Emosi Apa Saja Yang Dominan Pada Pria?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Memahami perbedaan emosional antara pria dan wanita telah menjadi topik perdebatan dan penelitian selama beberapa dekade. Psikolog, peneliti, dan ilmuwan sosial telah berusaha untuk menentukan apakah perbedaan ini lebih didorong oleh faktor biologis, sosial, atau kombinasi dari keduanya.
Dalam analisis ini, kita akan membahas berbagai aspek emosi pria yang berbeda dari wanita, mengacu pada studi ilmiah dan literatur yang relevan untuk memberikan pandangan yang lebih dalam.
### Pengolahan dan Ekspresi Emosi
Pria sering kali dianggap lebih tertutup dalam mengungkapkan emosi mereka dibandingkan dengan wanita. Budaya dan pengasuhan memainkan peran besar dalam mengajarkan kepada pria bahwa menunjukkan emosi, terutama kerentanan, adalah tanda kelemahan. Dr. William Pollack dalam bukunya "Real Boys: Rescuing Our Sons from the Myths of Boyhood" menggali bagaimana masyarakat mengharapkan pria untuk menyembunyikan emosi mereka untuk mematuhi norma maskulinitas. Pollack menunjukkan bahwa hal ini dapat menyebabkan pria kurang mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi mereka secara sehat.
### Tanggapan terhadap Stres dan Konflik
Teori populer "fight or flight," yang pertama kali dikembangkan oleh Walter Cannon, sering digunakan untuk menjelaskan respons biologis terhadap stres. Namun, penelitian oleh Dr. Shelley E. Taylor dari UCLA memperkenalkan konsep "tend and befriend" sebagai respons stres yang lebih umum di kalangan wanita, sementara pria cenderung mempertahankan respons "fight or flight." Penelitian Taylor menunjukkan bahwa pria lebih cenderung untuk bereaksi terhadap stres dengan cara yang agresif atau mengisolasi diri, sedangkan wanita cenderung mencari dukungan sosial.
### Empati dan Hubungan Interpersonal
Dalam hal empati, perbedaan antara pria dan wanita sering diperdebatkan. Simon Baron-Cohen di University of Cambridge menawarkan wawasan bahwa pria cenderung memiliki apa yang dia sebut "otak sistematis" yang lebih cenderung terfokus pada pemecahan masalah dan kurang pada empati. Dalam bukunya, "The Essential Difference: The Truth About the Male and Female Brain," Baron-Cohen mengeksplorasi bagaimana perbedaan ini dapat mempengaruhi interaksi sosial dan emosi pria dan wanita.
### Kekuatan Emosi
Menurut penelitian oleh Ann Kring dari University of California, Berkeley, meskipun wanita lebih sering menunjukkan emosi mereka, pria seringkali mengalami emosi yang sama atau bahkan lebih intens, terutama emosi seperti kemarahan. Kring menemukan bahwa karena norma sosial, pria mungkin lebih memilih untuk tidak menunjukkan emosi seperti kesedihan atau ketakutan, tetapi lebih terbuka dalam menunjukkan kemarahan.
### Respon terhadap Hubungan Romantis
Perbedaan dalam emosi pria dan wanita juga terlihat dalam cara mereka menanggapi hubungan romantis. Menurut John Gottman, seorang psikolog terkenal yang telah melakukan penelitian ekstensif pada pasangan, pria cenderung lebih terpengaruh oleh stabilitas dan kualitas hubungan romantis mereka. Dalam bukunya "The Relationship Cure," Gottman menunjukkan bahwa pria cenderung lebih sensitif terhadap perubahan dalam dinamika hubungan dan memiliki kesehatan yang lebih terpengaruh ketika hubungan tersebut mengalami masalah.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih baik dalam menavigasi hubungan antarpribadi dan profesional dengan cara yang lebih penuh empati dan efektif. Meskipun penting untuk mengakui bahwa tidak setiap individu akan sesuai sempurna dengan norma ini—karena personalitas, pengalaman hidup, dan faktor lainnya juga berperan—pengetahuan ini memberikan dasar untuk lebih memahami bagaimana emosi pria berbeda dari wanita, yang pada gilirannya dapat membantu dalam mengembangkan komunikasi yang lebih baik dan hubungan yang lebih mendalam di semua tingkatan interaksi.
Pria, seperti halnya wanita, memiliki spektrum emosi yang luas. Namun, konstruksi sosial, budaya, dan bahkan faktor biologis membuat pria sering mengekspresikan emosi tertentu lebih dominan daripada yang lain. Dari kecil, banyak anak laki-laki dididik untuk “tahan banting” dan “tidak cengeng”, yang akhirnya membentuk pola emosi yang terlihat saat mereka dewasa. Psikolog Paul Ekman, salah satu tokoh terkemuka dalam studi emosi, menyebutkan bahwa ekspresi emosi tidak hanya dipengaruhi oleh biologi tetapi juga oleh norma sosial yang mengatur kapan dan bagaimana emosi tersebut boleh muncul.
Dominasi emosi pada pria sering kali bukan karena mereka tidak memiliki emosi lain, melainkan karena ada kombinasi antara dorongan hormon, pola asuh, dan ekspektasi masyarakat. Akibatnya, meskipun pria mampu merasakan kesedihan atau kelembutan, mereka cenderung menunjukkan kemarahan atau ketegasan lebih sering di hadapan orang lain.
Secara biologis, testosteron memiliki peran besar dalam mempengaruhi respons emosi pria. Penelitian yang diterbitkan dalam Biological Psychology menemukan bahwa testosteron dapat meningkatkan kecenderungan untuk bereaksi lebih cepat terhadap ancaman atau tantangan, yang sering kali diwujudkan dalam bentuk kemarahan atau agresi.
Namun, penting dipahami bahwa agresi di sini tidak selalu berarti kekerasan. Agresi bisa berarti dorongan untuk mempertahankan diri, melindungi orang yang dicintai, atau mengejar tujuan dengan tekad kuat. Hormonal juga memengaruhi cara otak pria memproses rasa takut, tantangan, atau kemenangan, sehingga mendorong emosi-emosi yang terkait dengan kompetisi dan pertarungan.
Selain testosteron, hormon lain seperti kortisol (hormon stres) juga memengaruhi emosi pria. Kortisol yang tinggi dapat membuat pria lebih mudah marah atau cepat tersinggung, sementara dopamin yang meningkat dalam situasi tertentu dapat menimbulkan euforia atau kegembiraan, terutama saat mencapai target atau memenangkan kompetisi.
Budaya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk “wajah emosi” pria. Dalam banyak masyarakat, pria diajarkan untuk tidak mengekspresikan kesedihan, kelemahan, atau rasa takut. Sosiolog R.W. Connell dalam konsep hegemonic masculinity menjelaskan bahwa maskulinitas ideal yang digambarkan masyarakat adalah kuat, dominan, dan tidak mudah terpengaruh emosi yang dianggap “lemah”.
Akibatnya, pria lebih sering mengekspresikan emosi yang dianggap maskulin seperti kemarahan, kebanggaan, atau determinasi, dan menyembunyikan emosi seperti kesedihan atau rasa takut. Tekanan sosial ini juga dapat menimbulkan fenomena yang disebut emotional restriction, yaitu keterbatasan dalam mengakses dan mengekspresikan emosi secara bebas.
Penelitian oleh James Mahalik dan koleganya menunjukkan bahwa banyak pria yang menahan diri untuk menangis meskipun sedang mengalami penderitaan berat, karena takut dianggap lemah atau tidak “jantan” oleh lingkungannya.
Kemarahan adalah salah satu emosi yang paling sering diasosiasikan dengan pria. Psikolog Raymond Novaco menyebutkan bahwa kemarahan pada pria sering kali berfungsi sebagai bentuk perlindungan terhadap harga diri atau sebagai respons terhadap rasa frustrasi.
Namun, kemarahan pada pria tidak selalu destruktif. Dalam banyak kasus, kemarahan dapat memicu motivasi untuk memperbaiki keadaan atau melawan ketidakadilan. Contohnya, seorang ayah yang marah karena anaknya dibully di sekolah bisa menggunakan energi tersebut untuk mencari solusi, mengadvokasi anaknya, atau bahkan mengubah sistem di sekolah.
Ketegasan juga berkaitan erat dengan kemarahan. Karena pria didorong untuk “mengambil alih” situasi, mereka cenderung menampilkan sikap tegas dalam pengambilan keputusan atau saat menghadapi konflik. Meski demikian, tanpa pengelolaan yang baik, ketegasan bisa bergeser menjadi dominasi atau perilaku otoriter.
Pria umumnya menunjukkan emosi yang berkaitan dengan pencapaian dan kemenangan lebih menonjol. Dalam psikologi evolusi, hal ini dapat dijelaskan sebagai warisan dari peran pria dalam sejarah manusia sebagai pemburu, pelindung, dan penyedia. Kompetisi untuk mendapatkan sumber daya atau pasangan pada masa lalu membentuk dorongan untuk berkompetisi di masa kini, meskipun dalam konteks modern wujudnya bisa berupa karier, olahraga, atau bisnis.
Psikolog David Buss menjelaskan bahwa kecenderungan pria untuk berkompetisi tidak hanya soal materi, tetapi juga status sosial. Emosi seperti kebanggaan, kepuasan, dan euforia kemenangan sering kali menjadi pendorong utama mereka untuk terus berjuang.
Meskipun jarang dibicarakan, banyak pria memiliki naluri pelindung yang kuat. Emosi ini muncul ketika orang yang mereka sayangi berada dalam bahaya atau ketika mereka merasa harus bertanggung jawab terhadap keselamatan orang lain. Naluri ini sering disertai dengan rasa keberanian, tekad, dan bahkan pengorbanan diri.
Contohnya, seorang pria mungkin tidak mengekspresikan kasih sayang dengan kata-kata manis, tetapi dia akan bekerja keras memastikan keluarganya aman, memiliki kebutuhan yang cukup, dan terlindungi dari ancaman. Psikolog John Gray dalam bukunya Men Are from Mars, Women Are from Venus menggambarkan bahwa bentuk kasih sayang pria sering kali praktis, bukan verbal.
Walaupun sering disembunyikan, kecemasan juga merupakan emosi yang cukup dominan pada pria. Tekanan untuk sukses, menjaga reputasi, dan memenuhi ekspektasi keluarga maupun masyarakat dapat memicu rasa cemas yang tinggi. Bedanya, pria sering menyalurkan kecemasan ini ke dalam aktivitas fisik, hobi, atau kerja keras yang berlebihan, sehingga terlihat seakan-akan mereka tidak terganggu secara emosional.
Psikolog klinis Ronald Levant menjelaskan fenomena ini sebagai normative male alexithymia, yaitu kesulitan dalam mengenali dan mengungkapkan emosi secara verbal. Karena tidak terbiasa membicarakan kecemasan, pria cenderung mengubahnya menjadi bentuk perilaku seperti overworking atau bahkan melampiaskannya dalam bentuk kemarahan.
Generasi pria saat ini mulai menunjukkan pola emosi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Ada semakin banyak pria yang berani menunjukkan kesedihan, empati, dan kerentanan. Faktor seperti pendidikan, kesadaran akan kesehatan mental, dan gerakan sosial yang menantang stereotip gender membantu membuka ruang bagi pria untuk mengakses emosi mereka secara lebih sehat.
Namun, perubahan ini masih memerlukan waktu. Di banyak tempat, stigma terhadap pria yang menunjukkan “emosi lembut” masih kuat. Sehingga, meskipun ada pergeseran, emosi dominan pada pria tetap condong ke arah kemarahan, ketegasan, ambisi, dan naluri pelindung, dengan lapisan emosi lain yang tersembunyi di baliknya.
Dominasi emosi pada pria bukanlah hasil dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara biologi, norma sosial, dan pengalaman hidup. Meskipun pria memiliki kemampuan untuk merasakan semua spektrum emosi, tekanan budaya dan peran gender membuat mereka cenderung mengekspresikan emosi seperti kemarahan, ketegasan, ambisi, dan perlindungan lebih sering daripada kesedihan atau rasa takut.
Memahami hal ini membantu kita melihat bahwa pria bukanlah makhluk yang “dingin” atau “kurang perasaan”, melainkan individu yang emosinya telah dibentuk oleh konteks biologis dan sosial yang kompleks. Dengan kesadaran yang berkembang, di masa depan mungkin kita akan melihat keseimbangan yang lebih sehat antara berbagai emosi yang ditunjukkan pria di ruang publik maupun pribadi.
Kalau ada satu hal yang kupelajari dari mengenal pria—entah itu ayahku, kakakku, sahabatku, atau pasangan—itu adalah bahwa emosi mereka jarang benar-benar hilang, hanya saja sering disembunyikan di balik bentuk yang berbeda.
Aku dulu mengira pria itu “dingin” atau “nggak peka”. Tapi setelah aku benar-benar memperhatikan, ternyata mereka punya spektrum emosi yang sama kayanya dengan kita, hanya saja cara mereka menunjukkannya sering dibungkus rapi, kadang terlalu rapi sampai terlihat seperti tidak ada apa-apa.
Yang paling sering aku temui adalah rasa tanggung jawab yang bercampur dengan cemas. Aku ingat sekali, suatu malam pasangan pulang larut. Wajahnya datar, tapi tangannya nggak berhenti menggenggam kunci mobil. Setelah lama diam, baru dia bilang, “Aku nggak mau kamu khawatir… tapi hari ini aku takut gagal.” Kalimat itu keluar pelan, seperti seseorang yang membuka kunci brankas hati. Di situ aku sadar, kecemasan pada pria sering muncul sebagai keheningan, bukan air mata.
Ada juga kebanggaan—yang kadang tipis jaraknya dengan ego. Pria sering punya dorongan kuat untuk merasa mampu, berguna, dan dihargai. Saat mereka berhasil melakukan sesuatu untuk orang yang mereka sayangi, matanya akan punya kilau berbeda. Aku pernah lihat ayahku, yang biasanya kaku, tersenyum kecil ketika lampu rumah yang ia perbaiki kembali menyala. Senyum itu bukan tentang lampunya—tapi tentang perasaan, “Aku bisa melindungi dan memastikan semua baik-baik saja.”
Marah juga sering jadi emosi dominan, tapi banyak orang salah mengartikannya. Tidak selalu marah itu tentang ingin menyakiti; sering kali itu adalah frustrasi yang tidak menemukan kata-kata yang tepat. Ada pria yang diajarkan sejak kecil bahwa sedih itu lemah, jadi rasa sakitnya bermutasi jadi amarah. Aku pernah melihat seorang teman marah besar karena adiknya diejek. Bukan karena dia suka marah, tapi karena itu satu-satunya cara dia tahu untuk menunjukkan bahwa dia peduli.
Dan jangan lupakan rasa sayang yang diam-diam. Banyak pria mencintai dengan cara yang tidak “Instagrammable”—membetulkan ban motormu tanpa diminta, memastikan kamu makan walau dia sendiri belum makan, atau menyimpan semua lelucon receh yang pernah membuatmu tertawa. Mereka mungkin jarang berkata “aku sayang kamu” setiap hari, tapi kamu bisa melihatnya dari cara mereka mengingat hal-hal kecil yang penting bagimu.
Semua ini membuatku mengerti: pria bukan tidak punya emosi, mereka hanya belajar menatanya dengan cara yang kadang membuat kita sulit membacanya. Di balik sunyi mereka, ada riuh yang jarang diundang keluar.
Mungkin, yang membuat mereka terlihat berbeda bukanlah emosi yang mereka punya, tapi cara dunia mengajarkan mereka untuk merawat atau menyembunyikannya. Dan di situ, aku rasa, letak misteri yang membuat kita ingin mengenal mereka lebih dalam.
“Hati seorang pria adalah samudra yang tampak tenang dari permukaan, tapi di dasarnya, gelombang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.”
Kalau aku boleh jujur, ketika aku melihat pria, siapapun itu, emosi pada pria sering kali lebih dalam daripada yang mereka tunjukkan. Tapi sayangnya, dunia jarang memberi ruang bagi laki-laki untuk benar-benar jujur tentang perasaannya. Sejak kecil, banyak dari mereka diajarkan untuk menahan, bukan merasa. Maka mereka tumbuh dengan wajah tenang, tapi hatinya sering berisik.
Aku pernah dekat dengan seseorang yang begitu pendiam. Di luar, dia terlihat tenang dan kuat—tipe orang yang bisa membuatmu merasa aman hanya dengan diamnya. Tapi di balik itu, aku tahu dia sering menanggung banyak hal sendirian. Ia jarang bercerita, bukan karena tidak percaya, tapi karena takut terlihat lemah. Dan di situlah aku mulai mengerti: laki-laki tidak selalu tanpa emosi; mereka hanya tidak selalu diberi tempat untuk menunjukkannya.
Kalau aku boleh menyebut emosi yang paling dominan, mungkin ada tiga: rasa tanggung jawab, kesepian, dan kerinduan untuk diterima apa adanya.
Yang pertama, tanggung jawab.
Banyak pria hidup dengan beban tak kasat mata: harus kuat, harus bisa, harus menjadi sandaran. Mereka merasa harus punya jawaban untuk segalanya. Dan ketika gagal, rasa bersalah itu bisa sangat dalam, meski mereka tak pernah mengucapkannya. Aku pernah melihat seseorang menatap kosong ke layar laptopnya setelah pekerjaannya gagal—bukan karena dia takut dimarahi, tapi karena merasa mengecewakan. Ada luka yang tenang di sana; semacam rasa bersalah yang sunyi.
Emosi kedua: kesepian.
Kesepian pada pria punya bentuk yang halus dan elegan, tapi berat. Kadang mereka tertawa keras di antara teman-teman, tapi hatinya kosong. Kadang mereka sibuk bekerja, bermain game, atau menatap jalan dari balik setir mobil hanya untuk mengusir hening di dalam diri. Mereka tidak menangis, tapi diamnya panjang. Dan diam seorang pria sering lebih menyakitkan daripada tangisan yang keras.
Lalu yang ketiga, dan menurutku paling manusiawi: kerinduan untuk diterima tanpa harus berjuang membuktikan diri.
Pria sering kali merasa harus “layak dulu” baru boleh dicintai—punya pekerjaan, punya arah, punya kekuatan. Tapi jauh di dalam diri mereka, ada sisi yang ingin dipeluk bukan karena prestasinya, melainkan karena dirinya sendiri. Ingin sekali-kali lelah, tapi tetap dipahami. Ingin dibilang “nggak apa-apa” tanpa harus menjelaskan segalanya.
Kadang aku merasa, di balik sikap tenang dan rasional seorang pria, selalu ada anak kecil yang dulu belajar bahwa air mata itu memalukan. Dan sejak itu, mereka berlatih keras untuk menyembunyikan setiap getar di dada mereka. Tapi dunia yang keras kadang membuat hati mereka makin kaku, sampai lupa bahwa kelembutan bukan kelemahan.
Aku rasa, emosi pria bukan tentang marah atau cuek seperti yang sering disalahpahami, tapi lebih tentang pergulatan diam antara ingin kuat dan ingin dimengerti. Antara logika yang kaku dan perasaan yang lembut.
Dan kadang, mereka hanya butuh satu hal: seseorang yang tidak berusaha menembus benteng mereka, tapi cukup duduk di depan gerbangnya—menunggu dengan sabar, sambil berkata lewat tatapan, “aku di sini kalau kamu siap bercerita.”
Pada akhirnya, aku belajar bahwa laki-laki pun punya kedalaman yang tak kalah luas dari perempuan. Hanya saja, mereka menyembunyikannya di balik diam yang rapi.
Dan mungkin, keheningan itu bukan tanda tidak ada perasaan—tapi justru tempat semua perasaan disimpan dengan hati-hati.
“Di dada seorang pria, badai sering diam. Bukan karena ia telah reda, tapi karena ia belajar menari dalam sunyi agar dunia tak ikut basah.” 🌧️
Pria sering dianggap sebagai makhluk yang “tidak banyak bicara soal perasaan.” Di mata banyak orang, mereka tampak kuat, logis, dan jarang menunjukkan sisi lembutnya. Namun di balik ekspresi yang tenang, dunia batin pria sesungguhnya tidak kalah kompleks. Mereka merasakan emosi yang sama dalamnya dengan wanita, hanya saja cara mengekspresikannya berbeda.
Psikolog Ronald Levant, dalam penelitiannya mengenai normative male alexithymia, menyebut bahwa banyak pria kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi karena pengaruh budaya maskulinitas. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk “tidak menangis,” “tetap tegar,” dan “menyelesaikan masalah sendiri.” Akibatnya, banyak pria belajar menyembunyikan perasaannya di balik logika, kerja keras, atau bahkan kemarahan.
Namun, di balik diamnya, pria tetap memiliki spektrum emosi yang kaya — hanya saja sebagian dari emosi itu lebih sering disalurkan melalui tindakan daripada kata. Untuk memahami mereka dengan lebih dalam, kita perlu melihat emosi dominan yang sering muncul dalam diri pria dari sisi psikologi dan neurologi.
Kebanggaan atau pride adalah salah satu emosi paling kuat pada pria. Sejak masa remaja, banyak laki-laki diukur berdasarkan pencapaian, kekuatan, dan kemampuan memimpin. Psikolog David Buss dalam The Evolution of Desire menjelaskan bahwa secara evolusioner, pria memiliki dorongan kompetitif untuk menunjukkan status dan kemampuan, karena hal itu berkaitan dengan penerimaan sosial dan daya tarik di mata pasangan.
Rasa bangga ini sering kali menjadi sumber motivasi. Ketika seorang pria berhasil dalam pekerjaan, menjaga keluarganya, atau diakui kemampuannya, ia merasa hidupnya bermakna. Hormon testosteron berperan besar di sini, karena memengaruhi rasa percaya diri dan kebutuhan untuk berprestasi. Namun kebanggaan yang tidak diimbangi kesadaran bisa berubah menjadi ego berlebihan — membuat pria sulit menerima kritik atau meminta bantuan.
Banyak pria menyamakan harga diri dengan keberhasilan mereka. Maka ketika gagal, rasa hancur yang muncul bisa sangat dalam, meski sering disembunyikan di balik wajah datar. Dalam terapi psikologi, banyak kasus depresi pada pria justru berakar dari runtuhnya rasa harga diri akibat kehilangan pekerjaan, kegagalan finansial, atau peran sosial yang goyah.
Di antara semua emosi, marah adalah yang paling mudah terlihat pada pria. Namun di balik kemarahan itu, sering kali tersembunyi rasa kecewa, takut, atau tidak berdaya. Psikolog Aaron Karmin menyebut marah sebagai “topeng emosi” yang menutupi perasaan rentan pada pria. Karena mereka sulit mengekspresikan kesedihan atau kecemasan secara verbal, marah menjadi cara tercepat untuk melampiaskan tekanan batin.
Secara biologis, sistem limbik pria — khususnya amigdala — bereaksi lebih cepat terhadap ancaman, dan hormon testosteron memperkuat respons agresif. Namun bukan berarti pria diciptakan untuk marah; justru kemampuan mengelola amarah adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional tertinggi pada pria.
Kemarahan pada pria juga sering muncul karena konflik antara tanggung jawab dan keterbatasan. Mereka ingin melindungi, memimpin, dan memenuhi ekspektasi, tapi ketika realitas tak sesuai harapan, frustrasi pun timbul. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak pria yang tampak pendiam bisa tiba-tiba meledak — bukan karena mereka pemarah, tapi karena terlalu lama menahan beban yang tak pernah dibicarakan.
Meski jarang diungkapkan dengan kata-kata manis, cinta pada pria bersifat dalam dan penuh komitmen. Psikolog John Gray, penulis Men Are from Mars, Women Are from Venus, menggambarkan bahwa cinta pria cenderung diwujudkan melalui tindakan konkret: bekerja keras, memberi perlindungan, dan menepati janji. Bagi banyak pria, menunjukkan cinta bukan berarti berbicara panjang lebar, melainkan melakukan sesuatu yang membuktikan kasihnya.
Cinta bagi pria sering kali identik dengan loyalitas. Ketika ia mencintai seseorang, ia ingin menjadi pelindung dan penopang. Namun karena mereka tidak terbiasa mengekspresikan emosi secara verbal, banyak wanita salah mengira bahwa pria kurang peka atau dingin. Padahal, cinta mereka lebih bersifat tindakan daripada perasaan yang diekspresikan.
Neuropsikolog Paul Zak, dalam studinya tentang hormon oksitosin dan vasopresin, menemukan bahwa pria yang berkomitmen pada hubungan jangka panjang menunjukkan peningkatan kadar hormon vasopresin — zat kimia otak yang memperkuat rasa tanggung jawab dan keterikatan terhadap pasangan. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak pria tetap setia dan berjuang keras demi keluarga, bahkan ketika emosinya sendiri sering tak dimengerti.
Mungkin terdengar mengejutkan, tapi pria juga banyak diwarnai oleh rasa takut — hanya saja bentuknya berbeda. Jika wanita cenderung takut kehilangan hubungan emosional, pria lebih sering takut kehilangan kontrol, kemampuan, atau rasa dihormati.
Rasa takut ini jarang diakui, karena dianggap bertentangan dengan citra maskulin. Namun di ruang terapi, banyak pria mengungkapkan bahwa mereka sering diliputi kekhawatiran: takut gagal, takut mengecewakan keluarga, takut tidak cukup kuat, atau takut tidak dihargai.
Psikolog Terrence Real menulis bahwa pria hidup dalam “ketakutan tersembunyi terhadap kelemahan.” Mereka takut dianggap lemah jika menampakkan kesedihan, air mata, atau ketidakpastian. Akibatnya, mereka memendam kecemasan dalam diam, atau menyalurkannya melalui kerja berlebihan, alkohol, atau olahraga ekstrem sebagai bentuk kompensasi.
Rasa takut yang tidak diakui justru menjadi sumber stres jangka panjang. Banyak pria mengalami burnout emosional karena tidak memiliki ruang aman untuk menunjukkan kelelahannya. Namun ketika mereka belajar mengakui ketakutan itu tanpa malu, justru muncul kekuatan baru: keberanian untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar simbol kekuatan.
Kesedihan pria sering kali sunyi. Mereka jarang menangis di depan orang lain, tapi bukan berarti tidak terluka. Dalam bukunya I Don't Want to Talk About It, Terrence Real menjelaskan bahwa banyak pria menyalurkan kesedihan dalam bentuk penarikan diri, sinisme, atau bahkan perilaku agresif.
Masyarakat cenderung tidak memberi ruang bagi pria untuk berduka. Ketika kehilangan orang tercinta, mereka diharapkan “tetap kuat.” Padahal, penyangkalan terhadap kesedihan hanya menunda proses penyembuhan. Banyak pria yang tampak “move on,” padahal sesungguhnya sedang menumpuk luka batin yang tak tersentuh.
Penelitian menunjukkan bahwa pria memiliki tingkat depresi yang tinggi namun sering tidak terdiagnosis, karena gejalanya tidak muncul dalam bentuk tangisan atau murung, melainkan dalam bentuk amarah, kelelahan, dan penurunan motivasi. Kesedihan yang tidak diolah bisa menumpuk menjadi emotional numbness — keadaan di mana seseorang merasa mati rasa terhadap perasaan sendiri.
Namun, ketika seorang pria berani menghadapi kesedihannya, ia menemukan sisi lembut yang sangat manusiawi. Dari sana, muncul empati, pengertian, dan kedalaman jiwa yang membuatnya lebih bijak dalam mencintai.
Salah satu emosi yang kuat pada pria adalah kebutuhan untuk merasa berdaya dan memegang kendali. Hal ini tidak selalu berarti ingin mendominasi, tetapi merupakan bagian dari naluri untuk memastikan keamanan dan stabilitas.
Neuropsikolog Simon Baron-Cohen menjelaskan bahwa otak pria cenderung lebih sistematis, artinya mereka berusaha memahami dan mengatur dunia melalui struktur, aturan, dan kontrol. Karena itu, ketika sesuatu berjalan di luar kendali — misalnya hubungan yang tidak bisa ditebak atau situasi yang membuatnya tak berdaya — pria bisa merasa terguncang secara emosional.
Rasa ingin mengontrol ini bisa menjadi sumber kekuatan maupun sumber konflik. Ketika diarahkan dengan bijak, ia memunculkan tanggung jawab, ketegasan, dan kepemimpinan. Namun jika berlebihan, ia bisa berubah menjadi perfeksionisme atau sikap kaku terhadap perubahan.
Bagi banyak pria, kehilangan kendali atas hidup — baik karena kehilangan pekerjaan, kegagalan ekonomi, atau krisis identitas — bisa memunculkan perasaan malu yang mendalam. Rasa malu inilah yang kadang menjadi akar dari ledakan emosi atau penutupan diri.
Malu adalah emosi yang jarang dibicarakan dalam konteks maskulinitas, padahal ia memainkan peran besar dalam batin pria. Brene Brown dalam penelitiannya menemukan bahwa rasa malu pada pria sering kali muncul dari keyakinan bahwa mereka “tidak cukup.” Tidak cukup kuat, tidak cukup sukses, atau tidak cukup berharga.
Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang menilai mereka berdasarkan hasil. Maka ketika gagal memenuhi ekspektasi itu, mereka diliputi rasa malu yang dalam namun tak terucap. Rasa malu ini sering ditutupi dengan humor, sarkasme, atau kemarahan — bukan karena ingin menyakiti, tapi karena ingin melindungi diri dari rasa tidak layak.
Rasa malu yang kronis dapat melumpuhkan motivasi dan memicu siklus isolasi emosional. Namun, ketika pria belajar menerima dirinya dengan jujur — termasuk ketidaksempurnaannya — rasa malu bisa berubah menjadi kerendahan hati. Dari sanalah lahir keaslian dan keberanian untuk hidup apa adanya, bukan untuk memenuhi standar orang lain.
Di balik segala kompleksitas emosional, pria juga dikenal karena keteguhan dan semangat bertahan. Mereka mungkin jarang mengekspresikan harapan lewat kata, tapi tindakan mereka penuh dengan keyakinan bahwa masa depan bisa diperbaiki.
Psikolog Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning, menggambarkan bahwa kekuatan terbesar manusia — termasuk pria — adalah kemampuannya menemukan makna di tengah penderitaan. Banyak pria memaknai hidup melalui peran: sebagai ayah, suami, pekerja, atau pemimpin. Dari tanggung jawab itulah tumbuh harapan, meski kadang mereka sendiri merasa kelelahan.
Harapan pada pria sering kali tidak berbentuk optimisme berlebihan, melainkan ketenangan yang tegas: keyakinan bahwa badai akan berlalu, dan tugasnya adalah bertahan. Keteguhan seperti ini lahir dari perpaduan antara logika dan komitmen emosional yang dalam.
Ketika mereka mengalami kegagalan, banyak pria memilih diam bukan karena menyerah, tapi karena sedang menata kembali harapannya. Bagi mereka, bangkit bukan perkara berbicara, melainkan bertindak.
Di balik citra keras dan logis, banyak pria memiliki kelembutan yang dalam, hanya saja mereka tidak terbiasa menunjukkannya. Cinta diri bagi pria sering kali diabaikan, karena dianggap tidak maskulin. Padahal, pria yang mampu mencintai dirinya sendiri — menerima kelemahan, memaafkan kesalahan, dan menghargai usahanya — justru lebih stabil secara emosional.
Psikolog Carl Rogers menulis bahwa penerimaan diri adalah fondasi dari kesehatan mental. Pria yang menerima dirinya akan lebih tenang dalam menghadapi dunia, lebih mampu mencintai orang lain tanpa perlu membuktikan diri terus-menerus.
Kelembutan ini juga terlihat dalam cara mereka memperlakukan orang yang dicintai: pelukan singkat, perhatian diam-diam, atau cara sederhana membantu tanpa diminta. Itulah bahasa cinta khas pria — tidak bising, tapi dalam maknanya.
Salah satu ciri unik pria adalah kemampuannya menggabungkan logika dengan emosi dalam konteks tindakan. Louann Brizendine dalam The Male Brain menjelaskan bahwa struktur otak pria membuat mereka cenderung memproses emosi dengan orientasi solusi. Saat menghadapi masalah, mereka tidak selalu ingin membicarakan perasaannya, tetapi mencari cara untuk memperbaikinya.
Inilah sebabnya pria sering tampak “dingin” ketika pasangan mereka curhat, padahal sebenarnya mereka sedang berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu. Mereka bukan tidak peduli, hanya berbeda cara dalam memaknai dan mengekspresikan empati.
Ketika keseimbangan antara emosi dan logika tercapai, pria menjadi pribadi yang tangguh sekaligus penuh welas asih. Ia tahu kapan harus berpikir rasional, dan kapan harus mendengarkan hatinya.
Emosi pria adalah dunia yang sunyi namun dalam. Di balik ketegasan dan diamnya, tersimpan cinta, takut, harapan, dan luka yang sama kuatnya dengan yang dimiliki wanita. Bedanya hanya cara mereka merasakannya — lebih banyak lewat tindakan daripada kata.
Pria bukan makhluk tanpa air mata; mereka hanya diajarkan untuk menahannya. Namun di balik air mata yang tertahan, ada jiwa yang terus berjuang untuk mencintai, melindungi, dan menjadi kuat bagi orang yang mereka sayangi.
Dan mungkin, di situlah letak keindahan sejati emosi pria: kekuatan yang tumbuh dari keheningan, dan kelembutan yang disembunyikan di balik keteguhan.
Pertanyaan tentang emosi yang dominan pada pria sering kali memunculkan banyak stereotip. Dalam banyak budaya, pria digambarkan sebagai sosok yang keras, rasional, dan tidak terlalu emosional. Namun semakin lama seseorang mengamati kehidupan manusia dengan lebih dekat, semakin jelas bahwa gambaran itu sangat menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Saya pernah mengenal seseorang yang secara lahiriah tampak sangat kuat. Ia bekerja keras, jarang mengeluh, dan selalu terlihat tenang di depan orang lain. Namun suatu malam, dalam percakapan yang cukup panjang, ia mengatakan sesuatu yang sangat jujur: “Saya sebenarnya sering merasa takut, tapi saya tidak pernah tahu kepada siapa harus mengatakannya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi ia membuka jendela penting untuk memahami emosi pada pria. Sering kali bukan emosi yang berbeda, tetapi cara mengekspresikannya yang berbeda.
Dalam kenyataannya, pria mengalami spektrum emosi yang sama luasnya dengan manusia lain. Namun faktor biologis, sosial, dan budaya membuat beberapa emosi lebih sering muncul ke permukaan, sementara emosi lain lebih sering ditekan atau disembunyikan.
Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa sejak usia dini, anak laki-laki sering diajarkan untuk menahan ekspresi emosi tertentu.
Kalimat seperti:
“Jangan menangis.”
“Laki-laki harus kuat.”
“Jangan terlalu sensitif.”
adalah pesan sosial yang sangat umum.
Akibatnya, banyak pria tumbuh dengan kemampuan yang cukup baik dalam mengendalikan ekspresi emosinya, tetapi tidak selalu terampil dalam mengenali atau mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Dalam buku The Mask of Masculinity karya Lewis Howes, dijelaskan bahwa banyak pria hidup dengan apa yang disebut sebagai “topeng maskulinitas” — sebuah peran sosial yang menuntut mereka terlihat kuat, tenang, dan tidak mudah terluka.
Namun di balik topeng itu, emosi tetap ada.
Dan beberapa emosi tertentu cenderung menjadi lebih dominan dalam pengalaman emosional pria.
Salah satu emosi paling dominan yang sering muncul pada pria adalah perasaan tekanan yang berkaitan dengan tanggung jawab.
Dalam banyak masyarakat, pria sering diposisikan sebagai penopang ekonomi, pelindung keluarga, atau sosok yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah.
Peran ini menciptakan bentuk tekanan psikologis yang unik.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang bekerja hampir tanpa henti selama bertahun-tahun. Ketika ditanya mengapa ia memaksakan diri seperti itu, jawabannya sangat sederhana.
“Kalau saya berhenti, siapa yang akan menanggung semuanya?”
Kalimat itu mengandung satu emosi yang sangat kuat: tanggung jawab.
Namun di balik tanggung jawab sering tersembunyi rasa cemas dan takut gagal.
Banyak pria hidup dengan ketakutan diam-diam bahwa suatu hari mereka tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepada mereka.
Penelitian yang dibahas dalam Journal of Men’s Health menunjukkan bahwa tekanan peran sosial ini berkorelasi dengan tingkat stres yang tinggi pada pria usia produktif.
Kemarahan adalah emosi yang paling sering terlihat pada pria, tetapi bukan selalu emosi yang paling dominan di dalam diri mereka.
Dalam banyak kasus, kemarahan sebenarnya adalah emosi sekunder.
Artinya, kemarahan sering muncul sebagai “pelindung” dari emosi lain yang lebih rentan.
Misalnya:
Namun karena emosi-emosi tersebut dianggap “tidak maskulin” dalam banyak budaya, mereka sering berubah bentuk menjadi kemarahan.
Penelitian dalam buku Why Zebras Don’t Get Ulcers karya Robert Sapolsky menjelaskan bahwa respons marah sering berkaitan dengan aktivasi sistem saraf simpatik yang sangat kuat, terutama pada situasi yang dianggap mengancam harga diri atau kontrol diri seseorang.
Kadang-kadang, kemarahan pada pria bukanlah tanda kekuatan, tetapi tanda bahwa ada luka emosional yang tidak pernah benar-benar diungkapkan.
Ini adalah emosi yang sering tidak terlihat.
Kesepian pada pria sering muncul secara diam-diam karena banyak pria tidak terbiasa membangun hubungan emosional yang dalam dengan sesama pria.
Pertemanan pria sering berfokus pada aktivitas: olahraga, pekerjaan, hobi. Percakapan tentang emosi jarang terjadi.
Saya pernah mengenal seseorang yang memiliki banyak teman, tetapi ia berkata sesuatu yang cukup mengejutkan.
“Saya punya banyak teman nongkrong, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar tahu apa yang saya rasakan.”
Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry menunjukkan bahwa pria memiliki tingkat kesepian emosional yang tinggi meskipun secara sosial mereka tampak aktif.
Kesepian pada pria sering tersembunyi di balik rutinitas, pekerjaan, dan aktivitas yang padat.
Bagi banyak pria, harga diri sangat berkaitan dengan kemampuan mereka untuk berhasil atau memberi kontribusi.
Ketika seseorang kehilangan pekerjaan, gagal dalam bisnis, atau merasa tidak mampu memenuhi harapan keluarga, emosi yang muncul bisa sangat intens.
Saya pernah mengenal seorang pria yang mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Yang paling membuatnya menderita bukanlah kehilangan uang.
Yang paling berat baginya adalah perasaan bahwa ia telah mengecewakan keluarganya.
Rasa gagal pada pria sering kali terasa sangat personal, seolah seluruh nilai dirinya runtuh bersama kegagalan itu.
Dalam literatur psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan konsep contingent self-worth — harga diri yang bergantung pada pencapaian eksternal.
Satu emosi yang sering diremehkan dalam pembicaraan tentang pria adalah kasih sayang.
Banyak pria memiliki kapasitas empati dan kasih sayang yang sangat dalam, tetapi tidak selalu memiliki bahasa emosional untuk mengekspresikannya.
Alih-alih mengatakan “Saya peduli padamu,” seorang pria mungkin menunjukkan perasaannya melalui tindakan:
Dalam buku The Social Neuroscience of Empathy, dijelaskan bahwa sistem saraf manusia memiliki mekanisme empati yang sangat kuat, tidak bergantung pada gender.
Namun cara ekspresinya bisa sangat berbeda.
Kadang-kadang, kasih sayang pada pria tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi terlihat dalam tindakan yang konsisten.
Banyak pria jarang mengakui bahwa mereka merasa takut.
Padahal rasa takut adalah salah satu emosi paling universal dalam pengalaman manusia.
Takut gagal.
Takut kehilangan.
Takut tidak cukup baik.
Takut mengecewakan orang yang mereka cintai.
Saya pernah mendengar seseorang berkata dengan sangat jujur, “Saya tidak takut hidup susah. Saya takut kalau orang yang bergantung pada saya ikut menderita.”
Ketakutan semacam ini jarang diungkapkan secara terbuka, tetapi ia sering menjadi motor yang mendorong banyak keputusan hidup pria.
Selain faktor sosial, ada juga faktor biologis yang memengaruhi ekspresi emosi pada pria.
Hormon testosteron, misalnya, berkaitan dengan perilaku kompetitif, dominasi sosial, dan respons terhadap ancaman.
Namun penelitian modern menunjukkan bahwa pengaruh hormon ini tidak sederhana.
Testosteron tidak secara otomatis membuat seseorang agresif. Sebaliknya, ia meningkatkan sensitivitas terhadap status sosial dan tantangan.
Dalam konteks tertentu, ini bisa meningkatkan keberanian dan kepemimpinan. Dalam konteks lain, bisa meningkatkan reaktivitas emosional.
Neurosains modern juga menunjukkan bahwa otak pria dan wanita memiliki banyak kesamaan dalam sistem emosi, terutama pada struktur seperti amigdala dan sistem limbik.
Artinya, pria tidak kurang emosional — mereka hanya sering diajarkan untuk memproses emosi secara berbeda.
Jika kita mengamati kehidupan pria dengan lebih jujur dan penuh empati, kita akan melihat sesuatu yang menarik.
Banyak pria hidup dengan emosi yang sangat dalam, tetapi mereka jarang memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikannya.
Mereka belajar sejak kecil bahwa kekuatan berarti menahan diri, bahwa keberanian berarti tidak menunjukkan kerentanan.
Namun kenyataannya, manusia bukan makhluk yang dirancang untuk hidup tanpa emosi.
Di balik tanggung jawab, kemarahan, kerja keras, dan ketenangan yang terlihat di permukaan, sering ada lapisan emosi yang jauh lebih kompleks: kesepian, ketakutan, kasih sayang, harapan, dan kelelahan.
Dan mungkin, ketika kita mulai melihat pria bukan hanya sebagai sosok yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki dunia emosional yang sama luasnya dengan orang lain, kita akan mulai memahami sesuatu yang sederhana namun penting.
Bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam kemampuan menahan emosi.
Kadang-kadang, ia justru terlihat dalam keberanian untuk mengakui bahwa emosi itu ada.
Pertanyaan tentang emosi pria sering memunculkan jawaban yang terlalu sederhana. Ada yang mengatakan pria didominasi oleh kemarahan. Ada juga yang percaya pria tidak terlalu emosional. Sebagian bahkan beranggapan pria lebih rasional daripada emosional.
Namun jika kita melihat manusia secara lebih jujur, kenyataannya jauh lebih kompleks. Pria sama emosionalnya dengan siapa pun. Perbedaannya bukan pada jumlah emosi yang mereka rasakan, melainkan pada emosi mana yang diizinkan untuk terlihat, dan emosi mana yang diajarkan untuk disembunyikan.
Sejak kecil, banyak pria tumbuh dalam lingkungan yang secara tidak langsung mengatur ekspresi emosi mereka. Kalimat seperti “laki-laki jangan menangis”, “jangan cengeng”, atau “harus kuat” sering terdengar biasa, tetapi perlahan membentuk cara pria mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka.
Akibatnya, beberapa emosi menjadi lebih dominan di permukaan, sementara emosi lain hidup lebih dalam, sering tidak terlihat bahkan oleh diri mereka sendiri.
Emosi pria tidak lebih sedikit. Ia hanya sering disimpan di tempat yang lebih sunyi.
Salah satu emosi yang paling sering terlihat pada pria adalah kemarahan. Dalam banyak budaya, kemarahan merupakan salah satu emosi yang dianggap “maskulin”. Pria yang marah sering dianggap tegas atau kuat, sementara pria yang terlalu menunjukkan kesedihan justru dianggap lemah.
Penelitian James Gross mengenai regulasi emosi menunjukkan bahwa norma sosial memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang mengekspresikan perasaannya. Ketika masyarakat lebih menerima kemarahan dibandingkan kesedihan pada pria, maka kemarahan menjadi bahasa emosional yang lebih sering digunakan.
Namun yang sering tidak disadari adalah bahwa kemarahan jarang berdiri sendiri. Kemarahan sering merupakan “lapisan luar” dari emosi lain yang lebih rentan.
Di balik kemarahan sering ada rasa terluka. Ada rasa takut kehilangan. Ada rasa tidak dihargai.
Saya pernah melihat seorang pria yang dikenal sangat temperamental. Ia mudah tersinggung dan cepat marah dalam berbagai situasi. Banyak orang menganggapnya keras dan sulit didekati.
Namun suatu waktu ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ayah yang jarang hadir dan kehidupan yang menuntutnya menjadi “laki-laki kuat” sejak usia sangat muda. Ketika ia merasa tidak dihargai oleh orang lain, kemarahan muncul hampir secara otomatis.
Bagi sebagian pria, marah adalah cara yang paling aman untuk mengatakan bahwa mereka sedang terluka.
Ada satu emosi lain yang sering sangat dominan pada pria tetapi jarang dibicarakan: kesepian.
Penelitian Niobe Way dari New York University menunjukkan bahwa banyak anak laki-laki pada masa remaja awal memiliki hubungan pertemanan yang sangat dekat secara emosional. Mereka mampu berbicara terbuka tentang perasaan, ketakutan, dan harapan.
Namun ketika mereka tumbuh dewasa, hubungan seperti itu sering perlahan menghilang.
Budaya maskulinitas sering menekankan kemandirian ekstrem. Pria didorong untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain secara emosional. Akibatnya, banyak pria dewasa memiliki lingkaran sosial yang luas tetapi hubungan emosional yang dangkal.
Mereka punya banyak kenalan, tetapi sedikit tempat untuk benar-benar bercerita.
Kesepian pada pria sering tidak terlihat karena mereka belajar menyamarkannya dengan kesibukan, humor, atau keheningan.
Saya pernah melihat seorang pria yang tampak memiliki kehidupan sosial yang aktif. Ia sering berkumpul dengan teman, bercanda, dan terlihat santai. Tetapi ketika suasana menjadi lebih tenang, ia mengatakan sesuatu yang sangat sederhana:
“Kadang aku merasa tidak ada tempat untuk benar-benar jujur tentang apa yang aku rasakan.”
Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang dialami oleh banyak pria tetapi jarang diucapkan.
Emosi lain yang sering hadir dalam kehidupan pria adalah tekanan. Tekanan untuk berhasil. Tekanan untuk bertanggung jawab. Tekanan untuk tidak terlihat lemah.
Penelitian Ronald Levant tentang normative male alexithymia menunjukkan bahwa banyak pria mengalami kesulitan mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi mereka karena sejak kecil mereka terbiasa menekan perasaan tertentu.
Ketika emosi tidak memiliki bahasa, ia tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.
Kadang berubah menjadi kelelahan kronis. Kadang menjadi iritabilitas. Kadang menjadi jarak emosional dalam hubungan.
Banyak pria tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus memikul segalanya sendirian.
Saya pernah melihat seseorang yang bekerja sangat keras untuk keluarganya. Ia jarang mengeluh, jarang berbicara tentang masalahnya, dan selalu berusaha terlihat tenang. Namun ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, ia tiba-tiba merasa sangat kewalahan.
Bukan karena ia lemah, tetapi karena selama bertahun-tahun ia memikul terlalu banyak tanpa pernah benar-benar membaginya dengan siapa pun.
Kesedihan pada pria sering muncul dalam bentuk yang berbeda dari yang biasa dibayangkan. Banyak pria tidak mengekspresikan kesedihan melalui tangisan atau cerita panjang tentang perasaan mereka.
Sebaliknya, kesedihan sering muncul sebagai keheningan yang lebih panjang dari biasanya. Menarik diri dari percakapan. Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian.
Penelitian William Pollack tentang boy code menunjukkan bahwa banyak pria belajar sejak kecil untuk menyembunyikan kerentanan mereka agar tetap diterima secara sosial.
Akibatnya, kesedihan sering diproses secara internal.
Kesedihan pada pria sering berjalan tanpa saksi.
Ada seorang pria yang kehilangan orang tuanya dan tetap menjalani rutinitas hidup seperti biasa. Ia tetap bekerja, tetap bercanda dengan teman, tetap terlihat stabil.
Namun suatu malam ia mengatakan sesuatu yang sangat pelan:
“Aku tidak tahu bagaimana cara berduka.”
Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang jarang disadari: tidak semua orang memiliki ruang yang aman untuk merasakan kesedihan secara utuh.
Di balik kemarahan, kesepian, tekanan, dan kesedihan, ada satu emosi lain yang sering tetap hidup dalam diri pria: harapan.
Harapan ini kadang tidak diucapkan dengan kata-kata besar. Ia muncul dalam bentuk yang sederhana.
Harapan untuk dihargai.
Harapan untuk dipahami tanpa harus menjelaskan semuanya.
Harapan untuk memiliki tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa harus terus terlihat kuat.
Dalam penelitian tentang kesejahteraan psikologis oleh Carol Ryff, salah satu faktor penting kesehatan mental adalah positive relations with others—hubungan yang memungkinkan seseorang merasa diterima secara autentik.
Banyak pria sebenarnya merindukan hubungan seperti itu, meskipun mereka jarang mengatakannya secara langsung.
Ketika seseorang melihat pria yang mudah marah, pendiam, atau terlihat dingin, sering muncul asumsi bahwa mereka tidak terlalu emosional.
Padahal sering kali yang terjadi adalah sebaliknya.
Ada begitu banyak emosi yang hidup di dalam diri mereka, tetapi tidak semuanya memiliki bahasa yang mudah diucapkan.
Emosi tidak selalu muncul dalam bentuk yang dramatis. Kadang ia muncul sebagai kelelahan yang tidak bisa dijelaskan. Kadang sebagai jarak yang tiba-tiba dalam hubungan. Kadang sebagai humor yang menutupi sesuatu yang lebih dalam.
Jika kita melihat lebih dalam, emosi yang dominan pada pria bukan hanya kemarahan, atau kesepian, atau tekanan.
Yang sebenarnya dominan adalah perjuangan diam-diam antara keinginan untuk terlihat kuat dan kebutuhan untuk menjadi manusia yang utuh secara emosional.
Di balik banyak pria yang tampak tenang, sering ada dunia emosi yang sangat kaya—harapan, ketakutan, kerinduan, dan kerentanan yang jarang mendapat ruang untuk diungkapkan.
Dan mungkin itulah salah satu hal paling manusiawi yang sering terlewatkan:
bahwa bahkan orang yang terlihat paling kuat pun tetap membawa perasaan yang ingin dipahami, bukan hanya ditahan.
Referensi:
Gross, J. J. (2015). Emotion Regulation: Current Status and Future Prospects. Psychological Inquiry.
Way, N. (2011). Deep Secrets: Boys’ Friendships and the Crisis of Connection. Harvard University Press.
Levant, R. F. (1992). Toward the reconstruction of masculinity. Journal of Family Psychology.
Pollack, W. (1998). Real Boys: Rescuing Our Sons from the Myths of Boyhood. Henry Holt.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology.
Notifications