Pada suatu malam yang tenang, ketika lampu-lampu kota mulai redup dan suara manusia meredup dalam kesibukan yang telah selesai, pertanyaan ini mungkin menghampiri kita dengan lirih: "Apakah kehidupan akan menjadi lebih baik? Atau apakah ini sudah yang terbaik yang bisa didapatkan?" Ini bukan sekadar keluhan atau bentuk pesimisme; seringkali pertanyaan ini lahir dari hati yang jujur, dari jiwa yang lelah, dari akal yang mencoba memahami arah hidup.
Setiap orang, entah pada usia berapa atau dalam keadaan apa, pernah berdiri di persimpangan ini. Bukan hanya karena mereka kehilangan arah, tetapi karena mereka mulai mempertanyakan nilai dari segala perjuangan yang telah mereka jalani.
Mencari Makna di Balik Pertanyaan
Pertanyaan tentang "apakah hidup akan membaik" menyiratkan dua hal penting. Pertama, bahwa saat ini belum cukup baik. Kedua, bahwa ada harapan atau setidaknya keinginan agar keadaan bisa lebih baik. Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menulis dalam bukunya "Man's Search for Meaning" bahwa manusia tidak hanya terdorong oleh pencarian kesenangan (seperti dikatakan Freud) atau kekuasaan (seperti pandangan Adler), tetapi oleh pencarian makna.
Menurut Frankl, saat seseorang tidak bisa menemukan makna dalam penderitaan, maka penderitaan itu akan terasa dua kali lebih berat. Namun, ketika kita percaya bahwa setiap rasa sakit atau kekacauan memiliki arti, maka bahkan dalam kondisi tergelap sekalipun, kita masih bisa menemukan harapan.
Pertanyaannya kini bukan hanya "apakah hidup akan lebih baik?", melainkan juga "apa makna dari hidup ini saat tidak baik-baik saja?"
"Yang Terbaik" Itu Relatif: Psikologi Adaptasi Hedonik
Mungkin pernah terpikir, kenapa setelah mendapat pekerjaan yang diimpikan, kita masih merasa kosong? Atau mengapa setelah hubungan asmara yang lama ditunggu-tunggu akhirnya terjadi, tetap saja muncul rasa cemas dan tidak puas? Ini bukan karena kita tidak tahu bersyukur, tapi karena otak manusia secara alamiah memiliki kecenderungan kembali ke titik netral emosi setelah mengalami kebahagiaan atau kesedihan yang ekstrem. Inilah yang disebut hedonic adaptation.
Menurut Sonja Lyubomirsky, profesor psikologi di University of California, dalam bukunya The How of Happiness, sekitar 50% dari kebahagiaan kita ditentukan oleh genetika, 10% oleh keadaan eksternal (pekerjaan, uang, pasangan), dan 40% oleh aktivitas yang disengaja—hal-hal yang kita pilih dan lakukan setiap hari.
Dengan kata lain, bahkan saat kondisi eksternal membaik, perasaan "ini belum cukup" bisa tetap datang. Karena itu, merasa bahwa “hidup tidak berubah” bukan berarti memang tidak ada perbaikan, tetapi karena otak kita telah menyesuaikan diri dengan pencapaian tersebut. Kita kembali ke titik awal pencarian makna.
Ketika "Lebih Baik" Menjadi Racun: Perangkap Komparasi Sosial
Di era media sosial, membandingkan hidup kita dengan orang lain menjadi jauh lebih mudah—dan lebih berbahaya. Kita melihat teman lama yang sudah liburan ke Eropa, rekan kerja yang sudah punya rumah, atau bahkan orang asing yang tampak selalu bahagia.
Leon Festinger, dalam teori Social Comparison-nya, mengatakan bahwa manusia cenderung menilai diri sendiri dengan cara membandingkan dengan orang lain. Ini bisa memotivasi, tapi juga bisa sangat melumpuhkan. Terutama ketika perbandingan itu tidak adil—kita membandingkan sisi paling rapuh dalam hidup kita dengan sisi paling bersinar dari kehidupan orang lain.
Kondisi ini membuat pertanyaan "apakah hidupku bisa lebih baik?" berubah menjadi "kenapa hidupku tidak sebaik mereka?" Padahal, kehidupan orang lain yang kita lihat hanya secuil dari keseluruhan narasi mereka.
Ketahanan Psikologis: Kunci Memandang Masa Depan
Apakah kehidupan akan menjadi lebih baik? Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari keberuntungan, nasib, atau perubahan eksternal. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah resilience, atau daya lenting psikologis.
George Bonanno dari Columbia University menyebutkan bahwa resilience bukan kemampuan untuk tidak terluka, tetapi kemampuan untuk tetap berjalan meski sedang terluka. Orang yang resilient mampu melihat masa depan bukan dengan kacamata kebahagiaan semu, tetapi dengan kesadaran bahwa badai pasti berlalu, dan bahwa setiap badai membawa peluang untuk tumbuh.
Dan menariknya, daya lenting ini bukan sesuatu yang bawaan sejak lahir. Ia bisa dibentuk, dilatih, dan dikembangkan melalui pengalaman hidup, refleksi diri, dukungan sosial, serta spiritualitas.
Apa Arti "Menjadi Lebih Baik"?
Kita juga perlu jujur pada satu hal: definisi “lebih baik” sangat kabur. Apakah itu berarti lebih kaya? Lebih sukses? Lebih terkenal? Atau lebih tenang, lebih damai, lebih menerima?
Martin Seligman, pelopor positive psychology, dalam bukunya Flourish, menjelaskan bahwa hidup yang baik bukan sekadar hidup yang menyenangkan, tetapi hidup yang penuh makna, keterlibatan, dan pencapaian. Kadang hidup menjadi lebih baik bukan karena kita mendapat lebih banyak, tetapi karena kita merasa lebih terhubung dengan apa yang kita lakukan. Karena kita bisa berkata, “apa yang kulakukan ini punya arti.”
Jadi, pertanyaan “inikah yang terbaik yang bisa didapatkan?” tidak perlu dijawab dengan rasa frustrasi. Mungkin yang sekarang memang belum sempurna, tetapi bisa jadi ini adalah landasan untuk sesuatu yang lebih baik secara makna, bukan hanya secara materi.
Menghadapi Rasa Mandek: Ketika Hidup Terasa Stagnan
Ada saatnya hidup terasa tidak bergerak. Kita bangun, bekerja, pulang, tidur, dan mengulang itu setiap hari. Tidak ada hal besar yang terjadi. Tidak ada keajaiban. Dan kita mulai bertanya, “kalau begini terus, untuk apa?”
Ini adalah gejala umum dari existential boredom—kebosanan eksistensial yang membuat seseorang merasa kosong dan tak bermakna. Rollo May, seorang eksistensialis dalam psikologi, menyebutkan bahwa kebosanan ini sering muncul ketika seseorang terlalu lama mengabaikan keinginan hatinya yang paling dalam.
Saat seperti ini, yang kita butuhkan bukan perubahan radikal, tapi keberanian untuk menyentuh kembali hal-hal kecil yang bermakna. Membaca ulang buku yang pernah kita cintai. Menulis surat untuk diri sendiri. Mengajak bicara langit. Menangis kalau memang perlu. Kadang dari hal sederhana itu, hidup perlahan menyampaikan jawabannya.
Harapan Bukan Janji, Tapi Pilihan
Apakah hidup akan menjadi lebih baik? Jawabannya mungkin: ya. Tapi bukan karena takdir menggaransi itu. Hidup menjadi lebih baik karena kita memilih untuk menjadikannya lebih baik—dengan cara memaknai ulang setiap pengalaman, merawat harapan, dan terus bertumbuh bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Hope, dalam pandangan psikolog Charles Snyder, bukan sekadar rasa optimis. Hope adalah gabungan dari dua hal: agency thinking (keyakinan bahwa aku bisa melakukan sesuatu) dan pathway thinking (keyakinan bahwa ada jalan untuk mencapai tujuan itu). Jadi, harapan adalah tindakan. Bukan menunggu, tetapi melangkah—sekecil apa pun langkahnya.
Mungkin Ini Bukan Yang Terbaik, Tapi Ini Milikmu
Akhirnya, boleh jadi hidup kita sekarang belum ideal. Boleh jadi masih banyak kekacauan, ketidakpastian, dan kesedihan yang belum sembuh. Tapi hidup ini tetap berharga, justru karena semua ketidaksempurnaannya. Karena di dalam luka ada keberanian. Di dalam tanya ada pencarian. Dan di dalam pencarian, kita tumbuh.
Mungkin ini belum yang terbaik. Tapi ini adalah hidupmu. Satu-satunya hidup yang kamu miliki. Dan dengan semua yang kamu pelajari, semua yang kamu lalui, kamu punya kekuatan untuk menjadikannya berarti.
Kehidupan akan menjadi lebih baik? Mungkin. Tapi yang pasti, kamu bisa menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan itu. Dan di sanalah, keajaiban sebenarnya tinggal.
Jika kamu sedang berada di titik kelelahan, percayalah: kamu tidak sendiri. Bahkan dalam pertanyaan yang paling sunyi sekalipun, selalu ada kemungkinan untuk berubah. Bukan karena hidup akan tiba-tiba menjadi indah, tapi karena kamu perlahan bisa melihat keindahan dalam hidup, meski tidak sempurna.
Dan itu—itu lebih dari cukup.