Meminta maaf sudah menunjukan bahwa kita mengakui sebuah kesalahan dan ingin memperbaiki hubungan agar menjadi lebih baik lagi. Namun tentu saja tidak sekedar "aku minta maaf", akan tetapi pengucapannya yang tulus, meminta maaf dengan serius, serta kesalahan yang menimbulkan keregangan atau ketegangan itu tidak akan diulangi (dan benar-benar ditunjukkan bahwa hal tersebut tidak akan terulang). Jangan juga menyertai alasan ketika kamu meminta maaf, contoh "maaf aku terlambat ya tadi macet" atau lainnya, karena bisa jadi hal itu tidak menunjukan kamu menyesal dan malah orang berkesan kamu hanya beralasan. Kamu bisa lakukan maaf dan terimakasih sekaligus untuk menunjukan bahwa kamu menyesal dan menghargai orang lain, contoh "maaf ya aku terlambat, terimakasih sudah mau menunggu". Selain itu, kita tidak boleh memaksa orang menerima maaf kita, jika memang orang lain masih merasa tersinggung, masih merasa tidak enak hati, atau perlu menenangkan diri maka berilah ruang dan waktu untuk dia menenangkan diri dan apakah maaf kita patut diterima. Meminta maaf adalah sebuah kewajiban ketika kita melakukan kesalahan, namun menerima maaf adalah sebuah pilihan dari orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, hal-hal yang sudah disebutkan tadi sebaiknya dilakukan dengan baik dan benar.