Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa Saja Kekurangan Kepribadian Phlegmatis?

Kepribadian Phlegmatis merupakan tipe kepribadian yang setidaknya terdapat sekitar 30-35% dari jumlah populasi di dunia. Karakter ini tidak menyenangi bila terjadi konflik. Sehingga mereka akan melakukan hal apapun yang diperintahkan padanya meskipun tidak menyukainya.

45

Kepribadian phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai, tidak suka kekerasan. Merupakan orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Merupakan tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya meski diri sendiri tidak tertawa. Selain itu juga merupakan pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya, tidak pernah terlihat gelisah.

Hal ini sejalan dengan pendapat Florence Littaeur, (2003) dalam fFatningsaliska, (2015) yang telah dijelaskan oleh Hippocrates dan Galenus yaitu bahwa individu dengan kepribadian plegmatis memiliki sifat tenang, damai, dan tidak pernah membuat masalah.

Namun, terdapat beberapa ciri dari kepribadian phlegmatik lainnya yaitu cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah, acuh tak acuh, tidak peduli, sehingga seringkali mengambil jalan pintas yang paling gampang (Littauer,2008). Sehingga cenderung dianggap menjadi pasif dan malas karena perilakunya yang menarik diri karena tidak ingin pertikaian.

Berikut merupakan beberapa kekurangan tipe kepribadian plegmatis diantaranya:

Sering menyalahkan diri sendiri

seseorang dengan tipe kepribadian plegmatis Memiliki kecenderungan suka menyenangkan hati orang lain membuat orang dengan tipe kepribadian ini sering kali menyalahkan diri sendiri, khususnya jika ada orang di sekitarnya yang merasa sedih.

Sulit dalam mengambil keputusan

Seorang plegmatis sering kali kesulitan jika harus mengambil sebuah keputusan. Apalagi jika keputusan itu memberikan pengaruh untuk banyak orang. Kebiasaan mereka untuk mengikuti apa kehendak orang lain dan mengesampingkan kehendak sendiri membuatnya selalu mengikuti dengan keputusan orang lain sekalipun tidak setuju dengan keputusan tersebut.

Selalu mengedepankan orang lain

Sebenarnya, sesekali mengedepankan orang lain adalah hal yang baik. Namun, jika terus-menerus dilakukan hingga mengorbankan kepentingannya sendiri, hal ini bisa menjadi hal yang buruk. Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan dan kepentingannya masing-masing, dan tidak ada yang lebih penting dari yang lain.

Sumber: