Ada satu momen yang sering terasa sangat tenang, tetapi juga membingungkan.
Ketika seseorang duduk diam, melihat hidupnya—apa yang ia punya, apa yang telah ia capai—lalu berkata dalam hati,
“Harusnya aku bersyukur.”
Namun anehnya, kalimat itu tidak selalu diikuti dengan rasa hangat.
Kadang justru terasa hampa.
Kadang bahkan terasa seperti kewajiban.
Di sisi lain, ada momen-momen kecil yang tidak direncanakan—
tertawa tanpa alasan jelas, menikmati secangkir minuman, atau sekadar merasa cukup…
dan di situ muncul rasa senang yang ringan, tanpa usaha.
Dua hal ini sering dianggap sama: bersyukur dan merasa senang.
Padahal, keduanya berasal dari tempat yang berbeda di dalam diri.
Dan memahami perbedaannya sering kali mengubah cara seseorang melihat hidupnya sendiri.
Bersyukur: sebuah sikap yang bisa hadir bahkan saat hati tidak ringan
Bersyukur sering dipahami sebagai “merasa bahagia dengan apa yang dimiliki”.
Namun dalam banyak pengalaman nyata, bersyukur tidak selalu terasa seperti kebahagiaan.
Ada seseorang yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya—
relasi yang retak, rencana yang tidak berjalan, bahkan rasa aman yang perlahan memudar.
Namun di tengah semua itu, ia masih bisa berkata,
“Aku masih punya sesuatu yang bisa kupegang.”
Kalimat itu tidak datang dari rasa senang.
Tidak juga dari perasaan puas.
Melainkan dari sebuah kesadaran:
bahwa di antara kekurangan, masih ada yang tersisa.
Dalam kajian gratitude oleh Robert Emmons dan Michael McCullough, bersyukur dipahami sebagai kemampuan untuk mengenali dan menghargai kebaikan yang ada dalam hidup, bahkan ketika hidup tidak sepenuhnya baik.
Artinya, bersyukur bukan kondisi emosional yang selalu menyenangkan.
Ia lebih dekat dengan cara seseorang memandang hidup.
Bersyukur adalah lensa.
Bukan suasana hati.
Merasa senang: pengalaman emosional yang datang dan pergi
Berbeda dengan itu, merasa senang adalah sesuatu yang jauh lebih spontan.
Ia bisa muncul karena hal sederhana:
- makanan yang enak
- percakapan yang hangat
- kabar baik yang tidak diduga
Namun ia juga bisa hilang dengan cepat.
Dalam pendekatan psikologi emosi, perasaan senang termasuk dalam positive affect—emosi yang sifatnya fluktuatif, dipengaruhi oleh situasi, kondisi fisik, dan bahkan hal-hal kecil yang tidak disadari.
Ada seseorang yang memiliki banyak hal yang secara objektif “cukup”—
pekerjaan stabil, lingkungan yang baik, kehidupan yang relatif aman.
Namun ia sering merasa datar.
Tidak sedih, tetapi juga tidak benar-benar senang.
Dan di sisi lain, ada seseorang yang hidupnya penuh keterbatasan,
namun bisa tertawa dengan lepas dalam momen-momen kecil.
Ini menunjukkan satu hal penting:
Rasa senang tidak selalu berkaitan langsung dengan seberapa banyak yang kita miliki.
Ia lebih berkaitan dengan bagaimana kita mengalami momen.
Mengapa bersyukur dan merasa senang sering tertukar
Di permukaan, keduanya terlihat mirip.
Orang yang bersyukur sering tampak lebih tenang.
Orang yang merasa senang juga terlihat puas dengan hidupnya.
Namun jika diperhatikan lebih dalam, arah keduanya berbeda.
- Merasa senang bergerak dari luar ke dalam (situasi → emosi)
- Bersyukur bergerak dari dalam ke luar (kesadaran → cara melihat situasi)
Masalah muncul ketika seseorang mencoba memaksakan bersyukur sebagai cara untuk merasa senang.
Seperti berkata pada diri sendiri,
“Aku harusnya bahagia. Lihat, hidupku tidak seburuk itu.”
Namun yang terjadi justru sebaliknya—
muncul rasa bersalah karena tidak merasa cukup bahagia.
Ada seseorang yang terus mencoba “bersyukur” dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih sulit.
Namun alih-alih merasa ringan, ia justru merasa tertekan.
Karena bersyukur yang dipaksakan sering kali berubah menjadi penyangkalan terhadap perasaan sendiri.
Bersyukur tidak berarti menolak kesedihan.
Ia hanya berarti tidak menutup mata terhadap hal-hal yang masih bernilai.
Ketika bersyukur hadir tanpa rasa senang
Ada momen dalam hidup yang tidak akan pernah terasa menyenangkan.
Kehilangan.
Kegagalan.
Kekecewaan yang dalam.
Namun di beberapa momen itu, bersyukur masih bisa hadir—
meskipun dalam bentuk yang sangat sunyi.
Bukan bersyukur karena kejadian itu,
tetapi bersyukur karena masih ada sesuatu yang tersisa:
- orang yang tetap tinggal
- kekuatan yang tidak disangka
- atau sekadar kemampuan untuk tetap bertahan
Dalam penelitian tentang post-traumatic growth (Tedeschi & Calhoun), ditemukan bahwa setelah mengalami peristiwa sulit, sebagian orang justru mengembangkan apresiasi yang lebih dalam terhadap hidup.
Bukan karena hidup mereka menjadi lebih mudah,
tetapi karena mereka melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Ada jenis syukur yang tidak membuat tersenyum…
tetapi membuat seseorang tetap berdiri.
Ketika merasa senang tidak membutuhkan syukur
Sebaliknya, merasa senang tidak selalu membutuhkan refleksi atau kesadaran mendalam.
Ia bisa hadir begitu saja.
Seorang anak kecil tertawa bukan karena ia bersyukur.
Ia tertawa karena ia mengalami sesuatu yang menyenangkan.
Ini penting, karena sering kali orang dewasa kehilangan kemampuan ini.
Mereka terlalu sibuk mengevaluasi:
- apakah ini cukup baik
- apakah ini pantas disyukuri
- apakah ini sesuai dengan harapan
Sehingga momen sederhana yang sebenarnya bisa dinikmati…
justru terlewat.
Dalam konsep savoring (Bryant & Veroff), kemampuan untuk menikmati pengalaman positif adalah keterampilan tersendiri.
Dan menariknya, ini tidak selalu otomatis.
Ada seseorang yang memiliki kebiasaan mengkritik dirinya bahkan dalam momen bahagia.
Ketika sesuatu berjalan baik, ia justru berpikir,
“Ini tidak akan bertahan lama.”
Dan perlahan, rasa senang itu menghilang.
Merasa senang membutuhkan kehadiran penuh.
Sementara bersyukur membutuhkan kesadaran yang lebih luas.
Mana yang lebih penting?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak hitam-putih.
Karena keduanya memiliki peran yang berbeda.
Merasa senang memberi warna pada hidup.
Ia membuat hidup terasa hidup.
Tanpa rasa senang, hidup bisa terasa datar, bahkan kosong.
Namun bersyukur memberi kedalaman.
Ia membuat hidup tetap memiliki makna, bahkan ketika warna itu memudar.
Ada seseorang yang hidupnya penuh dengan momen menyenangkan,
namun ketika menghadapi kesulitan, ia merasa hancur.
Karena ia terbiasa hidup dalam kondisi yang menyenangkan,
bukan dalam kesadaran yang stabil.
Di sisi lain, ada seseorang yang jarang merasakan kebahagiaan yang besar,
namun ia memiliki ketenangan yang tidak mudah goyah.
Karena ia memiliki cara melihat hidup yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan.
Jika harus memilih, bersyukur lebih mendasar.
Karena ia tetap bisa hadir bahkan ketika rasa senang tidak ada.
Namun hidup yang hanya berisi syukur tanpa rasa senang…
juga bisa terasa kering.
Ketika keduanya mulai berjalan bersama
Ada fase di mana seseorang tidak lagi melihat bersyukur sebagai kewajiban,
dan tidak lagi mengejar rasa senang sebagai tujuan utama.
Di titik itu, keduanya mulai berjalan berdampingan.
Seseorang bisa merasa sedih, tetapi tetap bersyukur.
Seseorang bisa merasa senang, tanpa harus menganalisisnya.
Tidak ada lagi tekanan untuk selalu bahagia.
Tidak ada juga keharusan untuk selalu kuat.
Yang ada hanyalah hubungan yang lebih jujur dengan hidup.
Dalam penelitian Barbara Fredrickson tentang broaden-and-build theory, emosi positif seperti rasa senang dapat memperluas cara berpikir dan memperkuat sumber daya psikologis.
Namun emosi positif yang berkelanjutan sering kali tidak muncul dari mengejar kesenangan itu sendiri,
melainkan dari fondasi yang lebih dalam—termasuk rasa syukur.
Syukur memberi akar.
Kesenangan memberi bunga.
Dan hidup yang utuh membutuhkan keduanya.
Referensi
- Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens. Journal of Personality and Social Psychology.
- Bryant, F. B., & Veroff, J. (2007). Savoring: A New Model of Positive Experience.
- Fredrickson, B. L. (2001). The Role of Positive Emotions in Positive Psychology. American Psychologist.
- Neff, K. (2011). Self-Compassion.
- Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic Growth. Psychological Inquiry.
Mungkin pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi kita cukup alasan untuk merasa senang.
Namun sering kali, ia masih menyisakan cukup hal untuk disyukuri.
Dan di antara keduanya—
antara rasa yang datang dan pergi, dan kesadaran yang lebih tenang—
ada ruang di mana seseorang tidak lagi bertanya,
“Apakah aku cukup bahagia?”
tetapi mulai menyadari sesuatu yang lebih sunyi:
bahwa bahkan dalam hidup yang tidak sempurna,
ia masih bisa menemukan cara untuk tidak sepenuhnya kehilangan makna.