Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana perasaanmu ketika sudah mengunggah postingan, tapi jumlah likesnya jauh di bawah ekspektasimu?

Anonymous 6 months ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
42

Ada momen kecil yang diam-diam cukup mengganggu di era media sosial: sudah menyusun postingan dengan cukup hati-hati, mungkin bahkan dengan sedikit harapan, lalu ketika melihat angka likes… hasilnya jauh dari bayangan.

Bukan sekadar angka yang kecil, tapi rasa “tidak direspons” itu yang sering lebih terasa.

Reaksi Pertama: Refleksi yang Tidak Selalu Rasional

Respons awal biasanya bukan analisis, tapi perasaan.

Ada jeda singkat antara “sudah diunggah” dan “hasilnya terlihat”, lalu pikiran mulai mengisi kekosongan itu:

👉 apakah topiknya kurang menarik
👉 apakah cara menyampaikannya salah
👉 atau apakah memang tidak ada yang peduli

Di titik ini, angka kecil sering terasa lebih besar dari sekadar metrik.

Padahal Sistemnya Tidak Pernah Linear

Yang sering terlupakan adalah bahwa engagement tidak selalu mencerminkan kualitas secara langsung.

Ada banyak faktor yang bekerja di belakang layar:

👉 algoritma distribusi
👉 waktu posting
👉 kebiasaan audiens
👉 bahkan konteks hari itu sendiri

konten yang sama bisa mendapat respons berbeda hanya karena konteks yang berubah.

Yang Lebih Dalam: Ekspektasi Diam-Diam yang Kita Bangun Sendiri

Sebelum posting, sering ada bayangan tidak sadar:

“ini pasti akan cukup ramai”

Ekspektasi ini tidak selalu diucapkan, tapi terbentuk dari pengalaman sebelumnya, atau dari standar yang kita lihat di orang lain.

Ketika hasil tidak sesuai, yang terasa bukan hanya “kurang sukses”, tapi juga “tidak sesuai cerita di kepala”.

Nilai Tidak Selalu Terlihat dari Angka Awal

Ada konten yang tidak langsung meledak, tapi perlahan dibaca, disimpan, atau berdampak dalam jangka panjang.

Sebaliknya, ada juga yang ramai sesaat, tapi cepat hilang tanpa jejak.

angka awal lebih sering mencerminkan distribusi, bukan nilai sebenarnya.

Yang Sedikit “Nyentil”: Kadang Kita Tidak Sedang Mengejar Impact, Tapi Validasi

Ini bagian yang jarang diakui.

Di balik keinginan “ingin banyak likes”, sering ada kebutuhan lain:

👉 ingin diakui
👉 ingin merasa relevan
👉 ingin merasa didengar

Tidak salah, tapi jika menjadi satu-satunya ukuran, maka nilai diri jadi terlalu bergantung pada respon eksternal yang tidak selalu bisa dikontrol.

Belajar Memisahkan Dua Hal: Karya dan Respon

Satu hal penting dalam proses ini adalah membedakan:

👉 apa yang kita buat
👉 bagaimana orang meresponsnya

Kualitas karya ada di tangan kita.
Respon ada di ruang yang lebih luas dan tidak selalu bisa diprediksi.

keduanya tidak selalu bergerak bersama.

Penutup

Melihat angka likes yang lebih kecil dari ekspektasi memang bisa terasa mengecewakan.

Tapi di balik itu, ada pelajaran yang lebih stabil:

nilai sebuah tulisan atau ide tidak hanya ditentukan oleh respons awal, tapi oleh bagaimana ia bertahan dan bermakna dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Dan sering kali, yang terlihat “sepi” di awal, bukan berarti tidak berarti—

hanya belum berada di tempat atau waktu yang tepat untuk benar-benar terlihat.

Perasaan kecewa karena jumlah likes yang rendah adalah reaksi yang sangat valid. Hal ini berkaitan erat dengan cara otak kita memproses pengakuan sosial dan bagaimana kita mengaitkan nilai diri dengan metrik digital.

1. Dopamin dan Jebakan Ekspektasi

Secara neurologis, mendapatkan likes memicu pelepasan dopamin di otak. Ketika jumlahnya di bawah ekspektasi, otak mengalami "dopamine deficit" yang memicu perasaan kecewa atau cemas. Mengacu pada Daniel Kahneman, kita sering terjebak dalam Loss Aversion; kita merasa kehilangan sesuatu (validasi) yang seharusnya kita dapatkan. Penting untuk menyadari bahwa algoritma sering kali tidak mencerminkan kualitas konten Anda secara objektif, melainkan hanya pola distribusi data yang acak.

2. Memisahkan Nilai Diri dari Metrik Digital

Bahaya terbesar dari jumlah likes yang rendah adalah ketika kita mulai memiliki Fixed Mindset, seperti yang dijelaskan Carol Dweck. Kita mulai berpikir, "Konten saya buruk" atau "Saya tidak menarik". Padahal, seorang pembelajar sejati dengan Growth Mindset akan melihat angka tersebut sebagai poin data semata untuk melakukan evaluasi teknik distribusi atau waktu unggah, bukan sebagai penilaian atas harga diri atau bakat mereka.

3. "Vulnerability" dan Keberanian untuk Tampil

Menurut Brené Brown, membagikan karya di media sosial adalah bentuk kerentanan (vulnerability). Ketika responnya tidak sesuai harapan, kita merasa terpukul karena kita telah "membuka diri". Namun, Brown menekankan bahwa keberanian untuk tetap tampil dan berbagi meskipun hasilnya tidak pasti adalah kunci dari kreativitas yang autentik. Jangan biarkan angka digital membungkam suara Anda yang unik.

4. Menemukan Kembali "Why" Anda

Jika jumlah likes mulai terasa membebani, kembalilah ke prinsip Simon Sinek: Start with Why. Mengapa Anda mengunggah konten tersebut? Jika tujuannya adalah untuk mengedukasi, berbagi kebahagiaan, atau mendokumentasikan perjalanan hidup (seperti proyek kesehatan mental atau jurnal digital), maka satu orang yang merasa terbantu sudah jauh lebih berharga daripada seribu likes tanpa makna. Seperti kata Viktor Frankl, makna ditemukan dalam apa yang kita berikan kepada dunia, bukan sekadar apa yang kita terima dari dunia.

5. Melatih "Mindsight" untuk Perspektif yang Sehat

Gunakan konsep Mindsight dari Daniel Siegel untuk mengobservasi perasaan kecewa tersebut tanpa harus tenggelam di dalamnya. Katakan pada diri sendiri, "Saya sedang merasa kecewa karena ekspektasi saya tidak terpenuhi," daripada "Saya adalah orang yang gagal." Dengan memberi jarak antara emosi dan identitas, Anda bisa kembali berkarya dengan lebih jernih dan tenang tanpa tertekan oleh beban validasi eksternal.

Ingatlah bahwa algoritma bisa berubah setiap hari, tetapi integritas dan visi Anda adalah sesuatu yang tetap. Teruslah berkarya karena proses penciptaan itu sendiri adalah sebuah kemenangan, terlepas dari berapa banyak jempol yang muncul di layar ponsel orang lain.

Daftar Pustaka

  • Brown, B. (2012). Daring Greatly. Gotham Books.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
  • Frankl, V. E. (1946). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Siegel, D. J. (2010). Mindsight. Bantam Books.
  • Sinek, S. (2009). Start with Why. Portfolio.