Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Sebelumnya, saya akan terlebih dahulu menganalisis dia tipe orang yang seperti apa, apakah dia termasuk orang yang slow learner atau memang tidak menyimak informasi dengan serius.

jika orang tersebut merupakan tipe orang yang slow learner, artinya dia perlu dibantu. Dalam hal ini, kita dapat membantu dengan memberikan langkah demi langkah jawaban agar dia cepat tanggap dan mudah mengerti. Tentunya, hal seperti itu memerlukan kesabaran. Namun, jangan memaksakan diri, jika kita tidak mampu, maka kita dapat menolak dengan baik-baik.

Namun, jika ia memang orang yang tidak suka menyimak informasi dengan serius, misalnya, dia sudah diberitahu dengan jelas tentang sebuah informasi, tetapi ia tidak memperhatikan orang yang berbicara kepadanya, maka perlu diingatkan dengan tegas agar menghargai dan menyimak orang yang mengajaknya berbicara.

Orang yang sering bertanya sering kali menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk memahami cara manusia belajar dan mencari makna. Pada level pertama, kita mungkin tergoda untuk menganggap pertanyaan yang terus-menerus itu sebagai gangguan—sebuah suara yang tidak berhenti menuntut perhatian. Tetapi ketika kita berhenti sejenak untuk melihat dari perspektif psikologi pendidikan, ada lapisan yang jauh lebih dalam di balik perilaku itu.

Seseorang yang terus bertanya bisa saja sedang mengalami ketidakpastian yang intens, rasa ingin tahu yang tak terkendali, atau bahkan kecemasan yang menumpuk terkait pengetahuan dan posisi sosialnya. Fenomena ini dijelaskan dalam teori Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal: pertanyaan adalah jendela bagi pendidik maupun orang di sekitarnya untuk melihat apa yang sudah mereka pahami dan apa yang masih mereka perjuangkan untuk pahami. Dengan kata lain, pertanyaan yang berulang bukan selalu tanda kebodohan atau kurangnya fokus, tetapi bisa menjadi indikator dari usaha kognitif yang sedang berlangsung.

Ada sisi emosional dari perilaku bertanya yang sering luput dari perhatian. Saya pernah menyaksikan seorang anak muda yang setiap saat menanyakan hal-hal yang tampak sepele atau berulang, mulai dari definisi istilah hingga pemahaman konsep yang sama. Dari luar, ia tampak “mengganggu,” namun ketika saya melihat lebih dalam, pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari ketakutan untuk salah, rasa tidak percaya diri, dan keinginan agar orang lain mengonfirmasi bahwa ia berada di jalur yang benar. Dalam literatur psikologi pendidikan, hal ini berkaitan dengan self-efficacy dan motivation theory (Bandura, 1997). Individu dengan self-efficacy rendah cenderung mencari penguatan eksternal terus-menerus, yang sering muncul dalam bentuk pertanyaan berulang.

Ada juga aspek perhatian dan validasi sosial. Pertanyaan bukan hanya tentang informasi, tetapi juga tentang hubungan. Seringkali, orang yang bertanya berulang ingin merasa didengar, diakui, dan diterima. Mereka mungkin merasa bahwa dunia mereka terlalu kompleks atau membingungkan, sehingga pertanyaan menjadi cara mereka untuk menegaskan eksistensi dan mendapatkan pengakuan bahwa mereka diperhatikan. Fenomena ini terlihat dalam interaksi anak-anak maupun orang dewasa: pertanyaan bisa menjadi alat untuk membangun koneksi sosial, meski kadang disalahartikan sebagai gangguan atau ketergantungan yang berlebihan.

Namun, ada juga kasus ketika kebiasaan bertanya berlebihan bisa menandai cognitive overload atau kecemasan yang mendalam. Orang yang mengalami ini kerap menanyakan hal-hal yang tampak sederhana bagi orang lain, tetapi bagi mereka, setiap detail adalah sumber ketidakpastian yang menimbulkan kecemasan. Dalam konteks pendidikan, ini dapat menghambat proses belajar, baik bagi mereka sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya. Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara pertanyaan yang produktif dan pertanyaan yang muncul dari kecemasan atau rasa tidak aman. Sementara pertanyaan yang sehat memicu diskusi dan eksplorasi, pertanyaan yang muncul dari ketakutan cenderung bersifat repetitif dan menuntut validasi terus-menerus.

Dari perspektif psikologi kognitif, sering bertanya juga bisa terkait dengan proses metakognisi—kesadaran seseorang tentang apa yang mereka ketahui dan tidak ketahui. Orang yang sering bertanya mungkin sebenarnya sedang mencoba memetakan batas-batas pengetahuan mereka sendiri. Mereka menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk mengeksplorasi dan menyusun pemahaman internal, meski bagi pengamat luar, ini bisa tampak seperti “gangguan” atau “ketergantungan.” Flavell (1979) menjelaskan bahwa metakognisi adalah kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikir sendiri, dan bertanya adalah salah satu manifestasi alami dari proses ini.

Namun, menghadapi orang yang terus bertanya juga menuntut kesadaran emosional dan batasan diri dari kita sendiri. Jika kita selalu menanggapi setiap pertanyaan dengan kesabaran tanpa batas, ada risiko kelelahan emosional. Fenomena ini dikenal sebagai “empathic fatigue” dalam literatur psikologi sosial dan pendidikan. Penting untuk memahami bahwa membangun struktur dan batasan—misalnya dengan memberikan waktu untuk refleksi sebelum menjawab, atau mendorong mereka mencari jawaban sendiri terlebih dahulu—bukan berarti menolak pertanyaan mereka, tetapi justru membantu mereka berkembang. Di sini terlihat keseimbangan halus antara mendukung pertumbuhan kognitif seseorang dan menjaga kesejahteraan psikologis diri sendiri.

Di sisi lain, pertanyaan yang sering muncul juga dapat menjadi indikator potensi belajar yang tinggi. Banyak inovator, ilmuwan, dan pemikir besar menunjukkan pola bertanya yang konstan sebagai cara mereka memahami dunia. Einstein, misalnya, terkenal karena pertanyaan-pertanyaannya yang terus-menerus terhadap fenomena yang tampak sederhana, dan dari pertanyaan itulah muncul pemahaman yang revolusioner. Dengan demikian, daripada melihat pertanyaan berulang sebagai masalah, kita bisa memandangnya sebagai jendela untuk menstimulasi kreativitas dan penalaran.

Ada aspek budaya yang juga perlu dipertimbangkan. Dalam beberapa budaya, pertanyaan terus-menerus dihargai sebagai tanda rasa ingin tahu dan antusiasme, sementara di budaya lain, hal ini bisa dianggap kurang sopan atau mengganggu. Pemahaman ini penting ketika kita menilai perilaku bertanya: apa yang terlihat “sering bertanya” dalam satu konteks bisa menjadi ekspresi rasa ingin tahu yang sehat dalam konteks lain. Literasi budaya dan psikologi lintas budaya menjelaskan bahwa persepsi terhadap pertanyaan dipengaruhi oleh norma sosial, ekspektasi, dan interaksi interpersonal (Markus & Kitayama, 1991).

Ketika menghadapi orang yang sering bertanya, strategi yang efektif bukan hanya tentang “mengelola” pertanyaan mereka, tetapi juga tentang membangun kesadaran diri mereka terhadap proses belajar. Memberikan ruang bagi mereka untuk mengajukan pertanyaan, kemudian mendorong refleksi internal—misalnya melalui catatan, jurnal, atau diskusi kelompok—dapat membantu mereka memahami bahwa tidak semua jawaban harus segera diberikan oleh orang lain. Ini selaras dengan prinsip pendidikan berbasis penemuan (discovery learning), yang menekankan pentingnya membiarkan individu mengeksplorasi, menemukan, dan merumuskan jawaban sendiri, sambil tetap merasa didukung.


Referensi:

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W.H. Freeman.
  • Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive–developmental inquiry. American Psychologist, 34(10), 906–911.
  • Markus, H., & Kitayama, S. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion, and motivation. Psychological Review, 98(2), 224–253.

Pertanyaan adalah jendela menuju dunia batin seseorang—bukan hanya tentang mencari jawaban, tetapi juga tentang memahami, merasa, dan mengonfirmasi eksistensi dalam ruang yang penuh ketidakpastian. Bagaimana kita menanggapi pertanyaan itu kadang lebih mencerminkan siapa kita daripada siapa yang bertanya.