Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana proses mengubah kebiasaan dapat berbeda-beda waktu tergantung pada individu dan jenis kebiasaan yang ingin diubah?

Anonymous 1 year ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
32

Ada satu harapan umum yang sering muncul ketika seseorang bertekad ingin berubah: semoga prosesnya cepat, hasilnya konsisten, dan tidak terlalu melelahkan. Kita ingin berhenti menunda-nunda, membiasakan olahraga, tidur lebih awal, atau mengurangi screen time. Namun setelah beberapa hari mencoba, semangat itu goyah. Hasil tidak kunjung terasa, dan akhirnya muncul keraguan: "Kenapa aku gagal? Padahal orang lain bisa."

Di sinilah letak salah kaprah umum dalam memahami kebiasaan: bahwa perubahan bisa distandarkan waktunya untuk semua orang. Padahal kenyataannya, setiap proses mengubah kebiasaan sangat dipengaruhi oleh siapa yang melakukannya dan apa yang sedang diubah. Ada yang butuh tiga minggu untuk membentuk kebiasaan baru, ada yang butuh berbulan-bulan, dan ada pula yang belum berhasil meski sudah bertahun-tahun mencoba. Apakah mereka kurang tekad? Tidak selalu. Mungkin mereka hanya sedang menghadapi proses perubahan yang memang lebih kompleks, baik dari sisi psikologis maupun struktural.


Kebiasaan Tidak Terjadi dalam Kekosongan: Ia Berakar dalam Pola Hidup

Untuk memahami kenapa waktu membentuk kebiasaan bisa berbeda-beda, pertama kita harus sadar bahwa kebiasaan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sistem kehidupan seseorang—berakar pada ritme harian, pola pikir, emosi, lingkungan, bahkan masa lalu.

Misalnya, dua orang memutuskan untuk mulai rutin bangun pagi. Yang satu hidup dalam lingkungan tenang, tidak punya kewajiban malam hari, dan merasa termotivasi karena ingin hidup lebih produktif. Yang satu lagi bekerja sif malam, memiliki tanggung jawab rumah tangga yang padat, dan menyimpan trauma masa kecil tentang bangun pagi yang dipaksakan secara keras. Bisa ditebak, hasilnya akan sangat berbeda meski niat mereka sama.

Psikologi menyebut ini sebagai contextual embeddedness, atau keterlekatan suatu kebiasaan dalam konteks hidup seseorang. Dalam artian praktis, semakin kompleks konteks seseorang, semakin dalam kebiasaan lama berakar, dan semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menumbuhkan kebiasaan baru.


Jenis Kebiasaan: Sederhana vs Kompleks, Fisik vs Emosional

Kebiasaan bisa dibedakan menurut sifatnya: apakah ia melibatkan tindakan fisik sederhana, atau mencakup perubahan emosi dan keyakinan. Misalnya, membiasakan minum air putih setiap pagi tergolong kebiasaan yang sederhana secara mekanis. Tapi mengubah kebiasaan melampiaskan stres dengan makanan manis, atau kebiasaan membatalkan janji karena takut gagal—itu jauh lebih kompleks karena menyentuh wilayah psikologis yang dalam.

Dalam studi yang dilakukan oleh Dr. Phillippa Lally dan tim di University College London, ditemukan bahwa kebiasaan fisik sederhana rata-rata butuh waktu 18–30 hari untuk tertanam, sedangkan kebiasaan kompleks bisa mencapai lebih dari 200 hari. Dan itu pun bukan jaminan mutlak. Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya jenis kebiasaannya, tapi juga interaksi antara kebiasaan itu dengan struktur kepribadian seseorang.

Kebiasaan yang bersifat emosional atau mental lebih sulit diubah karena ia menyatu dengan sistem perlindungan psikologis. Misalnya, seseorang yang terbiasa berbohong kecil untuk menghindari konflik tidak akan mudah melepaskan kebiasaan itu, karena ia telah menjadi mekanisme bertahan. Dalam kasus seperti ini, waktu saja tidak cukup—dibutuhkan pemahaman, penerimaan, dan keberanian menghadapi akar dari kebiasaan tersebut.


Faktor Kepribadian: Ketika Watak Menentukan Irama Perubahan

Setiap orang memiliki struktur kepribadian yang berbeda. Ada yang terbiasa hidup teratur dan suka rencana. Ada pula yang spontan dan sulit mengikuti pola. Dalam psikologi kepribadian, dimensi conscientiousness atau sifat teliti dan bertanggung jawab sangat berperan dalam pembentukan kebiasaan. Mereka yang memiliki skor tinggi dalam dimensi ini cenderung lebih mudah membentuk rutinitas karena menyukai keteraturan dan konsistensi.

Namun bukan berarti yang lain mustahil berubah. Hanya saja, irama dan gaya perubahan mereka akan berbeda. Orang yang cenderung terbuka terhadap pengalaman (high openness) mungkin lebih mudah mencoba kebiasaan baru, tetapi butuh pendekatan yang lebih fleksibel dan tidak kaku. Sebaliknya, orang dengan kecemasan tinggi (neuroticism) mungkin perlu pendekatan yang penuh rasa aman dan minim tekanan.

Hal ini ditegaskan oleh Gretchen Rubin dalam bukunya Better Than Before, yang membagi orang ke dalam empat kecenderungan utama dalam menghadapi kebiasaan: Upholder, Questioner, Obliger, dan Rebel. Setiap tipe membutuhkan strategi berbeda untuk menumbuhkan kebiasaan. Maka, mengenali kepribadian sendiri bisa membantu memperkirakan seberapa cepat atau lambat proses perubahan itu berlangsung.


Riwayat Psikologis dan Pengalaman Masa Lalu

Setiap kebiasaan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia seringkali merupakan hasil dari pengalaman hidup yang panjang—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan mungkin mengembangkan kebiasaan defensif seperti menunda pekerjaan atau menyendiri. Maka ketika ia ingin berubah, bukan hanya perilaku yang harus diperbaiki, tetapi luka di balik perilaku itu juga harus disembuhkan.

Dr. Gabor Maté dalam bukunya The Myth of Normal menekankan bahwa kebiasaan buruk sering kali adalah cara otak bertahan dari rasa sakit emosional. Maka jika kita mengubah kebiasaan tanpa memahami emosi di baliknya, kita hanya menambal permukaan tanpa menyentuh akar.

Dalam kasus seperti ini, proses perubahan bisa lebih panjang karena melibatkan perjalanan penyembuhan. Namun justru karena itu, perubahan yang terjadi cenderung lebih permanen dan menyeluruh. Maka, waktu bukanlah musuh, tetapi bagian penting dari proses pendewasaan diri.


Lingkungan, Dukungan Sosial, dan Struktur Harian

Faktor eksternal juga sangat mempengaruhi kecepatan perubahan kebiasaan. Lingkungan yang mendukung—baik secara fisik maupun sosial—bisa mempercepat proses. Misalnya, seseorang yang tinggal bersama teman-teman yang gemar berolahraga akan lebih mudah menumbuhkan kebiasaan lari pagi dibanding yang tinggal di lingkungan pasif.

Lingkungan juga mencakup rutinitas harian. Seseorang dengan jam kerja stabil dan waktu istirahat cukup akan lebih mudah membentuk kebiasaan baru dibanding yang ritme hidupnya tidak menentu. Oleh karena itu, membangun kebiasaan juga berarti membangun sistem pendukung di sekitar kebiasaan itu, termasuk pengingat visual, teman seperjalanan, dan jadwal yang konsisten.

Dalam teori Behavioral Design dari BJ Fogg, lingkungan bahkan lebih penting daripada niat. Ia menyebutkan bahwa “motivation is unreliable,” karena semangat sering naik turun. Maka cara terbaik menumbuhkan kebiasaan adalah membuatnya semudah dan seotomatis mungkin dalam konteks sehari-hari.


Identitas dan Imajinasi Diri

Salah satu faktor paling penting tapi sering dilupakan dalam proses perubahan adalah cara seseorang melihat dirinya sendiri. Ketika seseorang masih menyimpan citra diri negatif seperti “aku memang tidak disiplin,” atau “aku pemalas sejak dulu,” maka setiap kebiasaan baru akan terasa seperti penipuan terhadap diri sendiri.

Sebaliknya, jika seseorang mulai membangun narasi baru tentang siapa dirinya—misalnya “aku sedang belajar jadi orang yang lebih bertanggung jawab,” maka perubahan perilaku akan lebih mudah diterima dan dijalani. Ini sejalan dengan konsep identity-based habits yang diperkenalkan James Clear: bahwa kebiasaan paling kuat berasal dari identitas yang sedang dibangun.

Identitas bukan sesuatu yang tetap. Ia bisa dikonstruksi ulang melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Maka semakin seseorang percaya bahwa ia sedang tumbuh menjadi versi diri yang lebih baik, semakin mudah kebiasaan baru tumbuh dalam dirinya—meskipun tetap membutuhkan waktu.


Penutup: Tidak Ada Jalan Cepat, Tapi Selalu Ada Jalan

Mengubah kebiasaan adalah perjalanan personal yang tak bisa disamakan. Ia seperti belajar memainkan alat musik: ada yang cepat menguasai, ada yang butuh waktu bertahun-tahun, tergantung pada banyak hal—struktur tubuh, pola pikir, motivasi, lingkungan, dan pengalaman.

Namun satu hal yang pasti: setiap perubahan, sekecil apa pun, adalah langkah penting menuju hidup yang lebih sadar dan sehat. Waktu yang dibutuhkan bukanlah ukuran keberhasilan, tapi cerminan dari kedalaman proses yang sedang dijalani.

Jangan tergesa ingin berubah hanya karena orang lain terlihat lebih cepat. Hormati ritme unikmu. Dan jika kamu jatuh dalam prosesnya, ingatlah: jatuh adalah bagian dari belajar berjalan. Yang penting bukan kecepatanmu, tapi keberanianmu untuk terus melangkah.


"Perubahan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Tapi siapa yang paling berani bertahan dalam perjalanan."

Aku pernah berpikir bahwa mengubah kebiasaan itu cuma soal niat dan disiplin. Bahwa selama ada tekad, semuanya bisa dipaksa. Tapi hidup, ternyata, lebih kompleks dari teori produktivitas yang sering dibagikan di media sosial.

Ada satu kebiasaan buruk yang lama sekali ingin aku tinggalkan: menunda-nunda pekerjaan.
Bukan karena aku pemalas. Justru sebaliknya—aku sering overthinking, terlalu takut kalau hasilnya tidak sempurna. Jadi aku tunda. Terus. Sampai akhirnya tenggelam dalam kecemasan.

Aku coba berbagai metode: metode Pomodoro, to-do list warna-warni, jurnal harian, afirmasi pagi, meditasi malam. Tapi tidak ada yang bertahan lebih dari seminggu. Dan aku mulai frustrasi. Aku mulai menyalahkan diriku: Kenapa orang lain bisa, aku tidak?

Sampai akhirnya aku ngobrol dengan seorang teman psikolog. Dia bilang, “Kamu tidak gagal. Kamu cuma belum mengenali pola internalmu sendiri.”

Dan dari situ, aku mulai sadar satu hal penting:
Proses mengubah kebiasaan itu bukan seperti mengganti pakaian. Ia lebih mirip seperti menumbuhkan akar baru di tanah yang pernah kering.
Dan setiap orang, setiap tanah, butuh waktu yang berbeda untuk mulai menumbuhkan tunas.

Aku pernah melihat suamiku berhenti merokok dalam waktu dua minggu. Tanpa ribut-ribut. Tanpa plester nikotin. Tanpa pengumuman di sosial media. Tapi aku juga punya sahabat yang sudah bertahun-tahun mencoba berhenti, dan masih gagal.
Apakah yang satu lebih lemah dari yang lain? Tidak juga.
Mereka hanya sedang bertarung di medan yang berbeda.

Jenis kebiasaan juga menentukan.
Mengubah kebiasaan bangun siang mungkin lebih mudah daripada menyembuhkan kebiasaan membenci diri sendiri.
Meninggalkan kebiasaan ngemil tengah malam mungkin butuh satu bulan. Tapi membangun kebiasaan memaafkan diri, bisa jadi butuh bertahun-tahun.

Dan itu sah. Itu wajar.

Kadang kita terlalu terpaku pada angka:
“Butuh 21 hari untuk membentuk kebiasaan.”
Padahal tidak ada satu angka pun yang bisa mewakili kompleksitas luka, sejarah hidup, dan pola pikir setiap orang.

Kita ini seperti ladang.
Ada yang perlu disiram setiap pagi, ada yang cukup seminggu sekali. Ada benih yang tumbuh dalam tiga hari, ada yang perlu menunggu musim hujan tiba. Dan tidak ada satu pun yang lebih buruk dari yang lain—mereka hanya tumbuh dalam waktu yang berbeda.


Kalau kamu sedang mencoba mengubah kebiasaan dan merasa lambat, ingatlah ini:
Yang tumbuh pelan, biasanya mengakar lebih dalam.
Dan kadang, itulah yang membuatnya bertahan lebih lama.


“Perubahan sejati bukan datang seperti badai, tapi seperti embun—diam, lembut, dan hanya bisa dirasakan oleh hati yang sabar menunggu.”
— terinspirasi dari pagi-pagi hening dan perjuangan kecil yang tak pernah dilihat orang.

Mengapa Perubahan Kebiasaan Tidak Sama Bagi Setiap Orang

Kita sering mendengar bahwa membentuk atau mengubah kebiasaan membutuhkan waktu tertentu—21 hari, 30 hari, 66 hari. Tapi kenyataannya jauh lebih kompleks daripada angka-angka itu. Perubahan kebiasaan adalah proses yang melibatkan interaksi antara otak, emosi, lingkungan, dan pengalaman hidup seseorang. Oleh karena itu, waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk mengubah kebiasaan bisa sangat bervariasi tergantung pada banyak faktor.

Dr. Phillippa Lally, peneliti dari University College London, melakukan studi terkenal yang menunjukkan bahwa waktu rata-rata untuk membentuk satu kebiasaan adalah sekitar 66 hari. Namun yang sering diabaikan adalah rentang waktunya sangat luas—dari 18 hingga 254 hari. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu formula yang berlaku bagi semua orang.

Faktor Psikologis dan Emosional yang Memengaruhi

Salah satu aspek paling kuat yang memengaruhi proses perubahan kebiasaan adalah kondisi psikologis seseorang. Mereka yang memiliki tingkat stres tinggi atau mengalami tekanan emosional cenderung lebih sulit membentuk kebiasaan baru. Dalam buku The Power of Habit karya Charles Duhigg, dijelaskan bahwa kebiasaan bekerja dalam lingkaran: isyarat, rutinitas, dan ganjaran. Jika seseorang dalam kondisi mental yang tidak stabil, maka lingkaran ini akan mudah terputus, terutama di tahap konsistensi.

Selain itu, kebiasaan yang berkaitan dengan emosi atau trauma masa lalu juga lebih sulit diubah. Contohnya, seseorang yang terbiasa merokok sebagai pelarian dari kecemasan akan lebih sulit berhenti, karena kebiasaan tersebut tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Psikolog seperti Dr. Judson Brewer bahkan menyebut bahwa pemahaman terhadap "mengapa" kita melakukan sesuatu bisa membantu, tapi tidak cukup tanpa pengelolaan emosi yang mendalam.

Perbedaan Kepribadian dan Motivasi

Setiap individu memiliki kepribadian yang unik, dan ini memengaruhi cara mereka menanggapi perubahan. Teori kepribadian Big Five menunjukkan bahwa orang yang memiliki tingkat "conscientiousness" (ketaatan dan kedisiplinan) tinggi cenderung lebih berhasil dalam membentuk kebiasaan. Sementara itu, mereka yang memiliki sifat neuroticism tinggi cenderung mudah gagal di tengah jalan karena lebih mudah terpengaruh oleh ketidakpastian atau stres.

Motivasi juga menjadi faktor penentu. Buku Atomic Habits karya James Clear menekankan bahwa motivasi yang berasal dari identitas lebih tahan lama dibanding motivasi berbasis tujuan. Seseorang yang berkata, "Saya ingin menjadi orang yang sehat," memiliki peluang lebih tinggi berhasil dibanding yang berkata, "Saya ingin turun 5 kg." Ini karena motivasi identitas bersifat internal dan lebih melekat dalam keseharian seseorang.

Lingkungan Sosial dan Dukungan

Lingkungan adalah katalisator besar dalam proses perubahan kebiasaan. Seorang individu yang mencoba mengurangi konsumsi gula akan kesulitan jika hidup bersama orang-orang yang tidak peduli pada pola makan. Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa perubahan perilaku lebih efektif ketika dilakukan dalam kelompok atau dengan dukungan sosial yang kuat.

Selain itu, tekanan sosial juga bisa menjadi penghambat. Jika perubahan kebiasaan dipersepsikan sebagai tindakan yang menyimpang dari norma kelompok, seseorang cenderung kembali pada kebiasaan lama. Oleh karena itu, beberapa psikolog menyarankan pentingnya mencari komunitas baru atau support system yang selaras dengan tujuan perubahan.

Kompleksitas dan Jenis Kebiasaan

Tidak semua kebiasaan memiliki tingkat kesulitan yang sama untuk diubah. Kebiasaan kecil seperti minum segelas air saat bangun pagi relatif lebih mudah dibandingkan mengubah kebiasaan negatif seperti procrastination atau kecanduan media sosial. Hal ini karena kebiasaan yang kompleks biasanya terhubung dengan sistem penghargaan di otak, terutama dopamin.

Profesor Wendy Wood dari University of Southern California menyatakan bahwa 40-45% dari perilaku harian kita adalah hasil dari kebiasaan otomatis. Jadi, semakin dalam kebiasaan tertanam dalam struktur otomatis otak, semakin besar usaha sadar yang dibutuhkan untuk mengubahnya.

Peran Neuroplastisitas dan Usia

Kemampuan otak untuk berubah—yang disebut neuroplastisitas—juga memengaruhi seberapa cepat seseorang bisa mengubah kebiasaannya. Otak anak-anak dan remaja jauh lebih plastis dibandingkan orang dewasa, sehingga mereka lebih cepat menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru.

Namun bukan berarti orang dewasa tidak bisa berubah. Buku The Brain That Changes Itself oleh Norman Doidge menunjukkan banyak bukti bahwa orang dewasa bahkan lansia bisa menciptakan jalur neural baru. Hanya saja, prosesnya membutuhkan lebih banyak repetisi dan konsistensi.

Perjalanan yang Tidak Linier

Satu kesalahan umum dalam proses perubahan kebiasaan adalah menganggap bahwa setiap hari harus sempurna. Banyak orang gagal karena mereka merasa satu kali terpeleset berarti seluruh usaha hancur. Ini adalah jebakan "all-or-nothing thinking" yang sering dibahas dalam terapi kognitif.

Ahli psikologi seperti Carol Dweck menyarankan pentingnya menerapkan growth mindset, yaitu pola pikir yang melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Ketika seseorang sadar bahwa kemunduran adalah hal yang wajar, maka ia lebih mungkin untuk kembali ke jalurnya tanpa rasa bersalah berlebihan.

Kebiasaan sebagai Identitas, Bukan Sekadar Tindakan

Salah satu pergeseran paradigma penting dalam membentuk kebiasaan adalah memahami bahwa kebiasaan bukanlah sekadar serangkaian tindakan, melainkan ekspresi dari siapa kita. Saat seseorang mulai melihat dirinya sebagai "penulis" bukan hanya "orang yang ingin menulis", maka menulis setiap hari bukan lagi beban, melainkan bagian dari identitasnya.

James Clear menyebut ini sebagai "identity-based habit" dan menjelaskan bahwa perubahan yang paling bertahan lama terjadi ketika seseorang memperbarui narasi tentang siapa dirinya. Jadi, membentuk kebiasaan bukan hanya tentang pengulangan, tapi juga tentang merombak cara kita memandang diri sendiri.

Penutup yang Membumi

Mengubah kebiasaan bukanlah lomba cepat; ini adalah perjalanan panjang yang sangat personal. Tidak ada satu waktu pasti, satu metode pasti, atau satu solusi universal. Yang ada adalah proses yang melibatkan pemahaman diri, pengelolaan emosi, keberanian menghadapi kegagalan, dan keinginan untuk tumbuh dari dalam.

Ketika kita menyadari bahwa perubahan itu bukan soal disiplin semata, melainkan soal memahami siapa diri kita dan siapa yang ingin kita jadi, maka perubahan itu bukan lagi mimpi, melainkan proses yang perlahan namun pasti, akan kita tempuh dengan hati yang sadar dan tenang.