Deprecated: mb_substr(): Passing null to parameter #1 ($string) of type string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-content/plugins/jetonomy/includes/seo/class-schema-markup.php on line 174
Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam kehidupan? Saya tahu kita tidak akan hidup selamanya.

Anonymous 2 years ago

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
24

Ada satu kesadaran yang sering kali kita hindari, namun tak pernah bisa kita tolak: hidup ini terbatas. Kita tahu bahwa kita tidak akan hidup selamanya. Setiap pagi yang datang bisa menjadi pagi terakhir, dan detik yang kita lewatkan bisa menjadi bagian dari kenangan, bukan masa depan. Dalam keheningan malam atau saat tertimpa musibah, sering muncul pertanyaan yang mengguncang: “Untuk apa sebenarnya aku hidup?”

Pertanyaan ini bukan baru. Dari zaman Plato hingga Viktor Frankl, dari guru spiritual hingga psikolog modern, semua pernah mencoba menjawabnya. Tapi mungkin jawabannya tidak satu. Mungkin jawabannya hidup bersama kita, tumbuh bersama pengalaman, dan berubah seiring waktu. Namun ada satu benang merah yang bisa kita ikuti: bahwa hidup bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang memberi makna.

Lalu, apa sebenarnya tujuan utama dalam hidup ini? Mengapa kita bangun setiap pagi, bekerja, mencinta, berjuang, dan akhirnya mati?

Hidup yang Tidak Dipertanyakan Adalah Hidup yang Tidak Layak Dijalani

Socrates pernah berkata bahwa "the unexamined life is not worth living." Artinya, jika kita hanya hidup sekadar menjalani tanpa pernah bertanya mengapa, kita bisa kehilangan esensi kemanusiaan kita. Kita bukan mesin, kita adalah makhluk yang mampu merenung, bertanya, dan mencari makna.

Dunia modern sering mendorong kita untuk mengejar tujuan luar: karier yang stabil, harta, pencapaian, status sosial. Semua itu tampak baik, tapi sering kali tidak cukup untuk menjawab kegelisahan batin. Banyak orang yang “sukses” secara ekonomi, namun merasa kosong di dalam. Ini bukan masalah materi, tapi makna.

Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, mengatakan dalam bukunya Man’s Search for Meaning, bahwa penderitaan yang paling dalam adalah penderitaan tanpa makna. Namun manusia, katanya, selalu bisa memilih sikap terhadap penderitaan. Bahkan dalam kondisi paling menyakitkan pun, kita bisa menemukan makna.

Frankl menyebut bahwa tujuan utama hidup bukanlah kesenangan (seperti kata Freud) atau kekuasaan (seperti kata Adler), tetapi makna. Kita hidup bukan untuk menghindari penderitaan, tetapi untuk menemukan alasan mengapa kita rela menanggungnya. Dalam konteks ini, tujuan utama dalam hidup adalah: menemukan makna di balik keberadaan kita.

Tujuan yang Tidak Hanya Hidup di Kepala, Tapi Berakar dalam Hati

Tentu saja, makna hidup bukan sesuatu yang bisa dirumuskan dalam satu kalimat universal. Ia tidak seperti formula matematika. Karena itu, kita perlu membedakan antara tujuan buatan dan tujuan sejati.

Tujuan buatan adalah yang dibentuk oleh tekanan sosial: menjadi kaya, terlihat keren, menjadi yang terbaik, mendapatkan pengakuan. Tidak salah, tapi sering kali kosong. Tujuan sejati lebih dalam. Ia muncul dari perjumpaan batin dengan nilai-nilai yang benar-benar penting bagi kita: cinta, kontribusi, pertumbuhan, kejujuran, belas kasih.

Abraham Maslow, psikolog yang terkenal dengan hierarki kebutuhan, meletakkan aktualisasi diri sebagai puncak perkembangan manusia. Namun menjelang akhir hidupnya, Maslow merevisi piramida itu. Ia menyadari bahwa aktualisasi diri belum cukup. Ia kemudian menambahkan transcendence—kemampuan untuk melampaui diri sendiri dan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari ego.

Inilah titik baliknya: bahwa tujuan utama dalam hidup bukan hanya menemukan diri, tetapi melampaui diri. Kita menemukan kepenuhan hidup bukan ketika kita menjadi pusat dunia, tetapi saat kita menyadari bahwa hidup kita berdampak bagi dunia.

Menemukan Tujuan Lewat Cinta, Pekerjaan, dan Penderitaan

Viktor Frankl membagi jalan menuju makna hidup dalam tiga cara: melalui cinta, melalui pekerjaan yang bermakna, dan melalui cara kita merespons penderitaan. Mari kita gali satu per satu.

Cinta, dalam konteks ini, bukan hanya romantika. Tapi kemampuan untuk melihat dan menyentuh keunikan orang lain. Kita bisa menemukan makna hidup dalam merawat orang tua, membesarkan anak, atau menyentuh hati sesama dengan kehadiran yang tulus. Cinta membuat kita sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang “aku”, tapi “kita”.

Pekerjaan yang bermakna bukan berarti harus menjadi tokoh besar. Seorang guru yang mendidik dengan hati, tukang becak yang bekerja jujur untuk keluarganya, atau seniman yang menciptakan keindahan, semua bisa menemukan makna dalam apa yang mereka lakukan. Kuncinya bukan pekerjaan itu sendiri, tapi cara kita memberinya jiwa.

Penderitaan, meski sulit diterima, sering kali menjadi jalan masuk paling dalam menuju pemahaman eksistensial. Saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai, dunia seperti runtuh. Tapi jika kita mampu bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari ini?”, kita mulai memasuki wilayah makna. Kita tak lagi jadi korban, tapi menjadi peziarah.

Dalam semua itu, satu hal menjadi jelas: makna bukan sesuatu yang “ditemukan” seperti benda, melainkan diciptakan melalui respons kita terhadap hidup.

Mencari Tujuan yang Sederhana tapi Menggetarkan Jiwa

Tujuan hidup tidak selalu spektakuler. Tidak semua orang ditakdirkan menjadi penemu, pemimpin besar, atau tokoh sejarah. Tapi semua orang bisa menjadi pribadi yang menghidupkan nilai-nilai: ketulusan, keberanian, kesetiaan, keadilan. Dan justru dalam tindakan-tindakan kecil itulah, kita sering menemukan arti yang paling dalam.

Martin Seligman, pelopor positive psychology, menyebut bahwa hidup yang bermakna melibatkan keterlibatan aktif dalam kegiatan yang selaras dengan kekuatan dan nilai pribadi kita. Hidup yang baik bukan hanya tentang senang-senang, tapi tentang engagement, purpose, dan achievement yang sesuai dengan siapa kita sebenarnya.

Menemukan tujuan dalam kehidupan pribadi sering kali dimulai dari pertanyaan-pertanyaan kecil:

  • Apa yang membuatku merasa hidup?
  • Di momen apa aku merasa paling tulus?
  • Untuk siapa aku ingin hadir sepenuhnya?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, kita bisa mulai menenun arah hidup. Seperti benang-benang halus yang dirajut menjadi kain. Pelan-pelan, tapi pasti, hidup kita mulai punya pola.

Menghadapi Kematian: Kesadaran yang Menyadarkan

Kesadaran bahwa hidup tidak kekal bukan untuk ditakuti, tapi untuk disyukuri. Kita tidak bisa hidup selamanya, justru karena itu setiap detik menjadi berarti. Dalam tradisi filsafat Stoa, para filsuf menganjurkan latihan memento mori—mengingat kematian sebagai cara untuk hidup lebih sadar. Ketika kita sadar bahwa waktu kita terbatas, kita lebih hati-hati dalam memilih cara menggunakannya.

Kesadaran akan kefanaan juga mengubah prioritas. Apa yang dulunya tampak penting—kompetisi sosial, gengsi, kekuasaan—mulai terasa hambar. Yang tersisa adalah hal-hal sederhana tapi abadi: kehangatan, ketulusan, relasi, makna.

Dan pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah sesuatu yang bisa dicapai, tapi sesuatu yang dihidupi setiap hari. Bukan tentang puncak, tapi tentang proses. Bukan tentang hasil, tapi tentang kehadiran.

Kesimpulan: Hidup yang Bermakna Adalah Hidup yang Dihidupi dengan Sadar

Tujuan utama dalam kehidupan bukanlah sesuatu yang tunggal, statis, atau absolut. Ia bersifat dinamis, berkembang seiring perjalanan kita. Tapi ada satu pola yang bisa dikenali: hidup akan terasa bermakna ketika kita menghidupi nilai-nilai yang kita yakini, memberi kepada dunia, dan berani hadir secara utuh dalam suka dan duka.

Kita mungkin tidak bisa mengontrol panjangnya hidup, tapi kita bisa menentukan kedalamannya. Kita tidak tahu berapa banyak hari yang tersisa, tapi kita bisa memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan hari ini.

Jadi, jika Anda bertanya: “Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam hidup?”
Mungkin jawabannya adalah: menjadi manusia yang sadar, yang mencintai, yang tumbuh, yang memberi, dan yang tidak menyia-nyiakan satu pun detik dari hidup yang fana ini.

Karena hidup bukan untuk dimiliki.
Hidup adalah untuk dihidupi.