Banyak kata maaf yang terucap dari seseorang ketika melakukan kesalahan. Benarkah hanya dengan kata maaf lalu orang yang tersakiti tersebut dapat sembuh dari lukanya?
Maaf adalah kata yang akan muncul dan sering dilontarkan seseorang saat telah menyadari melakukan suatu kesalahan atau kekeliruan. Pada dasarnya meminta maaf sangat efektif dalam mengatasi konflik interpersonal, karena permintaan maaf merupakan sebuah pernyataan tanggung jawab tidak bersyarat atas kesalahan dan sebuah komitmen untuk memperbaikinya (Arif, 2013). Dan memberikan maaf akan memberikan dampak pada kebahagiaan psikologis, berupa ketenangan bagi pelaku pemaaf atau individu yang dimaafkan (Alentina, 2016).
Namun, pada kenyataannya mengapa terkadang permintaan maaf tidak mampu menghilangkan rasa sakit yang dirasakan??
Hal ini terjadi karena dalam proses meminta maaf dan memaafkan yang terjadi diantara dua individu berjalan dipermukaan saja. Kedua belah pihak tidak ada kekuatan besar terhadap perasaan untuk dapat saling memaafkan maupun adanya perasaan superioritas. Proses memaafkan sejatinya memerlukan kerja keras, kemauan kuat dan latihan mental.
Agar permintaan maaf mempunyai efek, maka dalam proses meminta maaf harus mencerminkan perasaan yang sebenarnya. Permintaan maaf yang tepat yaitu mengakui kenyataan atas perbuatan yang salah, menerima tanggung jawab utama, menyatakan penyesalan tulus dan kesedihan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan (Gooder & Yakub, 2000).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa saat proses memaafkan dan meminta maaf berjalan dengan sebagaimana mestinya, yaitu terdapat kesadaran dan pengakuan diantara keduanya serta komitmen tidak mengulangi kesalahan, maka kata "Maaf" akan memberikan perasaan tenang/damai secara psikologis bahkan menghilangkan rasa sakit hati/keinginan untuk membalas dendam.
Dalam meminta maaf ataupun menerima maaf yang bisa disimpulkan menjadi forgiveness merupakan cara individu untuk menyatukan kesalahan daan merubah kesalahan tersebut menjadi netral atau positif yang tadinya negatif. Oleh karena itu, meminta dan menerima maaf menjadi cara untuk mengurangi rasa sakit hati baik bagi korban maupun pelaku yang menyakiti. Dalam proses meminta atau menerima maaf tentu saja tidak mudah dan tidak instan begitu saja, terdapat beberapa fase yaitu :
1. Fase pengungkapan (uncovering phase), yaitu ketika seseorang merasa sakit hati dan dendam.
2. Fase keputusan (decision phase), yaitu orang itu mulai berfikir rasional dan memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Pada fase ini individu belum memberikan maaf sepenuhnya.
3. Fase tindakan (work phase), yaitu adanya tindakan secara aktif memberikan maaf kepada orang yang bersalah.
4. Fase pendalaman (deepening phase), yaitu internalisasi kebermaknaan dari proses memaafkan. Pada fase inilah individu memahami bahwa dengan memaafkan maka dirinya akan memberi manfaat untuk dirinya, orang lain, dan lingkungan.
Namun, jika kamu masih merasa sakit hati atau ada yang mengganjal di hati, bisa saja terdapat apology languagemu yang tidak dipahami oleh pelaku yang menyakiti. Sehingga kata dan perilaku maafnya masih belum bisa kamu terima sepenuhnya. Terdapat 5 apology language yang bisa kamu pelajari untuk dirimu atau orang sekitarmu :
1. Expressing Regret :Mengucap maaf atau mengungkapkan penyesalan.
2. Accepting Responsibilty : Menerima dan mengakui kesalahan tanpa excuse atau pembelaan dan paham bahwa perilaku tersebut menyebabkan orang lain tersakiti.
3. Genuinely Repenting : Menunjukan penyesalan dengan tulus dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.
4. Requesting Forgiveness : Permintaan maaf diucapkan dengan langsung dan nyata. Meminta maaf dengan berserah pada orang lain apakah dia akan menerima maaf atau tidak; tidak memaksa diterima maafnya.
5. Making Restitution : Berusaha menebus kesalahan untuk menunjukan atau sebagai bukti kita meminta maaf dengan tulus.
Menurut saya, hal itu tergantung bagaimana individu yang dimintai maafnya dan bagaimana ketulusan dari orang yang meminta maaf. Dari individu yang dimintai maaf, bagaimana ia memandang sebuah permintaan maaf, apakah itu cukup baginya, apakah ia memiliki keinginan lain dari orang tersebut, ia juga akan menilai seberapa besar sakit hati yang dirasakan sehingga ia akan berpikir apakah maaf itu cukup baginya atau tidak. Dari individu yang meminta maaf, apakah ia benar-benar merasa bersalah, apakah ia meminta maaf hanya untuk mempercepat penyelesaian masalah, atau ada hal lain. Namun, menurut saya meminta maaf itu perlu dihargai, entah seperti apapun niat dari orang yang meminta maaf, karena Tuhan pun Maha Pemaaf. Bila dirasa maaf tidak cukup untuk mengurangi sakit hati, lebih baik ungkapkan apa keinginan yang harus dipenuhi agar masalah benar-benar dapat terselesaikan.