Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana seseorang dapat menentukan apa yang paling penting bagi mereka dalam hidup?

Anonymous 1 year ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
26

Di tengah kesibukan dunia yang bergerak cepat, pertanyaan sederhana ini sering terabaikan: Apa sebenarnya yang paling penting dalam hidup saya?

Pertanyaan ini mungkin tidak sering muncul saat kita terjebak dalam rutinitas. Tapi ia mengetuk ketika kita lelah, ketika kita merasa kehilangan arah, atau saat kenyataan menghantam dan membuat kita bertanya: untuk apa semua ini?

Anehnya, meski terdengar sederhana, pertanyaan ini adalah salah satu yang paling sulit dijawab. Karena jawabannya bukan soal logika semata, tapi soal keberanian untuk menggali ke dalam diri—melepaskan lapisan demi lapisan keinginan, tekanan, dan kebiasaan, hingga kita menyentuh sesuatu yang paling jujur.

Lantas, bagaimana seseorang bisa benar-benar menemukan hal yang paling penting dalam hidupnya? Dan bagaimana kita tahu bahwa itu memang suara hati kita, bukan gema dari harapan orang lain?


Mengapa Kita Sering Tidak Tahu Apa yang Penting?

Sebelum masuk ke proses pencarian, penting untuk mengakui bahwa banyak dari kita tidak tahu apa yang sebenarnya penting karena terlalu sering hidup dalam mode otomatis. Kita mengejar hal-hal karena “seharusnya,” bukan karena kita menginginkannya. Kita mengikuti jalan hidup yang tampak benar secara sosial, tetapi tidak pernah benar-benar kita pilih dengan sadar.

Menurut Dr. Russ Harris, penulis The Happiness Trap, banyak orang terjebak dalam avoidance goals—yaitu tujuan yang didasarkan pada keinginan untuk menghindari rasa sakit, malu, atau kegagalan. Dalam kondisi seperti itu, hidup tidak diarahkan oleh nilai-nilai sejati, tetapi oleh rasa takut.

Lebih jauh lagi, Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menjelaskan bahwa ketika hidup kehilangan makna, kita cenderung mengisi kekosongan itu dengan kesenangan instan, pencapaian dangkal, atau kebisingan luar. Tapi tidak ada yang benar-benar mengisi ruang batin itu jika kita tidak tahu apa yang benar-benar kita hargai.

Dengan kata lain, mengetahui apa yang penting dalam hidup bukan soal menemukan satu kalimat ajaib. Ia adalah proses mengenal ulang diri sendiri, mendengarkan lebih dalam, dan memisahkan suara hati dari kebisingan dunia.


Nilai Hidup: Kompas yang Tak Terlihat

Dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), nilai hidup atau values adalah prinsip-prinsip mendasar yang memberi arah dan makna bagi tindakan kita. Nilai bukanlah tujuan yang bisa dicapai seperti “menjadi dokter” atau “punya rumah.” Nilai adalah arah yang memberi makna bagi setiap langkah yang kita ambil, seperti “menjadi penuh kasih,” “menjadi jujur,” “berkontribusi,” atau “terhubung dengan orang lain.”

Menurut Steven Hayes, salah satu penggagas ACT, ketika seseorang hidup selaras dengan nilainya, ia lebih mampu menerima rasa sakit, kegagalan, dan ketidakpastian—karena ia tahu bahwa semua itu adalah bagian dari hidup yang dijalani secara otentik.

Maka, menemukan apa yang penting dalam hidup sejatinya adalah tentang menemukan nilai-nilai yang membuat hidup layak untuk dijalani—bukan hanya di hari cerah, tapi juga saat badai datang.


Mengenali Suara Asli di Dalam Diri

Untuk menemukan nilai terdalam kita, kita perlu belajar membedakan antara suara hati dan suara kebiasaan.

Suara hati biasanya tenang. Ia tidak berteriak, tapi bersikap konsisten. Ia muncul dalam momen-momen reflektif, bukan dalam reaksi spontan. Misalnya, ketika kamu melihat seseorang memperjuangkan kebenaran dengan keberanian, dan hatimu tergerak tanpa alasan rasional—mungkin itu tanda bahwa keadilan adalah nilai yang penting bagimu.

Sementara suara kebiasaan atau ekspektasi sering datang dari luar: “Saya harus sukses,” “Saya harus membanggakan orang tua,” “Saya tidak boleh gagal.” Ini bukan hal buruk, tapi jika hidup hanya digerakkan oleh itu, kita bisa kehilangan keaslian kita.

Brené Brown dalam Dare to Lead menekankan pentingnya hidup berdasarkan nilai inti. Ia menyarankan setiap orang mengenali dua nilai inti yang benar-benar menjadi panduan hidup mereka. Ketika kita tahu apa dua nilai inti itu, kita bisa membuat keputusan sulit dengan lebih jelas—karena kita tahu ke arah mana hati kita ingin melangkah.


Momen-Momen Kejujuran Diri

Menemukan apa yang penting sering kali tidak terjadi dalam kondisi nyaman. Ia justru muncul dalam momen krisis, kehilangan, atau keheningan mendalam. Seperti yang dikatakan Carl Jung, “Your vision will become clear only when you can look into your own heart. Who looks outside, dreams; who looks inside, awakes.”

Misalnya:

  • Saat kamu kehilangan seseorang, kamu mulai bertanya: apakah aku cukup hadir untuk mereka?
  • Saat pekerjaan membuatmu cemas tanpa henti, kamu bertanya: apa yang aku kejar sebenarnya?
  • Saat kesuksesan diraih tapi tidak ada kebahagiaan, kamu bertanya: mengapa ini tidak terasa seperti yang aku harapkan?

Momen-momen seperti ini, meski menyakitkan, bisa menjadi pintu masuk menuju pemahaman baru tentang diri kita. Jika kita cukup berani untuk menatap rasa kehilangan itu tanpa menolaknya, kita bisa mulai melihat nilai-nilai yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan.


Menciptakan Ruang untuk Menemukan

Dalam buku Designing Your Life oleh Bill Burnett dan Dave Evans, kita diajak untuk mendesain hidup seperti kita mendesain produk: melalui eksperimen, iterasi, dan refleksi.

Mereka menyarankan kita untuk menciptakan “prototipe hidup”—mencoba berbagai aktivitas, peran, dan pengalaman, lalu mengevaluasi apa yang terasa bermakna, membangun, atau justru menguras.

Dengan kata lain, nilai tidak selalu ditemukan di ruang kepala. Ia sering kali ditemukan saat kita menghidupi sesuatu. Kita tahu bahwa kejujuran penting karena kita merasa bersalah saat berbohong. Kita tahu bahwa kreativitas penting karena kita merasa hidup saat mencipta sesuatu.

Maka jangan takut mencoba. Jangan menunggu nilai sempurna sebelum bertindak. Tindakan yang dilakukan dengan niat yang jujur sering kali justru menjadi cermin nilai yang belum kita sadari.


Menemukan “Penting” Bukan Sekadar Kata, Tapi Praktik

Hal yang paling penting dalam hidup bukan sesuatu yang hanya kita tulis di jurnal. Ia harus hidup dalam pilihan, waktu, dan energi kita.

Misalnya, jika kamu menyadari bahwa keluarga adalah hal paling penting bagimu, maka itu perlu tampak dalam caramu menyisihkan waktu untuk mereka, bukan hanya dalam ucapan. Jika pertumbuhan pribadi penting bagimu, maka ia harus tampak dalam komitmenmu untuk belajar, bukan hanya dalam keinginan abstrak.

Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence menyebut bahwa keselarasan antara nilai dan tindakan adalah ciri utama dari manusia yang matang secara emosional. Mereka tidak sempurna, tetapi mereka hidup secara utuh. Mereka tidak menghindari konflik, tapi tahu apa yang layak diperjuangkan.


Mengganti Pertanyaan “Apa Tujuan Hidup Saya?” dengan “Bagaimana Saya Ingin Hidup?”

Kadang kita terjebak dalam pertanyaan eksistensial yang terlalu besar, seperti “Apa tujuan saya hidup di dunia?” Pertanyaan ini bisa membingungkan dan melelahkan.

Sebaliknya, coba ubah menjadi: Bagaimana saya ingin hidup hari ini? atau Apa hal yang, jika saya lakukan dengan tulus, membuat hidup ini terasa bernilai meski sederhana?

Psikolog Tal Ben-Shahar menyarankan untuk fokus pada hal-hal yang membuat kita merasa hidup. Ia menyebut ini sebagai “permission to be human.” Artinya, kita izinkan diri kita untuk jujur, rapuh, dan real dalam perjalanan menemukan makna hidup.

Dan dari kejujuran itulah, kita akan mulai melihat pola: nilai-nilai apa yang berulang muncul dalam pengalaman yang paling membentuk kita?


Penutup: Hidup yang Paling Penting Adalah Hidup yang Kita Pilih Sendiri

Tidak ada satu formula yang bisa menjawab untuk semua orang. Tapi ada satu benang merah: hidup menjadi lebih bermakna ketika kita menjalaninya secara sadar.

Sadar akan apa yang kita pedulikan. Sadar akan apa yang kita pilih tinggalkan. Sadar bahwa waktu kita terbatas, dan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk hidup lebih selaras dengan diri sendiri.

Menemukan hal paling penting dalam hidup bukanlah soal satu jawaban final. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, dan tiap hari memberi kita kesempatan untuk memutuskan ulang: apa yang akan aku hidupi hari ini?

Dan mungkin, itu cukup. Karena dalam proses memilih dengan jujur, kita telah berada di jalur yang benar.