Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Cara Menerapkan Self Reward yang Tepat?

HA Hanif Mursyida 5 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
26

Reward memiliki bentuk-bentuk yang beranekaragam. Untuk menentukan reward apakah yang baik kepada diri sendiri merupakan suatu hal yang tidak mudah. Karena bila salah, reward tidak akan berperan dengan baik. Oleh karena itu ada beberapa syarat dalam menggunakan reward yang perlu untuk dipelajari sehingga mampu membawa efek  positif.

Dalam memberikan reward yang harus dipahami yaitu adalah sebagai berikut:

1. Memberi ganjaran hendaklah hemat, jika terlalu sering akan menghilangkan arti ganjaran itu sendiri.
2. Penghargaan hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan sifat dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi.
3. Penghargaan harus diberikan langsung sesudah perilaku yang dikendaki dilaksanakan.
4. Reward mempunyai nilai mendidik.

5. Reward berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi berbuat baik.
6. Reward berfungsi untuk memperkuat perilaku yang lebih baik.

References: http://repo.iain-tulungagung.ac.id/8580/5/BAB%20II.pdf

Self Reward diberikan ketika kita telah berhasil melakukan sesuatu, maka dari itu kita memberikan penghargaan pada diri kita sendiri. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menerapkan self reward bagi dirinya masing-masing. Perlu diingat bahwa self reward haruslah sesuatu yang bisa menghasilkan dampak positif. Buatlah ukuran anda sendiri terkait kapan dan self rewards yang seperti apa yang patut diterapkan. Buat batasan yang tegas terkait bentuk self rewards anda sehingga anda bisa mengontrol diri sendiri jika self reward yang anda terapkan mungkin telah melebihi batas. Mintalah orang-orang terdekat anda seperti keluarga atau teman yang anda percaya untuk membantu anda mengingatkan ketika anda butuh self reward ataupun ketika self rewards anda terasa sudah cukup.

Ada satu kebiasaan yang sering muncul dalam kehidupan modern: setelah bekerja keras, setelah menyelesaikan tugas besar, atau setelah melewati hari yang sangat melelahkan, seseorang berkata pada dirinya sendiri, “Aku pantas mendapat hadiah.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada konsep psikologis yang cukup dalam: self reward.

Istilah ini sering dipahami secara sangat dangkal. Banyak orang menganggap self reward hanya berarti membeli sesuatu setelah bekerja keras—makan di restoran mahal, membeli barang yang diinginkan, atau mengambil liburan singkat.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, self reward sebenarnya berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih penting: cara seseorang menghargai dirinya sendiri setelah melewati proses yang tidak mudah.

Dan ternyata, tidak semua orang tahu bagaimana melakukannya dengan tepat.


Mengapa Self Reward Penting Secara Psikologis?

Dalam teori perilaku yang dikembangkan oleh B. F. Skinner, manusia cenderung mengulangi perilaku yang diikuti oleh penguatan atau reinforcement (Skinner, 1953). Ketika seseorang memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri setelah mencapai sesuatu, otak belajar bahwa usaha tersebut memiliki makna.

Secara biologis, pengalaman ini juga berkaitan dengan sistem dopamin di otak. Dopamin sering disebut sebagai reward neurotransmitter—ia muncul ketika seseorang merasa berhasil atau mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Namun menariknya, penelitian neurosains menunjukkan bahwa dopamin tidak hanya muncul ketika seseorang menerima hadiah. Ia juga muncul ketika seseorang merasa usahanya diakui dan dihargai (Schultz, 2015).

Di sinilah letak pentingnya self reward.

Banyak orang hidup dalam pola kerja yang sangat keras, tetapi hampir tidak pernah berhenti untuk mengakui bahwa mereka sudah berusaha. Mereka terus bergerak dari satu target ke target berikutnya tanpa memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk merasakan pencapaian.

Akibatnya, muncul perasaan yang aneh: bekerja terus-menerus, tetapi tetap merasa kosong.


Mengapa Banyak Orang Sulit Memberi Self Reward?

Ada fenomena psikologis yang cukup menarik: sebagian orang justru merasa bersalah ketika memberi penghargaan pada dirinya sendiri.

Mereka merasa belum cukup berhasil.
Belum cukup bekerja keras.
Belum pantas merayakan sesuatu.

Perasaan ini sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai inner critic—suara internal yang terus menuntut kesempurnaan.

Kristin Neff dalam penelitian tentang self-compassion menjelaskan bahwa banyak orang memperlakukan dirinya sendiri jauh lebih keras dibandingkan cara mereka memperlakukan orang lain (Neff, 2003).

Bayangkan seseorang yang bekerja tanpa henti selama berbulan-bulan. Ketika akhirnya menyelesaikan sesuatu yang besar, ia hanya berkata pada dirinya sendiri:

“Ya sudah, memang itu tugasmu.”

Tidak ada pengakuan.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada jeda.

Self reward sebenarnya adalah cara sederhana untuk mengatakan kepada diri sendiri: usaha ini berarti.


Self Reward Bukan Sekadar Hadiah Materi

Kesalahan umum dalam memahami self reward adalah mengaitkannya hanya dengan hal-hal material.

Padahal, penghargaan yang paling bermakna sering kali tidak berhubungan dengan barang.

Ada seseorang yang setelah melewati masa kerja yang sangat berat memutuskan untuk berjalan sendirian di taman selama satu jam tanpa membawa ponsel. Tidak ada musik, tidak ada distraksi.

Hanya berjalan.

Ketika ditanya mengapa ia melakukan itu, jawabannya sederhana:
“Aku hanya ingin merasakan bahwa aku sudah melewati sesuatu yang sulit.”

Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa self reward tidak selalu harus spektakuler.

Sering kali, self reward adalah momen kecil ketika seseorang berhenti sejenak dan memberi ruang bagi dirinya untuk bernapas.


Self Reward yang Tepat Membantu Menjaga Motivasi

Dalam teori motivasi modern, Edward Deci dan Richard Ryan menjelaskan bahwa motivasi manusia tidak hanya bergantung pada hadiah eksternal. Justru motivasi yang paling tahan lama berasal dari kepuasan internal—perasaan bahwa apa yang dilakukan memiliki makna (Deci & Ryan, 2000).

Self reward yang tepat dapat memperkuat motivasi ini.

Namun jika dilakukan secara keliru, self reward justru bisa menjadi jebakan.

Misalnya, seseorang selalu menghadiahi dirinya dengan sesuatu yang mahal setiap kali menyelesaikan tugas kecil. Lama-lama penghargaan tersebut kehilangan maknanya. Ia berubah menjadi kebiasaan konsumtif, bukan bentuk penghargaan terhadap proses.

Di sisi lain, ada orang yang hampir tidak pernah memberi penghargaan pada dirinya sendiri. Mereka terus bekerja, terus berusaha, tetapi jarang berhenti untuk merasakan kepuasan dari apa yang sudah dicapai.

Kedua ekstrem ini sama-sama tidak sehat.


Menghubungkan Self Reward Dengan Proses, Bukan Hanya Hasil

Salah satu cara paling sehat dalam menerapkan self reward adalah mengaitkannya dengan proses, bukan hanya hasil akhir.

Dalam psikologi pembelajaran, Carol Dweck menjelaskan pentingnya growth mindset—cara berpikir yang menghargai usaha dan proses belajar, bukan hanya keberhasilan akhir (Dweck, 2006).

Jika self reward hanya diberikan ketika seseorang mencapai hasil besar, maka sebagian besar perjalanan hidup akan terasa seperti perjuangan tanpa jeda.

Sebaliknya, ketika seseorang mulai menghargai proses—menyelesaikan langkah kecil, bertahan dalam masa sulit, atau mencoba sesuatu yang baru—self reward menjadi pengingat bahwa setiap langkah memiliki nilai.

Kadang kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah keberhasilan spektakuler, tetapi kemampuan untuk tetap berjalan ketika semuanya terasa berat.


Self Reward Sebagai Bentuk Self-Respect

Ada satu dimensi lain dari self reward yang jarang dibicarakan: ia berkaitan dengan rasa hormat terhadap diri sendiri.

Banyak orang belajar untuk menghargai orang lain—memberi ucapan selamat, memberi hadiah, atau merayakan pencapaian teman.

Namun mereka jarang melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Seolah-olah penghargaan hanya pantas diberikan kepada orang lain.

Padahal hubungan yang paling panjang dalam hidup seseorang adalah hubungan dengan dirinya sendiri.

Jika seseorang terus mengabaikan usahanya sendiri, perlahan muncul perasaan bahwa apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup.

Self reward yang sehat adalah cara untuk menjaga keseimbangan emosional itu.


Ketika Self Reward Menjadi Momen Refleksi

Self reward tidak selalu harus berupa aktivitas menyenangkan.

Kadang ia juga bisa menjadi momen refleksi.

Ada seseorang yang setelah menyelesaikan masa studi yang panjang memilih untuk menghabiskan satu malam sendirian menulis tentang perjalanan yang sudah ia lalui. Ia menuliskan ketakutan, kegagalan, dan hal-hal kecil yang dulu terasa berat.

Ketika selesai menulis, ia mengatakan sesuatu yang sederhana:

“Aku tidak sadar ternyata aku sudah berjalan sejauh ini.”

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa self reward tidak selalu tentang kesenangan.

Kadang ia adalah pengakuan diam-diam bahwa seseorang telah bertahan lebih lama daripada yang ia kira mampu.


Sebuah Renungan

Dalam kehidupan yang penuh target, deadline, dan tuntutan, manusia sering bergerak seperti mesin.

Dari satu tugas ke tugas berikutnya.
Dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya.

Namun ada sesuatu yang sering terlupakan di tengah semua itu.

Bahwa di balik semua usaha itu ada seseorang yang terus mencoba, terus belajar, dan terus bertahan.

Self reward bukan tentang memanjakan diri.

Ia adalah cara sederhana untuk berhenti sejenak dan melihat perjalanan yang sudah dilalui.

Karena dalam hidup, sering kali kita terlalu sibuk mengejar garis akhir—
hingga lupa bahwa perjalanan yang kita tempuh untuk sampai ke sana
sebenarnya juga layak untuk dihargai.


Referensi

Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Macmillan.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry.

Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.

Schultz, W. (2015). Neuronal Reward and Decision Signals: From Theories to Data. Physiological Reviews.

Ada satu percakapan yang selalu teringat ketika membicarakan tentang self reward.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya sangat disiplin. Jadwalnya penuh dengan target, daftar pekerjaan, dan standar yang ia tetapkan sendiri. Dari luar, ia tampak seperti seseorang yang produktif dan sukses. Tetapi suatu hari ia berkata dengan nada yang tenang namun jujur:

“Lucunya, setiap kali aku mencapai sesuatu, rasanya tidak pernah benar-benar terasa.”

Ia menjelaskan bahwa setiap kali berhasil menyelesaikan sesuatu—proyek besar, pekerjaan penting, atau bahkan target pribadi—ia selalu langsung beralih ke target berikutnya. Tidak ada jeda. Tidak ada ruang untuk menikmati pencapaian itu.

Percakapan itu menggambarkan sesuatu yang sering terjadi pada banyak orang modern. Kita diajarkan untuk bekerja keras, mengejar tujuan, dan terus bergerak maju. Namun jarang ada yang mengajarkan bagaimana cara berhenti sejenak dan memberi penghargaan pada diri sendiri dengan cara yang sehat.

Di sinilah konsep self reward menjadi penting.

Namun menariknya, self reward bukan sekadar memanjakan diri. Dari sudut pandang psikologi dan ilmu tentang otak, self reward memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem motivasi manusia.

Dan jika diterapkan dengan cara yang tepat, ia bisa menjadi salah satu mekanisme paling kuat untuk menjaga kesehatan mental.


Otak Manusia dan Sistem Penghargaan

Di dalam otak manusia terdapat sistem yang disebut reward circuitry. Sistem ini melibatkan beberapa struktur penting seperti ventral tegmental area (VTA), nucleus accumbens, dan korteks prefrontal.

Ketika seseorang melakukan sesuatu yang dianggap bermakna atau berhasil mencapai tujuan, otak akan melepaskan neurotransmiter yang disebut dopamin.

Dopamin sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan”, tetapi sebenarnya perannya lebih kompleks dari itu. Dalam buku The Molecule of More karya Daniel Lieberman, dijelaskan bahwa dopamin tidak hanya membuat seseorang merasa senang. Ia juga berperan besar dalam motivasi, harapan, dan dorongan untuk terus melakukan sesuatu yang bermakna.

Ketika seseorang memberi penghargaan pada dirinya setelah mencapai sesuatu, otak belajar bahwa usaha tersebut memiliki makna.

Self reward pada dasarnya adalah cara manusia berkomunikasi dengan sistem motivasi dalam otaknya sendiri.

Namun ada satu hal yang sering disalahpahami.

Banyak orang mengira self reward berarti memanjakan diri tanpa batas. Padahal dalam kenyataannya, reward yang tidak tepat justru bisa merusak sistem motivasi itu sendiri.


Ketika Self Reward Justru Menjadi Pelarian

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang memiliki kebiasaan menarik. Setiap kali ia merasa lelah atau tertekan oleh pekerjaan, ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia “berhak” mendapatkan reward.

Reward itu sering berupa belanja impulsif, makan berlebihan, atau menunda pekerjaan dengan menonton berjam-jam.

Awalnya terasa menyenangkan.

Namun perlahan kebiasaan itu justru menciptakan masalah baru: rasa bersalah, tekanan finansial, dan pekerjaan yang semakin menumpuk.

Fenomena ini sebenarnya cukup umum.

Dalam penelitian yang dibahas oleh Roy Baumeister dalam Willpower: Rediscovering the Greatest Human Strength, manusia sering menggunakan reward sebagai mekanisme pelarian dari stres, bukan sebagai penghargaan atas usaha.

Perbedaan ini sangat penting.

Self reward yang sehat memperkuat usaha.
Self reward yang tidak sehat justru menghindari usaha.

Ketika reward digunakan sebagai pelarian dari tekanan, otak mulai mengasosiasikan kesenangan dengan penghindaran, bukan dengan pencapaian.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak motivasi intrinsik seseorang.


Mengapa Self Reward Tetap Penting

Meskipun begitu, bukan berarti self reward tidak diperlukan.

Justru sebaliknya.

Dalam banyak penelitian psikologi perilaku yang dipelopori oleh B.F. Skinner, reinforcement atau penguatan terbukti menjadi mekanisme penting dalam membentuk kebiasaan.

Ketika suatu perilaku diikuti oleh penghargaan, kemungkinan besar perilaku itu akan diulang kembali.

Namun manusia bukan sekadar makhluk yang merespons hadiah secara mekanis. Kita memiliki dimensi emosional dan makna.

Karena itu, self reward yang paling efektif bukan hanya yang menyenangkan, tetapi yang terasa bermakna secara emosional.

Misalnya, seseorang yang bekerja keras sepanjang minggu mungkin merasa lebih dipulihkan oleh berjalan santai di alam atau menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai dibandingkan dengan membeli sesuatu yang mahal.

Otak manusia ternyata lebih responsif terhadap pengalaman yang menciptakan koneksi emosional dibandingkan dengan kepuasan material semata.

Penelitian dalam bidang neuroscience yang dirangkum oleh Richard Davidson dalam The Emotional Life of Your Brain menunjukkan bahwa pengalaman yang melibatkan rasa keterhubungan sosial dapat mengaktifkan area otak yang terkait dengan kesejahteraan psikologis secara lebih stabil dibandingkan stimulasi kesenangan jangka pendek.


Self Reward dan Hubungannya dengan Kelelahan Mental

Dalam kehidupan modern, banyak orang mengalami apa yang disebut burnout.

Burnout bukan sekadar lelah. Ia adalah kondisi ketika seseorang merasa terkuras secara emosional, kehilangan makna dalam pekerjaan, dan mulai merasa terputus dari dirinya sendiri.

Dalam buku Burnout: The Secret to Unlocking the Stress Cycle, Emily dan Amelia Nagoski menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki siklus stres yang perlu diselesaikan. Jika seseorang terus-menerus bekerja tanpa memberi ruang untuk pemulihan, sistem saraf akan tetap berada dalam kondisi siaga.

Di sinilah self reward berperan.

Self reward yang tepat dapat menjadi cara tubuh dan pikiran menutup siklus stres.

Bukan sekadar hadiah, tetapi sinyal bagi sistem saraf bahwa usaha telah selesai dan tubuh boleh kembali ke keadaan tenang.

Tanpa momen seperti ini, seseorang bisa terjebak dalam kondisi stres kronis.


Bentuk Self Reward yang Lebih Dalam

Ada kisah yang menarik tentang seseorang yang dulunya sangat keras pada dirinya sendiri.

Ia terbiasa menilai dirinya hanya berdasarkan produktivitas. Jika ia tidak mencapai target tertentu, ia merasa gagal.

Suatu hari ia mencoba sesuatu yang sederhana.

Setelah menyelesaikan pekerjaan penting, ia memutuskan untuk berjalan sendirian di taman tanpa membawa ponsel. Ia hanya duduk di bangku taman dan memperhatikan orang-orang yang lewat.

Hal itu tampak sangat kecil.

Namun ia mengatakan sesuatu yang menarik:

“Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti memberi izin pada diriku sendiri untuk bernapas.”

Kalimat itu menggambarkan esensi dari self reward yang sehat.

Self reward bukan tentang kemewahan, tetapi tentang pengakuan bahwa usaha kita layak dihargai.

Terkadang penghargaan itu bukan dalam bentuk barang atau hiburan besar, tetapi dalam bentuk waktu, keheningan, atau pengalaman yang membuat seseorang kembali terhubung dengan dirinya sendiri.


Self Reward dan Rasa Cukup

Ada satu aspek lain yang sering luput dari pembicaraan tentang self reward: hubungan antara penghargaan diri dan rasa cukup.

Banyak orang mengejar reward eksternal karena merasa bahwa pencapaian mereka tidak pernah cukup.

Ketika seseorang terus menerus menunda penghargaan bagi dirinya sendiri sampai mencapai standar tertentu, hidup bisa berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Dalam buku Self-Compassion karya Kristin Neff, dijelaskan bahwa kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.

Self reward yang sehat sebenarnya berakar pada sikap ini.

Ia bukan sekadar hadiah setelah kerja keras, tetapi pengakuan bahwa diri kita layak dihargai bahkan ketika kita belum sempurna.


Refleksi

Pada akhirnya, cara seseorang memberi penghargaan pada dirinya sendiri sering kali mencerminkan bagaimana ia memandang dirinya.

Ada orang yang hanya merasa pantas mendapatkan kebahagiaan setelah bekerja tanpa henti.
Ada yang menggunakan reward sebagai cara untuk melarikan diri dari tekanan.
Dan ada pula yang perlahan belajar bahwa menghargai diri bukan berarti memanjakan diri, tetapi mengakui bahwa setiap usaha memiliki nilai.

Mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar bagaimana menerapkan self reward.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam:

Ketika seseorang berhenti sejenak setelah perjuangan panjang, duduk dalam keheningan, dan merasakan napasnya sendiri—apakah ia benar-benar merasa bahwa hidupnya layak dihargai?

Karena pada akhirnya, bentuk self reward yang paling jujur mungkin bukan hadiah yang kita berikan pada diri sendiri.

Melainkan momen ketika kita akhirnya mengizinkan diri kita untuk merasa cukup.