Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana Cara Menemukan Tujuan Hidup?

HA Hanif Mursyida 5 years ago

Tujuan hidup adalah hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Jika tidak memiliki tujuan hidup, maka kita tidak akan terdorong untuk melakukan sesuatu dan merasa hidup itu hampa. Setiap orang mempunyai waktunya masing-masing untuk bisa menemukan tujuan hidup. Namun, itu bukan berarti ketika kita belum menemukan tujuan hidup kita diam saja tanpa melakukan apapun. Kita perlu melakukan usaha untuk menemukan tujuan hidup, apakah kamu punya tips untuk menemukan tujuan hidup?

31

Pertanyaan "Apa tujuan hidup saya?" merupakan pertanyaan yang sudah sangat tua dan masih menarik untuk dibahas. Sejak abad keempat sebelum masehi, Aristoteles merenungkan tujuan hidup dan mengembangkan teorinya tentang teleologi. Teleologi merupakan gagasan bahwa segala sesuatu dalam hidup memiliki tujuan. Pertanyaan apa tujuan hidup saya akan memunculkan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan baru dimana salah satunya adalah bagaimana cara mencari tujuan hidup saya?

Beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencari tujuan hidup kita antara lain,

1. Membaca Kitab Suci

Semua orang beragama pasti meyakini bahwa kitab suci merupakan panduan hidup yang diberikan oleh Tuhan bagi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kehidupan setelah mati.  Oleh karena itu, cara pertama yang bisa kita lakukan adalah banyak membaca kitab suci dan merenungkan apa yang ada didalamnya. Peneliti Leslie Francis [1] melakukan penelitian dengan melibatkan 26.000 remaja di Inggris dan Wales. Dia menemukan bahwa remaja yang lebih banyak membaca Alkitab cenderung memiliki tujuan hidup yang lebih kuat. So, ketika kamu mulai mempertanyakan apa tujuan hidupmu, cobalah untuk membuka kembali kitab sucimu dan renungkan apa yang ada didalamnya.

2. Temukan Jawabannya Dalam Hati Nuranimu

Pertanyaan “Apa tujuan hidup saya?” dan “Apa yang membuat saya bisa bahagia?” sebenarnya mempunyai makna yang sama, dan tentu saja memiliki jawaban yang sama. So, tanyakan pada dirimu, apa yang membuatmu bahagia. Dengan cara seperti itu kamu bisa menemukan tujuan hidupmu. Yang perlu diingat adalah kebahagiaan dan kesenangan mempunyai arti yang berbeda. Keinginan biasanya bersifat temporer, sedangkan kebahagiaan bersifat abadi. Kebahagiaan mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan dengan keinginan. Kebahagiaan terletak didalam hati nuranimu sedangkan keinginan lebih condong kepada emosimu. Seperti kata orang bijak, "ketika kamu mampu mengendalikan emosimu, maka kamu mampu mengendalikan hidupmu. 

3. Berikan Waktu Untuk Memikirkannya dan Jadilah Orang Yang Fleksibel

Pertanyaan “Apa tujuan hidupku?” merupakan pertanyaan mendalam yang membutuhkan waktu dan refleksi diri untuk menjawabnya. Intropeksi diri merupakan cara terbaik dalam melakukan refleksi diri. Dengan melakukan intropeksi diri, kamu dapat lebih mengenal dirimu sendiri, dan secara langsung akan mengarahkanmu pada tujuan hidupmu. Dengan melakukan intropeksi diri, kamu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang ada pada dirimu.

Disisi lain, seiring dengan bertambahnya kedewasaan manusia, maka semakin luas pemahaman manusia akan dirinya. Kedewasaan manusia sangat dipengaruhi oleh cara berpikir dan pengalaman yang terjadi didalam kehidupannya.  Bisa jadi terjadi perubahan-perubahan dalam tujuan hidupmu. Selain itu, tujuan hidup manusia juga cenderung untuk tumbuh berkembang. Menemukan tujuan hidup adalah perjalanan seumur hidup. Menjadi fleksibel memungkinkan kamu untuk tumbuh dan berkembang.  So, melakukan intropeksi diri, di setiap fase kehidupan, akan membantu dirimu untuk melihat tujuan hidupmu.

4. Dapatkan Feedback Dari Orang Lain

Walaupun yang mengenal dirimu adalah dirimu sendiri, bisa jadi orang-orang terdekatmu dapat melihat dirimu dari sisi yang berbeda. Tidak salahnya untuk mendapatkan umpan balik dari orang-orang terdekatmu terkait siapa dirimu. Selain mendapatkan umpan balik, kamu juga dapat bertanya terkait dengan pengalaman-pengalaman mereka dalam kehidupan, yang mana pengalaman-pengalaman mereka dapat referensi dalam melakukan refleksi diri. Cara terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berdiskusi dengan orang tuamu tentang filosofi kehidupan menurut mereka.

Referensi :

Leslie J. Francis, 2010, The relationship between bible reading and purpose in life among 13–15-year-olds, Mental Health, Religion & Culture, 3(1), pp 27-36.