkinkan mereka untuk melakukan tindakan yang tidak akan mereka pertimbangkan.

Kurangnya Pedoman Moral

Pengaruh orang tua atau orang dewasa merupakan faktor terpenting dalam mencegah kenakalan. Ketika orang tua atau orang dewasa lainnya berinteraksi dengan anak dan menunjukkan kepada mereka perilaku apa yang dapat diterima dan apa yang dianggap salah, anak cenderung bertindak dengan cara yang tidak nakal. Sangat penting bagi seorang anak untuk memiliki ikatan dengan orang dewasa yang baik yang akan mempengaruhi tindakan mereka dan menunjukkan kepada mereka perbedaan antara apa yang benar dan apa yang salah. Bahkan jika anak Anda telah melakukan tindakan kenakalan, hidup mereka belum berakhir. Anda, sebagai pengasuh mereka, memiliki kesempatan untuk mengubah hidup mereka dan menunjukkan kepada mereka bagaimana mengubah cara mereka. Ini dimulai dengan menyewa pengacara pembela kriminal remaja yang berkualitas sehingga mereka dapat menerima pengadilan yang adil. Setelah mereka melalui proses ini, sebagai pengasuh, Anda dapat mulai mengubah pengaruh dalam kehidupan anak sehingga mereka dapat memulai dari awal dan memasuki masa dewasa dengan bersih.

Sumber:

Unayah dan Sabarisman (2015) menyebutkan perilaku "nakal" remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal

  1. Krisis identitas: perubahan biologis sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
  2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya

Faktor Eksternal

  1. Keluarga dan Perceraian orangtua: tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
  2. Teman sebaya yang kurang baik.
  3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Sumber

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanakkanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.

Cukup banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja.
Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya:

1. Faktor Internal
a. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis padadiri remaja memungkinkan terjadinya dua
bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam
kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

b. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat
diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2. Faktor Eksternal
a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta
kurangnya kasih sayang. Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken-home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh  kematian ayah atau ibunya, keluarga yang
diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi atau kenakalan remaja.

b. Minimnya pemahaman tentang keagamaan
Dalam kehidupan berkeluarga, kurangnya pembinaan agama juga menjadi
salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja. Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui rumah tangga perlu dilakukan
sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik.

Sumber:

Sumara dkk.(2017). Kenakalan Remaja dan Penanganannya, 4(2), 347-349.

Ketika orang mendengar istilah kenakalan remaja, gambaran yang muncul sering kali cukup sederhana: anak muda yang melanggar aturan, membolos sekolah, tawuran, mencoba alkohol, atau melakukan tindakan impulsif yang membuat orang dewasa menggelengkan kepala.

Namun jika kita melihat lebih dekat, kisah di balik perilaku itu hampir tidak pernah sesederhana label “nakal”.

Di balik setiap perilaku remaja yang dianggap bermasalah, biasanya ada cerita yang jauh lebih kompleks—tentang pencarian jati diri, kebutuhan untuk diterima, rasa marah yang tidak memiliki tempat, atau luka yang bahkan belum sempat diberi nama.

Kenakalan remaja jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam.

Dalam banyak pengamatan tentang kehidupan remaja, perilaku yang tampak di permukaan sering kali hanyalah ujung dari proses psikologis yang panjang. Remaja adalah fase kehidupan yang penuh perubahan: tubuh berubah, cara berpikir berubah, hubungan dengan orang tua berubah, dan dunia sosial tiba-tiba menjadi jauh lebih penting daripada sebelumnya.

Pada masa inilah seseorang mulai bertanya secara diam-diam: Siapa saya sebenarnya?

Dan tidak semua remaja menemukan jawaban itu dengan cara yang tenang.


Masa Remaja: Periode Paling Rentan dalam Perkembangan Manusia

Psikolog perkembangan Erik Erikson menggambarkan masa remaja sebagai fase identity vs role confusion—periode ketika seseorang berusaha membentuk identitas dirinya sendiri (Erikson, 1968). Pada fase ini, individu tidak lagi sepenuhnya anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa.

Di sinilah muncul banyak ketegangan psikologis.

Remaja mulai ingin mandiri, tetapi masih bergantung pada orang tua. Mereka ingin diakui sebagai individu, tetapi masih mencari tempat dalam kelompok sosial. Mereka ingin membuat keputusan sendiri, tetapi sering belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memahami konsekuensi dari keputusan itu.

Ketegangan ini kadang menemukan jalan keluarnya melalui perilaku yang dianggap “nakal”.

Namun jika diperhatikan dengan lebih hati-hati, banyak perilaku kenakalan remaja sebenarnya adalah bentuk eksperimen identitas.

Remaja mencoba berbagai peran: menjadi pemberontak, menjadi anggota kelompok tertentu, menjadi sosok yang terlihat kuat di depan teman-temannya. Mereka sedang menguji batas dunia—dan juga batas diri mereka sendiri.


Pengaruh Lingkungan Keluarga

Salah satu faktor paling kuat dalam perkembangan perilaku remaja adalah lingkungan keluarga.

Hubungan dengan orang tua membentuk fondasi emosional yang sangat penting sejak masa kanak-kanak. John Bowlby dalam teori attachment menjelaskan bahwa hubungan awal dengan pengasuh utama memengaruhi bagaimana seseorang memahami kepercayaan, keamanan emosional, dan hubungan sosial di kemudian hari (Bowlby, 1988).

Ketika hubungan keluarga penuh kehangatan, batasan yang jelas, dan komunikasi yang sehat, remaja cenderung memiliki dasar emosional yang lebih stabil.

Sebaliknya, ketika rumah dipenuhi konflik, kekerasan, pengabaian emosional, atau ketidakpastian, remaja sering mencari kompensasi di luar rumah.

Ada kisah yang cukup sering muncul dalam pengamatan kehidupan remaja: seorang anak yang dianggap sangat bermasalah di sekolah ternyata hidup dalam lingkungan keluarga yang penuh ketegangan. Orang tua sering bertengkar, komunikasi hampir tidak pernah terjadi, dan rumah tidak terasa sebagai tempat yang aman.

Ketika seseorang tumbuh dalam kondisi seperti itu, perilaku bermasalah di luar rumah kadang bukan sekadar kenakalan.

Ia bisa menjadi bahasa emosional yang tidak pernah dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya.


Pengaruh Teman Sebaya

Pada masa remaja, teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar.

Jika pada masa kanak-kanak figur otoritas utama adalah orang tua, maka pada masa remaja pusat gravitasi sosial mulai bergeser ke kelompok teman.

Remaja ingin diterima.

Dan kebutuhan untuk diterima ini sangat kuat.

Dalam banyak kasus, perilaku kenakalan muncul bukan karena individu benar-benar ingin melakukannya, tetapi karena tekanan kelompok. Remaja sering melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan hanya agar tidak dianggap berbeda oleh teman-temannya.

Penelitian Laurence Steinberg menunjukkan bahwa otak remaja sangat sensitif terhadap kehadiran teman sebaya, terutama dalam situasi yang melibatkan risiko (Steinberg, 2014).

Ketika remaja berada dalam kelompok, mereka cenderung membuat keputusan yang lebih impulsif dibandingkan ketika sendirian.

Hal ini bukan sekadar masalah moral atau karakter.

Ini berkaitan dengan perkembangan neurologis.


Perkembangan Otak Remaja

Ilmu saraf modern menunjukkan bahwa otak manusia tidak berkembang secara merata.

Bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan dorongan—sistem limbik—berkembang lebih cepat pada masa remaja. Sementara itu, bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan rasional—prefrontal cortex—baru matang sepenuhnya pada usia sekitar pertengahan dua puluhan.

Artinya, remaja sering memiliki mesin emosi yang sangat kuat, tetapi sistem rem yang belum sepenuhnya matang.

Inilah sebabnya mengapa perilaku impulsif lebih sering muncul pada masa remaja. Mereka bisa merasakan sensasi intens, kemarahan yang kuat, atau keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru tanpa sepenuhnya memikirkan konsekuensinya.

Dalam konteks ini, kenakalan remaja bukan hanya masalah sosial, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan biologis.


Rasa Tidak Berarti dan Pencarian Pengakuan

Ada satu faktor lain yang sering muncul dalam kisah kehidupan remaja yang dianggap “bermasalah”: perasaan tidak terlihat.

Beberapa remaja tumbuh dengan keyakinan diam-diam bahwa mereka tidak cukup penting, tidak cukup pintar, atau tidak cukup dihargai. Ketika kebutuhan akan pengakuan ini tidak terpenuhi dalam cara yang sehat, mereka mungkin mencarinya melalui cara lain.

Kadang melalui perilaku ekstrem.

Ada remaja yang merasa lebih diperhatikan ketika mereka membuat masalah. Guru memanggil namanya, orang tua marah, teman-teman membicarakannya.

Ironisnya, perhatian negatif kadang terasa lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali.

Dalam teori kebutuhan manusia yang dikemukakan Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan dan rasa memiliki merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis (Maslow, 1943).

Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang bisa mencari pengakuan dengan cara yang destruktif.


Faktor Sosial dan Lingkungan

Lingkungan sosial yang lebih luas juga memainkan peran penting.

Kemiskinan, ketidaksetaraan sosial, lingkungan yang penuh kekerasan, atau kurangnya kesempatan pendidikan dapat meningkatkan risiko kenakalan remaja.

Sosiolog Robert Merton menjelaskan bahwa ketika masyarakat menekankan kesuksesan tetapi tidak memberikan akses yang adil untuk mencapainya, sebagian individu mungkin mencari jalan alternatif—termasuk perilaku menyimpang (Merton, 1938).

Dalam konteks ini, kenakalan remaja tidak hanya soal individu, tetapi juga soal struktur sosial.


Media dan Budaya Modern

Di era modern, media sosial dan budaya digital juga memengaruhi perilaku remaja.

Remaja hidup dalam dunia yang terus membandingkan. Mereka melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, popularitas yang diukur dengan angka, dan standar sosial yang sering tidak realistis.

Tekanan ini bisa memicu kecemasan, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk membuktikan diri.

Kadang pembuktian itu muncul dalam bentuk yang tidak sehat.


Luka yang Tidak Terlihat

Namun ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kenakalan remaja.

Di balik banyak perilaku yang dianggap bermasalah, sering ada luka emosional yang tidak terlihat oleh orang dewasa.

Seorang remaja yang sering marah mungkin sebenarnya sedang menyimpan kesedihan yang sangat dalam.

Seorang remaja yang sering melanggar aturan mungkin sebenarnya merasa hidupnya tidak memiliki arah.

Dan seorang remaja yang terlihat tidak peduli mungkin sebenarnya sedang berjuang melawan rasa kesepian yang sulit dijelaskan.

Banyak orang dewasa melihat perilaku mereka dan langsung memberi label: nakal, bandel, atau tidak tahu aturan.

Padahal sering kali yang sebenarnya terjadi jauh lebih rumit dari itu.


Referensi

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. Norton.

Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.

Steinberg, L. (2014). Age of Opportunity: Lessons from the New Science of Adolescence. Houghton Mifflin Harcourt.

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review.

Merton, R. K. (1938). Social Structure and Anomie. American Sociological Review.

Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The Need to Belong. Psychological Bulletin.


Pada akhirnya, kenakalan remaja sering kali bukan sekadar tentang aturan yang dilanggar, tetapi tentang sebuah fase kehidupan yang penuh kebingungan, pencarian, dan emosi yang belum sepenuhnya dipahami.

Di usia itu, seseorang sedang belajar menjadi manusia dewasa—sering kali tanpa peta yang jelas, tanpa pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, dan kadang tanpa dukungan yang benar-benar ia butuhkan.

Dan mungkin itulah salah satu hal paling menarik sekaligus paling menyentuh dari masa remaja: di balik perilaku yang terlihat kacau, sebenarnya ada seseorang yang sedang berusaha menemukan tempatnya di dunia yang terasa sangat besar dan sangat membingungkan.

Kenakalan remaja sering kali dipahami secara sederhana: anak yang melanggar aturan, berperilaku agresif, bolos sekolah, terlibat tawuran, penyalahgunaan zat, atau berbagai bentuk perilaku berisiko lainnya. Namun jika seseorang benar-benar mencoba melihat fenomena ini lebih dekat, gambaran yang muncul biasanya jauh lebih rumit. Perilaku kenakalan jarang muncul sebagai peristiwa tunggal; ia hampir selalu merupakan hasil dari berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling berinteraksi selama bertahun-tahun.

Saya pernah mengenal seorang remaja yang di mata masyarakat dianggap “anak bermasalah”. Ia sering berkelahi di sekolah, beberapa kali terlibat dalam tindakan vandalisme, dan reputasinya sudah cukup buruk di lingkungan tempat tinggalnya. Orang-orang di sekitarnya sering berkata bahwa ia hanya “nakal” atau “tidak punya akhlak”.

Namun suatu hari saya berbincang cukup lama dengan seseorang yang mengenalnya lebih dekat. Cerita yang muncul jauh lebih kompleks. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Ibunya bekerja hampir sepanjang hari. Di rumah tidak ada percakapan hangat, tidak ada ruang aman untuk bercerita. Sekolah pun tidak memberinya rasa memiliki. Dalam hidupnya, hampir tidak ada tempat di mana ia merasa benar-benar diperhatikan.

Kisah seperti ini bukan hal yang langka. Banyak remaja yang dianggap nakal sebenarnya sedang mencoba merespons dunia yang terasa tidak aman bagi mereka.

Untuk memahami kenakalan remaja secara lebih utuh, kita perlu melihat beberapa lapisan yang membentuk perilaku manusia.

Perubahan Otak pada Masa Remaja

Salah satu faktor yang sering diabaikan adalah perubahan biologis yang sangat besar pada masa remaja. Pada periode ini, otak manusia mengalami reorganisasi besar, terutama pada dua sistem utama: sistem limbik dan korteks prefrontal.

Sistem limbik berkaitan dengan emosi, dorongan, dan pencarian sensasi. Area ini berkembang lebih cepat selama masa remaja. Sebaliknya, korteks prefrontal—bagian otak yang berfungsi untuk pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan perencanaan jangka panjang—berkembang lebih lambat dan baru mencapai kematangan penuh pada usia sekitar pertengahan dua puluhan.

Penelitian dalam ilmu saraf perkembangan yang dijelaskan oleh Laurence Steinberg menunjukkan bahwa ketidakseimbangan ini membuat remaja lebih sensitif terhadap penghargaan, sensasi, dan tekanan sosial, sementara kemampuan untuk menahan dorongan belum sepenuhnya matang.

Dengan kata lain, banyak perilaku berisiko pada remaja bukan semata-mata karena mereka ingin melanggar aturan, tetapi karena sistem otak yang mengatur dorongan dan kontrol diri sedang berada dalam fase perkembangan yang tidak seimbang.

Ini tidak berarti bahwa semua remaja akan menjadi nakal. Tetapi kondisi biologis ini membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan.

Lingkungan Keluarga

Faktor keluarga adalah salah satu variabel paling kuat yang memengaruhi perilaku remaja.

Saya pernah mendengar kisah seorang anak laki-laki yang sering terlibat tawuran di sekolah. Banyak orang menganggapnya agresif dan sulit diatur. Namun seseorang yang mengenal keluarganya mengatakan bahwa hampir setiap malam di rumahnya terjadi pertengkaran keras antara orang tuanya.

Anak itu tumbuh dalam lingkungan di mana konflik adalah hal yang normal. Ia melihat bagaimana kemarahan diekspresikan tanpa kontrol. Tidak ada model komunikasi yang sehat.

Dalam psikologi perkembangan, konsep ini sering disebut social learning. Anak belajar perilaku bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Ketika kekerasan, penghinaan, atau pengabaian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seorang remaja mungkin belajar bahwa dunia adalah tempat yang keras dan bahwa agresi adalah cara untuk bertahan.

Sebaliknya, keluarga yang menyediakan kehangatan emosional, batasan yang jelas, dan komunikasi terbuka cenderung menjadi faktor pelindung terhadap perilaku kenakalan.

Penelitian dalam buku Child Development and Psychopathology menunjukkan bahwa attachment yang aman dengan orang tua dapat menjadi salah satu pelindung terkuat terhadap perilaku menyimpang pada remaja.

Pengaruh Teman Sebaya

Pada masa remaja, hubungan dengan teman sebaya sering kali menjadi sangat penting. Identitas sosial mulai terbentuk, dan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok menjadi sangat kuat.

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini. Seorang remaja yang sebenarnya dikenal cukup pendiam di rumah tiba-tiba mulai terlibat dalam berbagai perilaku berisiko setelah bergabung dengan kelompok tertentu di sekolahnya.

Bukan karena ia tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda, tetapi karena kelompok tersebut memberikan sesuatu yang tidak ia dapatkan di tempat lain: rasa memiliki.

Manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk menjadi bagian dari kelompok. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi dalam lingkungan yang sehat, remaja mungkin mencarinya di tempat lain, bahkan jika kelompok itu mendorong perilaku berbahaya.

Penelitian tentang peer influence dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kehadiran teman sebaya dapat meningkatkan perilaku berisiko secara signifikan pada remaja, terutama dalam situasi yang melibatkan sensasi atau tantangan sosial.

Trauma dan Pengalaman Hidup

Tidak sedikit remaja yang terlibat dalam perilaku kenakalan memiliki sejarah pengalaman traumatis.

Trauma masa kecil—seperti kekerasan fisik, pengabaian emosional, atau kehilangan orang yang dicintai—dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf secara mendalam. Sistem respons stres menjadi lebih sensitif, dan emosi seperti kemarahan atau kecemasan dapat muncul lebih intens.

Robert Anda dan Vincent Felitti melalui penelitian terkenal tentang Adverse Childhood Experiences (ACE Study) menunjukkan bahwa pengalaman buruk pada masa kecil berkaitan erat dengan berbagai masalah perilaku di masa remaja dan dewasa, termasuk penyalahgunaan zat, agresi, dan kesulitan mengendalikan emosi.

Dalam konteks ini, perilaku kenakalan kadang-kadang merupakan bentuk ekspresi dari rasa sakit yang tidak pernah dipahami oleh lingkungan sekitar.

Tekanan Sosial dan Budaya

Faktor sosial juga memainkan peran penting.

Remaja hidup dalam dunia yang penuh dengan ekspektasi: tekanan akademik, standar kecantikan, citra kesuksesan, dan berbagai bentuk perbandingan sosial yang terus-menerus. Media sosial bahkan memperkuat tekanan ini.

Saya pernah berbincang dengan seorang remaja yang merasa hidupnya tidak ada artinya karena ia merasa tidak mampu memenuhi harapan orang tua dan masyarakat. Ia mulai mencari pelarian melalui perilaku berisiko dan pergaulan yang destruktif.

Kadang-kadang kenakalan bukan sekadar pemberontakan, tetapi juga bentuk pelarian dari tekanan yang terasa terlalu berat untuk ditanggung.

Regulasi Emosi yang Belum Matang

Salah satu aspek yang sering muncul dalam perilaku kenakalan remaja adalah kesulitan dalam mengelola emosi.

Remaja yang tidak pernah belajar bagaimana mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat mungkin mengekspresikannya melalui perilaku impulsif—marah, merusak barang, atau melawan otoritas.

Daniel Siegel dalam buku Brainstorm: The Power and Purpose of the Teenage Brain menjelaskan bahwa masa remaja adalah periode di mana emosi sangat intens, sementara kemampuan refleksi diri masih berkembang.

Ketika emosi yang kuat tidak memiliki saluran yang sehat, perilaku impulsif sering menjadi jalan keluar.

Faktor Individu

Selain faktor lingkungan, ada juga faktor temperamen dan kerentanan biologis.

Beberapa individu secara alami memiliki tingkat impulsivitas yang lebih tinggi atau sensitivitas terhadap rangsangan yang lebih besar. Faktor genetik juga dapat memengaruhi regulasi emosi, toleransi terhadap frustrasi, dan kecenderungan mencari sensasi.

Namun penting untuk diingat bahwa faktor biologis jarang bekerja sendirian. Ia hampir selalu berinteraksi dengan pengalaman hidup dan lingkungan sosial.

Refleksi

Ketika seseorang melihat fenomena kenakalan remaja dari jarak jauh, mudah sekali untuk memberi label: nakal, bandel, tidak bermoral, atau tidak disiplin.

Namun jika kita melihat lebih dekat, sering kali kita menemukan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Di balik perilaku yang tampak merusak, kadang ada remaja yang sedang mencoba memahami dunia yang terasa kacau. Ada yang sedang mencari tempat untuk merasa diterima. Ada yang sedang memproses luka yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.

Perilaku adalah bahasa. Dan sering kali, kenakalan remaja adalah cara seorang anak berbicara ketika ia tidak memiliki kata-kata lain untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya.

Mungkin itulah salah satu hal yang paling penting untuk diingat ketika kita mencoba memahami remaja yang dianggap bermasalah: bahwa di balik perilaku yang paling sulit sekalipun, hampir selalu ada cerita yang belum sempat didengar.

Referensi:

Steinberg, L. (2014). Age of Opportunity: Lessons from the New Science of Adolescence.

Siegel, D. (2013). Brainstorm: The Power and Purpose of the Teenage Brain.

Felitti, V., Anda, R., et al. (1998). Relationship of Childhood Abuse and Household Dysfunction to Many of the Leading Causes of Death in Adults.

Santrock, J. (2019). Adolescence.

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.).