Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Hal pertama yang harus kita jadikan pegangan adalah, kita tidak memulainya dari awal, tetapi kita memulai babak baru dengan kondisi diri kita yang baru. Kondisi dimana kita mempunyai banyak pengalaman atas kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelumnya. Kita memulai babak baru kehidupan dengan kondisi yang lebih dewasa.

Ketika kita menyadari hal itu, harapannya kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih “clear” dan lebih bijaksana.

Kita adalah ‘pengarang’ kehidupan kita sendiri. Seperti apa respon kita terhadap segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, sebagian besar ditentukan oleh diri kita sendiri. Kehidupan kita sejatinya seperti sebuah buku, dimana ada bagian yang terkesan biasa-biasa saja, tetapi tidak jarang beberapa bagian dalam kehidupan kita terlihat fenomenal. Yang perlu kita ingat, selama kita masih bernafas, buku tersebut akan selalu terisi dengan kisah-kisah kehidupan kita. So, sebelum buku tersebut tertutup rapat, kita masih bisa merubah kisah kita sendiri.

Prinsip lainnya adalah, masa lalu adalah masa lalu, kita tidak akan bisa merubah masa lalu kita, seberapapun besar keinginan atau usaha kita untuk merubahnya. Kita hidup di masa sekarang, maka fokuslah dengan apa yang ada saat ini. Walaupun kita tidak bisa merubah kisah masa lalu kita, tetapi kita masih bisa berusaha merubah kisah masa depan kita, dengan melakukan yang terbaik di masa sekarang.

Jauhi pemikiran “what if”. Andai adalah kata yang sangat menyesatkan. Pemikiran itu hanya akan menyedot energi kita dan membuat kita menjadi tidak produktif. Selain itu, hal yang paling berbahaya adalah, kata andai hanya akan merusak mental kita sendiri. Berandai-andai tentang masa lalu adalah pemikiran yang sangat tidak logis.

Memang benar, kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu, karena dengan cara itulah kita menjadi lebih dewasa. Tetapi terjebak dalam kehidupan masa lalu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Ketika kita sudah mendapatkan pelajaran dari masa lalu, segera tutup babak itu. Tidak ada lagi yang bisa dilihat di sana. Hidup adalah tentang bergerak maju, dan kita masih dapat mengendalikan kisah kita saat ini.

Prinsip yang terakhir adalah jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Masa depan adalah misteri. Walaupun kita berharap untuk mendapatkan kisah seperti yang kita inginkan, tetapi bisa jadi kita mendapatkan skenario yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ke-misteri-an dalam kehidupanlah yang membuat kehidupan menjadi lebih indah dan menarik. Ibarat sebuah film, film terbaik adalah film yang tidak bisa kita tebak ending dari ceritanya. Bukankah twist adalah bumbu paling menarik dari sebuah film?

Tugas kita adalah berusaha yang terbaik, yang bisa kita lakukan saat ini. Apapun kondisi kita, seberapapun terpuruknya kita, minimal kita masih bisa berusaha untuk menjadi lebih baik, itu sudah lebih dari cukup. Yang perlu diingat, melakukan yang terbaik bukan tentang idealisme. Semua juga tergantung dengan kondisi kita. Ketika kita jatuh, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah bangkit. Ketika kita sudah bisa bangkit, maka cobalah untuk berjalan. Ketika sudah bisa berjalan, cobalah untuk berlari. Semua hal juga butuh proses, dan tidak ada yang instan di kehidupan kita. Instan adalah makanan para pemimpi.

Pertama adalah mengenali emosi dan perasaan yang sedang dirasakan saat ini. Mencoba terus mencari tahu apa yang menjadi keinginan dalam diri. Baik itu tujuan, perasaaan, haparan, angan-angan.  

Kedua, terkait permasalahan yang pernah terjadi dihari kemarin. Tidak semua orang mampu menerima pengalaman yang telah terjadi, tetapi setiap orang punya potensi memahami dan memaknai setiap peristiwa dalam hidupnya. Hal ini didasarkan pada proses dan pengalaman. Sebagaian orang mampu menjadikan pengalaman negatif masa lalu sebagai motivasi dalam melangkah baru, namun sebagaian orang tidak mampu menjadikan pengalaman negatif masa lalu sebagai pendorong upaya perubahan melainkan menjadikan seseorang semakin down.  

Dalam memulai hal baru yang paling utama adalah keinginan dalam diri untuk melakukan perubahan atau pergerakan. Dalam psikologi salah satunya dikenal dengan "Self Efficacy". Efikasi Diri (Self Efficacy) adalah keyakinan mengenai kemampuan diri dalam mencapai tujuan (Djalali & Sandra, 2013). Keyakinan, kemauan, dan kemampuan pada diri individu merupakan modal utama dalam menghadapi tuntutan yang harus dilewati dalam upaya pencapaian harapan (Utami, Rufaidah, & Nusa, 2020). Selain itu, pentingnya dukungan sosial dari orang disekitar.   Dan yang terpenting, tidak ada salah mencoba dalam hal kebaikan. Dengan mencoba akan menjadi tahu sejauh mana kemampuan diri dan ada pengalaman didepan yang menanti.

Sumber:

Djalali., M., A & Sandra., K., I. (2013). Manajemen Waktu, Efikasi-Diri Dan Prokrastinasi. Persona (Jurnal Psikologi Indonesia), Vol.02, (03), 217-222.
Utami., S., Rifaidah., A., Nisa., A. (2020). Kontribusi self-efficacy terhadap stres akademik mahasiswa selama pandemi Covid-19 periode April-Mei 2020. TERAPUTIK Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 04, (01), 20-27.

Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika seseorang memasuki babak baru dalam hidupnya:

yang berubah bukan hanya situasi di luar,
tapi juga cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Pekerjaan baru, hubungan baru, tempat baru, atau bahkan peran baru dalam hidup—semuanya membawa perubahan yang terlihat.
Namun yang sering kali lebih sunyi, dan justru lebih menentukan, adalah perubahan di dalam.

Karena setiap babak baru, pada dasarnya, adalah pertemuan antara harapan dan kenyataan.
Dan di antara keduanya, ada banyak hal yang perlu dipahami dengan pelan.


Tidak Semua Hal Harus Langsung Jelas

Banyak orang memasuki fase baru dengan keinginan untuk “segera mengerti semuanya”.

Harus langsung tahu arah.
Harus langsung merasa nyaman.
Harus langsung yakin bahwa ini adalah keputusan yang benar.

Namun kenyataannya jarang seperti itu.

Ada kebingungan.
Ada keraguan.
Ada momen di mana semuanya terasa asing.

Dan itu bukan tanda bahwa sesuatu berjalan salah.

Dalam teori transisi kehidupan yang dibahas oleh William Bridges, setiap perubahan memiliki tiga fase: ending (mengakhiri yang lama), neutral zone (fase di tengah yang penuh ketidakpastian), dan new beginning (awal yang baru).

Banyak orang ingin langsung berada di fase “new beginning”,
padahal hampir semua orang harus melewati fase tengah yang tidak nyaman.

Ketidakjelasan di awal bukan kegagalan beradaptasi,
tapi bagian alami dari proses perubahan.


Melepaskan yang Lama, Meski Itu Tidak Buruk

Tidak semua hal yang ditinggalkan itu buruk.

Kadang seseorang meninggalkan sesuatu yang sebenarnya cukup baik—
pekerjaan yang stabil, hubungan yang familiar, atau rutinitas yang sudah nyaman.

Namun tetap saja, ada sesuatu yang harus dilepas.

Dan di situlah sering muncul perasaan yang membingungkan:

antara lega dan kehilangan.
antara harapan dan kesedihan.

Banyak orang merasa bersalah karena masih merindukan hal yang sudah mereka tinggalkan,
padahal itu adalah bagian yang sangat manusiawi.

Memulai yang baru sering kali berarti berduka atas yang lama,
meskipun yang lama itu tidak sepenuhnya buruk.


Ekspektasi yang Terlalu Tinggi

Ada kecenderungan untuk menganggap babak baru sebagai “awal yang sempurna”.

Seolah-olah semuanya akan lebih baik.
Lebih sesuai.
Lebih membahagiakan.

Namun ekspektasi seperti ini bisa menjadi beban.

Karena ketika realitas tidak sesuai, kekecewaan terasa lebih besar.

Padahal setiap fase, bahkan yang baru sekalipun, tetap memiliki tantangan.

Dalam konsep hedonic adaptation yang dibahas dalam psikologi positif, manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan dasarnya setelah perubahan, bahkan perubahan yang positif.

Artinya, hal baru tidak selalu membawa kebahagiaan yang terus meningkat.

Babak baru bukan tentang hidup yang menjadi sempurna,
tapi tentang belajar hidup dalam bentuk yang berbeda.


Identitas yang Sedang Berubah

Setiap perubahan besar biasanya diikuti dengan pertanyaan yang tidak selalu disadari:

“Sekarang aku ini siapa?”

Seseorang yang dulu terbiasa dengan satu peran, tiba-tiba berada di posisi yang berbeda.

Yang dulu merasa ahli, sekarang merasa pemula.
Yang dulu merasa nyaman, sekarang merasa canggung.

Ini bukan hanya soal kemampuan, tapi juga identitas.

Dalam pemikiran Erik Erikson tentang perkembangan psikososial, identitas bukan sesuatu yang statis. Ia terus berkembang seiring perubahan peran dan pengalaman.

Namun proses ini tidak selalu mulus.

Ada fase di mana seseorang merasa “tidak seperti dirinya sendiri”.

Dan itu bisa membingungkan.

Babak baru sering kali bukan hanya tentang melakukan hal yang berbeda,
tapi menjadi versi diri yang belum sepenuhnya dikenal.


Kesabaran terhadap Proses Adaptasi

Ada tekanan yang tidak selalu terlihat:

tekanan untuk cepat beradaptasi.

“Harusnya aku sudah bisa.”
“Harusnya aku sudah nyaman.”
“Harusnya aku tidak merasa seperti ini lagi.”

Padahal setiap orang memiliki ritmenya sendiri.

Ada yang cepat menyesuaikan diri.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.

Dan itu bukan kelemahan.

Dalam penelitian tentang stres dan adaptasi oleh Lazarus dan Folkman, bagaimana seseorang menilai situasi (appraisal) sangat memengaruhi cara ia menghadapi perubahan.

Jika seseorang melihat dirinya “tertinggal”, tekanan akan bertambah.

Namun jika ia melihat proses ini sebagai sesuatu yang wajar, ada ruang untuk bernapas.

Tidak semua hal perlu dikejar dengan cepat,
beberapa hal memang perlu tumbuh dengan waktu.


Lingkungan Baru, Diri yang Lama

Memasuki lingkungan baru sering kali membuat seseorang lebih sadar akan dirinya sendiri.

Cara berbicara terasa diperhatikan.
Cara bersikap terasa dinilai.
Hal-hal kecil yang dulu tidak dipikirkan menjadi lebih terlihat.

Dan di situ, muncul kecenderungan untuk menyesuaikan diri.

Itu hal yang alami.

Namun ada garis tipis antara menyesuaikan diri dan kehilangan diri.

Jika terlalu jauh menyesuaikan, seseorang bisa merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

Namun jika tidak menyesuaikan sama sekali, ia bisa merasa terasing.

Yang sering kali dibutuhkan bukan memilih salah satu,
tapi menemukan titik di mana seseorang tetap bisa menjadi dirinya—
tanpa menutup diri dari lingkungan baru.


Ketidakpastian yang Tidak Bisa Dihilangkan

Babak baru hampir selalu datang dengan ketidakpastian.

Apakah ini akan berhasil?
Apakah ini keputusan yang tepat?
Apa yang akan terjadi ke depan?

Banyak orang berusaha mencari kepastian sebelum melangkah lebih jauh.

Namun sering kali, kepastian itu memang tidak ada.

Yang ada hanyalah kemungkinan.

Dalam banyak hal, hidup tidak memberi jawaban di awal.

Jawaban itu muncul di tengah perjalanan.

Tidak semua langkah membutuhkan kepastian,
beberapa langkah hanya membutuhkan keberanian untuk tidak tahu.


Membawa Pola Lama ke Tempat Baru

Ada sesuatu yang menarik:

meskipun situasi berubah, seseorang tetap membawa dirinya yang lama.

Termasuk cara berpikir, kebiasaan, dan pola emosional.

Jika sebelumnya mudah meragukan diri, itu bisa terbawa.
Jika sebelumnya sulit berkata tidak, itu bisa terulang.
Jika sebelumnya cenderung menghindar, itu bisa muncul lagi.

Dan sering kali, ini membuat seseorang merasa bahwa perubahan tidak banyak berarti.

Padahal yang berubah baru konteksnya, belum tentu cara meresponsnya.

Dalam pendekatan schema therapy oleh Jeffrey Young, pola-pola lama ini disebut sebagai schema—kerangka berpikir yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya.

Dan tanpa disadari, schema ini terus memengaruhi bagaimana seseorang menjalani fase baru.

Babak baru tidak otomatis menghapus pola lama,
tapi memberi kesempatan untuk mulai melihatnya dengan lebih jelas.


Tidak Semua Orang Akan Mengerti

Ketika seseorang memulai fase baru, tidak semua orang di sekitarnya akan memahami.

Ada yang meragukan.
Ada yang membandingkan.
Ada yang tidak melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang penting.

Dan itu bisa terasa menyakitkan.

Terutama jika harapan untuk dimengerti cukup besar.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan:

tidak semua perjalanan harus dipahami oleh semua orang.

Dan terkadang, terlalu berharap dipahami justru membuat langkah menjadi lebih berat.


Memberi Ruang untuk Diri Sendiri

Di tengah semua perubahan, ada satu hal yang sering terabaikan:

ruang untuk diri sendiri.

Ruang untuk merasa bingung tanpa harus langsung menemukan jawaban.
Ruang untuk lelah tanpa harus terlihat kuat.
Ruang untuk perlahan, tanpa harus terus membandingkan.

Karena tanpa ruang ini, perubahan bisa terasa seperti tekanan yang terus-menerus.


Referensi

  • Bridges, W. (2009). Managing Transitions: Making the Most of Change
  • Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis
  • Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow
  • Young, J. E. (2003). Schema Therapy: A Practitioner’s Guide
  • Lyubomirsky, S. (2007). The How of Happiness

Mungkin pada akhirnya, memulai babak baru bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri kita dalam waktu singkat.

Tapi tentang sesuatu yang lebih pelan:

tentang bagaimana seseorang berjalan di tempat yang masih asing,
dengan perasaan yang belum sepenuhnya stabil,
dengan jawaban yang belum sepenuhnya jelas—

dan tetap memilih untuk tidak kembali,
meskipun sesekali muncul keinginan untuk berbalik

karena di dalam ketidakpastian itu,
perlahan-lahan,
ada bagian dari diri yang mulai terbentuk

menjadi sesuatu
yang sebelumnya belum pernah ada.

Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika seseorang memasuki babak baru dalam hidupnya:

yang berubah bukan hanya situasi di luar,
tapi juga cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Pekerjaan baru, hubungan baru, tempat baru, atau bahkan peran baru dalam hidup—semuanya membawa perubahan yang terlihat.
Namun yang sering kali lebih sunyi, dan justru lebih menentukan, adalah perubahan di dalam.

Karena setiap babak baru, pada dasarnya, adalah pertemuan antara harapan dan kenyataan.
Dan di antara keduanya, ada banyak hal yang perlu dipahami dengan pelan.


Tidak Semua Hal Harus Langsung Jelas

Banyak orang memasuki fase baru dengan keinginan untuk “segera mengerti semuanya”.

Harus langsung tahu arah.
Harus langsung merasa nyaman.
Harus langsung yakin bahwa ini adalah keputusan yang benar.

Namun kenyataannya jarang seperti itu.

Ada kebingungan.
Ada keraguan.
Ada momen di mana semuanya terasa asing.

Dan itu bukan tanda bahwa sesuatu berjalan salah.

Dalam teori transisi kehidupan yang dibahas oleh William Bridges, setiap perubahan memiliki tiga fase: ending (mengakhiri yang lama), neutral zone (fase di tengah yang penuh ketidakpastian), dan new beginning (awal yang baru).

Banyak orang ingin langsung berada di fase “new beginning”,
padahal hampir semua orang harus melewati fase tengah yang tidak nyaman.

Ketidakjelasan di awal bukan kegagalan beradaptasi,
tapi bagian alami dari proses perubahan.


Melepaskan yang Lama, Meski Itu Tidak Buruk

Tidak semua hal yang ditinggalkan itu buruk.

Kadang seseorang meninggalkan sesuatu yang sebenarnya cukup baik—
pekerjaan yang stabil, hubungan yang familiar, atau rutinitas yang sudah nyaman.

Namun tetap saja, ada sesuatu yang harus dilepas.

Dan di situlah sering muncul perasaan yang membingungkan:

antara lega dan kehilangan.
antara harapan dan kesedihan.

Banyak orang merasa bersalah karena masih merindukan hal yang sudah mereka tinggalkan,
padahal itu adalah bagian yang sangat manusiawi.

Memulai yang baru sering kali berarti berduka atas yang lama,
meskipun yang lama itu tidak sepenuhnya buruk.


Ekspektasi yang Terlalu Tinggi

Ada kecenderungan untuk menganggap babak baru sebagai “awal yang sempurna”.

Seolah-olah semuanya akan lebih baik.
Lebih sesuai.
Lebih membahagiakan.

Namun ekspektasi seperti ini bisa menjadi beban.

Karena ketika realitas tidak sesuai, kekecewaan terasa lebih besar.

Padahal setiap fase, bahkan yang baru sekalipun, tetap memiliki tantangan.

Dalam konsep hedonic adaptation yang dibahas dalam psikologi positif, manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan dasarnya setelah perubahan, bahkan perubahan yang positif.

Artinya, hal baru tidak selalu membawa kebahagiaan yang terus meningkat.

Babak baru bukan tentang hidup yang menjadi sempurna,
tapi tentang belajar hidup dalam bentuk yang berbeda.


Identitas yang Sedang Berubah

Setiap perubahan besar biasanya diikuti dengan pertanyaan yang tidak selalu disadari:

“Sekarang aku ini siapa?”

Seseorang yang dulu terbiasa dengan satu peran, tiba-tiba berada di posisi yang berbeda.

Yang dulu merasa ahli, sekarang merasa pemula.
Yang dulu merasa nyaman, sekarang merasa canggung.

Ini bukan hanya soal kemampuan, tapi juga identitas.

Dalam pemikiran Erik Erikson tentang perkembangan psikososial, identitas bukan sesuatu yang statis. Ia terus berkembang seiring perubahan peran dan pengalaman.

Namun proses ini tidak selalu mulus.

Ada fase di mana seseorang merasa “tidak seperti dirinya sendiri”.

Dan itu bisa membingungkan.

Babak baru sering kali bukan hanya tentang melakukan hal yang berbeda,
tapi menjadi versi diri yang belum sepenuhnya dikenal.


Kesabaran terhadap Proses Adaptasi

Ada tekanan yang tidak selalu terlihat:

tekanan untuk cepat beradaptasi.

“Harusnya aku sudah bisa.”
“Harusnya aku sudah nyaman.”
“Harusnya aku tidak merasa seperti ini lagi.”

Padahal setiap orang memiliki ritmenya sendiri.

Ada yang cepat menyesuaikan diri.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.

Dan itu bukan kelemahan.

Dalam penelitian tentang stres dan adaptasi oleh Lazarus dan Folkman, bagaimana seseorang menilai situasi (appraisal) sangat memengaruhi cara ia menghadapi perubahan.

Jika seseorang melihat dirinya “tertinggal”, tekanan akan bertambah.

Namun jika ia melihat proses ini sebagai sesuatu yang wajar, ada ruang untuk bernapas.

Tidak semua hal perlu dikejar dengan cepat,
beberapa hal memang perlu tumbuh dengan waktu.


Lingkungan Baru, Diri yang Lama

Memasuki lingkungan baru sering kali membuat seseorang lebih sadar akan dirinya sendiri.

Cara berbicara terasa diperhatikan.
Cara bersikap terasa dinilai.
Hal-hal kecil yang dulu tidak dipikirkan menjadi lebih terlihat.

Dan di situ, muncul kecenderungan untuk menyesuaikan diri.

Itu hal yang alami.

Namun ada garis tipis antara menyesuaikan diri dan kehilangan diri.

Jika terlalu jauh menyesuaikan, seseorang bisa merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

Namun jika tidak menyesuaikan sama sekali, ia bisa merasa terasing.

Yang sering kali dibutuhkan bukan memilih salah satu,
tapi menemukan titik di mana seseorang tetap bisa menjadi dirinya—
tanpa menutup diri dari lingkungan baru.


Ketidakpastian yang Tidak Bisa Dihilangkan

Babak baru hampir selalu datang dengan ketidakpastian.

Apakah ini akan berhasil?
Apakah ini keputusan yang tepat?
Apa yang akan terjadi ke depan?

Banyak orang berusaha mencari kepastian sebelum melangkah lebih jauh.

Namun sering kali, kepastian itu memang tidak ada.

Yang ada hanyalah kemungkinan.

Dalam banyak hal, hidup tidak memberi jawaban di awal.

Jawaban itu muncul di tengah perjalanan.

Tidak semua langkah membutuhkan kepastian,
beberapa langkah hanya membutuhkan keberanian untuk tidak tahu.


Membawa Pola Lama ke Tempat Baru

Ada sesuatu yang menarik:

meskipun situasi berubah, seseorang tetap membawa dirinya yang lama.

Termasuk cara berpikir, kebiasaan, dan pola emosional.

Jika sebelumnya mudah meragukan diri, itu bisa terbawa.
Jika sebelumnya sulit berkata tidak, itu bisa terulang.
Jika sebelumnya cenderung menghindar, itu bisa muncul lagi.

Dan sering kali, ini membuat seseorang merasa bahwa perubahan tidak banyak berarti.

Padahal yang berubah baru konteksnya, belum tentu cara meresponsnya.

Dalam pendekatan schema therapy oleh Jeffrey Young, pola-pola lama ini disebut sebagai schema—kerangka berpikir yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya.

Dan tanpa disadari, schema ini terus memengaruhi bagaimana seseorang menjalani fase baru.

Babak baru tidak otomatis menghapus pola lama,
tapi memberi kesempatan untuk mulai melihatnya dengan lebih jelas.


Tidak Semua Orang Akan Mengerti

Ketika seseorang memulai fase baru, tidak semua orang di sekitarnya akan memahami.

Ada yang meragukan.
Ada yang membandingkan.
Ada yang tidak melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang penting.

Dan itu bisa terasa menyakitkan.

Terutama jika harapan untuk dimengerti cukup besar.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan:

tidak semua perjalanan harus dipahami oleh semua orang.

Dan terkadang, terlalu berharap dipahami justru membuat langkah menjadi lebih berat.


Memberi Ruang untuk Diri Sendiri

Di tengah semua perubahan, ada satu hal yang sering terabaikan:

ruang untuk diri sendiri.

Ruang untuk merasa bingung tanpa harus langsung menemukan jawaban.
Ruang untuk lelah tanpa harus terlihat kuat.
Ruang untuk perlahan, tanpa harus terus membandingkan.

Karena tanpa ruang ini, perubahan bisa terasa seperti tekanan yang terus-menerus.


Referensi

  • Bridges, W. (2009). Managing Transitions: Making the Most of Change
  • Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis
  • Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow
  • Young, J. E. (2003). Schema Therapy: A Practitioner’s Guide
  • Lyubomirsky, S. (2007). The How of Happiness

Mungkin pada akhirnya, memulai babak baru bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri kita dalam waktu singkat.

Tapi tentang sesuatu yang lebih pelan:

tentang bagaimana seseorang berjalan di tempat yang masih asing,
dengan perasaan yang belum sepenuhnya stabil,
dengan jawaban yang belum sepenuhnya jelas—

dan tetap memilih untuk tidak kembali,
meskipun sesekali muncul keinginan untuk berbalik

karena di dalam ketidakpastian itu,
perlahan-lahan,
ada bagian dari diri yang mulai terbentuk

menjadi sesuatu
yang sebelumnya belum pernah ada.