Korban bullying terkadang tidak punya keberanian untuk melaporkan kepada orang lain bahwa ia menjadi korban. Ketakutan dan acaman dari pihak lain membuatnya tidak punya pilihan. Selain diam dan menerima perlakuan yang tidak menyenangkan tersebut.
Dinamika kekuasaan di lingkungan sebaya sering kali bekerja seperti arus bawah laut yang tenang namun mematikan. Kita sering kali berasumsi bahwa tanda-tanda penindasan atau bullying akan hadir dalam bentuk yang nyata dan gaduh—seragam yang robek, memar di lengan, atau cerita tangis yang meledak di depan pintu rumah. Namun, realitas psikologis yang lebih kelam menunjukkan bahwa intimidasi sering kali bekerja melalui proses erosi jiwa yang sunyi. Seorang anak yang menjadi korban sering kali tidak memiliki kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi, bukan karena mereka tidak ingin bicara, tetapi karena mekanisme pertahanan diri mereka sedang mengalami kelumpuhan akibat rasa malu yang mendalam. Membaca tanda-tanda bullying memerlukan ketajaman observasi yang melampaui apa yang terlihat oleh mata; ia menuntut kemampuan kita untuk merasakan pergeseran energi, perubahan ritme hidup, dan fragmen keheningan yang mulai terasa berat di dalam rumah.
Persoalan utama dalam mengidentifikasi perundungan adalah adanya hambatan internal pada diri anak untuk mengakui kerentanan mereka. Sebagaimana diperingatkan oleh Alice Miller dalam karyanya The Drama of the Gifted Child, anak-anak memiliki dorongan instingtif untuk melindungi citra ideal mereka di hadapan orang tua demi menjaga kelekatan emosional. Mengakui bahwa mereka ditindas sering kali dirasakan sebagai pengakuan atas kegagalan diri, sebuah aib yang dianggap dapat mengecewakan figur otoritas. Akibatnya, tanda-tanda tersebut tidak muncul sebagai laporan verbal, melainkan sebagai simtoma psikosomatik dan perubahan kepribadian yang drastis. Ketika seorang anak yang biasanya ceria mulai menarik diri ke dalam cangkang keheningan, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah upaya bawah sadar untuk menyembunyikan luka yang mereka anggap sebagai kesalahan mereka sendiri.
Erosi Kepercayaan Diri: Gejala dalam Perilaku Menghindar
Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mendetail: seorang anak yang biasanya bersemangat menyambut pagi, tiba-tiba mulai menunjukkan penolakan yang gigih untuk berangkat sekolah. Alasan yang dikemukakan mungkin terasa sepele—sakit perut yang datang tiba-tiba, pusing yang hilang saat sore hari, atau barang-barang pribadi yang sering hilang secara misterius. Di titik ini, kita tidak sedang menghadapi kemalasan, melainkan sebuah respon biologis terhadap lingkungan yang dianggap mengancam eksistensi mereka. Hal ini mengingatkan pada apa yang ditulis oleh Daniel Siegel dan Mary Hartzell dalam Parenting from the Inside Out, bahwa memori emosional yang traumatis dapat memicu sistem saraf untuk masuk ke dalam mode "lawan atau lari" (fight or flight) bahkan sebelum anak menyadari secara sadar apa yang memicu rasa takut tersebut.
Tanda yang paling mencolok namun sering terabaikan adalah hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya memberikan kegembiraan. Perubahan ini adalah manifestasi dari terkurasnya energi psikis anak yang habis digunakan untuk menjaga kewaspadaan di lingkungan sosialnya. Jika seorang anak mulai kehilangan nafsu makan secara drastis, mengalami gangguan tidur atau mimpi buruk yang berulang, hingga menunjukkan penurunan prestasi akademik yang tidak biasa, kita harus menyadari bahwa ada beban emosional yang sedang mengonsumsi kapasitas kognitif mereka. Penindasan bukan hanya serangan terhadap fisik, tetapi merupakan serangan terhadap harga diri yang membuat anak merasa bahwa dunia adalah tempat yang tidak lagi aman dan tidak terprediksi. Keheningan di meja makan dan hilangnya binar mata adalah sinyal darurat yang lebih nyaring daripada teriakan minta tolong.
Neurobiologi Trauma dan Perubahan Karakter
Secara neurobiologis, stres kronis akibat perundungan dapat mengubah cara otak anak memproses informasi. Ketika seorang anak terus-menerus terpapar pada intimidasi, amigdala mereka menjadi sangat reaktif, sementara korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas logika menjadi lemah. Hal ini sering kali manifes dalam bentuk perubahan karakter yang paradoksal. Anak yang sebelumnya lembut mungkin tiba-tiba menunjukkan ledakan amarah di rumah atau mulai berlaku kasar kepada adik atau hewan peliharaan. Perilaku ini, sebagaimana diulas dalam perspektif Gabor Maté dan Gordon Neufeld melalui Hold On to Your Kids, merupakan bentuk proyeksi dari rasa tidak berdaya yang mereka alami di luar rumah. Mereka mencoba mencari rasa kendali yang hilang dengan cara yang keliru di lingkungan yang mereka anggap paling aman.
Selain agresi yang tiba-tiba, tanda lain yang perlu diwaspadai adalah perubahan dalam pola pertemanan atau penarikan diri total dari pergaulan. Anak mungkin mulai bicara buruk tentang dirinya sendiri, menunjukkan tanda-tanda depresi terselubung, atau menunjukkan kecemasan yang luar biasa saat mendengar notifikasi dari gawai mereka—sebuah indikasi kuat akan adanya cyberbullying yang mengikuti mereka hingga ke ruang privat kamar tidur. Trauma perundungan menciptakan distorsi kognitif yang membuat anak percaya bahwa mereka memang pantas diperlakukan demikian. Tanpa intervensi yang penuh empati dan berwawasan luas, persepsi diri yang rusak ini akan mengeras menjadi identitas permanen yang menghambat pertumbuhan jiwa mereka menuju kedewasaan.
Growth Mindset: Membangun Resiliensi dari Reruntuhan Harga Diri
Menghadapi kenyataan bahwa seorang anak menjadi korban perundungan menuntut kita untuk mengadopsi growth mindset yang fokus pada pemulihan dan pemberdayaan, bukan sekadar pelabelan sebagai "korban". Carol Dweck dalam konsep Mindset-nya menekankan bahwa cara kita merespons kesulitan akan menentukan apakah pengalaman tersebut akan menjadi trauma yang melumpuhkan atau batu loncatan menuju resiliensi. Saat tanda-tanda bullying teridentifikasi, fokus utama kita seharusnya bukan hanya menghentikan pelaku, tetapi membangun kembali otot emosional anak yang telah diruntuhkan. Kita harus mengajari mereka bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh pendapat atau perlakuan orang lain.
Membangun kembali resiliensi ini melibatkan pemberian ruang bagi anak untuk memproses emosi mereka tanpa penghakiman. Kita harus menjadi saksi yang tenang bagi rasa sakit mereka, memvalidasi ketakutan mereka, dan memberikan strategi konkret untuk menghadapi situasi sosial yang sulit. Mengajarkan anak untuk memiliki batasan diri (boundaries) yang kuat dan kemampuan asertif adalah bagian dari proses pendidikan karakter yang krusial. Kita ingin mereka memahami bahwa mereka memiliki agensi atas respon mereka sendiri. Keberhasilan dalam mengatasi dampak perundungan bukan berarti menghapus memori buruk tersebut, melainkan membekali anak dengan keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan internal untuk bangkit kembali dan mendefinisikan jati diri mereka melampaui luka-luka masa lalu.
Conscious Parenting: Menjadi Labuhan di Tengah Badai Sosial
Kekuatan seorang anak untuk bertahan menghadapi badai sosial di sekolah sangat bergantung pada seberapa kokoh jangkar emosional yang mereka miliki di rumah. Shefali Tsabary dalam The Conscious Parent mengingatkan kita bahwa sering kali anak-anak enggan bercerita tentang bullying karena mereka takut akan reaksi berlebihan dari orang tua yang justru menambah beban stres mereka. Jika orang tua bereaksi dengan kemarahan yang meluap-luap atau tekanan untuk "melawan balik" secara fisik tanpa memahami konteks psikologisnya, anak akan merasa semakin terjepit. Pengasuhan yang sadar menuntut kita untuk menjadi labuhan yang tenang—sebuah tempat di mana kebenaran bisa diucapkan tanpa rasa takut akan penghakiman atau kepanikan.
Membaca tanda-tanda bullying juga berarti kita harus berani mengevaluasi kualitas kehadiran kita di dalam kehidupan sehari-hari anak. Apakah kita cukup menyediakan waktu untuk mendengarkan tanpa agenda? Apakah atmosfer di rumah cukup hangat sehingga anak merasa bahwa mereka tidak perlu berpura-pura menjadi kuat di depan kita? Kesadaran pengasuhan adalah tentang menciptakan ruang aman emosional di mana anak merasa dicintai secara tanpa syarat, terlepas dari seberapa "lemah" atau "gagal" mereka di mata dunia luar. Saat anak merasa diterima sepenuhnya di rumah, mereka akan memiliki keberanian untuk melepaskan topeng keheningan mereka dan mulai menceritakan narasi luka yang selama ini mereka simpan sendiri.
Refleksi Filosofis: Keharmonisan dalam Memulihkan Jiwa yang Retak
Pada akhirnya, mengenali tanda-tanda anak sebagai korban bullying adalah sebuah perjalanan dalam kerendahan hati dan ketajaman rasa. Kita diingatkan bahwa setiap manusia memiliki kerentanan, dan tugas terbesar kita sebagai pembimbing jiwa adalah menjaga agar kerentanan tersebut tidak berubah menjadi kepahitan yang permanen. Tanda-tanda tersebut—mulai dari isolasi diri hingga keluhan fisik—adalah seruan bisu bagi kita untuk hadir lebih dalam, untuk mencintai lebih berani, dan untuk melindungi lebih bijaksana.
Realitas pengasuhan mengajarkan kita bahwa pemulihan dari perundungan adalah proses yang tidak bisa diburu-buru. Ia membutuhkan ketelatenan dalam merajut kembali helai-helai kepercayaan diri anak yang sempat koyak. Kita tidak hanya ingin anak kita berhenti ditindas; kita ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang memiliki empati mendalam terhadap penderitaan orang lain karena mereka pernah merasakan kegelapan itu sendiri. Dengan menjadi pendamping yang berwawasan luas, kita sedang membantu mereka mengubah narasi "korban" menjadi narasi "penyintas" yang memiliki hikmah dan kebijaksanaan.
Biarlah kepekaan kita menjadi perisai bagi mereka. Saat kita mampu menangkap tanda-tanda halus dari penderitaan anak, kita sebenarnya sedang menawarkan harapan bahwa mereka tidak sendirian. Keberadaan kita yang stabil, penuh kasih, dan tidak menghakimi adalah obat penawar paling mujarab bagi racun intimidasi yang mereka terima dari dunia luar. Di akhir hari, integritas dan kebahagiaan anak kita ditentukan oleh seberapa kuat jalinan cinta yang kita tawarkan di setiap retakan jiwa mereka. Dengan pengamatan yang tajam dan hati yang terbuka, kita bisa memastikan bahwa tidak ada satu pun anak yang harus menanggung beban keheningan itu sendirian di tengah keriuhan dunia yang sering kali tidak peduli.
Daftar Pustaka
- Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
- Maté, G., & Neufeld, G. (2004). Hold On to Your Kids: Why Parents Need to Matter More Than Peers. Ballantine Books.
- Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. Basic Books.
- Siegel, D. J., & Hartzell, M. (2003). Parenting from the Inside Out: How a Deeper Self-Understanding Can Help You Raise Children Who Thrive. TarcherPerigee.
- Tsabary, S. (2010). The Conscious Parent: Transforming Ourselves, Empowering Our Children. Namaste Publishing.
Kekerasan yang paling destruktif sering kali tidak meninggalkan bekas kebiruan pada kulit, melainkan erosi yang perlahan pada harga diri dan rasa aman seorang anak. Perundungan atau bullying bukanlah sekadar ritus kedewasaan yang harus dilewati setiap orang; ia adalah invasi psikologis yang mampu mengubah arsitektur kepribadian korbannya. Ketika seorang anak menjadi target perundungan, mereka sering kali tidak segera datang kepada kita dengan kata-kata yang lugas. Ada rasa malu yang mencekik, ketakutan akan pembalasan, atau keyakinan bahwa mereka memang layak diperlakukan demikian. Tanda-tanda perundungan jarang sekali muncul sebagai pernyataan terbuka, melainkan sebagai serangkaian perubahan mikroskopis dalam perilaku, suasana hati, dan ritme biologis yang menuntut ketajaman pengamatan kita sebagai orang dewasa.
Mari kita amati sebuah fragmen kehidupan yang mungkin luput dari perhatian: seorang anak yang dulunya sangat antusias menyambut pagi, kini mulai menunjukkan resistensi yang konsisten setiap kali waktu sekolah tiba. Ia mungkin mengeluh sakit perut yang samar, pusing yang hilang timbul, atau sekadar meringkuk lebih lama di balik selimut dengan tatapan kosong. Di permukaan, ini tampak seperti kemalasan atau masalah kesehatan fisik biasa. Namun, dalam kacamata Alice Miller melalui The Drama of the Gifted Child, kita diingatkan bahwa tubuh anak adalah penyimpan memori yang paling jujur. Ketika kata-kata dibungkam oleh rasa takut, tubuh akan mulai berbicara melalui bahasa psikosomatis. Sakit perut itu adalah manifestasi fisik dari kecemasan eksistensial—sebuah upaya biologis untuk menghindari medan perang yang bernama sekolah.
Transformasi Karakter: Dari Keterbukaan Menuju Penarikan Diri
Perubahan yang paling mencolok biasanya terlihat pada pergeseran temperamen. Seorang anak yang biasanya ceria dan gemar berbagi cerita tentang harinya, tiba-tiba menjadi sangat tertutup atau mudah tersinggung tanpa alasan yang jelas. Penarikan diri secara sosial (social withdrawal) adalah mekanisme pertahanan diri yang purba. Gabor Maté dan Gordon Neufeld dalam Hold On to Your Kids menjelaskan bahwa ketika keterikatan dengan figur otoritas merasa terancam oleh dominasi teman sebaya yang agresif, anak akan mengalami disregulasi emosi yang hebat. Mereka mungkin mulai menarik diri dari hobi yang sebelumnya mereka cintai, atau berhenti membicarakan teman-teman tertentu yang biasanya menjadi bagian dari narasi harian mereka.
Kita mungkin memperhatikan bahwa barang-barang miliknya mulai hilang secara misterius atau kembali dalam keadaan rusak—buku yang robek, alat tulis yang lenyap, atau pakaian yang kotor tanpa alasan yang masuk akal. Saat ditanya, jawaban mereka sering kali bersifat mengelak atau tidak konsisten. Inilah yang oleh Dr. Shefali Tsabary dalam The Conscious Parent disebut sebagai refleksi dari hilangnya otonomi diri. Anak merasa kehilangan kendali atas ruang pribadinya, dan rasa malu karena tidak mampu mempertahankan miliknya membuat mereka memilih untuk berbohong demi menjaga sisa-sisa harga diri yang masih ada. Kebohongan kecil ini sebenarnya adalah teriakan minta tolong yang terdistorsi oleh rasa takut akan penilaian orang dewasa.
Gejala Biologis: Tidur yang Terganggu dan Mimpi Buruk
Malam hari sering kali menjadi cermin yang paling jujur bagi kondisi batin anak. Korban perundungan sering mengalami gangguan tidur yang signifikan, mulai dari kesulitan memejamkan mata hingga mimpi buruk yang berulang. Mereka mungkin terbangun dengan keringat dingin atau berteriak di tengah malam tanpa mampu menjelaskan apa yang mereka mimpikan. Kualitas tidur yang buruk ini bukan sekadar masalah medis, melainkan tanda bahwa sistem saraf simpatik mereka berada dalam kondisi waspada tinggi (hyper-vigilance) sepanjang waktu. Mereka tidak pernah benar-benar merasa aman, bahkan di dalam kamar mereka sendiri.
Selain tidur, perubahan pada pola makan juga menjadi isyarat penting. Ada anak yang kehilangan nafsu makan sama sekali karena rasa cemas yang menekan lambung, namun ada pula yang justru makan secara berlebihan sebagai kompensasi emosional untuk menutupi rasa hampa dan kesepian. Jika kita melihat seorang anak pulang sekolah dengan rasa lapar yang luar biasa seolah mereka tidak makan siang sama sekali, kita perlu bertanya dengan lembut—bukan karena mereka lapar, tetapi untuk memastikan apakah uang saku atau bekal mereka telah dirampas secara paksa. Hal-hal kecil ini, jika diabaikan, akan menjadi pondasi bagi trauma jangka panjang yang merusak metabolisme harga diri mereka.
Erosi Kepercayaan Diri: Bahasa Tubuh dan Penurunan Akademis
Pengamatan terhadap bahasa tubuh sering kali memberikan informasi yang lebih kaya daripada percakapan verbal. Anak yang mengalami perundungan cenderung menunjukkan postur tubuh yang membungkuk, menghindari kontak mata, atau tampak selalu ingin "mengecilkan diri" di ruang publik. Gerakan mereka menjadi ragu-ragu dan penuh kewaspadaan. Jessica Lahey dalam The Gift of Failure menekankan bahwa rasa percaya diri tumbuh dari rasa kompetensi dan otonomi. Ketika seorang anak terus-menerus direndahkan, rasa kompetensi itu hancur, dan dampaknya akan segera terlihat pada performa akademis mereka.
Penurunan nilai sekolah secara mendadak atau hilangnya konsentrasi saat belajar bukanlah tanda ketidakmampuan intelektual, melainkan tanda bahwa kapasitas kognitif mereka telah habis terkuras untuk memproses stres emosional. Anak yang sedang berjuang untuk bertahan hidup secara sosial tidak memiliki energi sisa untuk memahami matematika atau sains. Dunia mereka telah menyempit menjadi satu pertanyaan besar: "Bagaimana cara melewati hari esok tanpa disakiti lagi?" Saat kita hanya berfokus pada nilai dan mengabaikan kesejahteraan emosional di baliknya, kita secara tidak sadar memperparah rasa keterasingan yang mereka rasakan.
Agresi yang Terarah ke Dalam: Bahaya Self-Harm dan Depresi
Pada titik yang lebih ekstrem, rasa sakit yang tidak tersalurkan dapat berubah menjadi agresi yang diarahkan pada diri sendiri. Beberapa anak mungkin menunjukkan perilaku destruktif, mulai dari mencubit kulit hingga tindakan melukai diri sendiri yang lebih serius. Ini adalah upaya putus asa untuk mengalihkan rasa sakit emosional yang tak tertahankan menjadi rasa sakit fisik yang bisa mereka kendalikan. Alfie Kohn dalam Unconditional Parenting mengingatkan kita bahwa ketika kasih sayang dan perlindungan dirasakan sebagai sesuatu yang bersyarat, anak akan merasa bahwa kegagalan mereka untuk "diterima" oleh teman sebaya adalah kesalahan mereka sendiri.
Rasa bersalah yang berlebihan (excessive guilt) dan keputusasaan adalah bibit dari depresi masa kanak-kanak. Mereka mungkin mulai mengucapkan kalimat-kalimat bernada pesimis tentang diri mereka, seperti "Aku memang bodoh" atau "Tidak ada yang menyukaiku." Pernyataan-pernyataan ini bukanlah sekadar drama remaja; itu adalah internalisasi dari narasi perundung yang telah merasuk ke dalam batin mereka. Jika kita membiarkan narasi ini menetap, ia akan menjadi identitas permanen yang menghambat mereka untuk menjalin hubungan yang sehat di masa depan. Perundungan tidak hanya melukai masa kini sang anak, ia juga mencoba merampas masa depan mereka.
Respon Orang Dewasa: Membangun Pelabuhan yang Aman
Menghadapi kemungkinan anak menjadi korban perundungan menuntut kita untuk menjadi pendengar yang tidak reaktif. Sering kali, saat mengetahui anak diganggu, reaksi spontan kita adalah kemarahan atau keinginan untuk segera melakukan konfrontasi. Namun, bagi anak, reaksi agresif kita bisa menjadi beban tambahan. Mereka membutuhkan kita untuk menjadi tenang, stabil, dan penuh validasi. Kita harus menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk jujur tanpa takut bahwa kejujuran mereka akan memicu badai baru. Mengatakan "Kita ada di sini, dan kita akan menyelesaikan ini bersama" adalah kunci pembuka pintu hati yang tertutup.
Kita perlu membantu mereka membangun kembali batas-batas otonomi yang telah dilanggar. Ini bisa dilakukan dengan melibatkan mereka dalam setiap langkah solusi yang akan diambil. Jangan bertindak di belakang punggung mereka tanpa persetujuan, karena itu hanya akan memperkuat rasa ketidakberdayaan mereka. Berikan mereka agensi untuk memilih bagaimana mereka ingin menghadapi situasi tersebut, sambil tetap memberikan perlindungan penuh sebagai orang dewasa. Proses pemulihan dari perundungan adalah perjalanan untuk mengembalikan martabat yang sempat hilang, dan perjalanan itu dimulai dari meja makan di rumah kita sendiri.
Epilog Filosofis: Memulihkan Integritas Jiwa
Pada akhirnya, tanda-tanda perundungan adalah sebuah undangan bagi kita untuk meninjau kembali kedalaman hubungan kita dengan anak. Kesulitan mereka untuk berbicara adalah cermin dari betapa rapuhnya rasa aman di dunia luar, dan betapa krusialnya peran rumah sebagai benteng pertahanan terakhir. Kita tidak bisa menjamin bahwa dunia akan selalu ramah bagi anak-anak kita, namun kita bisa menjamin bahwa mereka akan selalu memiliki tempat untuk kembali, tempat di mana luka mereka akan dibersihkan dan martabat mereka akan ditegakkan kembali.
Menyadari tanda-tanda perundungan sedini mungkin adalah bentuk cinta yang paling protektif. Ia menuntut kita untuk hadir sepenuhnya, mengamati dengan hati, dan mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Integritas jiwa seorang anak adalah aset yang paling berharga, dan menjaganya dari erosi perundungan adalah tugas kemanusiaan yang paling mulia bagi setiap orang dewasa. Saat kita berhasil membantu seorang anak bangkit dari bayang-bayang perundungan, kita tidak hanya menyelamatkan satu individu, kita sedang memutus rantai kekerasan yang bisa merusak generasi-generasi mendatang.
Biarlah setiap perubahan kecil dalam perilaku anak menjadi pengingat bagi kita untuk lebih sering mendekap, lebih lama mendengarkan, dan lebih tulus memvalidasi. Di dalam kehangatan penerimaan yang tanpa syarat, rasa takut akan luruh, dan suara anak yang sempat hilang akan kembali terdengar dengan lebih kuat dan berani. Perjuangan melawan perundungan adalah perjuangan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun jiwa kecil yang harus merasa sendirian di tengah kegelapan. Dan cahaya itu, selalu dimulai dari kesediaan kita untuk melihat, mengerti, dan bertindak dengan kasih sayang yang teguh.
Daftar Pustaka
Kohn, A. (2005). Unconditional Parenting: Moving from Rewards and Punishments to Love and Reason. New York: Atria Books.
Lahey, J. (2015). The Gift of Failure: How the Best Parents Learn to Let Go So Their Children Can Succeed. New York: HarperCollins.
Maté, G., & Neufeld, G. (2004). Hold On to Your Kids: Why Parents Need to Matter More Than Peers. New York: Ballantine Books.
Miller, A. (1979). The Drama of the Gifted Child: The Search for the True Self. New York: Basic Books.
Tsabary, S. (2010). The Conscious Parent: Transforming Ourselves, Empowering Our Children. Vancouver: Namaste Publishing.
Ketika Luka Itu Tidak Terlihat
Ada satu kisah yang selalu teringat ketika membicarakan bullying.
Seorang anak perempuan, sebut saja Dina, dikenal sebagai anak yang pendiam. Nilainya cukup baik, tidak pernah membuat masalah, dan dari luar tampak “baik-baik saja”. Namun perlahan, orang tuanya mulai melihat perubahan kecil—ia tidak lagi bersemangat pergi ke sekolah, sering mengeluh sakit perut di pagi hari, dan lebih banyak mengurung diri di kamar.
Ketika ditanya, jawabannya selalu sama: “Nggak apa-apa.”
Butuh waktu lama sampai akhirnya terungkap bahwa ia selama ini menjadi bahan ejekan di kelasnya—bukan sesuatu yang kasar secara fisik, tetapi komentar kecil yang berulang, tatapan sinis, dan pengucilan yang perlahan-lahan menggerus rasa dirinya.
Yang membuatnya lebih menyakitkan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi fakta bahwa tidak ada yang benar-benar melihatnya.
Di situlah letak kompleksitas bullying.
Ia sering tidak terlihat.
Tidak selalu meninggalkan luka fisik.
Tetapi dampaknya bisa jauh lebih dalam dan menetap.
Mengapa Tanda-Tanda Bullying Sering Terlewat?
Banyak orang membayangkan bullying sebagai sesuatu yang jelas: dorongan fisik, ancaman langsung, atau kekerasan yang terlihat.
Padahal, dalam banyak kasus, bullying justru muncul dalam bentuk yang lebih halus:
- ejekan yang dibungkus “candaan”
- pengucilan sosial
- sindiran berulang
- perlakuan tidak adil yang konsisten
Dan karena bentuknya halus, anak sering kali:
- tidak tahu bagaimana menjelaskannya
- merasa itu “hal biasa”
- atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri
Bullying tidak selalu membuat anak berteriak. Kadang justru membuat mereka semakin diam.
Tanda-Tanda Emosional: Perubahan yang Tidak Langsung Terlihat
Salah satu tanda paling awal biasanya muncul pada kondisi emosional anak.
Anak yang mengalami bullying sering menunjukkan:
- kecemasan yang meningkat
- mudah sedih tanpa sebab yang jelas
- cepat tersinggung atau marah
- kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai
Ada satu hal yang sering muncul dalam percakapan dengan anak-anak seperti ini: perasaan “tidak cukup baik”.
Mereka mulai bertanya dalam diam:
- “Kenapa aku yang diperlakukan seperti ini?”
- “Apa ada yang salah dengan aku?”
Bullying perlahan mengubah cara anak melihat dirinya sendiri.
Dalam jangka panjang, ini bisa berkembang menjadi:
- rendah diri kronis
- kecemasan sosial
- bahkan gejala depresi
Tanda Perilaku: Hal-Hal Kecil yang Berubah
Perubahan perilaku sering kali menjadi sinyal yang lebih terlihat, meskipun tetap mudah disalahartikan.
Beberapa tanda yang sering muncul:
- enggan pergi ke sekolah tanpa alasan jelas
- mencari alasan untuk bolos
- tiba-tiba nilai menurun
- menarik diri dari teman atau keluarga
- lebih banyak menghabiskan waktu sendirian
Ada juga anak yang menunjukkan reaksi sebaliknya:
- menjadi lebih agresif
- mudah marah di rumah
- melampiaskan frustrasi kepada orang lain
Ini sering membingungkan orang tua.
Namun sebenarnya, perilaku tersebut bukan masalah utama—melainkan cara anak mencoba mengatasi sesuatu yang tidak ia pahami.
Tanda Fisik: Ketika Tubuh Ikut Bicara
Tubuh sering kali menjadi “bahasa” ketika kata-kata tidak mampu mengungkapkan apa yang terjadi.
Anak yang mengalami bullying bisa mengalami:
- sakit kepala atau sakit perut berulang
- gangguan tidur
- mimpi buruk
- kelelahan tanpa sebab jelas
Yang menarik, gejala ini sering muncul terutama sebelum situasi yang memicu—misalnya sebelum berangkat ke sekolah.
Dalam ilmu kedokteran jiwa, ini berkaitan dengan respons stres kronis. Tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol secara berlebihan, yang dalam jangka panjang memengaruhi sistem pencernaan, tidur, dan daya tahan tubuh.
Apa yang tampak seperti “alasan menghindar”, sering kali sebenarnya adalah reaksi tubuh terhadap ancaman yang dirasakan.
Tanda Sosial: Perlahan Menarik Diri
Salah satu dampak paling dalam dari bullying adalah perubahan dalam hubungan sosial.
Anak yang sebelumnya terbuka bisa menjadi:
- lebih tertutup
- sulit percaya pada orang lain
- enggan bercerita
Ada juga yang mulai kehilangan teman, bukan karena ia berubah, tetapi karena lingkungan sosialnya menjadi tidak aman.
Saya pernah berbincang dengan seseorang yang berkata: “Saya berhenti bercerita bukan karena tidak ingin, tapi karena merasa tidak ada yang akan mengerti.”
Ketika anak berhenti bercerita, itu bukan berarti tidak ada masalah—justru sering kali sebaliknya.
Tanda Akademik: Fokus yang Terganggu
Belajar membutuhkan rasa aman.
Ketika seorang anak merasa terancam, otaknya lebih fokus pada “bertahan” daripada “belajar”.
Akibatnya:
- sulit konsentrasi
- mudah terdistraksi
- prestasi menurun
Ini bukan karena anak menjadi malas.
Otaknya sedang bekerja keras untuk menghadapi tekanan, bukan untuk menyerap pelajaran.
Mengapa Anak Sering Tidak Bercerita?
Ini pertanyaan yang sering muncul:
“Kalau memang dibully, kenapa tidak bilang?”
Jawabannya tidak sederhana.
Beberapa alasan yang sering muncul:
- takut situasi menjadi lebih buruk
- merasa tidak akan dipercaya
- merasa malu atau bersalah
- menganggap itu hal yang harus dihadapi sendiri
Dalam banyak kasus, anak justru mencoba melindungi orang tuanya dari kekhawatiran.
Diam bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Kadang itu adalah bentuk bertahan.
Dampak Jangka Panjang: Luka yang Tidak Selalu Hilang
Bullying bukan hanya pengalaman sementara.
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bullying di masa kecil dapat berkaitan dengan:
- kecemasan kronis
- depresi
- kesulitan membangun hubungan
- rendahnya harga diri
Bahkan dalam beberapa kasus, efeknya bisa bertahan hingga dewasa.
Saya pernah mengenal seseorang yang sudah lama meninggalkan masa sekolahnya, tetapi masih mengingat dengan jelas setiap ejekan yang ia terima.
Bukan karena ia ingin mengingatnya, tetapi karena pengalaman itu membentuk cara ia melihat dirinya.
Kata-kata yang diucapkan berulang kali di masa kecil bisa menjadi suara yang terus hidup di dalam kepala seseorang.
Perbedaan Antara Konflik Biasa dan Bullying
Tidak semua konflik adalah bullying.
Konflik:
- terjadi dua arah
- kekuatan relatif seimbang
- bersifat sementara
Bullying:
- terjadi berulang
- ada ketimpangan kekuatan
- bertujuan menyakiti atau merendahkan
Memahami perbedaan ini penting, karena responsnya juga berbeda.
Peran Orang Dewasa: Lebih dari Sekadar Mengawasi
Yang sering kali dibutuhkan anak bukan hanya perlindungan, tetapi pemahaman.
Bukan hanya bertanya, “Ada apa?”
Tetapi juga menciptakan ruang di mana anak merasa aman untuk menjawab.
Kadang, percakapan tidak dimulai dari pertanyaan langsung tentang bullying.
Kadang dimulai dari hal sederhana:
- bagaimana harinya
- apa yang ia rasakan
- siapa yang membuatnya nyaman
Anak lebih mudah bercerita ketika ia merasa didengar, bukan diinterogasi.
Ketika Tanda-Tanda Itu Muncul
Penting untuk diingat bahwa tidak semua tanda berarti bullying.
Namun, ketika beberapa tanda muncul bersamaan dan berlangsung terus-menerus, itu menjadi sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Lebih baik bertanya terlalu dini daripada terlambat memahami.
Referensi
- Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do
- American Psychiatric Association. (2013). DSM-5
- National Institute of Mental Health (NIMH) – Bullying and Mental Health
- Arseneault, L. (2018). “The long-term impact of bullying victimization” – Psychological Medicine
- Copeland, W. E., et al. (2013). “Adult psychiatric outcomes of bullying and being bullied” – JAMA Psychiatry
- Shonkoff, J. P., & Garner, A. S. (2012). “The lifelong effects of early childhood adversity” – Pediatrics
- Hawker, D. S., & Boulton, M. J. (2000). “Twenty years’ research on peer victimization and psychosocial maladjustment” – Journal of Child Psychology and Psychiatry
Sebuah Refleksi
Kadang kita membayangkan bahwa luka selalu datang dengan suara yang keras—teriakan, tangisan, atau konflik yang jelas terlihat.
Namun dalam banyak kasus, luka justru datang dalam diam.
Dalam perubahan kecil yang hampir tidak terasa.
Dalam senyum yang mulai jarang muncul.
Dalam kata “tidak apa-apa” yang diulang terlalu sering.
Dan mungkin, pertanyaannya bukan hanya apakah seorang anak sedang disakiti.
Tetapi apakah ada seseorang yang cukup peka untuk melihatnya, bahkan ketika ia sendiri belum mampu mengatakannya.
Ketika Luka Itu Tidak Selalu Terlihat
Bullying sering dibayangkan sebagai sesuatu yang jelas: dorongan, ejekan keras, atau kekerasan fisik yang mudah dikenali.
Namun dalam kenyataannya, banyak anak yang menjadi korban bullying tanpa pernah benar-benar “terlihat”.
Mereka tetap pergi ke sekolah.
Tetap duduk di kelas.
Tetap menjawab ketika dipanggil.
Dari luar, semuanya tampak normal.
Tetapi di dalam, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Dan sering kali, tanda-tandanya tidak muncul sebagai teriakan—melainkan sebagai perubahan kecil yang sunyi.
Perubahan yang Halus, Tapi Konsisten
Salah satu tanda paling awal bukanlah sesuatu yang dramatis, melainkan perubahan.
Anak yang dulu ceria mulai menjadi lebih pendiam.
Yang biasanya bercerita, mulai menjawab singkat.
Yang dulu bersemangat ke sekolah, mulai mencari alasan untuk tidak berangkat.
Perubahan ini sering kali tidak langsung disadari, karena terjadi perlahan.
Hari demi hari.
Namun jika diperhatikan, ada pola yang muncul.
Bukan tentang satu perilaku, tetapi tentang arah perubahan yang terus berulang.
Dan di situlah biasanya cerita dimulai.
Menarik Diri dari Dunia yang Dulu Aman
Anak yang mengalami bullying sering kali mulai menarik diri.
Ia menghindari teman-temannya.
Lebih sering sendirian.
Tidak lagi tertarik pada aktivitas yang dulu ia sukai.
Kadang bukan karena ia tidak ingin bersosialisasi, tetapi karena dunia sosialnya sudah tidak terasa aman.
Ada anak yang memilih diam di kelas.
Ada yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah tanpa keluar.
Kesepian dalam kasus ini bukan pilihan, tetapi bentuk perlindungan.
Ia mencoba menghindari sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ketakutan yang Tidak Selalu Bisa Dijelaskan
Ada anak yang tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tubuhnya bereaksi.
Setiap pagi, ia mengeluh sakit perut.
Merasa pusing sebelum berangkat sekolah.
Atau tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.
Ketika ditanya, jawabannya sering sederhana:
“Aku tidak apa-apa.”
Padahal tubuhnya mengatakan hal yang berbeda.
Ketika kata-kata tidak keluar, tubuh sering mengambil alih untuk berbicara.
Dan sering kali, ini adalah salah satu tanda yang paling awal muncul.
Perubahan Emosi: Dari Sensitif Hingga Meledak
Anak yang menjadi korban bullying bisa menunjukkan perubahan emosi yang cukup drastis.
Ada yang menjadi sangat sensitif—mudah tersinggung, mudah menangis.
Ada juga yang justru tampak lebih mudah marah, bahkan pada hal-hal kecil.
Ini sering disalahartikan sebagai “anak jadi nakal” atau “terlalu manja”.
Padahal di balik itu, ada tekanan yang tidak tersalurkan.
Bayangkan seseorang yang setiap hari harus menahan rasa tidak nyaman, tetapi tidak punya tempat untuk mengeluarkannya.
Emosi yang terpendam tidak hilang. Ia hanya mencari jalan lain untuk muncul.
Dan sering kali, jalan itu tidak selalu terlihat masuk akal dari luar.
Perubahan pada Prestasi dan Konsentrasi
Bullying tidak hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga kemampuan berpikir.
Anak yang sebelumnya cukup fokus bisa mulai kesulitan berkonsentrasi.
Nilai menurun.
Tugas sering terlambat.
Bukan karena ia tiba-tiba menjadi malas.
Tetapi karena pikirannya dipenuhi oleh hal lain—kekhawatiran, ketakutan, atau bahkan strategi untuk “bertahan” di lingkungan sosialnya.
Sulit belajar ketika seseorang merasa tidak aman.
Karena sebagian besar energi mentalnya digunakan untuk menghadapi tekanan, bukan untuk memahami pelajaran.
Barang yang Hilang atau Rusak Tanpa Penjelasan Jelas
Ada tanda yang terlihat sederhana, tetapi sering kali bermakna: barang-barang yang hilang atau rusak.
Buku yang sobek.
Alat tulis yang tidak kembali.
Atau uang yang sering hilang tanpa penjelasan.
Ketika ditanya, anak mungkin menjawab dengan ragu atau tidak jelas.
Kadang ia memilih diam.
Bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut.
Takut jika bercerita justru membuat situasi menjadi lebih buruk.
Perubahan dalam Cara Berbicara Tentang Diri Sendiri
Ada satu tanda yang sering luput, tetapi sangat dalam: cara anak memandang dirinya sendiri.
Anak yang mengalami bullying bisa mulai mengatakan hal-hal seperti:
“Aku bodoh.”
“Aku memang jelek.”
“Tidak ada yang suka sama aku.”
Kalimat-kalimat ini tidak muncul begitu saja.
Ia terbentuk dari apa yang terus-menerus ia dengar atau rasakan.
Dan ketika itu diulang cukup lama, ia mulai dipercaya sebagai kebenaran.
Inilah salah satu dampak paling sunyi dari bullying—ketika suara orang lain perlahan menjadi suara di dalam diri anak.
Diam yang Tidak Biasa
Tidak semua anak yang menjadi korban bullying akan menangis atau menunjukkan kesedihan.
Ada juga yang justru menjadi sangat diam.
Ia tidak mengeluh.
Tidak bercerita.
Seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Namun diam ini terasa berbeda.
Lebih tertutup.
Lebih jauh.
Seperti ada jarak yang tiba-tiba muncul.
Dan sering kali, ini justru tanda yang paling sulit dikenali.
Karena tidak semua luka mencari perhatian. Ada yang justru bersembunyi sangat dalam.
Kisah yang Sering Terjadi, Tapi Jarang Disadari
Ada seorang anak yang setiap hari pulang dalam keadaan “baik-baik saja”.
Ia tidak pernah mengeluh.
Tidak pernah meminta pindah sekolah.
Tidak pernah bercerita tentang temannya.
Namun setiap malam, ia mulai sulit tidur.
Setiap pagi, ia selalu tampak enggan berangkat.
Ketika ditanya, jawabannya selalu sama:
“Tidak apa-apa.”
Butuh waktu lama sampai akhirnya terungkap bahwa di sekolah, ia sering diejek.
Bukan secara terang-terangan, tetapi cukup untuk membuatnya merasa tidak diterima.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang menyadari.
Sampai akhirnya, perubahan kecil itu menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dan sering kali, bukan karena orang di sekitarnya tidak peduli—tetapi karena tanda-tandanya memang tidak selalu mudah dibaca.
Mengapa Anak Sering Tidak Bercerita?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah:
mengapa anak tidak langsung bercerita?
Jawabannya tidak sederhana.
Ada yang takut tidak dipercaya.
Ada yang takut dianggap lemah.
Ada yang khawatir situasinya akan menjadi lebih buruk jika orang dewasa ikut campur.
Ada juga yang bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang ia rasakan.
Kadang, bukan karena tidak ingin bercerita—tetapi karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Dan di sinilah peran kepekaan menjadi sangat penting.
Tanda yang Tidak Berdiri Sendiri
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu tanda yang pasti menunjukkan bullying.
Namun ketika beberapa tanda muncul bersamaan, dan berlangsung terus-menerus, ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Perubahan perilaku.
Perubahan emosi.
Perubahan cara melihat diri sendiri.
Semua ini seperti potongan puzzle.
Dan ketika disatukan, ia mulai membentuk gambaran yang lebih jelas.
Referensi
- Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do.
- Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2004). Bullying in American Schools: A Social-Ecological Perspective.
- Hawker, D. S. J., & Boulton, M. J. (2000). Twenty years’ research on peer victimization and psychosocial maladjustment. Journal of Child Psychology and Psychiatry.
- Rigby, K. (2003). Consequences of bullying in schools. Canadian Journal of Psychiatry.
- American Psychological Association. (2017). Bullying and child development.
- Arseneault, L. (2018). The long-term impact of bullying victimization.
Mungkin yang membuat bullying begitu menyakitkan bukan hanya apa yang terjadi di luar, tetapi apa yang perlahan terjadi di dalam.
Bagaimana seorang anak mulai meragukan dirinya.
Bagaimana ia mulai merasa tidak cukup.
Bagaimana dunia yang seharusnya menjadi tempat belajar, justru terasa seperti tempat bertahan.
Dan mungkin, di antara semua tanda yang bisa dilihat, ada satu pertanyaan yang lebih sunyi:
berapa banyak anak yang sebenarnya sedang berjuang diam-diam, sementara dunia di sekitarnya mengira mereka baik-baik saja?
Berikut beberapa tanda seorang anak menjadi korban bullying:
- Anak pulang dengan pakaian, buku, atau barang-barang lainnya yang sobek, rusak, atau hilang
- Memiliki luka, memar, dan goresan yang tidak dapat dijelaskan
- Memiliki sedikit teman, jika ada teman, dengan siapa dia menghabiskan waktu
- Tampak takut pergi ke sekolah, berjalan ke dan dari sekolah, naik bus sekolah, atau mengikuti kegiatan yang terorganisir dengan teman sebaya
- Menemukan atau mengarang alasan mengapa mereka tidak bisa pergi ke sekolah
- Mengambil rute yang jauh ketika berjalan ke atau dari sekolah
- Telah kehilangan minat dalam pekerjaan sekolah atau tiba-tiba mulai berprestasi buruk di sekolah
- Tampak sedih, murung, menangis, atau tertekan ketika dia pulang
- Sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau penyakit fisik lainnya
- Susah tidur atau sering mimpi buruk
- Mengalami kehilangan nafsu makan
- Tampak cemas dan menderita harga diri rendah
Referensi:
STOMP Out Bullying. (n.d.). Signs Your Child Is Being Bullied - Tip Sheet. Retrieved October 1, 2021, from https://www.stompoutbullying.org/tip-sheet-signs-your-child-being-bullied
Korban bullying yang memiliki ciri-ciri seperti, mempunyai fisik yang berbeda dari
teman-teman lainnya, penampilannya serta caranya berkomunikasi dengan teman akan sangat dimanfaatkan teman-temannya untuk dijadikan bahan ejekan dengan cara bercanda yang dilakukan di depan umum secara verbal (SEJIWA, 2008).
Karakteristik korban bullying memiliki penampilan berbeda atau memiliki kebiasan
yang berbeda dalam berperilaku sehari-hari. Sebagian korban “dipilih” karena ada yang berbeda dari yang lain (Murphy & Bannas, 2009). Terkadang remaja menjadi korban bullying karena berasal dari latar belakang etnik, keyakinan, ataupun budaya yang berbeda dari kebanyakan remaja di lingkungan tersebut. Bukan hanya itu,
korban bullying yang memiliki kemampuan atau bakat istimewa terkadang menjadi
target. Ada pula remaja yang menjadi korban bullying karena mereka memiliki
keterbatasan kemampuan tertentu. Hal tersebut adalah faktor eksternal pada korban
bullying. Selain faktor eksternal, ada juga faktor internal yang dimiliki oleh korban
bullying yaitu konsep diri yang negatif yang ada pada dirinya (Murphy & Bannas, 2009).
Referensi :
Murphy, M. M. & Bannas. (2009). Dealing with bullying. New York: Chelsea House.
SEJIWA. (2008). Mengatasi kekerasan di sekolah dan lingkungan sekitar anak. Jakarta: PT. Grasindo.
10 Tanda Anak Anda Mungkin Korban Bullying
Saya duduk di kelas enam di kelas ketika saya melihat jam. Tiga menit lagi sampai bel berbunyi dan aku akan keluar di lorong menuju kelasku berikutnya. Aku benci lorong itu karena dia ada di luar sana. Dua menit. Guru masih berbicara, tetapi saya tidak mendengar sepatah kata pun selama lima belas menit terakhir. Pikiranku berpacu. Apa yang akan dia lakukan padaku hari ini? Siksaan memalukan apa yang akan saya alami? Jantungku berdegup kencang dan aku merasa mual. Satu menit. Apakah dia akan memukuli saya? Mengolok-olok saya? Apakah dia akan meninggalkanku sendirian? Lonceng.
Itulah cerita saya setiap hari selama satu tahun penuh. Saya merasa ketakutan, cemas, dan depresi. Sekolah adalah tempat yang tidak aman di mana saya tidak memiliki kendali. Satu-satunya harapan saya adalah bahwa pengganggu saya akan bosan dengan saya dan beralih ke hal lain. Dia tidak pernah melakukannya. Orang tua saya melihat tanda-tanda dan akhirnya dapat membantu saya. Sangat penting bagi kita untuk belajar memahami tanda-tanda intimidasi dan sepenuhnya sadar atas nama anak-anak kita. Berikut adalah 10 (dari banyak) tanda bahwa anak Anda mungkin diganggu.
1. Pulang dengan pakaian, buku, atau barang-barang lainnya yang sobek, rusak, atau hilang.
Semakin tidak masuk akal penjelasan anak Anda, semakin besar kemungkinan intimidasi terlibat.
2. Sering sakit kepala atau sakit perut, merasa mual, atau berpura-pura sakit, terutama di pagi hari.
Ini bisa untuk menghindari intimidasi atau sebagai akibat dari intimidasi. Biasanya, keduanya.
3. Perubahan kebiasaan makan.
Melewatkan makan, tidak bisa makan, atau makan berlebihan. Anak-anak mungkin pulang dari sekolah lapar karena mereka tidak makan siang.
4. Susah tidur, sering mimpi buruk, atau keluhan sakit kepala.
Memproses pelecehan dapat memakan korban bahkan ketika tidur seharusnya memberikan istirahat dan penyembuhan.
5. Nilai menurun, kehilangan minat pada tugas sekolah, atau tidak ingin pergi ke sekolah.
Sederhananya, sulit untuk berkonsentrasi pada hal lain ketika kecemasan bekerja di latar belakang.
6. Kehilangan teman atau menghindari situasi sosial.
Korban sering kehilangan beberapa teman yang mereka miliki. Anak-anak lain tidak ingin dikaitkan dengan korban atau mereka takut itu "menangkap." Korban jarang menjadi "penyendiri" karena pilihan.
7. Perasaan tidak berdaya atau penurunan harga diri.
Ini mungkin termasuk perilaku berbasis kecemasan dan perilaku merusak diri sendiri seperti melarikan diri dari rumah, melukai diri sendiri, atau berbicara tentang menyakiti diri sendiri.
8. Ketakutan umum.
Anak Anda mungkin tampak takut pergi ke sekolah, berjalan ke dan dari sekolah, naik bus sekolah, atau ikut serta dalam kegiatan terorganisir dengan teman sebayanya (seperti klub).
9. Tampak sedih.
Bukan hanya sedih, tapi murung, berkaca-kaca, atau depresi ketika dia pulang. Sebagian besar dari ini adalah dia tidak akan membicarakan apa yang salah.
10. Mulai menggertak anak lain.
Ini adalah tanda yang mengganggu yang seringkali merupakan konsekuensi alami dari ditindas. Korban mungkin mulai melampiaskannya pada saudara kandung atau teman yang lebih lemah dan menjadi agresif dan tidak kooperatif dengan orang tua mereka.
Sumber: https://www.allprodad.com/10-signs-your-child-might-be-getting-bullied/