Rasa khawatir merupakan salah satu pikiran negatif yang berbahaya bagi kesehatan fisik maupun kesehatan mental manusia. Segala bentuk pemikiran negatif — misalnya, mengkhawatirkan masa depan atau kesehatan — akan merangsang pelepasan zat kimia saraf (hormon) yang merusak. Hal yang sama berlaku untuk anak-anak: Semakin banyak pikiran negatif yang mereka miliki, semakin besar kemungkinan mereka mengalami gejolak emosional. [1]
Yang lebih berbahaya lagi, pikiran negatif juga akan semakin menetap dan semakin sulit dihentikan jika kita selalu "berdialog" dengan pikiran negatif kita sendiri. [2] Selain itu, kata-kata negatif, yang diucapkan dengan amarah, akan lebih merusak. Kata-kata tersebut akan mengirimkan pesan "tanda bahaya" pada otak kita, sehingga mengganggu pusat pengambilan keputusan di lobus frontal, dan hal ini akan meningkatkan kecenderungan seseorang untuk bertindak tidak rasional.
Kata-kata yang memicu rasa takut — seperti kemiskinan, penyakit, dan kematian — juga merangsang otak kita dengan cara yang negatif. Bahkan jika pikiran menakutkan tersebut tidak menjadi kenyataan, bagian lain dari otak kita (seperti talamus dan amigdala) akan tetap bereaksi terhadap fantasi negatif tersebut dan seolah-olah itu adalah ancaman yang nyata. Anehnya, secara default, kita terprogram untuk selalu khawatir. Hal ini mungkin karena adanya "kenangan lama" yang dibawa sejak zaman nenek moyang kita ketika pada masa itu terdapat ancaman yang tak terhitung jumlahnya bagi kelangsungan hidup kita. [3]. Rasa khawatir adalah salah satu cara nenek moyang kita untuk dapat survive melawan kejamnya alam.
Bagaimana menghentikannya ?
Walaupun rasa khawatir itu wajar dan alami, tetapi sebaiknya segera hentikan kekhawatiran kita yang berlebihan. Beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi rasa khawatirmu adalah sebagai berikut :
Pertama, tanyakan pada dirimu: "Apakah situasinya benar-benar merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup pribadi mu?"
Biasanya apa yang kamu khawatirkan itu kenyataannya tidak semenakutkan seperti apa yang kamu bayangkan. Segera lawan dengan pikiran positif bahwa semua akan baik-baik saja. Semakin cepat kamu mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah yang ada, semakin berkurang juga kemungkinan terjadinya memori negatif yang permanen dalam pikiranmu. [4]
Fokuslah pada kata-kata dan gambaran positif tentang dirimu. Hal itu akan membuat kecemasan dan depresi yang ada pada dirimu berkurang dan secara otomatis jumlah pikiran negatif yang ada didalam pikiranmu akan menurun. [5]
Kedua, Lawan Pikiran Negatif dengan Pikiran Positif. Ketika kita melawan pikiran negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif, maka kita akan mendapatkan kembali kendali diri dan kepercayaan diri. [6] Masalahnya adalah otak kita tidak terlalu merespon kata-kata dan pikiran positif kita [7]. Pikiran positif bukanlah ancaman bagi kelangsungan hidup kita, jadi otak tidak perlu menanggapi pikiran dan kata-kata positif secepat itu. [8]
Untuk mengatasi bias saraf negatif ini, kita harus berulang-ulang dan secara sadar menghasilkan pikiran positif sebanyak yang kita bisa. Barbara Fredrickson, pendiri Psikologi Positif, menemukan bahwa kita perlu menghasilkan setidaknya tiga pikiran dan perasaan positif untuk setiap ekspresi atau pikiran negatif. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Marcial Losada dengan studi kasus sebuah tim di perusahaan, [9] dan penelitian John Gottman dengan studi kasus pasangan suami istri. [10] Jika kamu melawan pikiran negatif dengan kurang dari 3 pikiran positif, maka kemungkinan bisnis atau hubunganmu akan gagal.
Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Fredrickson, Losada, dan Gottman menghasilkan temuan bahwa setidaknya dibutuhkan lima pesan positif untuk setiap ucapan negatif yang kamu buat. ("Saya kecewa" atau "Bukan itu yang saya harapkan" dihitung sebagai ekspresi negatif, seperti halnya wajah cemberut.)
Jangan takut bahwa pikiran positif yang kamu buat tidak rasional. Pikiran positif yang tidak rasional sekalipun masih akan meningkatkan rasa bahagia, kesejahteraan, dan kepuasan pada dirimu. [11] Faktanya, berpikir positif dapat membantu siapapun membangun sikap yang lebih baik dan lebih optimis terhadap kehidupan. [12]
Kata-kata dan pikiran positif mendorong pusat motivasi otak untuk bertindak [13] dan membantu kita membangun ketahanan saat menghadapi masalah. [14] Menurut Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti tentang kebahagiaan yang terkemuka, mengatakan bahwa jika kamu ingin mengembangkan kepuasan hidup, kamu harus secara teratur berpikir positif tentang dirimu sendiri, berbagi hal-hal yang membahagiakan dengan orang lain, dan menikmati setiap pengalaman positif. [15]
Ketiga, Tanamkan Pikiran Positif Tersebut Kedalam Pikiranmu. Pilih kata-kata positif dengan bijak dan ucapkan secara perlahan. Hal itu akan mengganggu kecenderungan otak kita untuk berpikir negatif, dan, pengulangan kata-kata positif seperti cinta, kedamaian, dan kasih sayang akan mengaktifkan gen tertentu yang menurunkan stres yang terjadi pada dirimu, baik fisik dan emosional. [16]. Hal itu akan membuatmu merasa lebih baik, hidup lebih lama, dan membangun hubungan yang lebih dalam dan lebih saling percaya dengan orang lain.
Referensi :
[1] The Role of Repetitive Negative Thoughts in the Vulnerability for Emotional Problems in Non-Clinical Children. Broeren S, Muris P, Bouwmeester S, van der Heijden KB, Abee A. J Child Fam Stud. 2011 Apr;20(2):135-148.
[2] What is in a word? No versus Yes differentially engage the lateral orbitofrontal cortex. Alia-Klein N, Goldstein RZ, Tomasi D, Zhang L, Fagin-Jones S, Telang F, Wang GJ, Fowler JS, Volkow ND. Emotion. 2007 Aug;7(3):649-59.
[3] Wright, R. The Moral Animal: Why We Are, the Way We Are: The New Science of Evolutionary Psychology. Vintage, 1995.
[4] Erasing fear memories with extinction training. Quirk GJ, Paré D, Richardson R, Herry C, Monfils MH, Schiller D, Vicentic A. J Neurosci. 2010 Nov 10;30(45):14993-7.
[5] Generalized hypervigilance in fibromyalgia patients: an experimental analysis with the emotional Stroop paradigm. González JL, Mercado F, Barjola P, Carretero I, López-López A, Bullones MA, Fernández-Sánchez M, Alonso M. J Psychosom Res. 2010 Sep;69(3):279-87.
[6] [Negative and positive suggestions in anaesthesia : Improved communication with anxious surgical patients]. Hansen E, Bejenke C. Anaesthesist. 2010 Mar;59(3):199-202, 204-6, 208-9.
[7] Kisley MA, Wood S, Burrows CL. Looking at the sunny side of life: age-related change in an event-related potential measure of the negativity bias. Psychol Sci. 2007 Sep;18(9):838-43.
[8] May I have your attention, please: electrocortical responses to positive and negative stimuli. Smith NK, Cacioppo JT, Larsen JT, Chartrand TL. Neuropsychologia. 2003;41(2):171-83.
[9] Losada, M. & Heaphy, E. (2004). The role of positivity and connectivity in the performance of business teams: A nonlinear dynamics model. Losada M, Heaphy E. Am Behav Scientist. 2004 47 (6):740–765.
[10] Gottman J. What Predicts Divorce?: The Relationship Between Marital Processes and Marital Outcomes. Psychology Press, 1993.
[11] On the incremental validity of irrational beliefs to predict subjective well-being while controlling for personality factors. Spörrle M, Strobel M, Tumasjan A. Psicothema. 2010 Nov;22(4):543-8.
[12] The value of positive psychology for health psychology: progress and pitfalls in examining the relation of positive phenomena to health. Aspinwall LG, Tedeschi RG. Ann Behav Med. 2010 Feb;39(1):4-15.
[13] What is in a word? No versus Yes differentially engage the lateral orbitofrontal cortex. Alia-Klein N, Goldstein RZ, Tomasi D, Zhang L, Fagin-Jones S, Telang F, Wang GJ, Fowler JS, Volkow ND. Emotion. 2007 Aug;7(3):649-59.
[14] Happiness unpacked: positive emotions increase life satisfaction by building resilience. Cohn MA, Fredrickson BL, Brown SL, Mikels JA,Conway AM. Emotion. 2009 Jun;9(3):361-8.
[15] Pursuing Happiness in Everyday Life: The Characteristics and Behaviors of Online Happiness Seekers. Parks AC, Della Porta MD, Pierce RS, Zilca R, Lyubomirsky S. Emotion. 2012 May 28.
[16] Genomic counter-stress changes induced by the relaxation response. Dusek JA, Otu HH, Wohlhueter AL, Bhasin M, Zerbini LF, Joseph MG, Benson H, Libermann TA. PLoS One. 2008 Jul 2;3(7):e2576.