Suatu hari saya berbincang dengan seseorang yang, jika dilihat dari luar, tampak telah mencapai banyak hal.
Kariernya stabil.
Penghasilannya cukup.
Lingkungannya pun tidak bermasalah.
Namun ada satu kalimat yang ia ucapkan dengan nada yang sulit dijelaskan—bukan sedih, bukan marah, tapi seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan:
“Aku sudah berusaha sejauh ini… tapi kenapa rasanya tetap kosong?”
Kalimat itu mengandung satu pertanyaan yang sering tidak kita sadari:
apakah kebahagiaan benar-benar bergantung pada seberapa besar usaha yang kita lakukan?
Atau justru ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar “berusaha lebih keras”?
Usaha dan Kebahagiaan: Hubungan yang Tidak Sesederhana Itu
Secara intuitif, kita sering percaya bahwa semakin besar usaha yang kita lakukan, semakin besar pula kebahagiaan yang akan kita dapatkan.
Logikanya sederhana:
- bekerja keras → berhasil
- berhasil → bahagia
Namun dalam kenyataannya, hubungan ini tidak selalu linear.
Saya pernah mengenal dua orang dengan tingkat usaha yang sama kerasnya.
Yang satu merasa puas, meskipun hasilnya belum sempurna.
Yang lain merasa hampa, meskipun hasilnya jauh lebih tinggi.
Perbedaan ini tidak terletak pada usaha mereka—tetapi pada bagaimana otak dan sistem psikologis mereka memproses hasil tersebut.
Dalam penelitian tentang kesejahteraan subjektif, kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian, tetapi juga oleh faktor seperti:
- interpretasi kognitif
- regulasi emosi
- pengalaman masa lalu
- dan kondisi neurobiologis (Diener et al., 1999)
Artinya, usaha memang penting—tetapi bukan satu-satunya penentu kebahagiaan.
Otak Tidak Dirancang untuk “Stabil Bahagia”
Ada satu hal yang jarang disadari:
Otak manusia tidak dirancang untuk membuat kita terus bahagia.
Ia dirancang untuk membuat kita bertahan hidup.
Sistem dopamin, misalnya, sering disalahartikan sebagai “hormon kebahagiaan.”
Padahal, dopamin lebih berkaitan dengan motivasi dan pencarian, bukan kepuasan jangka panjang (Berridge & Robinson, 1998).
Itulah mengapa:
- ketika kita mengejar sesuatu, kita merasa bersemangat
- ketika kita mendapatkannya, rasa itu cepat memudar
Fenomena ini dikenal sebagai hedonic adaptation.
Saya pernah mengenal seseorang yang bekerja sangat keras untuk mencapai posisi tertentu.
Dan ketika ia akhirnya mendapatkannya, ia merasa bahagia—tetapi hanya sebentar.
Beberapa bulan kemudian, ia kembali merasa “biasa saja.”
Lalu ia mulai mengejar target berikutnya.
Dan siklus ini terus berulang.
Usaha bisa membawa kita ke pencapaian, tetapi tidak selalu bisa menjaga kebahagiaan tetap tinggal.
Ketika Usaha Justru Menjadi Sumber Tekanan
Ada fase dalam hidup di mana usaha bukan lagi terasa seperti pilihan, tetapi seperti kewajiban.
Saya pernah mengenal seseorang yang sangat disiplin.
Ia memiliki target, rencana, dan standar yang tinggi.
Namun perlahan, usahanya berubah menjadi tekanan.
Ia merasa tidak boleh berhenti.
Tidak boleh gagal.
Tidak boleh merasa lelah.
Dan tanpa disadari, ia mulai kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Dalam konteks psikologis, ini sering berkaitan dengan maladaptive perfectionism—ketika standar yang tinggi tidak lagi memotivasi, tetapi justru melemahkan (Hewitt & Flett, 1991).
Ketika usaha tidak lagi selaras dengan kebutuhan emosional, ia bisa berubah dari alat menjadi beban.
Peran Sistem Saraf dalam Merasakan Kebahagiaan
Kebahagiaan bukan hanya konsep abstrak.
Ia juga merupakan pengalaman biologis.
Sistem saraf otonom memainkan peran besar dalam bagaimana seseorang merasakan ketenangan atau ketegangan.
Ketika seseorang terus-menerus berada dalam mode “berjuang” (fight-or-flight), tubuhnya lebih sulit merasakan kebahagiaan yang tenang dan stabil.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya penuh pencapaian.
Namun ia selalu merasa gelisah.
Sulit menikmati momen.
Sulit merasa cukup.
Karena sistem sarafnya terbiasa berada dalam kondisi waspada.
Dalam teori polyvagal (Porges, 2011), kemampuan untuk merasa aman adalah dasar dari pengalaman emosi positif.
Tanpa rasa aman, kebahagiaan sulit benar-benar dirasakan—seberapa besar pun usaha yang dilakukan.
Kebahagiaan dan Makna: Dua Hal yang Sering Tertukar
Banyak orang mengejar kebahagiaan, tetapi tanpa sadar sebenarnya mereka mencari makna.
Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya sederhana.
Tidak banyak pencapaian besar.
Namun ia merasa hidupnya bermakna.
Dan dari situ, muncul rasa tenang yang tidak terlalu bergantung pada kondisi eksternal.
Sebaliknya, saya juga pernah mengenal seseorang yang memiliki banyak pencapaian, tetapi merasa hidupnya kosong.
Dalam psikologi eksistensial, kebahagiaan yang stabil sering kali muncul sebagai “efek samping” dari kehidupan yang bermakna (Frankl, 1946).
Usaha yang diarahkan hanya untuk kebahagiaan sering terasa hampa, tetapi usaha yang memiliki makna bisa menghadirkan kebahagiaan dengan cara yang lebih dalam.
Peran Luka Lama dalam Menentukan Cara Kita Berusaha
Tidak semua usaha lahir dari tempat yang sehat.
Ada usaha yang lahir dari rasa ingin berkembang.
Namun ada juga usaha yang lahir dari rasa takut.
Saya pernah mengenal seseorang yang bekerja sangat keras.
Namun bukan karena ia mencintai pekerjaannya.
Ia takut dianggap gagal.
Takut tidak dihargai.
Takut tidak cukup.
Dan selama rasa takut itu masih menjadi bahan bakarnya, usahanya tidak pernah benar-benar membawa ketenangan.
Dalam banyak kasus, pengalaman masa lalu—terutama yang berkaitan dengan penolakan atau kurangnya validasi—dapat membentuk pola usaha yang berlebihan (Schore, 2003).
Tidak semua usaha membawa kita lebih dekat ke kebahagiaan—tergantung dari mana usaha itu berasal.
Kebahagiaan yang Tidak Bergantung pada Intensitas Usaha
Ada satu pola yang menarik.
Orang yang terus-menerus mengejar kebahagiaan sering justru merasa semakin jauh darinya.
Sementara itu, orang yang mulai memperhatikan hal-hal sederhana justru mulai merasakannya.
Saya pernah mengenal seseorang yang, setelah bertahun-tahun mengejar pencapaian, mulai memperlambat hidupnya.
Ia tidak berhenti berusaha.
Namun ia mulai memberi ruang untuk:
- menikmati hal kecil
- merasakan momen
- tidak selalu terburu-buru
Dan perlahan, ia merasa lebih “hidup.”
Dalam penelitian tentang mindfulness, kemampuan untuk hadir dalam momen saat ini berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis (Kabat-Zinn, 1994).
Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di ujung usaha—kadang ia muncul di sela-sela jeda.
Usaha Tetap Penting, Tetapi Bukan Segalanya
Ini bukan berarti usaha tidak penting.
Tanpa usaha, banyak hal tidak akan terjadi.
Namun ada satu pergeseran perspektif yang sering kali mengubah segalanya:
Dari:
“Seberapa keras aku harus berusaha agar bahagia?”
Menjadi:
“Bagaimana aku bisa menjalani usaha ini tanpa kehilangan diriku sendiri?”
Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita capai.
Tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani prosesnya.
Jika usaha membuat kita semakin jauh dari diri sendiri, maka mungkin yang perlu diubah bukan intensitasnya, tetapi arahnya.
Refleksi Akhir
Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan usaha yang lebih besar.
Ia tidak selalu menunggu di garis akhir.
Kadang, ia hadir—diam-diam—di tengah perjalanan yang tidak terlalu sempurna.
Dan mungkin, di tengah semua pertanyaan tentang usaha dan kebahagiaan, ada satu hal yang perlahan bisa direnungkan:
jika suatu hari semua yang Anda usahakan benar-benar tercapai… apakah Anda yakin akan merasa cukup, atau justru akan kembali mencari sesuatu yang lain untuk dikejar?
Referensi
- Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective Well-Being: Three Decades of Progress.
- Berridge, K. C., & Robinson, T. E. (1998). What is the role of dopamine in reward?
- Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory.
- Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning.
- Hewitt, P. L., & Flett, G. L. (1991). Perfectionism in the Self and Social Contexts.
- Schore, A. N. (2003). Affect Dysregulation and Disorders of the Self.
- Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You Are.
- Walker, M. (2017). Why We Sleep.