Topik ini bisa dijadikan ajang curhat ketika ada sesuatu yang bikin kesal di hari ini.
Hal yang membuatku kesal hari ini adalah ketidakmampuanku dalam berpikir rasional dari suatu permasalahan yang terjadi. Pikiran irrasionalku terbentuk dari peristiwa yang terjadi pada orang lain yang menyebabkan timbulnya perasaan cemas dan pikiran irasional terhadap hal yang belum tentu terjadi sehigga menghasilkan perilaku yang kurang adaptif.
Pikiran Irrasional menurut Albert Ellis adalah kondisi pikiran seorang yang menjadi celah untuk menghasilkan perilaku bermasalah. Individu yang punya pemikiran irrasional pada dasarnya terbelenggu dengan keyakinan pemikirannya.
Cemas adalah kondisi ketidaknyamanan yang dirasakan seorang individu karena suatu kondisi. Perilaku kurang adaptif adalah perilaku individu yang kurang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar yang dipengaruhi oleh pikiran irrasional.
Sebagai contoh, Saya berikir bahwa kejadian menyedihkan yang terjadi pada orang lain akan terjadi juga pada diri. Hal ini disebut dengan pemikiran irrasional karena saya terpikirkan pada hal yang belum tentu akan saya dapati. Pemikiran inilah yang mempegaruhi perasaan saya sehingga memunculkan kecemasan. Kecemasan akan keterasingan, kesendirian, tersakiti, dll. Dan menghasilkan perilaku maladaptif berupa penarikan diri saya terhadap orang lain.
Yang membuat aku kesal hari ini ialah sifat prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi. Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan hasil penelitian ilmiah oleh mahasiswa jenjang program S1. prokrastinasi merupakan kecenderungan untuk menunda mngerjakan atau menyelesaikan tugas yang ada. Menurut Ferrari (1995) terdapat beberapa ciri prokrastinasi akademik antara lain. Pertama penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan tugas yang dihadapi. Ciri kedua keterlambatan mengerjakan tugas. Ciri ketiga kesenjangan waktuantara rencana dan kinerja aktual. Ciri keempat melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.
Sumber:
- Wulan, Dyah Ayu Noor, Sri Muliati Abdullah. 2012. "Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi". Jurnal Sosio Humaniora: Yogyakarta
Yang membuat saya kesal hari ini karena saya sedang mempelajari statistik dari buku field dan pada bab 2 saya tidak paham dengan apa yang saya baca. Ditambah lagi teman organisasi saya yang melakukan social loafing dalam tugas organisasi.
Social loafing adalah kecenderungan untuk mengurangi upaya individu ketika bekerja secara saling tergantung dalam pengaturan kolektif dibandingkan dengan upaya individu yang dikeluarkan ketika bekerja sendiri atau secara mandiri hanya dengan kehadiran orang lain (Williams & Karau, 1991). terdapat dua kategori anteseden dari Sosial loafing, yaitu anteseden tingkat individu dan anteseden tingkat kelompok. Anteseden individu adalah komitmen, visibilitas tugas, kekhasan dan potensi evaluasi, keterikatan tugas, kepentingan dan signifikansi tugas, keadilan distributif, ciri-ciri kepribadian, budaya dan perbedaan gender, dan kewarganegaraan organisasi. Anteseden tingkat grup ditentukan sebagai ukuran grup, grup kohesi, dan kemalasan sosial yang dirasakan anggota kelompok (Liden et al., 2004).
sumber :
Tosuntaş, Ş. B. (2020). Diffusion of responsibility in group work: Social loafing. Journal of Pedagogical Research, 4(3), 344-358.
Yang membuat saya kesal hari ini adalah saya melakukan impulsive buying di salah satu e-commerce. Saya banyak membeli barang-barang yang saya suka, namun nilai kegunaannya dan kebermanfaatannya tidak signifikan. Sehingga saya merasa kesal karena sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli barang-barang yang kurang berguna dan membeli barang hanya karena hawa nafsu saja.
Rook (1987) memberikan definisi yang komprehensif tentang impulsive buying, yang mencakup tiga fitur utama, yaitu pembelian yang tidak direncanakan, sulit dikendalikan, dan disertai dengan respons emosional: “Pembelian impulsif terjadi ketika konsumen mengalami pengalaman yang tiba-tiba, seringkali kuat dan dorongan terus-menerus untuk membeli sesuatu segera. Dorongan untuk membeli bersifat hedonis kompleks dan dapat merangsang konflik emosional. Juga, pembelian impulsif cenderung terjadi tanpa memperhatikan konsekuensinya".
Dilansir dari https://www.newneuromarketing.com/, perilaku impulsive buying berhubungan dengan emosi dan perasaan positif. Impulsive buying mengalami lebih banyak emosi positif seperti kesenangan dan dengan demikian membelanjakan lebih banyak. Pembeli impulsif memiliki kebutuhan yang kuat akan gairah dan mengalami peningkatan emosional dari perilaku pembelian berulang yang terus-menerus. Gairah seperti itu bahkan mungkin menjadi motif yang lebih kuat untuk pembelian impulsif daripada kepemilikan produk.
Rook, D. W. (1987). The buying impulse. Journal of Consumer Research, 14, 189–199.
https://www.newneuromarketing.com/what-psychology-knows-about-impulse-buying-in-2020