Apa yang membuat orang lain sulit untuk bercerita?
Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
Berdasarkan pengalaman teman-teman saya, mereka kebanyakan berpikir bahwa lebih baik menahan perasaan mereka karena nanti hal tersebut akan hilang begitu saja, padahal walaupun sebenarnya akan hilang begitu saja, bercerita tetaplah diperlukan dan hal tersebut wajar. Mereka juga terkadang bahwa masalah mereka bukanlah sesuatu yang sangat berat sehingga lebih baik tidak perlu diceritakan, atau terkadang mereka berpikir bahwa akan mendapat respons negatif dari orang yang mendengarkan, sampai akhirnya mereka terus menerus menumpuk permasalahan mereka sampai tidak mampu mengenali emosi mereka sendiri.
Bercerita membutuhkan telinga untuk mendengar cerita tersebut. Permasalahan nya, kebanyakan orang bukan menjadi telinga yang tepat untuk mendengarkan seseorang berkeluh kesah. Tidak bisa membedakan mana cerita yang membutuhkan solusi atau hanya sekadar ingin didengarkan. Kebanyakan orang bukanlah pendengar yang baik sehingga, kerap kali seseorang yang ingin berkeluh kesah mengurungkan niatnya hingga memendamnya saja.
Aku sering berpikir, yang membuat orang sulit bercerita bukan semata-mata karena mereka tidak punya kata-kata, tapi karena mereka tidak yakin apakah kata-kata itu aman untuk dikeluarkan.
Aku ingat masa ketika aku menyimpan begitu banyak hal dalam diriku. Ada luka yang ingin kubagi, ada keresahan yang ingin kutitipkan, tapi lidahku rasanya beku. Setiap kali aku ingin memulai, kepalaku sudah dipenuhi pertanyaan: Apakah mereka akan mengerti? Apakah aku akan terdengar lemah? Apakah ceritaku akan jadi beban? Dan akhirnya, aku memilih diam.
Diam itu bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena takut dihakimi sebelum selesai bercerita. Aku pernah mencoba membuka diri pada seseorang, hanya untuk mendengar kalimat cepat yang memotong ceritaku, “Ah, itu mah sepele, aku juga pernah lebih parah.” Sejak itu aku belajar: tidak semua telinga adalah rumah.
Ada juga saat ketika aku ingin menceritakan sesuatu yang begitu berat, tapi wajah lawan bicara sudah terlihat lelah. Senyumnya kaku, matanya melirik jam. Aku bisa merasakan hatiku perlahan menutup kembali, seperti bunga yang menutup kelopaknya saat senja. Aku tak ingin membuat siapa pun tambah berat dengan bebanku.
Mungkin itulah sebabnya banyak orang memilih menuliskan kisahnya di jurnal, atau curhat pada langit malam, atau sekadar menangis dalam doa. Karena bercerita bukan hanya soal mengeluarkan suara, tapi juga tentang menemukan ruang di mana luka tidak dipandang sebagai kelemahan.
Aku pernah mendengar seorang teman berkata, “Aku lebih memilih menahan tangis di dada daripada berbagi lalu ditanggapi dingin.” Kalimat itu menamparku. Sejak saat itu aku berusaha menjadi pendengar yang tidak buru-buru memberi solusi, tapi sekadar hadir. Karena kadang, orang yang sulit bercerita bukan butuh jawaban, hanya butuh dipeluk lewat kesediaan kita untuk mendengar.
Dan aku juga belajar, bahwa sulit bercerita sering kali bukan karena tidak percaya pada orang lain, tapi karena belum berdamai dengan diri sendiri. Aku sendiri pernah menunda lama untuk membagikan kisah masa laluku, bukan karena tidak ada orang yang peduli, tapi karena aku sendiri masih merasa malu dengan luka itu.
Sekarang, ketika aku mendengar seseorang berkata “Aku ingin cerita, tapi aku takut,” aku tahu rasa itu nyata. Aku tahu rasanya menimbang ribuan kali sebelum satu kata keluar. Aku tahu betapa rapuhnya hati saat terbuka, dan betapa sakitnya jika kepercayaan itu tidak dijaga.
Mungkin itu yang membuat orang sulit bercerita: takut salah tempat, takut tak dianggap, takut ditinggalkan setelah membuka terlalu banyak.
Aku tidak bisa memberi nasihat untuk semua orang, karena setiap kita punya ruang sunyi masing-masing. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, setiap cerita akan menemukan rumahnya. Bahkan jika bukan pada manusia, bisa jadi pada Tuhan, pada kertas kosong, atau pada diri sendiri ketika sudah siap berdamai.
Dan mungkin, sulitnya kita bercerita bukanlah kelemahan, melainkan cara hati mengajarkan kita: bahwa tidak semua hal perlu didengar oleh semua orang, tapi ketika kita akhirnya menemukan telinga yang tepat, cerita itu akan terasa seperti hujan pertama setelah musim kemarau.
“Kadang hati menutup pintunya bukan karena tak ingin didengar, tapi karena ia masih menunggu siapa yang benar-benar mengetuk, bukan sekadar lewat.”
—
Ada kalanya kita merasa ada begitu banyak hal yang ingin dikeluarkan, tapi mulut seperti terkunci rapat. Bukan karena tidak ada orang di sekitar, melainkan karena ada sesuatu yang membuat kita ragu untuk berbagi. Psikolog sering menyebut fenomena ini sebagai hambatan komunikasi emosional, di mana seseorang memiliki beban atau kisah, tetapi sulit menuangkannya dalam kata-kata. Menariknya, hambatan ini bukan hanya masalah personal, melainkan juga berkaitan dengan faktor sosial, psikologis, bahkan budaya.
Menurut Brené Brown, seorang peneliti sekaligus penulis buku Daring Greatly, kerentanan (vulnerability) adalah salah satu alasan terbesar mengapa seseorang enggan bercerita. Membuka diri sama artinya dengan memperlihatkan sisi rapuh yang selama ini dijaga rapat. Di titik itulah muncul ketakutan akan penolakan, penghakiman, atau bahkan rasa malu. Maka, meskipun seseorang ingin sekali berbagi, ada tembok tinggi yang membatasi.
Orang yang pernah mengalami trauma, baik besar maupun kecil, sering kali kesulitan bercerita karena setiap kata bisa membangkitkan kembali luka lama. Judith Herman dalam bukunya Trauma and Recovery menegaskan bahwa pengalaman traumatis dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus diam. Trauma membentuk memori emosional yang kuat, sehingga bercerita bukan sekadar mengulang peristiwa, tetapi juga menghidupkan kembali rasa sakitnya.
Seseorang mungkin ingin berbagi, namun tubuh dan pikirannya menolak. Ini sering disebut avoidance coping—strategi menghindari hal-hal yang bisa memicu emosi negatif. Akibatnya, alih-alih terbuka, orang tersebut lebih memilih diam. Padahal, diam itu sendiri bisa menjadi beban tambahan.
Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, ada norma tak tertulis bahwa menunjukkan kesedihan, kekecewaan, atau kerentanan dianggap sebagai tanda kelemahan. Dari kecil, banyak orang diajarkan untuk "kuat", "tabah", atau "jangan cengeng". Pesan seperti ini tanpa sadar membentuk keyakinan bahwa berbagi cerita—terutama yang menyakitkan—hanya akan membuat orang lain melihat kita tidak berdaya.
Psikolog Albert Ellis, melalui teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), menjelaskan bahwa pikiran irasional seperti "jika aku terlihat lemah, orang akan menjauh dariku" dapat menahan seseorang dari bercerita. Pikiran itu bisa mengakar dalam, sehingga meskipun lingkungan mendukung, tetap saja terasa sulit membuka mulut.
Salah satu alasan paling klasik mengapa orang sulit bercerita adalah rasa takut tidak didengarkan, atau lebih parah lagi, ditolak. Carl Rogers, tokoh besar psikologi humanistik, menekankan pentingnya unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat dalam hubungan antar manusia. Tanpa itu, orang merasa aman untuk terbuka.
Sayangnya, realita tidak selalu demikian. Banyak orang pernah mengalami momen di mana cerita mereka disepelekan: "Ah, itu mah biasa aja." atau "Kamu terlalu lebay." Sekali atau dua kali mungkin tidak terlalu berarti, tapi jika berulang, pengalaman ini bisa menumbuhkan keyakinan bahwa berbagi hanya berujung pada kekecewaan.
Tidak semua orang punya kemampuan untuk menamai perasaan mereka. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai alexithymia, kondisi di mana seseorang sulit mengenali dan mengekspresikan emosi. Peter Sifneos, yang pertama kali memperkenalkan istilah ini, menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan alexithymia merasa bingung ketika diminta menjelaskan apa yang mereka rasakan.
Hal ini bukan berarti mereka tidak punya emosi, melainkan karena tidak terbiasa mengartikulasikannya. Sama seperti seseorang yang tinggal di negeri asing tanpa menguasai bahasanya—mereka tahu apa yang ada di kepala, tapi tidak tahu cara mengucapkannya. Maka, lebih mudah bagi mereka untuk tetap diam daripada mencoba menjelaskan.
Pengalaman masa lalu punya pengaruh besar. Seseorang yang pernah mengungkapkan cerita, lalu dipermalukan atau dikhianati, akan membangun pagar tinggi di sekeliling dirinya. Dalam teori attachment John Bowlby, keterikatan yang tidak aman (insecure attachment) dapat membuat seseorang sulit mempercayai orang lain.
Misalnya, anak yang tumbuh dengan orang tua yang sering mengabaikan ceritanya cenderung merasa bahwa berbagi itu percuma. Pola itu terbawa hingga dewasa. Akibatnya, meski ada teman atau pasangan yang sebenarnya mau mendengar, butuh waktu lama untuk benar-benar yakin bahwa kali ini berbeda.
Dalam konteks masyarakat timur, ada kecenderungan budaya untuk menyimpan cerita dalam lingkaran sempit, bahkan hanya untuk diri sendiri. Hal-hal personal sering dianggap tabu untuk dibicarakan di luar keluarga, apalagi ke orang asing atau profesional seperti psikolog.
Sosiolog Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life menjelaskan bahwa manusia cenderung menjaga front stage—penampilan publik yang ingin ditunjukkan—sementara bagian yang rapuh disembunyikan di back stage. Di budaya yang menekankan keharmonisan sosial, orang lebih memilih menampilkan wajah tenang ketimbang membuka konflik batin.
Ada juga alasan yang terdengar mulia: tidak ingin merepotkan atau membebani orang lain dengan cerita pribadi. Banyak orang beranggapan bahwa setiap orang sudah punya masalah masing-masing, jadi menambahkan cerita pribadi akan membuat orang lain semakin berat.
Menurut psikolog Susan David dalam bukunya Emotional Agility, kecenderungan ini sering muncul dari empati yang salah arah. Seseorang begitu peduli pada kesejahteraan orang lain, sampai-sampai mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri untuk didengarkan. Padahal, berbagi cerita justru bisa memperkuat ikatan sosial jika dilakukan dengan tulus.
Tidak semua orang sulit bercerita karena trauma atau ketakutan. Ada kalanya masalahnya sederhana: tidak ada momen yang tepat. Di tengah kesibukan, percakapan sehari-hari sering hanya menyentuh permukaan. Ketika ada kesempatan, orang mungkin merasa cerita mereka terlalu berat untuk dimasukkan begitu saja ke sela obrolan ringan.
Daniel Goleman, penulis Emotional Intelligence, menekankan bahwa kualitas hubungan sangat dipengaruhi oleh kehadiran emosional. Jika lawan bicara terlihat tergesa atau sibuk, seseorang akan lebih memilih menyimpan ceritanya daripada merasa diabaikan.
Meski bercerita sering kali terasa sulit, ada beberapa hal yang bisa membantu seseorang lebih berani membuka diri. Salah satunya adalah hadirnya pendengar yang benar-benar mau mendengar tanpa menghakimi. Carl Rogers menyebut ini sebagai empathic listening, kemampuan memahami dunia orang lain seolah-olah dari dalam dirinya sendiri.
Lingkungan yang aman, penerimaan tanpa syarat, dan kesediaan mendengar bisa menjadi kunci. Ketika seseorang merasa bahwa ceritanya tidak akan dipatahkan atau disepelekan, tembok pelan-pelan bisa runtuh.
Kesulitan bercerita bukanlah kelemahan, melainkan refleksi dari pengalaman, budaya, dan kondisi psikologis yang membentuk diri seseorang. Ada rasa takut, luka lama, keterbatasan bahasa emosi, hingga keinginan menjaga orang lain dari beban tambahan. Semua alasan itu valid dan manusiawi.
Namun, penting diingat bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang butuh didengar dan dipahami. Jika sulit bercerita, itu bukan tanda bahwa kita salah, tetapi sinyal bahwa kita butuh ruang yang lebih aman. Dan jika kita berperan sebagai pendengar, tugas kita bukan memberi solusi cepat, melainkan memberi telinga dan hati yang benar-benar hadir.
Ada satu kalimat yang sering terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat berat untuk dilakukan:
“Ceritakan saja apa yang kamu rasakan.”
Kalimat itu terdengar mudah.
Seolah-olah bercerita hanyalah soal membuka mulut dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Ada orang yang bisa berbicara dengan sangat lancar tentang banyak hal—pekerjaan, hobi, bahkan peristiwa sehari-hari. Tetapi ketika pembicaraan mulai menyentuh sesuatu yang lebih dalam, tiba-tiba kata-kata menjadi sangat sulit keluar.
Ada jeda yang panjang.
Ada senyum kecil yang mencoba menutupinya.
Ada kalimat seperti, “tidak apa-apa kok,” meskipun jelas ada sesuatu yang sebenarnya belum selesai.
Banyak orang membawa cerita dalam hidupnya yang tidak pernah benar-benar mereka ucapkan.
Dan menariknya, kesulitan untuk bercerita jarang disebabkan oleh satu alasan sederhana. Biasanya ia lahir dari lapisan pengalaman yang sangat kompleks.
Tidak semua orang yang diam tidak punya cerita. Kadang justru mereka yang paling diam adalah orang yang menyimpan cerita paling panjang.
Salah satu alasan paling umum mengapa seseorang sulit bercerita adalah ketakutan terhadap penilaian.
Ketika seseorang membuka dirinya, ia sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sangat rentan secara psikologis.
Ia sedang memperlihatkan bagian dirinya yang mungkin tidak selalu terlihat kuat.
Dan di dalam kerentanan itu selalu ada risiko: bagaimana jika orang lain tidak memahami?
Bagaimana jika cerita itu justru membuatnya dipandang berbeda?
Dalam psikologi sosial, fenomena ini berkaitan dengan konsep fear of negative evaluation—ketakutan bahwa orang lain akan menilai kita secara negatif.
Penelitian yang dilakukan oleh Mark Leary menunjukkan bahwa manusia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap kemungkinan penolakan sosial.
Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang memilih diam daripada mengambil risiko tersebut.
Bercerita berarti membuka kemungkinan untuk dimengerti, tetapi juga membuka kemungkinan untuk disalahpahami.
Ada orang yang sebenarnya pernah mencoba bercerita.
Namun pengalaman itu tidak berjalan seperti yang mereka harapkan.
Mungkin mereka pernah membuka diri kepada seseorang, tetapi respons yang diterima terasa mengecewakan.
Mungkin ceritanya dianggap berlebihan.
Mungkin diremehkan.
Mungkin bahkan dijadikan bahan candaan.
Pengalaman seperti ini bisa meninggalkan bekas yang cukup dalam.
Brene Brown, dalam bukunya Daring Greatly, menjelaskan bahwa kerentanan membutuhkan lingkungan yang aman.
Ketika seseorang merasa kerentanannya tidak dihargai, ia sering belajar untuk menutup diri di kemudian hari.
Dalam situasi seperti ini, kesulitan bercerita bukanlah tanda bahwa seseorang tidak ingin terbuka.
Sering kali itu adalah bentuk perlindungan diri yang lahir dari pengalaman sebelumnya.
Ada juga alasan yang lebih sunyi.
Sebagian orang sebenarnya tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka rasakan.
Emosi manusia sering kali tidak datang dalam bentuk yang rapi dan mudah dijelaskan.
Kadang perasaan hadir dalam bentuk yang campur aduk.
Sedih bercampur marah.
Kecewa bercampur rasa bersalah.
Rindu bercampur kehilangan.
Ketika seseorang mencoba menjelaskan sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya, kata-kata sering terasa tidak cukup.
Dalam penelitian tentang emosi, fenomena ini sering dikaitkan dengan emotional awareness—kemampuan untuk mengenali dan memberi nama pada perasaan sendiri.
Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang membantu mereka mengembangkan kemampuan ini.
Akibatnya, ketika seseorang ditanya tentang perasaannya, jawaban yang muncul sering hanya satu kalimat pendek:
“Tidak apa-apa.”
Padahal di balik kalimat itu mungkin ada dunia emosi yang sangat luas.
Ada juga orang yang sulit bercerita karena mereka terbiasa menjadi orang yang kuat bagi orang lain.
Dalam banyak keluarga atau kelompok sosial, ada individu yang sering mengambil peran sebagai penopang emosional.
Ia yang mendengarkan cerita orang lain.
Ia yang memberi nasihat.
Ia yang mencoba menenangkan suasana.
Namun jarang ada yang bertanya bagaimana keadaan dirinya sendiri.
Lama-kelamaan, orang seperti ini bisa merasa bahwa menunjukkan kesedihan atau kelemahan adalah sesuatu yang tidak pantas.
Mereka terbiasa menjadi tempat orang lain bersandar, tetapi tidak terbiasa bersandar pada siapa pun.
Kadang orang yang paling pandai mendengarkan adalah orang yang paling jarang didengarkan.
Alasan lain yang cukup umum adalah perasaan bahwa cerita mereka mungkin terlalu berat untuk orang lain.
Beberapa orang merasa bahwa kesedihan mereka seharusnya disimpan sendiri.
Mereka tidak ingin membuat orang lain merasa khawatir.
Tidak ingin menambah beban.
Tidak ingin merusak suasana.
Dalam penelitian tentang hubungan interpersonal, fenomena ini sering disebut sebagai protective buffering—upaya menahan perasaan demi melindungi orang lain dari stres emosional.
Niatnya sebenarnya baik.
Namun jika dilakukan terus-menerus, seseorang bisa merasa semakin terisolasi.
Selain faktor pribadi, budaya juga memainkan peran besar.
Dalam beberapa lingkungan sosial, berbicara tentang emosi dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu.
Ada pesan-pesan halus yang sering didengar sejak kecil:
“Jangan terlalu sensitif.”
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan.”
“Yang kuat saja.”
Pesan-pesan seperti ini mungkin dimaksudkan untuk membantu seseorang tetap tegar.
Namun kadang tanpa disadari, pesan itu juga mengajarkan bahwa emosi tertentu sebaiknya tidak dibicarakan.
Akibatnya, banyak orang tumbuh tanpa benar-benar belajar bagaimana mengekspresikan perasaan mereka.
Ada juga cerita yang memang sangat sulit diungkapkan.
Beberapa pengalaman hidup membawa emosi yang begitu kompleks sehingga kata-kata terasa tidak memadai.
Trauma, kehilangan besar, atau luka emosional yang dalam sering membuat seseorang merasa bahwa tidak ada cara yang cukup tepat untuk menjelaskannya.
Penelitian tentang trauma menunjukkan bahwa pengalaman traumatis kadang tersimpan dalam bentuk memori emosional yang sulit diungkapkan secara verbal.
Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score menjelaskan bahwa trauma sering hidup bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam sensasi tubuh dan emosi yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam situasi seperti ini, diam sering menjadi cara seseorang bertahan.
Jika diperhatikan dengan tenang, hampir setiap orang yang ditemui membawa cerita yang tidak sepenuhnya terlihat.
Ada cerita tentang kehilangan.
Tentang kegagalan.
Tentang rasa bersalah yang tidak pernah diucapkan.
Sebagian cerita itu diceritakan dengan mudah.
Sebagian lainnya disimpan begitu lama sehingga bahkan pemiliknya sendiri hampir lupa bagaimana cara mengucapkannya.
Mungkin karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang tampak baik-baik saja.
Mereka tersenyum.
Bercanda.
Melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Namun di balik semua itu, ada ruang sunyi di dalam diri mereka yang tidak selalu diketahui orang lain.
Dan mungkin di situlah salah satu hal paling manusiawi tentang bercerita.
Bahwa setiap cerita sebenarnya adalah jembatan kecil antara dua dunia: dunia batin seseorang, dan dunia luar tempat ia berharap ada seseorang yang cukup sabar untuk mendengarkan.
Bukan untuk menghakimi.
Bukan untuk segera memperbaiki semuanya.
Hanya untuk benar-benar mendengar.
Dan dalam dunia yang sering berjalan begitu cepat, mungkin kemampuan untuk benar-benar mendengarkan itulah yang paling langka—dan paling dibutuhkan.
Referensi:
Brown, B. (2012). Daring Greatly.
Leary, M. R. (2001). Self-Presentation: Impression Management and Interpersonal Behavior.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing About Emotional Experiences as a Therapeutic Process. Psychological Science.
Van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score.
Ada satu hal yang sering luput kita sadari dalam hubungan manusia: tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar merasa aman untuk bercerita.
Sebagian orang tampak baik-baik saja di luar. Mereka bekerja seperti biasa, bercanda, hadir dalam percakapan, bahkan terkadang menjadi orang yang paling sering mendengarkan cerita orang lain. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada satu hal yang jarang mereka lakukan.
Mereka jarang sekali bercerita tentang diri mereka sendiri.
Bagi sebagian orang, ini terlihat seperti sikap pendiam atau tertutup. Namun dalam banyak kasus, situasinya jauh lebih kompleks dari sekadar sifat kepribadian.
Ada banyak faktor psikologis, biologis, dan pengalaman hidup yang membuat seseorang merasa sangat sulit untuk membuka diri.
Dan menariknya, kesulitan ini sering tidak terlihat dari luar.
Banyak orang mengira bahwa bercerita hanyalah soal keberanian untuk berbicara.
Padahal dari sudut pandang ilmu tentang pikiran manusia, proses ini jauh lebih rumit.
Ketika seseorang menceritakan pengalaman emosionalnya, ada banyak sistem di dalam otak yang bekerja secara bersamaan.
Area yang berkaitan dengan memori seperti hipokampus membantu mengingat peristiwa yang terjadi.
Sementara amigdala, bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan rasa takut, ikut menentukan seberapa kuat pengalaman itu terasa secara emosional.
Di sisi lain, prefrontal cortex berperan dalam mengatur kata-kata, menimbang risiko sosial, dan memutuskan apakah aman untuk mengungkapkan sesuatu.
Jika salah satu sistem ini merasa bahwa situasinya tidak aman, tubuh akan menahan diri.
Inilah sebabnya mengapa seseorang kadang ingin bercerita, tetapi kata-katanya terasa tertahan di tenggorokan.
Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score menjelaskan bahwa pengalaman emosional yang kuat—terutama yang berkaitan dengan trauma atau rasa malu—dapat membuat otak kesulitan mengubah pengalaman menjadi narasi yang bisa diceritakan.
Ada pengalaman yang terlalu berat bagi sistem saraf untuk segera diubah menjadi kata-kata.
Ada satu kisah yang selalu muncul dalam ingatan ketika membicarakan hal ini.
Saya pernah mengenal seseorang yang dari luar tampak sangat tenang. Ia jarang mengeluh, jarang menunjukkan emosi yang kuat, dan hampir tidak pernah membicarakan masalah pribadinya.
Jika orang lain bercerita, ia akan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Namun ia sendiri hampir tidak pernah bercerita.
Suatu hari, dalam percakapan yang cukup panjang, ia akhirnya mengatakan sesuatu yang cukup sederhana tetapi terasa sangat jujur.
Ia berkata bahwa sejak kecil, setiap kali mencoba mengungkapkan perasaan, respons yang ia terima hampir selalu sama.
“Sudahlah, jangan lebay.”
“Atasi saja sendiri.”
“Kamu terlalu sensitif.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele.
Namun jika didengar berulang-ulang sejak masa kanak-kanak, otak mulai belajar satu hal yang sangat penting:
Bercerita tidak selalu aman.
John Bowlby, melalui teori attachment, menjelaskan bahwa pengalaman awal dengan orang-orang terdekat membentuk cara seseorang memahami hubungan emosional.
Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang responsif terhadap perasaannya, ia cenderung merasa aman untuk membuka diri.
Namun jika pengalaman awalnya dipenuhi penolakan atau pengabaian emosional, seseorang bisa belajar untuk menyimpan semuanya sendirian.
Bukan karena ia tidak ingin bercerita, tetapi karena sistem emosionalnya belajar bahwa bercerita tidak membawa rasa aman.
Selain pengalaman masa lalu, ada faktor lain yang sering membuat seseorang sulit bercerita: ketakutan akan penilaian.
Ketika seseorang membuka diri, ia sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sangat rentan.
Ia menunjukkan bagian hidupnya yang tidak sempurna.
Ia mengungkapkan kegagalan, kesedihan, atau kebingungan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang baik ketika melakukan hal ini.
Beberapa orang pernah bercerita dan justru menerima respons yang menyakitkan.
Ada yang ditertawakan.
Ada yang diremehkan.
Ada yang ceritanya dijadikan bahan gosip.
Pengalaman seperti ini dapat meninggalkan jejak yang cukup kuat dalam sistem saraf.
Penelitian dalam bidang neuropsikologi sosial menunjukkan bahwa rasa malu dan penolakan sosial dapat memicu aktivasi kuat di area otak yang berkaitan dengan ancaman.
Matthew Lieberman dalam bukunya Social menjelaskan bahwa otak manusia sangat sensitif terhadap sinyal penerimaan dan penolakan dari orang lain.
Bagi otak, membuka diri adalah sebuah risiko sosial.
Dan jika seseorang pernah terluka setelah mengambil risiko itu, tubuh akan belajar untuk lebih berhati-hati di masa depan.
Ada juga orang yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Pengalaman hidup kadang begitu kompleks sehingga sulit diringkas dalam kalimat sederhana.
Perasaan bisa bercampur menjadi satu: marah, sedih, kecewa, bingung.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin merasa bahwa menjelaskan semuanya akan terlalu melelahkan.
Kadang lebih mudah mengatakan “tidak apa-apa” daripada mencoba menjelaskan sesuatu yang begitu rumit.
Daniel Siegel, dalam The Developing Mind, menjelaskan bahwa kemampuan mengubah pengalaman emosional menjadi cerita yang koheren disebut sebagai narrative integration.
Proses ini membutuhkan waktu dan keamanan emosional.
Tanpa keduanya, pengalaman emosional sering tetap tersimpan sebagai sensasi atau perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada juga dimensi biologis yang jarang dibicarakan.
Ketika seseorang berada dalam keadaan stres kronis, sistem saraf otonom dapat memasuki kondisi yang disebut freeze response.
Stephen Porges, melalui teori polyvagal, menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu tubuh bisa masuk ke mode bertahan hidup yang membuat seseorang menjadi sangat pendiam, menarik diri, atau sulit mengekspresikan emosi.
Dalam keadaan seperti ini, keheningan bukanlah pilihan sadar.
Ia adalah respons biologis.
Tubuh mencoba melindungi diri dengan mengurangi keterlibatan sosial.
Itulah sebabnya ada orang yang terlihat sangat tenang dan tertutup ketika sebenarnya mereka sedang menahan beban emosional yang cukup besar.
Kadang diam bukan berarti tidak ada cerita.
Kadang diam justru berarti ceritanya terlalu banyak.
Menariknya, ada satu pola yang sering muncul dalam banyak hubungan sosial.
Orang yang paling pandai mendengarkan sering kali adalah orang yang paling jarang bercerita.
Mereka terbiasa menjadi tempat orang lain mencurahkan perasaan.
Mereka memahami kesedihan orang lain dengan sangat baik.
Namun ketika giliran mereka sendiri berbicara, kata-kata itu terasa sulit keluar.
Sebagian dari mereka merasa bahwa masalahnya tidak sepenting masalah orang lain.
Sebagian lagi merasa tidak ingin membebani orang lain.
Namun ada juga yang sebenarnya hanya tidak terbiasa menjadi pusat perhatian emosional.
Dalam buku The Gift of Therapy, Irvin Yalom pernah menulis sesuatu yang cukup menarik tentang manusia.
Ia mengatakan bahwa sering kali orang yang terlihat paling kuat sebenarnya adalah orang yang paling lama belajar menyembunyikan rasa sakitnya.
Jika dipikirkan dengan tenang, mungkin kesulitan seseorang untuk bercerita bukanlah tanda bahwa ia tidak percaya kepada siapa pun.
Kadang itu adalah hasil dari perjalanan hidup yang panjang.
Pengalaman masa kecil.
Hubungan yang pernah mengecewakan.
Ketakutan akan penilaian.
Atau sekadar sistem saraf yang sudah terlalu lama berada dalam mode bertahan.
Di luar sana ada banyak orang yang membawa cerita yang tidak pernah benar-benar mereka ucapkan.
Cerita tentang kehilangan.
Tentang rasa gagal.
Tentang kelelahan yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Mereka tetap berjalan seperti biasa.
Tetap bekerja.
Tetap tersenyum ketika diperlukan.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering tidak terlihat oleh orang lain.
Bahwa bagi sebagian orang, bercerita bukanlah sesuatu yang mudah.
Ia adalah sesuatu yang membutuhkan keberanian yang sangat besar.
Dan mungkin di situlah kita mulai menyadari sesuatu yang cukup sederhana namun penting.
Bahwa setiap orang yang terlihat tenang di luar, mungkin sedang menyimpan cerita yang belum pernah mereka temukan tempat yang cukup aman untuk mengucapkannya dengan suara keras.
Notifications