Apa Yang Menjadi Penyebab Terjadinya Pergaulan Bebas ?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Gunarsa (2006) menjelaskan beberapa faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas diantaranya faktor internal, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sosial, faktor perkembangan informasi. Berikut penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut, :
1. Faktor Internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang berkaitan dengan kondisi psikologis.
Selain itu, hasil penelitian Komariah dkk (2015) mengungkapkan bahwa gaya hidup yang tidak sehat dapat berimbas pada pergaulan bebas bahkan perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, seks bebas dan sejenisnya.
2. Faktor Keluarga. Artikelsiana (2015) menjelaskan lebih mendalam mengenai penyebab terjadinya pergaulan bebas dari faktor keluarga, diantaranya :
3. Faktor Lingkungan Sosial. Artikelsiana (2015) juga menjelaskan bahwa yang menjadi penyebab terjadinya pergaulan bebas dari faktor lingkungan sosial adalah:
4. Faktor Perkembangan Informasi. Artikelsiana (2015) menyatakan bahwa adanya internet memudahkan untuk mengakses jenis macam budaya yang tidak sesuai dengan norma ketimuran. Sehingga mudahnya anak untuk mengerti akan perbuatan yang mengandung konten pornografi mengakibatkan terjerumusnya anak kedalam pergaulan bebas.
Sumber :
Anwar., H. A., Martunis., & Fajriani. (2019). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA DI KOTA BANDA ACEH. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, Vol. 04, (02), 9 - 18.
Terdapat beberapa Faktor-faktor penyebab muncul terjadinya pergaulan bebas, antara lain :
1. Pegeseran Budaya, yakni dengan adanya faktor ini menyebabkan pergaulan bebas karena adanya pergesaran hukum adat yang mencakup salahsatunya budaya malu dan menjaga perilaku agar tidak ada gunjingan serta budaya-budaya yang masih utuh dan kental, kali in remaja menjadi lebih bebas dalam bergaul dan berperilaku.
2. Kurangnya perhatian dari orang tua, faktor ini juga merupakan penyebab terjadinya pergaulan bebas karena tidak adanya pengawan terhadap anaknya sehingga para remaja lebih bebas dan bergaul tanpa adanya mengontrol.
3. Teman dekat, yakni pergaulan bebas dimana para remaja melakukkan hal-hal tanpa melihat akibat apa yang akan ditimbulkan pada dirinya, seperti minum minuman beralkohol, merokok atau hal hal yang dapat merugikan dirinya sendiri.
4. Media, dengan kemudahan teknologi saat ini juga merupakan penyebab terjadi pergaulan bebas karena kemudahan untuk mengakses vidio atau sumber-sumber pornografi yang dapat mengakibatkan kerusakan mental dan mempengaruhi otaknya apa yang telah dilihatnya.
Sumber :
Suhaida, S., Hos, H. J., & Upe, A. (2018). Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja (Studi Kasus di Desa Masaloka Kecamatan Kepulauan Masaloka Raya Kabupaten Bomabana). Neo Societal, 3 (2), 425-432
Istilah “pergaulan bebas” sering kali langsung memunculkan penilaian.
Seolah-olah ia adalah sesuatu yang jelas: salah, menyimpang, harus dihindari.
Tapi jika kita berhenti sejenak… dan mencoba melihat lebih dalam, pertanyaannya menjadi lebih rumit:
mengapa seseorang sampai berada di sana?
Karena di balik setiap perilaku yang tampak di permukaan, hampir selalu ada sesuatu yang lebih sunyi—sesuatu yang tidak langsung terlihat, tapi diam-diam membentuk pilihan-pilihan seseorang.
Ada kecenderungan untuk melihat perilaku sebagai sesuatu yang terpisah dari latar belakangnya.
Seseorang dianggap “salah” karena apa yang ia lakukan.
Tapi jarang sekali kita bertanya: apa yang membuat ia sampai pada titik itu?
Ada seseorang yang dikenal “bebas” dalam pergaulannya. Ia sering berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain, sulit terikat, dan tampak tidak terlalu peduli pada konsekuensi.
Dari luar, itu terlihat seperti pilihan.
Tapi ketika ceritanya perlahan terbuka, terlihat sesuatu yang berbeda.
Ia tumbuh dalam lingkungan di mana kehangatan jarang hadir. Hubungan yang seharusnya memberi rasa aman justru penuh ketegangan.
Dan tanpa sadar, ia belajar satu hal:
kedekatan itu tidak selalu aman.
Apa yang terlihat sebagai “pergaulan bebas” kadang bukan sekadar pencarian kesenangan, tapi cara seseorang berhubungan dengan luka yang belum selesai.
Manusia punya kebutuhan dasar: merasa diterima.
Bukan hanya dikenal… tapi diterima apa adanya.
Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang akan mencarinya di tempat lain.
Ada seseorang yang merasa tidak pernah cukup di rumahnya sendiri. Apa pun yang ia lakukan selalu dianggap kurang.
Di luar, ia menemukan kelompok yang tidak banyak bertanya. Yang menerima tanpa syarat, setidaknya di permukaan.
Ia merasa “punya tempat”.
Dan perlahan, ia mengikuti pola yang ada di lingkungan itu.
Sering kali, seseorang tidak sedang mencari kebebasan… tapi sedang mencari tempat di mana ia tidak merasa ditolak.
Dalam teori attachment oleh John Bowlby, hubungan awal dengan figur terdekat sangat memengaruhi bagaimana seseorang mencari kedekatan di kemudian hari.
Jika rasa aman tidak terbentuk di awal, pencarian itu bisa muncul dalam bentuk yang tidak selalu sehat.
Ada hal lain yang tidak kalah kuat: lingkungan.
Apa yang dianggap “biasa” oleh suatu kelompok, lama-lama akan terasa normal bagi anggotanya.
Ada seseorang yang awalnya merasa ragu. Tapi karena semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama, perlahan batas itu bergeser.
Bukan karena ia tidak punya nilai…
tapi karena nilai itu terus-menerus diuji.
Manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia yakini, tapi juga oleh apa yang ia lihat setiap hari.
Albert Bandura dalam social learning theory menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya dari pengalaman langsung, tapi juga dari observasi.
Apa yang sering dilihat, lama-lama terasa wajar.
Ada fase dalam hidup di mana seseorang mencoba memahami siapa dirinya.
Apa yang ia sukai.
Apa yang ia yakini.
Di mana ia ingin berada.
Dalam proses ini, tidak jarang seseorang mencoba berbagai hal—termasuk yang berisiko.
Ada seseorang yang berkata, “Aku cuma ingin tahu rasanya hidup.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang lebih dalam:
rasa ingin menemukan diri.
Pergaulan yang dianggap “bebas” kadang adalah bagian dari proses eksplorasi—meskipun tidak semua eksplorasi membawa seseorang ke arah yang sehat.
Erik Erikson menyebut fase ini sebagai identity vs role confusion, di mana individu mencoba membentuk identitasnya.
Dan dalam proses itu, kesalahan sering menjadi bagian yang tidak terhindarkan.
Ada jenis kesedihan yang tidak terlihat.
Tidak ada tangisan yang jelas.
Tidak ada cerita yang diungkapkan.
Tapi ada kekosongan.
Ada seseorang yang tampak aktif, selalu bersama orang lain, selalu terlihat “hidup”.
Tapi sebenarnya, ia tidak pernah benar-benar nyaman ketika sendirian.
Karena ketika ia sendirian, ada sesuatu yang muncul: perasaan sepi yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk menghindari itu, ia terus mencari distraksi.
Hubungan.
Keramaian.
Koneksi yang cepat, tapi tidak dalam.
Kadang, pergaulan bebas bukan tentang terlalu dekat dengan banyak orang… tapi tentang tidak mampu benar-benar dekat dengan siapa pun, termasuk diri sendiri.
Ada dua kondisi ekstrem yang sering muncul:
Keduanya bisa berujung pada hal yang sama: kebingungan.
Ada seseorang yang tumbuh tanpa batasan yang jelas. Tidak ada arahan, tidak ada struktur, tidak ada konsekuensi yang konsisten.
Ia bebas… tapi juga tidak punya pegangan.
Ketika dihadapkan pada pilihan, ia tidak tahu harus berpegang pada apa.
Kebebasan tanpa arah sering kali bukan kebebasan yang sehat, tapi justru bentuk lain dari kehilangan arah.
Di era sekarang, gambaran tentang “kebebasan” sering kali dikaitkan dengan gaya hidup tertentu.
Hubungan yang cepat.
Kesenangan instan.
Kehidupan tanpa batas.
Semua itu terlihat menarik, terutama ketika ditampilkan tanpa konsekuensi.
Ada seseorang yang berkata, “Semua orang terlihat menikmati hidupnya… kenapa aku tidak?”
Dan tanpa sadar, ia mulai mengikuti pola yang sebenarnya tidak benar-benar ia pahami.
Apa yang terlihat di permukaan sering kali tidak mencerminkan apa yang terjadi di dalam.
Dalam teori cultivation oleh George Gerbner, paparan media yang terus-menerus dapat membentuk persepsi seseorang tentang realitas.
Apa yang sering dilihat, bisa terasa seperti “cara hidup yang normal”.
Ada hal yang lebih dalam lagi.
Bukan hanya tentang apa yang seseorang lakukan…
tapi bagaimana ia memandang dirinya sendiri.
Ada seseorang yang tidak benar-benar merasa dirinya berharga. Bukan karena tidak punya kelebihan, tapi karena ia tidak pernah benar-benar merasa cukup.
Ketika seseorang tidak merasa bernilai, ia cenderung:
Perilaku sering kali mencerminkan bagaimana seseorang memandang dirinya—bukan hanya apa yang ia inginkan.
Tidak ada satu jawaban tunggal.
Pergaulan bebas bukan muncul dari satu faktor, tapi dari kombinasi:
Yang terlihat sebagai “perilaku” sering kali hanyalah ujung dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Mungkin pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “mengapa seseorang terlibat dalam pergaulan bebas.”
Tapi sesuatu yang lebih pelan, dan lebih sulit dijawab:
ketika seseorang terus mencari kedekatan di luar dirinya…
apa yang sebenarnya sedang ia coba isi di dalam dirinya?
Pertanyaan tentang “pergaulan bebas” sering kali langsung diarahkan pada perilaku yang tampak di permukaan—hubungan tanpa batas, penggunaan zat, atau pola hidup yang dianggap menyimpang.
Namun jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa apa yang tampak sebagai “pergaulan bebas” sering kali hanyalah ujung dari sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Ia bukan sekadar pilihan yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari interaksi panjang antara kebutuhan emosional, pengalaman hidup, kondisi lingkungan, dan cara otak merespons semua itu.
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini. Saya pernah mengenal seseorang yang dari luar tampak sangat “bebas.” Ia sering berpindah relasi, hidup tanpa banyak batasan, dan terlihat seperti menikmati semuanya.
Namun suatu malam, dalam percakapan yang jauh lebih jujur, ia berkata pelan,
“Aku sebenarnya tidak tahu kenapa aku seperti ini… rasanya seperti ada sesuatu yang selalu kosong.”
Kalimat itu sederhana, tetapi membuka pintu untuk melihat sesuatu yang lebih dalam: sering kali, perilaku yang terlihat “bebas” justru berakar dari kebutuhan yang tidak pernah benar-benar terpenuhi.
Manusia pada dasarnya membutuhkan keterhubungan—bukan hanya secara sosial, tetapi juga secara emosional.
Kita ingin merasa dilihat, dipahami, dan diterima.
Namun ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang bisa mencari pengganti dalam bentuk yang lebih cepat dan instan.
Relasi yang dangkal bisa terasa lebih mudah daripada hubungan yang membutuhkan kedalaman.
Interaksi tanpa komitmen terasa lebih aman daripada keterikatan yang berisiko menyakitkan.
Pergaulan yang tampak “bebas” kadang bukan tentang kebebasan, tetapi tentang cara bertahan dari rasa kesepian yang tidak terucapkan.
Ada seseorang yang sering berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain. Dari luar, itu terlihat seperti pilihan gaya hidup. Namun di dalam dirinya, ada kebutuhan yang terus mencari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ditemukan.
Jika dilihat dari sudut yang lebih biologis, otak manusia memiliki sistem yang sangat peka terhadap reward atau penghargaan.
Dopamin, misalnya, berperan dalam memberikan rasa “menyenangkan” ketika seseorang melakukan sesuatu yang dianggap menarik atau memuaskan.
Aktivitas yang intens, baru, atau berisiko tinggi sering kali memicu pelepasan dopamin yang lebih besar.
Ini menjelaskan mengapa perilaku tertentu bisa terasa sangat menarik, bahkan jika secara rasional seseorang tahu ada konsekuensi negatif.
Dalam beberapa kasus, “pergaulan bebas” bukan hanya pilihan sosial, tetapi juga bagian dari pola otak yang terbiasa mencari stimulasi tinggi.
Ada seseorang yang mengatakan bahwa hidupnya terasa “datar” kecuali ketika ia melakukan sesuatu yang ekstrem. Tanpa disadari, ia sedang mengejar sensasi yang memberi rasa hidup, meskipun hanya sementara.
Pengalaman masa lalu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara seseorang berinteraksi dengan dunia.
Trauma, penolakan, atau pengalaman relasi yang menyakitkan bisa meninggalkan jejak yang dalam.
Beberapa orang merespons dengan menarik diri.
Namun yang lain justru bergerak ke arah sebaliknya—mencari koneksi tanpa batas, tanpa struktur yang jelas.
Kadang, batas yang kabur dalam relasi bukan karena seseorang tidak tahu batas, tetapi karena ia tidak pernah benar-benar merasakan batas yang aman.
Ada seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak stabil. Dalam kehidupannya yang sekarang, ia kesulitan membedakan antara kedekatan yang sehat dan kedekatan yang merusak.
Bagi dirinya, semua itu terasa sama.
Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk perilaku.
Apa yang dianggap “normal” di satu lingkungan bisa sangat berbeda di lingkungan lain.
Ketika seseorang berada dalam lingkungan di mana batasan-batasan menjadi longgar, ia cenderung menyesuaikan diri.
Bukan karena ia tidak memiliki nilai, tetapi karena manusia secara alami ingin menjadi bagian dari kelompoknya.
Sering kali, perilaku yang disebut “pergaulan bebas” adalah hasil dari proses adaptasi terhadap lingkungan yang membentuknya.
Ada seseorang yang awalnya memiliki batasan yang cukup jelas. Namun seiring waktu, ia mulai menyesuaikan diri dengan lingkungannya—bukan karena ia ingin berubah, tetapi karena ia tidak ingin merasa terasing.
Terutama pada masa remaja dan dewasa awal, ada dorongan kuat untuk mengeksplorasi diri.
Siapa saya sebenarnya?
Apa yang saya inginkan?
Sejauh mana saya bisa melangkah?
Eksplorasi ini adalah bagian normal dari perkembangan manusia.
Namun tanpa bimbingan yang cukup, eksplorasi ini bisa bergerak ke arah yang lebih ekstrem.
Pergaulan bebas kadang merupakan bentuk pencarian identitas yang belum menemukan arah.
Ada seseorang yang mencoba berbagai hal bukan karena ia yakin itu benar, tetapi karena ia belum tahu apa yang benar bagi dirinya.
Ada emosi tertentu yang sulit dihadapi—kesepian, kecemasan, rasa tidak berharga.
Ketika emosi ini terlalu berat, seseorang cenderung mencari cara untuk menghindarinya.
Aktivitas yang intens, relasi yang cepat, atau pengalaman yang mengalihkan perhatian bisa menjadi cara untuk sementara melupakan apa yang dirasakan.
Namun yang terjadi bukanlah penyelesaian, melainkan penundaan.
Ada seseorang yang mengatakan bahwa ia merasa lebih baik ketika sibuk dengan banyak hal dan banyak orang. Namun ketika ia sendirian, semua perasaan itu kembali dengan lebih kuat.
Salah satu hal yang paling jarang dibahas adalah hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.
Ketika seseorang tidak benar-benar mengenal dirinya—apa yang ia rasakan, apa yang ia butuhkan, apa yang menjadi batasannya—ia menjadi lebih mudah terbawa oleh lingkungan atau impuls sesaat.
Tanpa keterhubungan dengan diri sendiri, seseorang cenderung mencari arah dari luar, bukan dari dalam.
Ada seseorang yang hidupnya penuh aktivitas sosial, tetapi ia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan. Ia hanya mengikuti arus.
Dari sudut pandang otak, ada dua sistem yang sering berinteraksi:
Sistem limbik yang lebih impulsif dan emosional.
Korteks prefrontal yang berperan dalam kontrol dan pengambilan keputusan.
Dalam kondisi tertentu—misalnya stres, kelelahan, atau kurangnya regulasi emosi—sistem impulsif bisa menjadi lebih dominan.
Akibatnya, keputusan diambil lebih berdasarkan dorongan sesaat daripada pertimbangan jangka panjang.
Pergaulan bebas dalam beberapa kasus mencerminkan ketidakseimbangan antara dorongan dan kontrol, bukan semata-mata kurangnya nilai atau moral.
Di balik banyak perilaku yang tampak di permukaan, sering kali ada kebutuhan sederhana: merasa berharga.
Diterima.
Diinginkan.
Dianggap penting.
Ketika seseorang tidak merasakan ini dari dalam dirinya, ia mungkin mencarinya dari luar—melalui relasi, perhatian, atau validasi.
Masalahnya, validasi yang datang dari luar sering bersifat sementara.
Dan ketika efeknya hilang, kebutuhan itu muncul kembali.
Jika semua ini dilihat secara utuh, “pergaulan bebas” bukanlah fenomena yang bisa dijelaskan dengan satu penyebab tunggal.
Ia adalah hasil dari interaksi antara sistem biologis (otak, hormon), pengalaman psikologis (trauma, kebutuhan emosional), dan faktor sosial (lingkungan, budaya).
Otak belajar dari pengalaman. Sistem saraf beradaptasi terhadap apa yang sering dialami.
Artinya, pola ini tidak muncul secara acak. Ia terbentuk, diperkuat, dan dalam banyak kasus, bisa juga berubah—meskipun tidak secara instan.
Mungkin selama ini kita melihat “pergaulan bebas” sebagai sesuatu yang harus dinilai—benar atau salah, baik atau buruk.
Namun jika kita berani melihat lebih dalam, ada kemungkinan bahwa di balik perilaku itu, ada cerita yang jarang terdengar
Tentang kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tentang luka yang tidak terlihat
Tentang bagian dari diri seseorang yang sedang mencoba bertahan dengan cara yang ia tahu
Karena pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan hanya “mengapa seseorang bisa sampai di sana,” tetapi juga
“apa yang sebenarnya sedang ia cari… dan mengapa ia harus mencarinya dengan cara itu”
Notifications