Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Dampak Media Sosial Apa Yang Paling Merubah Sikap Dan Perilaku Seseorang?

BR Brigita Aubrey Teodora 6 years ago Resolved

Media sosial bisa merubah sikap dan perilaku seseorang. Perubahan sikap dan perilaku seperti apa yang paling kamu rasakan ketika kamu aktif di media sosial?

30

Media sosial menghadirkan berbagai fitur – fitur menarik yang membuat penggunanya tertarik untuk menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi. riset Wearesosial Hootsuite menyatakan bahwa pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2019 mencapai 150 juta pengguna atau 56% dari total populasi penduduk Indonesia. Sosial media membuat kita melihat postingan dan kehidupan orang lain secara maya, disinilah asal mula perasaan insecure, overthinking yang pada akhirnya menurunnya self-esteem.

Media sosial dapat membuat orang membanding-bandingkan diri mereka sendiri terhadap orang lain, hal ini biasa dikenal dengan Self-Comparison. Terkadang kita jadi sering membanding-bandingkan pencapaian, kemampuan, prestasi, dan kehidupan kita dengan orang lain yang ahirnya berdampak pada self-esteem diri kita sendiri.

Self Esteem sendiri menurut Santrock (2007) adalah hasil evaluasi kita terhadap diri sendiri, hal ini termasuk dalam penilaian kita terhadap sesuatu yang kita kuasai dan  sesuatu yang kurang kita kuasai. Media sosial bisa menyebabkan self esteem rendah karena dengan menghabiskan banyak waktu untuk bermain media sosial membuat semakin besar pula peluang kita untuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain atau self comparison.

Selain menyebabkan self esteem menjadi rendah pemakaian media sosial yang berlebihan juga dapat menyebabkan susah tidur dimana hal ini akan berdampak pada kesehatan dan tingkat produktivitas. Susah tidur diakibatkan oleh penggunaan ponsel atau laptop di jam-jam yang seharusnya kamu gunakan untuk beristirahat. Menurut penelitian cahaya biru yang dihasilkan oleh gadget maupun laptop dapat menurunkan kurang lebih 20% kadar hormon melatonin dalam tubuh, dimana melatonin ini adalah zat alami yang dihasilkan tubuh yang membantu seseorang untuk tidur.

Refrensi

https://andi.link/hootsuite-we-are-social-indonesian-digital-report-2019/

https://www.nationalgeographic.com/magazine/2018/08/science-of-sleep/

Santrock, John W. 2007. Remaja, Edisi Kesebelas. Jakarta (ID) : Erlangga.

Dampak media sosial yang dapat merubah sikap dan perilaku seseorang adalah adanya kecenderungan untuk melakukan perbandingan sosial dalam berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, salah satunya adalah kondisi well-being nya. Hal ini diperkuat oleh hasil temuan penelitian yang menyatakan bahwa memang banyak pengguna media sosial yang membandingkan diri mereka dengan orang lain saat melihat profil dan postingan seseorang. Selain itu, kesejahteraan psikologis yang rendah pada individu biasanya disertai dengan konsep diri yang tidak stabil, yang meningkatkan minat untuk melakukan perbandingan sosial sebagai cara untuk mengurangi ketidakpastian yang berhubungan dengan diri sendiri (Reer et al., 2019).

Penggunaan media sosial yang sering juga dapat menggantikan waktu yang dihabiskan untuk aktivitas yang lebih bermanfaat bagi kebahagiaan dan kesehatan mental, termasuk interaksi sosial secara langsung, olahraga, membaca, dan waktu yang dihabiskan di luar ruangan (Twenge, 2019). Selain itu, individu yang terlalu sering menggunakan media sosial juga memiliki kemungkinan untuk mengalami FoMo (Fear of missing out). Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa semakin tinggi penggunaan media sosial, resiko seseorang mengalami FoMo akan cenderung meningkat. Hal ini disebabkan karena penggunaan media sosial memungkinkan seseorang untuk terus-menerus ingin mendapatkan informasi tentang aktivitas dan pengalaman orang lain saat ini (Reer et al., 2019).

Di sisi lain, penggunaan media sosial juga memberikan dampak yang bersifat positif dimana penggunanya dapat memperoleh social support dari pengguna lain untuk memenuhi kebutuhan need to belong nya. Jika kebutuhan ini terpenuhi, dapat membuat penggunanya mengalami penurunan kecemasan dan stress. Namun sebaliknya, jika kebutuhan ini gagal untuk dipenuhi dapat membuat penggunanya mengalami stress dan cemas (Mackson et al., 2019).

Referensi:

Mackson, S. B., Brochu, P. M., & Schneider, B. A. (2019). Instagram: Friend or foe? The application’s association with psychological well-being. New Media and Society, 21(10), 2160–2182. https://doi.org/10.1177/1461444819840021

Reer, F., Tang, W. Y., & Quandt, T. (2019). Psychosocial well-being and social media engagement: The mediating roles of social comparison orientation and fear of missing out. New Media and Society, 21(7), 1486–1505. https://doi.org/10.1177/1461444818823719

Twenge, J. M. (2019). More Time on Technology, Less Happiness? Associations Between Digital-Media Use and Psychological Well-Being. Current Directions in Psychological Science, 28(4), 372–379. https://doi.org/10.1177/0963721419838244

Ada satu perubahan yang sering luput disadari ketika seseorang mulai aktif di media sosial. Bukan perubahan yang tiba-tiba, bukan juga yang langsung terlihat dari luar. Ia bergerak pelan, hampir diam, tapi perlahan menggeser cara seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, bahkan hidup itu sendiri.

Perubahan itu adalah cara kita menilai diri sendiri melalui mata orang lain.

Dan anehnya, perubahan ini terasa begitu “normal” sampai banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sudah tidak lagi benar-benar hidup dari dalam dirinya sendiri.


Ketika Nilai Diri Tidak Lagi Berasal dari Dalam

Pernah ada seseorang yang awalnya sangat sederhana. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihatnya. Ia bisa tertawa lepas, melakukan hal-hal kecil tanpa harus dipikirkan apakah itu layak diposting atau tidak.

Lalu ia mulai aktif di media sosial.

Awalnya hanya berbagi. Foto makanan, perjalanan, momen kecil dalam hidup. Lalu suatu hari, ia melihat bahwa beberapa postingannya mendapatkan banyak respons—like, komentar, perhatian. Ada sensasi kecil yang muncul. Hangat. Menyenangkan.

Di situlah sesuatu mulai berubah.

Perlahan, tanpa disadari, ia mulai bertanya: “Kalau aku posting ini, orang bakal suka nggak ya?”

Pertanyaan itu tampak sepele. Tapi dari situlah pergeseran besar dimulai.

Nilai diri yang sebelumnya berasal dari dalam, mulai bergantung pada reaksi luar.


Ilusi Kehidupan Orang Lain

Media sosial memiliki satu kekuatan yang sangat kuat: ia tidak menampilkan kenyataan, tetapi versi terbaik dari kenyataan.

Orang jarang memposting saat mereka merasa gagal. Jarang memposting saat hubungan mereka retak. Jarang memposting saat mereka merasa kosong.

Yang muncul justru:

  • Pencapaian
  • Kebahagiaan
  • Kesuksesan
  • Momen yang “layak dilihat”

Dan ketika seseorang terus-menerus terpapar hal seperti itu, tanpa sadar ia mulai membandingkan.

Bukan membandingkan realitas dengan realitas. Tetapi realitas dirinya dengan “highlight” orang lain.

Itulah sebabnya banyak orang merasa: “Aku tertinggal.” “Hidupku biasa saja.” “Aku kurang dibanding mereka.”

Padahal yang dibandingkan sebenarnya tidak pernah setara.

Penelitian dari Vogel et al. (2014) dalam jurnal Psychology of Popular Media Culture menunjukkan bahwa paparan terhadap profil media sosial orang lain yang terlihat “lebih baik” dapat menurunkan harga diri melalui mekanisme social comparison.

Dan yang menarik, proses ini sering terjadi tanpa kesadaran penuh.


Validasi: Dari Kebutuhan Menjadi Ketergantungan

Secara psikologis, manusia memang membutuhkan pengakuan. Itu bukan hal yang salah. Kita adalah makhluk sosial. Kita ingin dilihat, diterima, diakui.

Namun media sosial mengubah kebutuhan ini menjadi sesuatu yang lebih intens.

Karena di sana, validasi menjadi:

  • Instan
  • Terukur (jumlah like, komentar, views)
  • Terlihat publik

Akibatnya, muncul pola baru: “Kalau sedikit yang respon, berarti aku kurang menarik.” “Kalau banyak yang suka, berarti aku berharga.”

Harga diri yang seharusnya stabil, menjadi fluktuatif tergantung angka.

Ada seseorang yang pernah merasa sangat percaya diri. Tapi setiap kali ia mengunggah sesuatu dan responsnya tidak seperti yang diharapkan, suasana hatinya langsung turun.

Bukan karena apa yang ia lakukan buruk. Tapi karena ia mulai mengukur dirinya dari respons yang ia terima.

Dalam kerangka teori Self-Determination dari Deci & Ryan, ini adalah pergeseran dari motivasi intrinsik ke ekstrinsik. Dari melakukan sesuatu karena bermakna, menjadi melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan respons.

Dan ketika motivasi sudah bergeser seperti ini, kepuasan menjadi rapuh.


Identitas yang Terfragmentasi

Ada satu fenomena lain yang jarang dibicarakan: perbedaan antara diri nyata dan diri digital.

Di dunia nyata, seseorang bisa merasa:

  • Lelah
  • Bingung
  • Tidak yakin
  • Rapuh

Namun di media sosial, ia tampil:

  • Bahagia
  • Produktif
  • Percaya diri
  • Stabil

Awalnya mungkin hanya ingin menjaga privasi. Tapi lama-lama, perbedaan ini bisa menjadi jurang.

Dan yang lebih dalam lagi, seseorang bisa mulai merasa: “Aku lebih ‘baik’ di media sosial daripada di kehidupan nyata.”

Ini berbahaya bukan karena ia berbohong, tetapi karena ia mulai kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.

Carl Rogers pernah berbicara tentang konsep “incongruence” — ketidaksesuaian antara diri ideal dan diri nyata. Semakin besar jarak ini, semakin besar pula ketegangan psikologis yang dirasakan.

Media sosial, tanpa disadari, sering memperlebar jarak itu.


Desensitisasi Emosi dan Empati

Ketika seseorang terus-menerus melihat berbagai emosi dalam bentuk cepat—video sedih, kabar duka, kebahagiaan, tragedi—semuanya dalam satu scroll, terjadi sesuatu yang halus:

emosi menjadi cepat berlalu.

Hari ini melihat berita yang sangat menyedihkan. Beberapa detik kemudian, melihat video lucu. Lalu lanjut ke konten lain.

Otak tidak diberi ruang untuk benar-benar merasakan.

Akibatnya, ada dua kemungkinan:

  1. Seseorang menjadi lebih mudah lelah secara emosional (emotional fatigue)
  2. Atau justru menjadi lebih tumpul (emotional numbing)

Keduanya berdampak pada hubungan dengan orang lain.

Empati yang seharusnya dalam, menjadi dangkal. Perhatian yang seharusnya utuh, menjadi terpecah.


Perubahan Cara Berpikir: Serba Cepat, Serba Instan

Media sosial juga mengubah cara seseorang memproses informasi.

Konten yang pendek, cepat, dan menarik membuat otak terbiasa dengan:

  • Stimulus cepat
  • Kepuasan instan
  • Perhatian yang singkat

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan kesabaran—membaca panjang, merenung, mendalami sesuatu—menjadi terasa berat.

Ada seseorang yang dulu suka membaca buku berjam-jam. Setelah terbiasa dengan media sosial, ia mulai merasa sulit fokus bahkan 10 menit.

Bukan karena ia tidak mampu. Tetapi karena otaknya sudah dilatih untuk selalu berpindah.

Dalam penelitian oleh Alter (2017) dalam bukunya Irresistible, dijelaskan bagaimana teknologi modern dirancang untuk mempertahankan perhatian melalui sistem reward yang mirip dengan mekanisme adiksi.

Dan ketika perhatian terpecah, kualitas berpikir pun ikut berubah.


Normalisasi Perilaku yang Dulu Tidak Normal

Media sosial juga memiliki kekuatan dalam membentuk norma.

Hal-hal yang dulu dianggap tidak biasa, perlahan menjadi biasa karena sering terlihat.

Misalnya:

  • Membandingkan hidup secara terbuka
  • Mengukur nilai diri dari popularitas
  • Mencari perhatian sebagai kebutuhan utama
  • Menampilkan kehidupan sebagai “produk”

Karena semua orang melakukannya, maka terasa wajar.

Padahal, jika dilihat dari jarak yang lebih tenang, banyak dari perilaku ini sebenarnya tidak sehat jika menjadi fondasi utama dalam hidup seseorang.

Bandura dalam teori Social Learning menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya dari pengalaman langsung, tetapi juga dari mengamati orang lain. Media sosial mempercepat proses ini dalam skala yang sangat besar.


Kesepian di Tengah Keterhubungan

Ironisnya, di tengah semua koneksi ini, banyak orang justru merasa lebih sendirian.

Karena koneksi di media sosial sering bersifat:

  • Cepat
  • Dangkal
  • Tidak selalu autentik

Seseorang bisa memiliki ribuan pengikut, tetapi tidak memiliki satu orang pun yang benar-benar memahami dirinya.

Ada momen ketika seseorang mengunggah sesuatu, mendapatkan banyak respons, tetapi tetap merasa kosong.

Karena dilihat tidak selalu berarti dipahami.

Penelitian dari Hunt et al. (2018) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan peningkatan perasaan kesepian dan depresi, terutama ketika digunakan secara pasif (scrolling tanpa interaksi bermakna).


Jadi, Apa Dampak Paling Besar Itu?

Dari semua perubahan itu, mungkin yang paling mendasar adalah ini:

Media sosial menggeser pusat kendali diri dari dalam ke luar.

Cara seseorang menilai dirinya, merasakan hidupnya, bahkan menentukan arah hidupnya—perlahan dipengaruhi oleh apa yang ia lihat, apa yang orang lain lakukan, dan bagaimana orang lain merespons dirinya.

Dan ketika pusat kendali itu sudah berpindah, seseorang bisa kehilangan sesuatu yang sangat halus, tapi sangat penting:

Keaslian dirinya sendiri.


Referensi

  • Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture.
  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry.
  • Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person.
  • Alter, A. (2017). Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked.
  • Bandura, A. (1977). Social Learning Theory.
  • Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi seberapa besar media sosial mengubah seseorang.

Tapi seberapa jauh seseorang masih bisa mendengar dirinya sendiri… di tengah begitu banyak suara yang terus-menerus ingin menentukan siapa dirinya seharusnya.

Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan tentang media sosial. Saya pernah mengenal seseorang yang dulunya cukup tenang, tidak terlalu peduli dengan penilaian orang lain, dan menjalani hidup dengan ritme yang sederhana. Namun dalam beberapa tahun, ada perubahan yang perlahan—hampir tidak terasa dari hari ke hari, tetapi sangat jelas jika dilihat dari jarak waktu.

Ia mulai lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Lebih mudah merasa kurang. Lebih cepat tersinggung. Dan yang paling menarik, ia sendiri tidak benar-benar sadar kapan perubahan itu mulai terjadi.

Ketika ditanya, ia hanya menjawab, “Mungkin karena sering lihat orang lain…”

Jawaban itu terdengar ringan, tetapi sebenarnya menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam. Media sosial tidak hanya mengubah apa yang kita lihat, tetapi juga cara kita memproses diri sendiri.


1. Perubahan Cara Kita Membandingkan Diri

Salah satu dampak paling besar dari media sosial adalah perubahan dalam cara manusia melakukan perbandingan sosial.

Sejak lama, manusia memang membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun dulu, lingkup perbandingan ini terbatas—keluarga, teman, atau lingkungan sekitar. Sekarang, seseorang bisa membandingkan dirinya dengan ribuan bahkan jutaan orang dalam satu hari.

Masalahnya bukan hanya jumlah, tetapi kualitas perbandingan itu sendiri.

Di media sosial, seseorang tidak melihat kehidupan orang lain secara utuh. Ia hanya melihat potongan-potongan terbaik—momen bahagia, pencapaian, penampilan yang sudah dipilih dan disempurnakan.

Kita membandingkan kehidupan penuh kita dengan highlight kehidupan orang lain.

Secara neuropsikologis, otak tidak selalu mampu membedakan antara realitas yang utuh dan representasi yang dikurasi. Sistem limbik merespons apa yang dilihat seolah itu adalah kenyataan yang valid. Ini memicu rasa kurang, iri, atau bahkan tidak berharga.

Ada seseorang yang pernah saya kenal yang mulai merasa hidupnya tertinggal. Padahal jika dilihat secara objektif, hidupnya stabil dan cukup baik. Namun karena setiap hari ia terpapar pada kehidupan orang lain yang tampak “lebih”, standar dalam dirinya berubah tanpa ia sadari.


2. Dopamin dan Siklus Ketergantungan

Media sosial tidak hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga sistem penghargaan di otak.

Setiap notifikasi, like, komentar, atau pesan memicu pelepasan dopamin. Ini menciptakan rasa senang kecil yang cepat dan berulang.

Masalahnya, dopamin bekerja bukan hanya untuk memberi rasa senang, tetapi untuk mendorong perilaku pengulangan.

Semakin sering seseorang mendapatkan reward kecil, semakin kuat dorongan untuk terus mencari reward itu.

Inilah yang membuat media sosial menjadi sangat adiktif. Bukan karena orang lemah, tetapi karena sistem otaknya memang dirancang untuk merespons seperti itu.

Ada seseorang yang pernah saya kenal yang awalnya hanya membuka media sosial sesekali. Lama-kelamaan, ia merasa sulit lepas. Bukan karena ia benar-benar menikmati setiap konten, tetapi karena ada dorongan otomatis untuk terus mengecek.

Yang menarik, setelah menggunakan media sosial terlalu lama, ia justru merasa lebih lelah dan kosong. Ini menunjukkan bahwa dopamin yang cepat dan instan tidak selalu memberikan kepuasan yang mendalam.


3. Penurunan Rentang Perhatian

Media sosial juga mengubah cara otak memproses informasi.

Konten yang cepat, singkat, dan terus berganti membuat otak terbiasa dengan stimulasi yang instan. Ini berdampak pada kemampuan untuk fokus dalam jangka waktu yang lebih lama.

Otak mulai terbiasa dengan “kecepatan tinggi” dan kehilangan toleransi terhadap hal-hal yang membutuhkan kesabaran.

Akibatnya, aktivitas seperti membaca, bekerja mendalam, atau bahkan berbincang tanpa distraksi menjadi terasa lebih sulit.

Ada seseorang yang mengeluhkan bahwa ia sulit fokus pada pekerjaannya. Setiap beberapa menit, ia merasa ingin membuka ponsel. Bukan karena ada sesuatu yang penting, tetapi karena otaknya sudah terbiasa dengan ritme cepat dari media sosial.


4. Sensitivitas terhadap Penilaian

Media sosial membuat seseorang lebih sadar—dan sering kali lebih sensitif—terhadap bagaimana ia dilihat oleh orang lain.

Setiap unggahan membuka ruang untuk penilaian: berapa banyak yang menyukai, siapa yang berkomentar, siapa yang tidak merespons.

Dalam jangka panjang, ini dapat membentuk pola berpikir yang bergantung pada validasi eksternal.

Nilai diri perlahan bergeser dari sesuatu yang internal menjadi sesuatu yang ditentukan oleh respons orang lain.

Ada seseorang yang mulai merasa cemas setiap kali mengunggah sesuatu. Ia menunggu respons, menghitung jumlah interaksi, dan merasa kecewa jika tidak sesuai harapan.

Yang menarik, sebelum mengenal media sosial, ia tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Ini menunjukkan bahwa lingkungan digital dapat membentuk cara seseorang menilai dirinya sendiri.


5. Distorsi Realitas dan Ekspektasi Hidup

Media sosial juga menciptakan realitas alternatif—sebuah dunia di mana kehidupan tampak lebih rapi, lebih sukses, dan lebih bahagia daripada kenyataannya.

Paparan yang terus-menerus terhadap realitas yang terdistorsi ini dapat mengubah ekspektasi seseorang terhadap hidup.

Ketika ekspektasi tidak realistis, kehidupan nyata akan selalu terasa kurang.

Ada seseorang yang merasa hidupnya biasa saja, bahkan membosankan. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, ternyata ia membandingkan hidupnya dengan standar yang tidak realistis—standar yang terbentuk dari konten-konten yang ia konsumsi setiap hari.


6. Perubahan Emosi: Dari Tenang Menjadi Reaktif

Media sosial sering kali memaparkan seseorang pada berbagai emosi dalam waktu singkat—kebahagiaan, kemarahan, kecemasan, bahkan kesedihan.

Perubahan emosi yang cepat ini dapat membuat sistem saraf menjadi lebih reaktif.

Otak yang terus terpapar stimulasi emosional cenderung kehilangan kestabilan.

Ada seseorang yang merasa lebih mudah marah dan cemas setelah menghabiskan banyak waktu di media sosial. Ia tidak menyadari bahwa paparan terhadap konten-konten tertentu—berita negatif, konflik, atau perbandingan sosial—secara perlahan memengaruhi kondisi emosinya.


7. Ilusi Koneksi, Kehilangan Kedalaman

Media sosial memberikan ilusi kedekatan. Seseorang bisa merasa “terhubung” dengan banyak orang, tetapi pada saat yang sama merasa kesepian.

Interaksi digital sering kali tidak memiliki kedalaman emosional yang sama dengan interaksi langsung.

Banyak koneksi tidak selalu berarti kedekatan yang nyata.

Ada seseorang yang memiliki banyak interaksi di media sosial, tetapi merasa tidak benar-benar dipahami. Ia memiliki banyak “hubungan”, tetapi sedikit kedalaman.


8. Identitas yang Terfragmentasi

Di media sosial, seseorang bisa menampilkan versi tertentu dari dirinya—yang paling menarik, paling rapi, atau paling diterima.

Namun dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan jarak antara identitas online dan identitas nyata.

Semakin besar jarak antara siapa kita sebenarnya dan siapa yang kita tampilkan, semakin besar tekanan psikologis yang kita rasakan.

Ada seseorang yang merasa lelah mempertahankan citra tertentu di media sosial. Ia merasa harus selalu terlihat baik, padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.


Refleksi Neuropsikologis

Jika dilihat secara keseluruhan, media sosial tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga membentuk ulang cara kerja otak.

Dari sistem dopamin yang menjadi lebih sensitif terhadap reward instan, hingga sistem perhatian yang menjadi lebih pendek, hingga sistem emosi yang menjadi lebih reaktif—semuanya saling berinteraksi.

Media sosial bukan sekadar alat. Ia adalah lingkungan psikologis baru yang membentuk cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak.


Refleksi

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukanlah apakah media sosial itu baik atau buruk, tetapi apa yang perlahan berubah di dalam diri kita sejak kita mulai hidup di dalamnya

Karena perubahan terbesar sering kali tidak terasa. Ia tidak datang sebagai sesuatu yang tiba-tiba, tetapi sebagai sesuatu yang perlahan menjadi “normal”—hingga suatu hari kita melihat diri kita sendiri dan merasa, tanpa benar-benar tahu kapan mulainya, bahwa kita sudah tidak lagi sama seperti dulu


Referensi

  1. Alter, A. (2017). Irresistible: The Rise of Addictive Technology and the Business of Keeping Us Hooked.
  2. Twenge, J. M. (2019). iGen.
  3. Montag, C., & Walla, P. (2016). Carpe diem instead of losing your social mind: Beyond digital addiction and why we all suffer from digital overuse.
  4. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
  5. Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers.