Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Codependency, Apa yang Menyebabkan Ketergantungan pada Pasangan?

HA Hanif Mursyida 5 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
23

Menurut saya, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi bergantung pada pasangannya, antara lain:

  1. Pola asuh orang tua yang acuh, sehingga ia mencari kasih sayang dari orang lain yang tidak ia dapatkan dari orang tuanya.
  2. Pernah ditinggalkan orang yang paling disayang, sehingga ia merasa takut jika harus kehilangan lagi.
  3. Kurangnya rasa percaya diri dan kurangnya dimensi autonomy, sehingga ia merasa bahwa ia selalu membutuhkan orang lain untuk melanjutkan hidup dan menentukan tujuan hidupnya. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melanjutkan hidup jika tidak bersama orang lain.
  4. Memiliki trust issue, sehingga ia merasa harus mengendalikan orang lain agar dirinya merasa aman dan orang tersebut dapat dipercaya.
  5. Trauma masa lalu, seperti mendapat kekerasan sehingga ketika ia menemukan seseorang yang membuatnya merasa aman, ia tidak ingin melepaskan orang tersebut.

Ada satu kalimat yang cukup sering terdengar ketika seseorang sedang sangat mencintai pasangannya.

“Aku tidak bisa hidup tanpa dia.”

Sekilas kalimat itu terdengar romantis. Bahkan banyak film dan lagu menggambarkannya sebagai bentuk cinta yang paling dalam.

Namun ketika kalimat itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, maknanya sering berubah.

Bukan lagi sekadar ungkapan cinta.

Melainkan perasaan bahwa identitas, kebahagiaan, bahkan rasa aman seseorang sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Dalam psikologi hubungan, keadaan seperti ini sering disebut codependency.

Ini adalah pola hubungan di mana seseorang menjadi sangat bergantung secara emosional pada pasangannya—hingga batas di mana dirinya sendiri perlahan menghilang di dalam hubungan tersebut.

Dan yang menarik, banyak orang yang berada dalam hubungan seperti ini tidak selalu menyadari bahwa mereka sedang mengalaminya.

Karena pada awalnya, semuanya terasa seperti cinta.


Ketika Cinta Perlahan Menjadi Ketergantungan

Pada awal hubungan, kedekatan emosional memang terasa menyenangkan.

Seseorang ingin selalu bersama pasangannya.
Ingin berbagi cerita.
Ingin mengetahui setiap hal kecil dalam kehidupan pasangan.

Namun dalam hubungan yang sehat, kedekatan itu tetap memberi ruang bagi dua individu untuk tetap menjadi diri mereka sendiri.

Mereka tetap memiliki kehidupan pribadi.
Mereka tetap memiliki identitas di luar hubungan.

Dalam hubungan yang codependent, ruang itu perlahan menghilang.

Seseorang mulai merasa tidak nyaman jika pasangannya memiliki kehidupan yang tidak melibatkan dirinya.

Waktu sendiri terasa menakutkan.
Perpisahan sementara terasa seperti ancaman.
Perbedaan pendapat terasa seperti tanda bahwa hubungan akan berakhir.

Cinta yang seharusnya memberi rasa aman justru berubah menjadi sumber kecemasan yang terus-menerus.


Akar yang Sering Berasal dari Masa Lalu

Untuk memahami codependency, sering kali perlu melihat jauh ke belakang.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hubungan masa dewasa sering berakar dari pengalaman hubungan awal dalam keluarga.

Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa cara seseorang terhubung dengan orang lain sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional di masa kecil.

Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kehangatan dan konsistensi, ia cenderung mengembangkan secure attachment—gaya keterikatan yang membuatnya merasa aman dalam hubungan.

Namun jika pengalaman masa kecil dipenuhi ketidakpastian emosional, dinamika hubungan yang tidak stabil, atau kasih sayang yang bersyarat, anak bisa mengembangkan anxious attachment.

Dalam gaya keterikatan ini, seseorang cenderung sangat takut kehilangan orang yang dicintai.

Akibatnya, ketika dewasa, hubungan romantis sering menjadi tempat untuk mencari rasa aman yang selama ini terasa rapuh.

Pasangan menjadi sumber validasi utama.
Perhatian pasangan menjadi ukuran nilai diri.
Kehadiran pasangan menjadi penopang kestabilan emosi.

Dan ketika sumber rasa aman itu hanya bergantung pada satu orang, hubungan bisa berubah menjadi ketergantungan yang sangat kuat.


Ketika Identitas Mulai Menghilang

Ada satu ciri yang cukup sering muncul dalam hubungan codependent.

Seseorang mulai kehilangan batas antara dirinya dan pasangannya.

Hobi yang dulu disukai perlahan ditinggalkan.
Lingkaran pertemanan mulai mengecil.
Keputusan hidup hampir selalu menyesuaikan dengan pasangan.

Semua ini dilakukan bukan karena dipaksa secara langsung.

Melainkan karena muncul perasaan bahwa menjaga hubungan lebih penting daripada menjaga diri sendiri.

Dalam buku Women Who Love Too Much, Robin Norwood menggambarkan bagaimana seseorang bisa begitu fokus merawat pasangannya hingga lupa merawat dirinya sendiri.

Hubungan seperti ini sering dibangun di atas keyakinan yang tidak disadari:

Jika aku cukup mencintainya, semuanya akan baik-baik saja.
Jika aku cukup berkorban, dia akan berubah.
Jika aku selalu ada untuknya, dia tidak akan meninggalkanku.

Namun keyakinan ini sering menciptakan lingkaran emosional yang melelahkan.

Karena hubungan menjadi tempat di mana seseorang terus-menerus mencoba mendapatkan rasa aman yang sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri.


Dinamika yang Sering Tidak Seimbang

Dalam banyak hubungan codependent, ada dinamika yang menarik.

Biasanya ada satu pihak yang sangat memberi, dan pihak lain yang lebih banyak menerima.

Yang satu selalu berusaha memperbaiki hubungan.
Yang satu terus menyesuaikan diri.
Yang satu mencoba menyelamatkan pasangan dari masalahnya.

Sementara yang lain sering berada dalam posisi yang lebih pasif.

Hubungan seperti ini kadang berkembang dalam situasi di mana salah satu pasangan memiliki masalah tertentu—misalnya kecanduan, ketidakstabilan emosi, atau pola perilaku yang sulit.

Orang yang berada dalam posisi codependent sering merasa bertanggung jawab untuk “menyelamatkan” pasangannya.

Namun dalam jangka panjang, dinamika ini bisa menjadi sangat melelahkan.

Karena cinta berubah menjadi proyek penyelamatan yang tidak pernah selesai.


Ketakutan yang Bersembunyi di Balik Ketergantungan

Di balik codependency, sering ada ketakutan yang sangat dalam.

Ketakutan ditinggalkan.
Ketakutan tidak cukup berarti.
Ketakutan bahwa tanpa hubungan itu, hidup akan terasa kosong.

Penelitian tentang fear of abandonment menunjukkan bahwa individu dengan kecemasan keterikatan sering mengalami sensitivitas tinggi terhadap tanda-tanda penolakan.

Hal-hal kecil bisa terasa sangat besar.

Pesan yang tidak segera dibalas terasa seperti ancaman.
Nada suara yang berubah sedikit terasa seperti pertanda hubungan akan berakhir.

Akibatnya seseorang menjadi sangat waspada terhadap setiap perubahan dalam hubungan.

Energi emosional terkuras hanya untuk memastikan hubungan tetap aman.

Dan ironisnya, usaha untuk mempertahankan hubungan dengan cara ini sering justru menciptakan tekanan dalam hubungan itu sendiri.


Ketika Hubungan Menjadi Satu-Satunya Sumber Makna

Salah satu hal yang membuat codependency begitu kuat adalah ketika hubungan menjadi satu-satunya sumber makna dalam hidup seseorang.

Semua kebahagiaan berasal dari pasangan.
Semua rasa aman berasal dari pasangan.
Semua tujuan hidup berpusat pada hubungan.

Namun ketika kehidupan seseorang dipusatkan pada satu sumber, keseimbangan emosional menjadi sangat rapuh.

Jika hubungan berjalan baik, semuanya terasa baik.

Namun ketika hubungan menghadapi masalah, seluruh dunia terasa runtuh.

Dalam psikologi eksistensial, Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia membutuhkan makna dalam hidup yang lebih luas daripada satu hubungan saja.

Ketika seluruh makna hidup ditempatkan pada satu orang, tekanan emosional dalam hubungan bisa menjadi sangat besar.


Sebuah Renungan

Hubungan manusia sering digambarkan sebagai tempat untuk menemukan kebahagiaan.

Namun hubungan yang paling sehat biasanya bukan tempat seseorang mencari dirinya.

Melainkan tempat dua orang yang sudah memiliki dirinya masing-masing memilih untuk berjalan bersama.

Cinta tidak selalu berarti melebur menjadi satu hingga tidak ada batas.

Kadang justru cinta yang paling kuat adalah yang memberi ruang bagi dua individu untuk tetap utuh.

Namun dalam perjalanan hidup, tidak semua orang memulai hubungan dengan rasa utuh seperti itu.

Sebagian orang datang membawa luka lama, ketakutan lama, dan harapan bahwa hubungan akan menjadi tempat untuk menyembuhkan semuanya.

Dan mungkin di situlah banyak kisah tentang codependency bermula.

Ketika seseorang tidak hanya mencintai pasangannya.

Tetapi juga menggantungkan seluruh rasa aman, nilai diri, dan makna hidupnya pada orang yang sama.

Dan mungkin pertanyaan yang diam-diam muncul di tengah semua itu bukan sekadar tentang hubungan.

Melainkan tentang sesuatu yang lebih dalam.

Seberapa jauh seseorang bisa mencintai orang lain tanpa perlahan kehilangan dirinya sendiri.


Referensi

Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss. Basic Books.

Norwood, R. (1985). Women Who Love Too Much. Pocket Books.

Beattie, M. (1986). Codependent No More: How to Stop Controlling Others and Start Caring for Yourself. Hazelden.

Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.

Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. Guilford Press.

Ada satu kisah yang selalu teringat setiap kali orang membicarakan tentang ketergantungan dalam hubungan.

Saya pernah mengenal seseorang yang terlihat memiliki kehidupan yang sangat stabil. Ia bekerja dengan baik, memiliki relasi sosial yang cukup luas, dan dari luar tampak sebagai pribadi yang matang secara emosional.

Namun suatu hari, hubungan yang telah ia jalani selama beberapa tahun berakhir.

Yang mengejutkan bukanlah perpisahan itu sendiri. Banyak hubungan memang berakhir.

Yang mengejutkan adalah bagaimana perpisahan itu memengaruhi dirinya.

Ia merasa hidupnya seperti runtuh.

Ia tidak bisa tidur.
Ia kehilangan nafsu makan.
Ia tidak mampu mengambil keputusan sederhana tanpa bertanya pada orang lain.

Yang paling ia rasakan adalah sebuah kekosongan yang sangat dalam—seolah-olah identitas dirinya ikut hilang bersama orang yang ia cintai.

Ketika berbicara tentang pengalamannya, ia mengatakan sesuatu yang sangat jujur.

“Sepertinya selama ini hidup saya sebenarnya berputar di sekitar dia.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan sebuah fenomena psikologis yang sangat kompleks.

Fenomena itu sering disebut codependency.


Ketika Cinta Berubah Menjadi Ketergantungan

Dalam hubungan yang sehat, dua orang saling mendukung tetapi tetap memiliki identitas masing-masing.

Mereka bisa berbagi kehidupan, tetapi tidak kehilangan diri mereka sendiri.

Namun dalam hubungan yang codependent, batas antara “aku” dan “kita” mulai mengabur.

Seseorang mulai mengukur nilai dirinya melalui pasangan.

Perasaan aman, bahagia, bahkan harga diri sering bergantung sepenuhnya pada keberadaan orang lain.

Hubungan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh perlahan berubah menjadi sumber identitas utama.

Ketika hubungan itu berjalan baik, semuanya terasa stabil.

Namun ketika hubungan terguncang—atau bahkan berakhir—seseorang bisa merasa seperti kehilangan fondasi hidupnya.

Untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi, kita perlu melihat lebih dalam ke dalam cara manusia membangun hubungan sejak awal kehidupannya.


Jejak Masa Kecil dalam Hubungan Dewasa

Dalam ilmu psikologi perkembangan, ada teori yang sangat berpengaruh yang disebut attachment theory.

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh John Bowlby dan kemudian diperluas oleh Mary Ainsworth.

Menurut teori ini, cara seseorang membentuk hubungan emosional pada masa dewasa sering kali memiliki akar yang sangat dalam pada pengalaman hubungan awal dengan pengasuh utama—biasanya orang tua.

Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang memberikan rasa aman secara konsisten, ia cenderung mengembangkan pola keterikatan yang disebut secure attachment.

Anak tersebut belajar bahwa hubungan adalah tempat yang aman.

Ia merasa cukup berharga sebagai individu.

Sebaliknya, jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil secara emosional—misalnya orang tua yang kadang sangat hangat tetapi kadang sangat tidak hadir—anak dapat mengembangkan pola keterikatan yang lebih cemas.

Dalam pola ini, hubungan sering dipandang sebagai sesuatu yang rapuh dan mudah hilang.

Akibatnya, ketika seseorang dengan pola keterikatan cemas memasuki hubungan romantis, ia mungkin merasakan kebutuhan yang sangat kuat untuk mempertahankan kedekatan dengan pasangannya.

Ketakutan akan kehilangan bisa menjadi sangat intens.

Bagi sebagian orang, hubungan bukan hanya tentang cinta—tetapi juga tentang rasa aman yang sangat mendasar.


Ketika Otak Mengaitkan Cinta dengan Rasa Aman

Dari sudut pandang neurobiologi, hubungan romantis melibatkan berbagai sistem kimia di dalam otak.

Salah satunya adalah dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan.

Ketika seseorang merasa dicintai atau diperhatikan oleh pasangan, otak melepaskan dopamin yang menciptakan perasaan senang dan keterikatan.

Selain itu ada juga oksitosin, hormon yang sering disebut sebagai hormon keterikatan.

Oksitosin dilepaskan selama interaksi yang penuh kehangatan, seperti sentuhan, pelukan, atau bahkan percakapan yang mendalam.

Hormon ini membantu memperkuat ikatan emosional antara dua orang.

Namun dalam hubungan yang sangat intens secara emosional, sistem ini bisa menjadi terlalu dominan.

Jika seseorang mulai mengaitkan hampir semua rasa aman dan kebahagiaan dengan satu orang, maka kehilangan orang itu dapat memicu respons stres yang sangat kuat.

Penelitian dalam bidang neuroscience sosial menunjukkan bahwa perpisahan romantis dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan pengalaman rasa sakit fisik.

Ini menjelaskan mengapa beberapa orang benar-benar merasakan penderitaan yang sangat nyata ketika hubungan berakhir.


Ketika Seseorang Kehilangan Batas Diri

Ada aspek lain dari codependency yang sering kali tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.

Dalam banyak hubungan yang sangat bergantung, seseorang secara perlahan mulai mengorbankan bagian-bagian dari dirinya sendiri.

Hobi yang dulu disukai mulai ditinggalkan.

Lingkar pertemanan menyempit.

Keputusan hidup mulai disesuaikan sepenuhnya dengan pasangan.

Semua ini sering terjadi secara bertahap, hampir tanpa disadari.

Pada awalnya mungkin terasa seperti bentuk pengorbanan yang wajar dalam hubungan.

Namun seiring waktu, identitas pribadi bisa semakin menyusut.

Ketika seluruh hidup seseorang mulai berpusat pada satu hubungan, ruang untuk menjadi individu perlahan menghilang.

Dan ketika hubungan itu terguncang, seseorang mungkin merasa tidak tahu lagi siapa dirinya tanpa pasangan tersebut.


Pola Hubungan yang Terbentuk dari Trauma Emosional

Ada kisah lain yang sering muncul ketika membicarakan ketergantungan dalam hubungan.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang sejak kecil hidup dalam keluarga yang penuh konflik.

Hubungan antara orang tuanya sangat tidak stabil.

Kadang penuh kehangatan, tetapi kadang juga dipenuhi pertengkaran yang intens.

Sebagai anak, ia sering merasa harus menjadi penengah.

Ia belajar sejak kecil bahwa menjaga hubungan berarti berusaha keras agar orang lain tetap merasa baik.

Ketika ia dewasa dan memasuki hubungan romantis, pola itu muncul kembali.

Ia selalu berusaha menyenangkan pasangannya.

Ia merasa bertanggung jawab atas emosi pasangannya.

Jika pasangannya sedih, ia merasa gagal.

Jika pasangannya marah, ia merasa bersalah.

Tanpa disadari, ia membawa peran lama dari masa kecil ke dalam hubungan dewasa.

Fenomena ini sering disebut sebagai repetition of relational patterns.

Otak manusia cenderung mengulang pola hubungan yang familiar, bahkan jika pola itu sebenarnya tidak sehat.


Ketakutan Akan Kesepian

Di balik banyak hubungan codependent, ada satu emosi yang sangat kuat: ketakutan akan kesepian.

Kesepian bukan sekadar tidak memiliki pasangan.

Kesepian sering kali adalah pengalaman psikologis yang jauh lebih dalam—perasaan bahwa seseorang tidak memiliki tempat yang benar-benar aman secara emosional.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa kesepian kronis dapat memengaruhi sistem stres tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kecemasan dan depresi.

Bagi sebagian orang, hubungan romantis menjadi cara untuk melindungi diri dari perasaan kesepian yang sangat menyakitkan.

Namun jika hubungan itu menjadi satu-satunya sumber rasa aman, ketergantungan emosional dapat berkembang dengan sangat kuat.


Ketika Hubungan Menjadi Sumber Nilai Diri

Dalam banyak hubungan codependent, ada pola psikologis yang cukup khas.

Seseorang merasa bernilai hanya ketika ia dibutuhkan oleh pasangannya.

Ia merasa penting ketika ia bisa menolong, menyelamatkan, atau mendukung pasangannya.

Perasaan ini sering disebut sebagai caregiving identity yang berlebihan.

Dalam buku Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, disebutkan bahwa beberapa individu mengembangkan identitas diri yang sangat terkait dengan peran merawat orang lain.

Jika peran itu hilang, mereka dapat mengalami krisis identitas.

Ini menjelaskan mengapa beberapa orang tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya tidak sehat.

Karena hubungan itu memberikan perasaan bahwa mereka dibutuhkan.

Dan perasaan dibutuhkan bisa terasa sangat kuat secara emosional.


Ketika Dua Orang Saling Bergantung

Menariknya, hubungan codependent sering kali tidak melibatkan satu orang saja.

Kadang dua orang dalam hubungan tersebut saling memenuhi kebutuhan emosional yang berbeda.

Satu orang mungkin membutuhkan seseorang untuk diselamatkan.

Yang lain mungkin membutuhkan seseorang untuk diselamatkan.

Hubungan seperti ini bisa terasa sangat kuat dan sulit dilepaskan.

Karena masing-masing orang memenuhi peran psikologis tertentu bagi yang lain.

Namun di balik dinamika tersebut, identitas pribadi sering kali tetap tidak berkembang secara utuh.


Sebuah Renungan tentang Cinta dan Identitas

Manusia diciptakan dengan kebutuhan yang sangat dalam untuk terhubung dengan orang lain.

Hubungan romantis dapat menjadi salah satu pengalaman paling bermakna dalam hidup seseorang.

Namun mungkin ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri.

Di dalam hubungan itu, apakah seseorang masih mengenal dirinya sendiri?

Ataukah perlahan-lahan ia mulai melihat dirinya hanya melalui mata pasangannya?

Karena cinta yang sehat biasanya tidak menghapus identitas seseorang.

Ia justru memberi ruang bagi dua individu untuk tumbuh berdampingan.

Dan mungkin di situlah garis yang sangat halus antara cinta yang memperkaya kehidupan…
dan ketergantungan yang perlahan membuat seseorang lupa siapa dirinya.


Referensi

Sadock, B., Sadock, V., & Ruiz, P. Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry.

Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.

Lieberman, M. (2013). Social: Why Our Brains Are Wired to Connect. Crown Publishing.

Sapolsky, R. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers. Holt Paperbacks.

American Psychiatric Association. DSM-5-TR: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.