Bagaimana Caranya Agar Menjadi Orang Yang Tangguh ?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Yang perlu diingat sebelumnya adalah, menurut Cotton, orang yang tangguh harus memiliki komitmen yang kuat terhadap diri sendiri, sehingga dapat menciptakan tingkah laku yang aktif terhadap lingkungan pada dan menetralkan situasi-situasi yang menekan.
Hal ini diperlukan karena orang yang tangguh dituntut untuk memiliki kemampuan mengubah stressor yang negatif menjadi tantangan yang positif.
Mengambil dari pendapat psikolog Malani, beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menuju kepribadian yang tangguh adalah sebagai berikut :
Beberapa aspek, yang berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri, antara lain:
Ketiga hal tersebut harus dilatih secara terus menerus, karena untuk menjadi orang yang tangguh tidaklah dapat dilakukan dengan cepat. Dibutuhkan proses yang panjang dan komitmen dari diri kita sendiri.
Selamat mencoba.
Ada satu kesalahpahaman yang sangat umum tentang ketangguhan: banyak orang mengira bahwa orang yang tangguh adalah mereka yang tidak pernah jatuh, tidak pernah rapuh, tidak pernah menangis.
Padahal, realitasnya justru sebaliknya.
Ketangguhan bukan tentang tidak pernah terluka. Ketangguhan adalah tentang bagaimana seseorang tetap hidup, tetap berjalan, bahkan ketika dirinya terasa hancur di dalam.
Ada seseorang yang secara kasat mata terlihat baik-baik saja. Ia tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalani rutinitas. Tapi di dalam dirinya, ada kehilangan yang belum selesai, ada rasa bersalah yang terus berputar, ada kelelahan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan tetap saja, ia bangun keesokan harinya.
Banyak orang tidak akan menyebut itu sebagai “tangguh”. Mereka lebih mudah mengagumi orang yang tampak kuat, tegas, dan tidak emosional.
Padahal dalam literatur psikologi, konsep resilience (ketangguhan) justru sering didefinisikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan tetap berfungsi di tengah tekanan, trauma, atau kesulitan hidup (American Psychological Association).
Artinya, seseorang bisa terlihat rapuh—menangis, bingung, bahkan kehilangan arah—namun tetap tergolong tangguh selama ia tidak berhenti sepenuhnya.
Ketangguhan itu seringkali sunyi. Ia tidak selalu terlihat heroik.
Pertanyaan ini menarik, karena banyak penelitian mencoba menjawabnya.
Ann Masten, seorang peneliti yang banyak mengkaji resilience, pernah menyebut ketangguhan sebagai “ordinary magic”—sesuatu yang tampak luar biasa, tapi sebenarnya berasal dari proses-proses yang sangat manusiawi dan umum.
Bukan karena seseorang dilahirkan dengan mental baja.
Melainkan karena ia, sedikit demi sedikit:
Dalam buku Resilience in Development, Masten menunjukkan bahwa ketangguhan tidak muncul dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari pengalaman, hubungan, dan cara seseorang memaknai hidupnya.
Dan di sinilah hal yang sering tidak disadari:
Ketangguhan bukan sesuatu yang dimiliki. Ketangguhan adalah sesuatu yang dibentuk.
Banyak orang mencoba menjadi “kuat” dengan cara menolak rasa sakit.
Mereka menekan emosi, mengalihkan diri, atau bahkan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Namun dalam jangka panjang, cara ini justru membuat seseorang semakin rapuh.
James Gross, dalam penelitiannya tentang regulasi emosi, menemukan bahwa menekan emosi (emotional suppression) justru meningkatkan stres fisiologis dan mengganggu kesehatan mental.
Sebaliknya, orang yang tangguh bukanlah mereka yang tidak merasakan sakit.
Mereka adalah orang yang mampu duduk bersama rasa sakitnya tanpa langsung melarikan diri.
Mungkin mereka menangis. Mungkin mereka merasa marah. Mungkin mereka merasa hancur.
Tapi mereka tidak menyangkal bahwa itu semua ada.
Dan dari situlah proses pemulihan dimulai.
Apa yang tidak diakui, tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Dua orang bisa mengalami kejadian yang sama, tetapi keluar dengan kondisi mental yang sangat berbeda.
Mengapa?
Karena bukan peristiwanya yang sepenuhnya menentukan, melainkan makna yang diberikan terhadap peristiwa tersebut.
Aaron Beck, tokoh penting dalam cognitive therapy, menjelaskan bahwa pikiran kita berperan besar dalam membentuk emosi.
Misalnya:
Orang yang tangguh tidak selalu berpikir positif secara naif.
Mereka tetap realistis. Mereka tahu hidup bisa kejam.
Namun mereka memiliki satu kemampuan penting:
mereka tidak membiarkan satu peristiwa mendefinisikan seluruh hidup mereka.
Ada momen dalam hidup di mana bangun dari tempat tidur saja terasa seperti perjuangan besar.
Dalam kondisi seperti itu, ketangguhan tidak terlihat seperti pencapaian besar.
Ia terlihat seperti hal-hal kecil:
Dalam buku Man’s Search for Meaning, Viktor Frankl—yang selamat dari kamp konsentrasi—menulis bahwa manusia bisa bertahan dalam kondisi paling mengerikan sekalipun selama ia masih memiliki alasan untuk terus melangkah, sekecil apa pun itu.
Ketangguhan seringkali bukan tentang lompatan besar, tetapi tentang langkah kecil yang tidak berhenti.
Ini bagian yang paling sulit.
Karena banyak orang berharap bahwa jika mereka sudah berusaha baik, hidup akan membalas dengan kebaikan.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada orang yang sudah berjuang keras, tapi tetap kehilangan. Ada orang yang sudah tulus, tapi tetap disakiti.
Orang yang tangguh bukanlah mereka yang tidak merasakan ketidakadilan ini.
Mereka merasakannya dengan sangat dalam.
Namun perlahan, mereka sampai pada satu titik pemahaman:
bahwa hidup tidak selalu harus adil agar tetap layak dijalani.
Pemahaman ini tidak membuat hidup menjadi lebih ringan.
Tapi membuat seseorang berhenti melawan realitas yang tidak bisa diubah, dan mulai mengalihkan energi untuk hal-hal yang masih bisa dikendalikan.
Salah satu mitos terbesar tentang ketangguhan adalah bahwa orang kuat tidak membutuhkan siapa pun.
Padahal penelitian menunjukkan sebaliknya.
George Bonanno, yang meneliti trauma dan kehilangan, menemukan bahwa dukungan sosial adalah salah satu faktor terkuat dalam membangun ketangguhan.
Orang yang tangguh bukan berarti selalu mandiri secara emosional.
Mereka justru tahu kapan harus bersandar.
Bersandar bukan berarti lemah. Bersandar adalah bagian dari bertahan.
Banyak orang ingin menjadi tangguh, tetapi memperlakukan dirinya sendiri dengan sangat kejam.
Setiap kesalahan dianggap sebagai bukti kegagalan. Setiap kelemahan dianggap sebagai aib.
Padahal, penelitian dari Kristin Neff tentang self-compassion menunjukkan bahwa orang yang mampu berbelas kasih pada dirinya sendiri justru lebih tahan terhadap tekanan dan kegagalan.
Ketangguhan tidak tumbuh dari kebencian pada diri sendiri.
Ia tumbuh dari pemahaman bahwa:
menjadi manusia berarti memiliki batas, luka, dan ketidaksempurnaan.
Ini mungkin inti terdalam dari ketangguhan.
Bukan sekadar bertahan. Tapi mampu menemukan makna.
Viktor Frankl menyebut bahwa manusia bisa bertahan dari hampir segala hal jika ia menemukan “mengapa” di balik penderitaannya.
Makna ini tidak selalu besar atau heroik.
Kadang sangat sederhana:
Dan perlahan, luka yang dulu hanya terasa menyakitkan mulai memiliki tempat dalam cerita hidup.
Bukan sebagai sesuatu yang diinginkan. Tapi sebagai sesuatu yang membentuk.
Ada satu hal yang sering luput.
Ketangguhan seringkali tidak terasa seperti kekuatan saat sedang dijalani.
Ia terasa seperti kelelahan. Seperti kebingungan. Seperti bertahan tanpa tahu sampai kapan.
Baru ketika seseorang melihat ke belakang, ia menyadari:
“Dulu aku hampir tidak sanggup… tapi ternyata aku masih di sini.”
Pada akhirnya, mungkin ketangguhan bukan tentang menjadi seseorang yang tidak bisa dihancurkan.
Melainkan tentang menjadi seseorang yang, meskipun pernah hancur, tidak sepenuhnya hilang dari dirinya sendiri.
Ada satu gambaran yang sering muncul ketika orang membayangkan “ketangguhan”.
Seseorang yang tidak mudah menangis.
Seseorang yang tetap berdiri meskipun diterpa masalah.
Seseorang yang terlihat kuat, tidak goyah, tidak runtuh.
Namun dalam banyak kisah nyata yang pernah terdengar, gambaran itu sering kali tidak sepenuhnya tepat.
Ada seseorang yang dari luar tampak sangat kuat.
Ia bekerja, tersenyum, tetap menjalani hari seperti biasa.
Tapi suatu malam, ketika semua sudah sunyi, ia berkata dengan jujur,
“Aku capek… tapi aku tidak tahu harus berhenti di mana.”
Di titik itu, terlihat sesuatu yang penting:
ketangguhan bukan berarti tidak lelah.
bukan berarti tidak terluka.
dan bukan berarti selalu kuat setiap saat.
Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap hidup di tengah luka,
tanpa harus menyangkal bahwa luka itu ada.
Sering kali orang berpikir bahwa tangguh adalah sifat bawaan.
Seolah-olah ada orang yang memang “terlahir kuat”,
dan ada yang “memang lemah”.
Padahal jika dilihat lebih dalam, ketangguhan adalah hasil dari interaksi yang kompleks.
Pengalaman hidup.
Cara otak memproses stres.
Sistem saraf yang belajar dari masa lalu.
Cara seseorang memaknai kejadian.
Dalam penelitian tentang resilience oleh George Bonanno, ditemukan bahwa banyak orang sebenarnya memiliki kapasitas untuk pulih dari tekanan psikologis—namun cara mereka merespons pengalaman itulah yang menentukan apakah kapasitas itu berkembang atau tidak.
Di sisi lain, dari perspektif neurobiologis, sistem saraf manusia dirancang untuk bertahan.
Ketika menghadapi tekanan, tubuh mengaktifkan sistem stres—melibatkan hormon seperti kortisol dan adrenalin.
Namun jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa pemulihan, sistem ini bisa menjadi terlalu sensitif.
Seseorang menjadi lebih mudah cemas, lebih mudah lelah, dan lebih sulit pulih.
Ketangguhan bukan hanya soal mental,
tapi juga tentang bagaimana tubuh dan otak belajar menghadapi tekanan.
Ada seseorang yang selalu berusaha terlihat kuat.
Ia tidak pernah mengeluh.
Tidak pernah menunjukkan kesedihan.
Tidak pernah membicarakan apa yang ia rasakan.
Semua ditahan.
Awalnya terlihat seperti ketangguhan.
Namun perlahan, tubuhnya mulai menunjukkan sesuatu:
sulit tidur,
mudah lelah,
emosi yang tiba-tiba meledak tanpa sebab yang jelas.
Apa yang terjadi?
Perasaan yang tidak diproses tidak hilang.
Ia hanya berpindah tempat—sering kali ke tubuh.
Dalam pendekatan emotion regulation yang dibahas oleh James Gross, menekan emosi (suppression) justru sering meningkatkan beban fisiologis.
Sebaliknya, kemampuan untuk mengenali dan memproses emosi (reappraisal) lebih berkaitan dengan kesehatan mental yang stabil.
Menjadi tangguh bukan berarti tidak merasakan,
tapi mampu merasakan tanpa tenggelam.
Stres sering dianggap sebagai musuh.
Sesuatu yang harus dihindari.
Sesuatu yang merusak.
Namun ada sudut pandang lain.
Dalam penelitian oleh Kelly McGonigal, cara seseorang memandang stres dapat memengaruhi dampaknya terhadap tubuh.
Jika stres dilihat sebagai ancaman, tubuh bereaksi dengan ketegangan yang lebih besar.
Namun jika stres dilihat sebagai tantangan, respons tubuh bisa menjadi lebih adaptif.
Ini bukan berarti stres menjadi menyenangkan.
Tetap tidak nyaman.
Tetap menekan.
Tapi ada pergeseran kecil:
dari “ini akan menghancurkanku”
menjadi “ini sulit, tapi aku bisa mencoba menghadapinya”.
Ketangguhan sering kali dimulai dari perubahan cara memaknai tekanan.
Ada satu hal yang sering tidak terlihat ketika berbicara tentang ketangguhan:
masa lalu.
Seseorang yang pernah mengalami penolakan, kehilangan, atau tekanan yang berat di masa lalu mungkin membawa bekas yang tidak selalu tampak.
Dan bekas itu memengaruhi bagaimana ia menghadapi tekanan saat ini.
Ada yang menjadi lebih waspada.
Ada yang mudah merasa tidak aman.
Ada yang cepat merasa kewalahan.
Ini bukan kelemahan.
Ini adalah respons yang pernah membantu seseorang bertahan di masa lalu.
Dalam kajian tentang trauma oleh Bessel van der Kolk, pengalaman emosional yang intens dapat “tersimpan” dalam tubuh dan sistem saraf, memengaruhi respons seseorang bahkan setelah kejadian itu berlalu.
Ketangguhan bukan berarti tidak memiliki luka,
tapi perlahan belajar hidup dengan luka itu tanpa dikendalikan olehnya.
Ada anggapan bahwa tangguh berarti tidak mudah berubah.
Tetap pada prinsip.
Tidak goyah.
Tidak terpengaruh.
Namun dalam banyak kasus, justru fleksibilitas yang menjadi kunci.
Seseorang yang terlalu kaku sering kali lebih mudah patah ketika menghadapi perubahan besar.
Sebaliknya, seseorang yang bisa menyesuaikan diri—
mengubah cara berpikir,
mengubah strategi,
mengubah cara melihat situasi—
memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Dalam konsep psychological flexibility yang dikembangkan dalam Acceptance and Commitment Therapy (ACT), kemampuan untuk tetap bergerak meskipun menghadapi pikiran dan emosi yang sulit menjadi salah satu indikator ketahanan mental.
Ketangguhan bukan tentang berdiri kaku,
tapi tentang tetap bisa bergerak meskipun keadaan berubah.
Ada mitos lain tentang ketangguhan:
bahwa orang yang tangguh harus mampu menghadapi semuanya sendiri.
Tidak bergantung.
Tidak meminta bantuan.
Tidak membutuhkan siapa pun.
Namun dalam banyak kisah kehidupan nyata, justru hubungan dengan orang lain menjadi faktor penting.
Ada seseorang yang mampu melewati masa sulit bukan karena ia paling kuat,
tapi karena ia tidak sepenuhnya sendirian.
Ada tempat untuk bercerita.
Ada seseorang yang mendengarkan.
Ada momen di mana ia tidak harus berpura-pura kuat.
Dalam penelitian tentang dukungan sosial, hubungan yang hangat terbukti berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk pulih dari stres.
Ketangguhan bukan selalu tentang berdiri sendiri,
tapi tentang tahu bahwa ada tempat untuk bersandar.
Dua orang bisa mengalami hal yang sama,
namun keluar dengan kondisi yang sangat berbeda.
Yang satu merasa hancur.
Yang lain merasa berubah.
Perbedaannya sering terletak pada makna.
Apa arti pengalaman itu bagi dirinya?
Apakah itu hanya penderitaan,
atau juga sesuatu yang mengajarkan?
Dalam konsep post-traumatic growth oleh Tedeschi dan Calhoun, sebagian orang justru mengalami pertumbuhan setelah melalui pengalaman sulit.
Bukan karena pengalaman itu menyenangkan,
tapi karena cara mereka mengolahnya.
Ketangguhan tidak menghapus rasa sakit,
tapi bisa mengubah apa yang lahir dari rasa sakit itu.
Ada satu hal yang sering dilupakan:
ketangguhan tidak berarti memiliki energi yang tidak terbatas.
Tubuh tetap memiliki batas.
Pikiran tetap bisa lelah.
Emosi tetap bisa penuh.
Seseorang bisa sangat tangguh,
tapi tetap membutuhkan istirahat.
Jika terus dipaksa tanpa pemulihan, bahkan sistem yang paling kuat pun bisa runtuh.
Dalam ilmu kesehatan jiwa, kelelahan kronis (burnout) sering terjadi bukan karena seseorang lemah,
tapi karena ia terlalu lama kuat tanpa jeda.
Kadang, bentuk ketangguhan yang paling sunyi adalah tahu kapan harus berhenti sejenak.
Ada bentuk ketangguhan yang jarang diperhatikan.
Bukan yang dramatis.
Bukan yang terlihat hebat.
Tapi yang sederhana:
bangun pagi meskipun hati berat,
menjalani hari meskipun tidak ada semangat,
tetap hadir dalam hidup meskipun ingin menghilang sejenak.
Hal-hal kecil ini sering dianggap biasa.
Padahal di dalamnya ada usaha yang tidak ringan.
Tidak semua ketangguhan terlihat dari luar,
beberapa justru terjadi dalam diam.
Mungkin pada akhirnya, menjadi tangguh bukan tentang menjadi seseorang yang tidak pernah runtuh.
Tapi tentang sesuatu yang lebih dalam dan lebih manusiawi:
tentang bagaimana seseorang tetap bisa kembali—
meskipun pernah jatuh,
meskipun pernah lelah,
meskipun pernah merasa tidak sanggup—
dan di dalam proses kembali itu,
perlahan-lahan menyadari
bahwa kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk yang keras,
tapi sering kali hadir
dalam bentuk yang lebih tenang:
dalam kemampuan untuk tetap hidup,
meskipun tidak selalu merasa kuat.
Notifications