Ketika kita mengetahui bahwa pasangan yang kita cintai melakukan perselingkuhan rasanya dunia sudah runtuh. Apakah hal itu wajar ? Apa yang biasa terjadi pada diri kita, secara psikologis, apabila tau kalau pasangan kita telah selingkuh ?
Perasaan marah, sedih, terluka atau apapun perasaan yang dirasakan oleh seseorang ketika tau pasangannya selingkuh, secara teori psikologi, dapat dijelaskan melalui model “proses berduka” dari Kubler-Ross yang terdiri dari 5 tahapan, yakni:
- Tahap Penolakan. Awal tahap ini diwarnai dengan perasaan tidak percaya. Biasanya kita kan melakukan penolakan terhadap informasi yang ada mengenai perselingkuhan yang dilakukan pasangan kita. Dalam beberapa hari kita akan merasa mati rasa, dimana kondisi tersebut merupakan respon perlindungan diri terhadap rasa sakit yang dirasa berlebihan. Bila tidak berlarut-larut, penolakan ini akan menjadi mekanisme otomatis yang menghindarkan diri dari luka batin yang dalam.
- Tahap Kemarahan. Setelah melewati masa penolakan, kita kemudian mengalami perasaan marah yang dahsyat. Kita biasanya akan memaki-maki pasangan kita atas perbuatannya atau sering menangis atau bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap pasangan kita. Kemarahan seringkali dilampiaskan pula kepada selingkuhan pasangan kita. Di tahap ini, keinginan kita untuk balas dendam kepada pasangan kita sangat besar, yang kemudian muncul dalam bentuk keinginan untuk melakukan perselingkuhan atau membuat pasangan kita menderita.
- Tahap Bargaining. Ketika perasaan marah agak mereda, maka kita kemudian memasuki tahap bargaining. Di tahap ini kita menyadari kondisi hubungan/perkawinan yang ada sedang dalam masa krisis. Biasanya kita akan berjanji untuk melakukan hal-hal yang dinilai positif agar hubungan yang dibangun tidak hancur. Contohnya kita berusaha agar lebih perhatian pada pasangan kita, menjadi pasangan yang lebih ekspresif, atau dengan cara lebih merawat diri agar pasangan kita lebih menyukai diri kita. Keputusan ini kadang dinilai tidak rasional karena pihak yang berselingkuhlah yang seharusnya memperbaiki diri dan meminta maaf.
- Tahap Depresi. Ditandai dengan kelelahan fisik, perubahan mood secara terus menerus, serta usaha untuk memperbaiki hubungan/pernikahan dapat membuat kita masuk ke kondisi depresi. Kita bisa kehilangan gairah hidup, merasa sedih, tidak ingin merawat diri dan kehilangan nafsu makan. Mood depresif dapat menjadi semakin buruk apabila kita meyakini bahwa diri kitalah yang salah dan menjadi penyebab pasangan kita berselingkuh.
- Tahap Penerimaan. Apabila kita mencapai tahap ini, barulah timbul perkembangan yang positif. Tahap penerimaan terbagi dalam dua tipe. Pertama, penerimaan intelektual yang artinya menerima dan memahami apa yang telah terjadi. Kedua, penerimaan emosional yang artinya dapat mendiskusikan perselingkuhan tanpa reaksi-reaksi berlebihan. Proses menuju penerimaan ini tidak sama bagi semua orang dan rentang waktu penerimaannya juga berbeda. Selain perasaan sedih dan marah, istri menjadi obsesi terhadap perselingkuhan yang dilakukan pasangan kita. Sepanjang hari kita tidak dapat melepaskan diri dari berbagai pertanyaan dan detil-detil perselingkuhan. Banyak dari kita yang menginterogasi pasangannya berkali-kali untuk memastikan bahwa pasangannya tidak berbohong dan menceritakan keseluruhan peristiwa. Kebohongan pasangan kita selama ini membuat mereka trauma. Walaupun obsesi merupakan hal yang normal, jika tidak diatasi maka sangat merugikan dan menghambat pemulihan kondisi kita sendiri.
Begitulah tahapan-tahapan atau fase-fase yang biasanya terjadi ketika kita mengetahui pasangan kita melakukan perselingkuhan. Tidak semua orang harus melalui setiap tahapan, dan tidak semua orang mengalami tahapan-tahapan tersebut secara berurutan. Setiap orang adalah pribadi yang berbeda dan setiap kasus adalah unik.
Yang perlu diyakini adalah, suatu saat nanti, kita sermua akan mencapai tahap penerimaan, dimana kita bisa menerima kondisi yang ada dan move on dari permasalahan yang merugikan diri kita sendiri. Keyakinan ini didasari pada bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk self healing. Tetapi, kalau memang permasalahannya terlalu berat, menggunakan bantuan profesional (psikiater) merupakan pilihan yang terbaik.
Penelitian dalam Jurnal Hubungan Sosial dan Personal, akibat dari perselingkuhan entah saat kemudian orang yang diselingkuhi menyalahkan diri sendiri ataupun pasangannya yang selingkuh, dapat mempengaruhi emosi dan psikologis. Dalam penelitian tersebut dilakukan survey pada 232 mahasiswa yang diselingkuhi selama 3 bulan terakhir dengan hubungan rata-rata 1,76 tahun. Responden mengalami depresi yang berat, anxiety, dan tekanan mendalam setelah diselingkuhi.
Mereka mengalami banyak tekanan emosional dan mental bahkan terlibat perilaku-perilaku beresiko seperti makan sedikit atau tidak sama sekali, lebih banyak mengonsumsi alkohol atau narkoba, berhubungan sex dalam pengaruh narkoba atau alkohol, ataupun olahraga yang berlebihan.
Sumber:
How psychological distress from being cheated on can harm your physical health