Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa yang Membuat Seseorang Merasa Iri dengan Pencapaian Orang Lain?

HA Hanif Mursyida 5 years ago Resolved

Rasa iri kerap kali memberikan dampak negatif bagi diri, seperti cemas, marah, hingga stress. Lalu apa yang menyebabkan timbulnya rasa iri? Kenapa ada orang yang merasa iri dengan pencapaian orang lain?

18

Aku pernah berada di posisi itu—merasa iri ketika melihat teman seangkatan sudah lebih dulu menikah, kariernya melesat, atau fotonya berjejer indah di Instagram dengan latar luar negeri. Waktu itu aku tidak mau mengakuinya, bahkan pada diriku sendiri. Tapi jujur saja, ada perasaan seperti lubang kecil di dada setiap kali melihat pencapaian orang lain. Bukan karena aku tidak senang untuk mereka, tapi karena aku merasa ketinggalan.

Setelah melewati banyak malam dengan pikiran berisik, aku mulai sadar bahwa iri lahir dari perbandingan yang tak pernah selesai. Kita hidup di zaman di mana hidup orang lain terpajang terang-terangan di layar ponsel. Kita bisa tahu siapa yang baru beli rumah, siapa yang barusan dapat promosi, siapa yang berhasil menurunkan berat badan. Lalu, tanpa sadar, kita menimbang hidup kita sendiri dengan ukuran hidup orang lain. Dan tentu saja, kita selalu kalah—karena kita hanya melihat “sorotan panggung” mereka, bukan “belakang layar” yang penuh letih dan air mata.

Aku ingat momen ketika seorang sahabatku mengabari bahwa ia diterima di perusahaan besar. Aku ikut bahagia, tapi begitu telepon ditutup, aku menangis diam-diam di kamar. Saat itu aku sedang terjebak di pekerjaan yang tidak kusukai. Rasanya seperti ditampar kenyataan: kenapa bukan aku? Tapi perlahan aku belajar menerima bahwa rasa iri itu bukan tanda aku manusia buruk, melainkan tanda bahwa ada sesuatu dalam diriku yang sedang “lapar”—lapar akan perubahan, lapar akan pengakuan, lapar akan makna.

Psikolog sering bilang bahwa iri bisa menjadi “cermin” untuk mengenali apa yang sebenarnya kita inginkan. Dan memang begitu adanya. Saat aku iri pada teman yang kariernya melesat, ternyata yang aku rindukan bukan jabatan mereka, tapi rasa berkembang yang saat itu hilang dari hidupku. Saat aku iri pada teman yang menikah, ternyata bukan pernikahan yang aku idamkan, tapi rasa dicintai dan dimiliki. Jadi, alih-alih menolak atau mengutuk rasa iri, aku mulai menanyakan pada diriku sendiri: apa yang sebenarnya aku butuhkan?

Lucunya, semakin aku jujur pada diriku, semakin rasa iri itu berkurang. Aku sadar bahwa pencapaian orang lain bukanlah ancaman untukku. Hidup bukan lomba lari dengan satu pemenang, melainkan jalan panjang dengan banyak persinggahan. Mungkin kita berangkat bersama, tapi sampai di stasiun berbeda. Mungkin mereka lebih dulu sampai, tapi itu tidak berarti perjalananku sia-sia.

Iri memang melelahkan kalau kita terus memeliharanya. Tapi ia juga bisa menjadi pintu untuk memahami diri lebih dalam. Dan sering kali, ketika aku berhenti menatap ke luar dan mulai melihat ke dalam, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa tenang, dan pelan-pelan, rasa cukup.


“Rasa iri adalah bayangan dari hasrat yang belum kita rangkul; ia menuntun kita untuk menoleh ke dalam, bukan ke luar, hingga kita sadar bahwa cahaya yang kita cari ternyata sudah menyala di dalam dada.”

Rasa iri adalah emosi yang sangat manusiawi—dan sekaligus sangat kompleks. Setiap orang, pada satu titik, pernah merasakannya. Namun, meskipun sering dianggap negatif atau memalukan, iri sesungguhnya memberi banyak informasi tentang diri kita, nilai-nilai kita, dan hubungan kita dengan orang lain. Menarik untuk memahami mengapa seseorang merasa iri terhadap pencapaian orang lain, karena di balik emosi ini ada lapisan psikologis yang halus dan kadang tersembunyi.


1. Perbandingan Sosial: Dasar Psikologis Iri

Salah satu faktor utama yang memicu iri adalah perbandingan sosial. Teori yang dikembangkan oleh Leon Festinger (1954) menyebutkan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan posisinya.

Ketika seseorang melihat orang lain mencapai sesuatu—misalnya promosi kerja, keberhasilan akademik, atau kehidupan pribadi yang terlihat ideal—otak secara otomatis membandingkannya dengan kondisi diri sendiri. Jika hasil perbandingan ini terasa tidak menguntungkan, muncul perasaan iri.

Yang menarik adalah, iri tidak selalu tentang kesuksesan orang lain yang besar, tetapi sering muncul dari hal-hal kecil yang terasa relevan dengan standar atau harapan diri sendiri. Misalnya, seseorang bisa merasa iri pada rekan yang tampak lebih disukai di lingkungan sosial, meskipun secara objektif keduanya sama-sama kompeten.


2. Kurangnya Kepuasan Diri dan Self-Efficacy

Rasa iri sering berkaitan dengan keterbatasan kepuasan diri dan persepsi tentang kemampuan diri sendiri. Ketika seseorang merasa kurang kompeten, gagal memenuhi ekspektasi pribadi, atau tidak yakin akan kemampuannya (low self-efficacy), keberhasilan orang lain bisa memunculkan rasa terancam.

Albert Bandura (1997) menjelaskan bahwa self-efficacy—keyakinan individu pada kemampuan untuk mencapai tujuan—mempengaruhi bagaimana kita memproses keberhasilan orang lain. Orang dengan self-efficacy tinggi cenderung menganggap pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman. Sebaliknya, individu yang meragukan kemampuan diri sendiri lebih rentan merasa iri.


3. Nilai-Nilai dan Prioritas yang Berbeda

Iri muncul ketika pencapaian orang lain menyentuh area yang kita nilai penting. Misalnya, seseorang yang sangat menghargai kekayaan atau status sosial mungkin lebih mudah merasa iri ketika melihat orang lain membeli rumah mewah atau kendaraan mahal.

Ini berarti rasa iri juga bersifat subjektif dan kontekstual—apa yang membuat satu orang iri, belum tentu berdampak sama pada orang lain. Dengan kata lain, iri adalah cermin dari nilai-nilai yang kita pegang dan prioritas hidup kita, baik yang disadari maupun yang tersembunyi.


4. Faktor Psikologis dan Emosional Lainnya

Beberapa faktor lain yang memicu iri antara lain:

  • Ketidakadilan dan persepsi ketidakmerataan: Ketika seseorang merasa bahwa orang lain mendapatkan kesuksesan tanpa usaha yang sebanding, rasa iri bisa muncul. Hal ini sering disebut envy based on unfair advantage.
  • Kebutuhan akan pengakuan: Ketika seseorang sangat menginginkan validasi atau pengakuan sosial, pencapaian orang lain yang diakui publik bisa memicu iri.
  • Pengalaman masa lalu: Orang yang pernah mengalami penolakan atau gagal dalam upaya tertentu mungkin lebih mudah merasa iri ketika melihat orang lain berhasil di area yang sama.
  • Konteks budaya: Dalam beberapa budaya, fokus pada kompetisi sosial dan prestasi eksternal meningkatkan kemungkinan munculnya iri dibandingkan budaya yang lebih menekankan kolaborasi dan harmoni.

5. Iri sebagai Sinyal untuk Refleksi Diri

Meskipun sering dianggap negatif, rasa iri juga memiliki sisi fungsi adaptif. Ia memberi sinyal bahwa ada aspek dalam hidup kita yang kita nilai penting namun belum terpenuhi. Dalam pengalaman yang saya amati, individu yang mampu mengamati rasa irinya dengan jujur—tanpa menekan atau membenarkannya—sering menemukan wawasan mendalam tentang keinginan, nilai, dan prioritas pribadinya.

Contohnya, seseorang yang iri pada teman yang pandai berkomunikasi mungkin menyadari bahwa ia sendiri ingin meningkatkan keterampilan sosial. Alih-alih membiarkan iri berubah menjadi dendam atau iri hati yang merusak, ia bisa menjadikannya bahan refleksi dan motivasi untuk pertumbuhan diri.


6. Perbedaan antara Iri dan Cemburu

Sering kali orang bingung antara iri dan cemburu. Secara psikologis:

  • Iri (envy) muncul ketika kita menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. Fokusnya adalah kepemilikan orang lain.
  • Cemburu (jealousy) muncul ketika kita merasa terancam kehilangan sesuatu yang sudah kita miliki karena pihak ketiga. Fokusnya adalah ancaman terhadap hubungan atau status kita sendiri.

Memahami perbedaan ini penting, karena penanganannya berbeda. Iri bisa menjadi bahan refleksi diri, sedangkan cemburu lebih terkait dengan rasa aman dalam hubungan dan bisa memerlukan strategi komunikasi.


7. Dampak Jika Iri Tidak Dikelola

Rasa iri yang terus dipendam atau tidak disadari dapat menimbulkan berbagai konsekuensi:

  • Gangguan hubungan interpersonal: Iri yang tidak dikelola bisa memunculkan perilaku sabotase, sikap dingin, atau kritik yang tidak konstruktif.
  • Stres dan kecemasan: Pikiran yang terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain meningkatkan stres dan ketidakpuasan hidup.
  • Kehilangan fokus pada diri sendiri: Terlalu fokus pada pencapaian orang lain membuat kita lupa mengembangkan diri sendiri.
  • Mengurangi kepuasan hidup: Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering merasa iri cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih rendah (Smith & Kim, 2007).

8. Refleksi Akhir

Iri adalah cermin dari apa yang kita inginkan, nilai, dan hargai dalam hidup. Ia muncul bukan karena kita “buruk” atau “tidak cukup,” melainkan karena kita manusia—dengan kerentanan, aspirasi, dan perasaan kompleks yang bersamaan. Kesadaran akan rasa iri membuka peluang untuk memahami diri lebih dalam, membedakan antara keinginan sehat dan perbandingan destruktif, serta memelihara empati terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dalam diamnya perasaan iri, tersimpan pelajaran halus: bahwa kehidupan bukan hanya tentang memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga tentang memahami apa yang benar-benar kita hargai dan bagaimana kita ingin menjalani perjalanan kita sendiri.


Referensi

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W.H. Freeman.
  • Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
  • Smith, R. H., & Kim, S. H. (2007). Comprehending envy. Psychological Bulletin, 133(1), 46–64.
  • Salovey, P., & Rodin, J. (1984). Some antecedents and consequences of social-comparison jealousy. Journal of Personality and Social Psychology, 47(4), 780–792.
  • Van de Ven, N., Zeelenberg, M., & Pieters, R. (2009). Leveling up and down: The experiences of benign and malicious envy. Emotion, 9(3), 419–429.

Rasa iri bukan sekadar kelemahan, tetapi juga peta rahasia yang menuntun kita memahami apa yang sebenarnya kita dambakan, dan kadang, perjalanan menuju kedamaian dimulai dengan keberanian menatap perasaan itu tanpa takut.

Fenomena iri terhadap pencapaian orang lain adalah sesuatu yang sangat manusiawi, meskipun sering kali membuat kita merasa bersalah atau tidak nyaman. Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan hal ini: seorang teman lama, yang tampak hidupnya stabil dan sukses dari luar, bercerita tentang bagaimana ia sering merasa “kecil” ketika melihat teman-temannya mendapatkan promosi atau pencapaian besar. Dari luar, hidupnya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, ada perasaan gelisah, cemas, dan iri yang terus muncul tanpa diundang. Apa yang membuat manusia merasakan iri sesungguhnya adalah kombinasi kompleks antara faktor psikologis, neurologis, sosial, dan pengalaman hidup.


1. Perspektif Neurobiologis

Secara neurologis, rasa iri muncul ketika otak membandingkan diri kita dengan orang lain. Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa aktivitas di nucleus accumbens dan insula terkait dengan reward dan evaluasi sosial dapat memicu perasaan iri ketika melihat kesuksesan orang lain (Takahashi et al., 2009). Ketika seseorang melihat pencapaian orang lain, otak menilai “apa yang saya miliki dibandingkan dengan mereka?”, dan jika hasil perbandingan ini negatif, muncul rasa iri.

Saya pernah mengenal seseorang yang secara objektif memiliki banyak pencapaian, tapi tetap merasa iri ketika seorang teman menerima penghargaan yang diidamkannya. Apa yang terjadi di sini bukan sekadar ketidakmampuan menghargai orang lain, melainkan respon otak terhadap ketidakseimbangan reward dan persepsi diri.


2. Faktor Psikologis

a. Perbandingan Sosial

Manusia secara alami melakukan perbandingan sosial (Festinger, 1954). Membandingkan diri dengan orang lain bisa memberikan motivasi, tetapi jika terlalu sering atau fokus pada kesuksesan orang lain, ini bisa memicu rasa rendah diri dan iri. Perasaan “kenapa dia bisa begitu, sedangkan saya tidak?” adalah inti dari iri.

b. Ketidakpuasan Diri

Rasa iri juga muncul ketika seseorang merasa belum mencapai standar yang diinginkan untuk diri sendiri. Individu yang memiliki tingkat self-esteem rendah cenderung lebih rentan terhadap iri, karena pencapaian orang lain dianggap sebagai ancaman terhadap citra diri mereka sendiri. Saya pernah mendengar cerita dari seorang profesional muda yang selalu membandingkan gajinya dengan teman seangkatan; meskipun secara objektif ia sukses, rasa iri muncul dari perasaan tidak cukup baik dalam standar pribadinya.


3. Faktor Sosial dan Budaya

Budaya dan lingkungan juga memainkan peran besar. Dalam masyarakat yang menekankan kompetisi dan prestasi, pencapaian orang lain menjadi titik ukur keberhasilan diri. Media sosial memperparah hal ini, karena kita sering melihat highlight reel kehidupan orang lain—foto promosi, liburan, penghargaan—tanpa mengetahui perjuangan, kegagalan, atau konteks mereka.

Ada seorang wanita muda yang mengakui bahwa setiap kali scroll feed Instagram, ia merasa cemas dan iri terhadap teman-temannya yang tampak “lebih sukses”. Di sini, media sosial memicu perbandingan sosial secara konstan, memperkuat perasaan iri, dan menurunkan kepuasan terhadap hidup sendiri.


4. Trauma dan Pengalaman Masa Lalu

Pengalaman masa kecil dan pola asuh juga berpengaruh. Anak-anak yang sering dibandingkan dengan saudara atau teman, atau yang merasa kurang diperhatikan saat berprestasi, cenderung membawa pola ini hingga dewasa. Rasa iri menjadi mekanisme internal untuk memperhitungkan posisi sosial: jika orang lain sukses, kita belajar menilai “apa artinya bagi diri kita?”.

Saya pernah berbicara dengan seseorang yang selalu merasa iri terhadap saudara yang lebih menonjol di sekolah. Rasa iri ini terbawa hingga karier dewasa, meskipun secara objektif ia telah meraih banyak hal. Rasa iri sering menjadi bayangan dari pengalaman ketidakadilan atau kurangnya validasi emosional di masa lalu.


5. Efek Psikologis dan Emosional

Iri yang tidak disadari atau tidak dikelola dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Secara fisiologis, penekanan emosi iri bisa meningkatkan kortisol dan memengaruhi kualitas tidur serta kesehatan fisik (Salovey & Rodin, 1984). Namun, perasaan ini juga bisa menjadi pendorong motivasi jika disadari dan dialihkan ke tindakan positif: belajar, bekerja lebih keras, atau mengembangkan keterampilan baru.


6. Mengapa Manusia Sulit Menghindari Iri

  • Evolusi dan Survival: Dari perspektif evolusi, membandingkan diri dengan orang lain adalah mekanisme adaptif untuk memahami posisi sosial dan sumber daya.
  • Penguatan Sosial: Lingkungan yang kompetitif dan pemberian reward sosial membuat manusia selalu memperhatikan pencapaian orang lain.
  • Self-Focus Bias: Kita cenderung menilai diri sendiri dengan standar tinggi, dan pencapaian orang lain tampak “lebih besar” dibandingkan dengan pencapaian diri sendiri.

Seseorang pernah berkata, “Saya tahu saya tidak harus iri, tapi rasanya sulit menghentikan pikiran itu.” Itu menunjukkan bahwa iri bukanlah tanda kelemahan moral, melainkan bagian alami dari proses kognitif manusia yang perlu dipahami dan diatur.


7. Strategi Adaptif untuk Mengelola Iri

  1. Menyadari Emosi: Mengidentifikasi rasa iri saat muncul, tanpa menghakimi diri sendiri.
  2. Fokus pada Pertumbuhan Pribadi: Alihkan energi dari perbandingan sosial menjadi upaya meningkatkan diri sendiri.
  3. Syukur dan Refleksi: Menulis hal-hal yang sudah dicapai atau hal-hal positif dalam hidup dapat mengurangi ketergantungan pada standar orang lain.
  4. Menerima Proses Orang Lain: Memahami bahwa kesuksesan orang lain juga melalui perjuangan dan kegagalan yang tidak terlihat.

Saya pernah mengenal seseorang yang mulai menulis “pencapaian harian” untuk dirinya sendiri, sekecil apapun, dan secara perlahan rasa iri berkurang. Alih-alih melihat pencapaian orang lain sebagai ancaman, ia menggunakannya sebagai inspirasi dan tolok ukur untuk kemajuan diri sendiri.


Refleksi

Rasa iri bukan sekadar masalah moral atau etika; ia adalah fenomena psikologis yang kompleks, hasil interaksi antara otak, pengalaman, dan lingkungan sosial. Mengalami iri bukan berarti gagal; yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Bisa jadi, perasaan iri yang sadar dan dikelola dengan baik adalah salah satu jalan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam, menilai nilai-nilai pribadi, dan menemukan motivasi sejati.

Pertanyaannya bukan hanya “mengapa kita iri?” tetapi: apa yang bisa kita pelajari dari rasa iri itu tentang diri kita, dan bagaimana kita mengubah energi tersebut menjadi langkah maju, bukan hanya rasa cemas atau perbandingan yang tak berujung?


Referensi

  • Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
  • Takahashi, H., et al. (2009). When your gain is my pain and your pain is my gain: Neural correlates of envy and schadenfreude. Science, 323(5916), 937–939.
  • Salovey, P., & Rodin, J. (1984). Some antecedents and consequences of social-comparison jealousy. Journal of Personality and Social Psychology, 47(4), 780–792.
  • Smith, R. H., & Kim, S. H. (2007). Comprehending envy. Psychological Bulletin, 133(1), 46–64.
  • Lount, R. B., & Pettit, N. C. (2012). The social consequences of envy and schadenfreude: Implications for interpersonal relationships. Current Directions in Psychological Science, 21(6), 354–359.

Menurut saya, alasan yang paling utama adalah karena orang tersebut melakukan perbandingan terhadap orang lain yang memiliki pencapaian, lalu ia menyadari bahwa ia tidak dapat mendapatkan pencapaian seperti orang lain. Bisa juga karena pencapaian yang di dapat orang tersebut merupakan pencapaian yang ia inginkan, sehingga timbul rasa marah karena ia merasa ia yang menginginkan pencapaian tersebut tetapi malah orang lain yang mendapatkannya.

Akar Psikologis dari Rasa Iri

Iri seringkali muncul tanpa kita sadari. Dalam psikologi, rasa iri didefinisikan sebagai emosi yang timbul ketika seseorang merasa kurang atau tertinggal dibanding orang lain yang memiliki sesuatu yang diinginkan. Menurut psikolog Richard H. Smith dalam bukunya Envy: Theory and Research (2008), iri bukan sekadar perasaan tidak suka, melainkan campuran kompleks antara rasa rendah diri, keinginan memiliki, serta perasaan terancam oleh keberhasilan orang lain.

Secara evolusioner, iri dipandang sebagai mekanisme adaptif. Manusia selalu hidup dalam kelompok, dan untuk bertahan, mereka perlu memerhatikan posisi sosialnya. Jika ada anggota lain yang mendapatkan lebih banyak sumber daya, status, atau perhatian, maka muncul perasaan iri sebagai alarm bahwa dirinya mungkin kehilangan tempat atau pengaruh dalam kelompok. Jadi, iri tidak sepenuhnya sifat buruk, tetapi juga produk dari insting sosial manusia yang ingin tetap relevan dan diakui.

Perbandingan Sosial dan Tekanan yang Menyertainya

Salah satu teori paling terkenal yang menjelaskan munculnya iri adalah Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan alami untuk menilai diri sendiri, dan cara paling mudah adalah dengan membandingkan diri dengan orang lain.

Masalahnya, dalam membandingkan diri, manusia jarang memilih standar yang setara. Kebanyakan orang cenderung melakukan upward comparison—membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses, lebih pintar, atau lebih beruntung. Akibatnya, alih-alih memicu motivasi, perbandingan ini sering berujung pada rasa iri dan kecewa.

Fenomena ini semakin kuat di era media sosial. Dalam riset yang dilakukan oleh psikolog Ethan Kross dari University of Michigan (2013), ditemukan bahwa penggunaan Facebook secara pasif, misalnya hanya melihat kehidupan orang lain tanpa berinteraksi, dapat meningkatkan rasa iri sekaligus menurunkan kepuasan hidup. Alasannya sederhana: yang ditampilkan orang di media sosial umumnya adalah versi terbaik dari hidup mereka, sehingga membuat orang lain merasa kehidupannya kurang berharga.

Faktor Kepribadian yang Membentuk Rasa Iri

Tidak semua orang merasakan iri dengan intensitas yang sama. Ada faktor kepribadian yang membuat sebagian orang lebih rentan. Penelitian yang dimuat dalam Personality and Individual Differences (Smith, Parrott, Diener, Hoyle, & Kim, 1999) menunjukkan bahwa individu dengan harga diri rendah lebih mudah merasa iri. Hal ini karena mereka melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman terhadap identitasnya.

Sebaliknya, orang dengan rasa percaya diri yang sehat cenderung lebih mampu melihat pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman. Psikolog klinis Kristin Neff yang banyak meneliti tentang self-compassion juga menekankan bahwa orang yang bisa bersikap lembut terhadap diri sendiri tidak mudah tenggelam dalam perasaan iri. Mereka menyadari bahwa hidup setiap orang punya jalannya masing-masing.

Selain harga diri, faktor lain yang berpengaruh adalah neuroticism, salah satu dimensi dalam Big Five Personality Traits. Orang dengan tingkat neurotik tinggi cenderung lebih emosional, mudah cemas, dan lebih sering mengalami iri karena mereka selalu waspada terhadap kemungkinan tertinggal atau gagal dibanding orang lain.

Rasa Ketidakadilan dan Keterbatasan Sumber Daya

Iri tidak selalu murni soal ego pribadi. Kadang rasa ini muncul karena adanya persepsi ketidakadilan. Misalnya, seorang karyawan merasa iri karena melihat rekan kerjanya dipromosikan padahal menurutnya ia bekerja lebih keras. Dalam konteks ini, iri lahir dari perasaan bahwa dunia tidak adil.

Psikolog ekonomi sering menyebut fenomena ini terkait dengan relative deprivation, yakni kondisi di mana seseorang merasa kurang beruntung dibanding kelompok lain meski secara objektif ia mungkin tidak kekurangan. Hal ini bisa terjadi di dunia kerja, pendidikan, hingga hubungan sosial.

Selain itu, keterbatasan sumber daya juga memperkuat rasa iri. Jika peluang dianggap terbatas, maka keberhasilan orang lain secara otomatis terasa mengurangi kesempatan diri sendiri. Inilah sebabnya iri lebih mudah muncul dalam situasi kompetitif, misalnya perebutan jabatan, beasiswa, atau pasangan hidup.

Budaya dan Norma Sosial

Budaya juga memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana seseorang mengalami iri. Dalam budaya yang sangat menekankan pencapaian individu, seperti di Barat, iri sering muncul karena standar keberhasilan yang tinggi dan individualistis. Orang diharapkan mencapai sesuatu secara personal, sehingga keberhasilan orang lain langsung dipandang sebagai tolok ukur yang membandingkan diri sendiri.

Di sisi lain, dalam budaya kolektif seperti di banyak negara Asia, iri seringkali tidak ditunjukkan secara terbuka. Ada norma sosial yang membuat orang menekan atau menyamarkan rasa irinya demi menjaga harmoni kelompok. Namun, bukan berarti iri tidak ada; justru ia bisa muncul dalam bentuk pasif-agresif atau sindiran halus.

Sosiolog Helmut Schoeck dalam bukunya Envy: A Theory of Social Behaviour (1966) menjelaskan bahwa hampir setiap masyarakat memiliki cara untuk mengatur dan mengekang rasa iri, karena iri yang dibiarkan bisa menggerogoti kohesi sosial. Beberapa budaya bahkan menggunakan mitos, tabu, atau ritual khusus untuk meredam iri, misalnya melalui konsep “mata jahat” atau evil eye di berbagai tradisi.

Peran Media Sosial dalam Memperbesar Rasa Iri

Media sosial menjadi medium paling subur bagi berkembangnya rasa iri modern. Algoritma platform dirancang untuk menampilkan konten yang memancing emosi, termasuk rasa kagum sekaligus iri. Ketika seseorang melihat unggahan liburan mewah, keberhasilan karier, atau kebahagiaan rumah tangga orang lain, otak secara otomatis melakukan perbandingan.

Studi dari Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menemukan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin besar kemungkinan ia mengalami fear of missing out (FOMO), yang erat kaitannya dengan iri. FOMO membuat orang merasa hidupnya tidak cukup baik hanya karena ia melihat pencapaian orang lain yang seolah sempurna.

Namun, menariknya, beberapa penelitian juga menemukan sisi positif: jika digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi sumber inspirasi. Bedanya terletak pada cara individu memaknai apa yang ia lihat—apakah sebagai ancaman, atau sebagai motivasi untuk berkembang.

Iri yang Bersifat Destruktif dan Iri yang Bersifat Konstruktif

Psikologi membedakan dua bentuk iri: iri destruktif dan iri konstruktif. Iri destruktif muncul ketika seseorang berharap orang lain gagal atau kehilangan pencapaiannya. Perasaan ini biasanya melahirkan kebencian, gosip, atau bahkan sabotase. Menurut psikolog Niels van de Ven dalam penelitiannya (2011), iri destruktif lebih banyak dikaitkan dengan emosi negatif seperti permusuhan dan depresi.

Sementara itu, iri konstruktif justru mendorong seseorang untuk meningkatkan diri. Misalnya, seorang mahasiswa yang iri dengan temannya yang mendapat beasiswa bisa termotivasi untuk belajar lebih giat. Dalam konteks ini, iri menjadi energi kompetitif yang sehat.

Perbedaan keduanya terletak pada fokus: iri destruktif berfokus pada kejatuhan orang lain, sementara iri konstruktif berfokus pada peningkatan diri sendiri.

Strategi Mengelola Rasa Iri

Para ahli psikologi menawarkan berbagai strategi untuk menghadapi iri. Salah satu pendekatan utama adalah cognitive reframing, yakni mengubah cara pandang terhadap situasi. Alih-alih melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, seseorang bisa memaknainya sebagai bukti bahwa pencapaian itu mungkin diraih juga.

Strategi lain adalah meningkatkan gratitude atau rasa syukur. Penelitian Robert Emmons dan Michael McCullough (2003) menunjukkan bahwa praktik bersyukur secara rutin meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi kecenderungan iri. Dengan menghargai apa yang sudah dimiliki, fokus berpindah dari kekurangan menuju kelimpahan.

Selain itu, mengembangkan self-compassion seperti yang diajarkan Kristin Neff dapat membantu. Dengan bersikap lebih lembut pada diri sendiri, seseorang tidak akan terlalu keras menghakimi dirinya saat merasa tertinggal dari orang lain.

Dampak Iri terhadap Kesehatan Mental dan Relasi

Jika tidak dikelola, iri dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Riset menunjukkan bahwa iri berkorelasi dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, dan depresi. Iri yang berulang juga bisa mengikis harga diri dan menciptakan siklus perbandingan sosial yang tidak ada habisnya.

Dalam relasi sosial, iri bisa merusak kepercayaan dan kedekatan. Teman atau saudara yang iri satu sama lain seringkali sulit menjaga hubungan yang sehat. Dalam konteks pekerjaan, iri bisa mengurangi kolaborasi dan menimbulkan konflik tersembunyi yang melemahkan tim.

Namun, ketika diolah secara sehat, iri justru bisa memperkuat hubungan. Misalnya, dengan mengakui perasaan iri dan menjadikannya bahan refleksi, seseorang bisa lebih jujur dan terbuka pada dirinya sendiri serta pada orang lain.

Penutup

Iri adalah emosi yang sangat manusiawi. Ia muncul dari kebutuhan untuk merasa berharga, dari dorongan membandingkan diri, hingga dari kondisi sosial dan budaya yang membentuk cara pandang kita. Namun, cara kita merespons iri menentukan apakah ia akan menjadi racun yang menggerogoti, atau api kecil yang mendorong kita tumbuh.

Dengan memahami akar psikologis iri, menyadari faktor-faktor yang memperkuatnya, serta belajar mengelola perasaan ini dengan syukur, welas asih, dan cara pandang baru, seseorang bisa mengubah iri dari beban menjadi energi. Pada akhirnya, rasa iri tidak bisa dihapus sepenuhnya, tetapi bisa diarahkan menjadi cermin yang membantu kita memahami diri lebih baik dan menapaki jalur pertumbuhan dengan lebih bijak.