Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Apa perbedaan antara bersyukur dan merasa senang dengan apa yang kita miliki saat ini ? Mana yang lebih penting dan mengapa?

Anonymous 2 years ago Resolved

Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/duniais1/dictio.id/wp-includes/kses.php on line 2025
30

Pernahkah kamu merasa bahagia saat melihat saldo rekening bertambah, kemudian berkata, “Aku bersyukur banget”? Atau ketika kamu duduk di beranda rumah sambil menyeruput teh, merasa damai dan puas, lalu mengira itu adalah rasa syukur? Banyak dari kita secara refleks menganggap rasa senang terhadap apa yang kita miliki sebagai bentuk syukur. Namun, benarkah keduanya adalah hal yang sama?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya membuka banyak pintu untuk memahami bagaimana manusia memaknai hidup, kebahagiaan, dan kesadaran akan dirinya. Untuk menjawabnya, kita perlu menyelami lebih dalam apa itu “rasa senang” dan apa itu “rasa syukur,” lalu melihat di mana keduanya bersinggungan, berbeda, bahkan mungkin bertabrakan. Dan lebih dari itu, kita akan mengupas: mana yang lebih penting dalam menjalani hidup yang sehat secara emosional?

Mengenali Rasa Senang: Emosi yang Ringan dan Cepat Berlalu

Rasa senang adalah emosi yang alami dan sangat manusiawi. Ia muncul ketika kebutuhan atau keinginan kita terpenuhi, saat ekspektasi kita selaras dengan kenyataan. Senang bisa hadir ketika kita mendapatkan kabar baik, bertemu seseorang yang kita cintai, atau sesederhana menikmati makanan favorit.

Paul Ekman, seorang psikolog yang dikenal karena karyanya dalam bidang emosi dasar manusia, menyebutkan bahwa kesenangan atau joy adalah salah satu dari emosi universal yang dikenali oleh semua budaya. Ini adalah respons biologis terhadap stimulus yang dianggap menyenangkan.

Namun, rasa senang memiliki karakteristik yang penting untuk dicermati: ia bersifat sementara. Kesenangan bisa sangat intens, tapi jarang bertahan lama. Dalam hitungan menit atau jam, emosi itu bisa lenyap tergantikan oleh perasaan lain—cemas, bosan, kecewa, atau bahkan hampa.

Martin Seligman, pelopor dalam bidang psikologi positif, menyebutkan dalam bukunya Authentic Happiness bahwa kesenangan (pleasure) adalah salah satu dari tiga komponen kebahagiaan. Namun, ini adalah komponen yang paling dangkal dan paling cepat memudar. Seligman bahkan menekankan bahwa jika seseorang hanya mengejar rasa senang, ia sedang berada dalam lintasan kebahagiaan yang rapuh dan tidak stabil.

Memahami Syukur: Kesadaran, Ketenangan, dan Koneksi

Syukur, berbeda dari rasa senang, bukanlah emosi sementara. Ia adalah bentuk kesadaran mendalam terhadap kebaikan—baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar. Bersyukur bukan sekadar merasa bahagia karena sesuatu, tetapi mengakui nilai dari sesuatu tersebut, bahkan jika itu tidak sesuai harapan.

Robert Emmons, salah satu peneliti terkemuka dalam studi tentang gratitude, menggambarkan syukur sebagai dua hal: pertama, pengakuan bahwa ada kebaikan dalam hidup; dan kedua, kesadaran bahwa sumber dari kebaikan itu—setidaknya sebagian—berasal dari luar diri kita.

Dengan kata lain, syukur mengandung unsur relasional. Kita merasa diberi, bukan hanya mendapatkan. Dan karena itu, syukur seringkali menghasilkan emosi yang lebih stabil, lebih mendalam, dan lebih transformatif.

Syukur tidak selalu identik dengan rasa senang. Kita bisa bersyukur bahkan dalam duka. Contohnya, seseorang yang kehilangan orang tua bisa tetap merasakan syukur atas waktu yang pernah mereka lalui bersama, atas pelajaran hidup yang ditinggalkan. Ini adalah bentuk kesadaran spiritual dan emosional yang tidak bisa dijangkau oleh rasa senang biasa.

Titik Persilangan dan Perbedaan Mendasar

Secara praktis, rasa senang dan syukur sering hadir bersamaan. Saat kita mendapat kejutan ulang tahun dari sahabat, kita merasa senang dan bersyukur. Namun, tetap penting untuk menyadari bahwa keduanya bukanlah sinonim.

Rasa senang adalah reaksi emosional spontan terhadap hal yang menyenangkan. Ia bergantung pada kondisi eksternal.

Syukur adalah kondisi mental dan spiritual yang tumbuh dari refleksi dan kesadaran akan makna. Ia bisa bertahan meski tidak ada hal menyenangkan secara kasat mata.

Bayangkan seseorang yang berjalan di tengah hujan. Kalau ia merasa senang karena hujan membuat udara sejuk, itu adalah rasa senang. Tapi jika ia mampu berkata dalam hati, “Terima kasih ya Allah, atas kesempatan hidup hari ini walaupun hujan,” itu adalah bentuk syukur.

Mana yang Lebih Penting?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban mutlak. Tapi jika kita berbicara tentang keberlanjutan emosional, keseimbangan batin, dan ketahanan jiwa dalam menghadapi kehidupan yang tidak pasti, maka syukur jauh lebih penting dan mendasar.

Dalam studi longitudinal yang dilakukan oleh Emmons dan McCullough, ditemukan bahwa orang yang secara rutin menuliskan hal-hal yang mereka syukuri mengalami peningkatan kesejahteraan psikologis, tidur lebih nyenyak, merasa lebih optimis, dan memiliki hubungan sosial yang lebih baik. Ini bukan sekadar efek emosional sesaat, tapi perubahan pola pikir yang mengubah persepsi dan sikap terhadap hidup.

Sementara itu, mengejar rasa senang tanpa dasar syukur justru bisa menciptakan lingkaran tak berujung dari ketidakpuasan. Ketika kesenangan itu hilang, kita akan mencari yang baru, lalu yang lebih banyak, lalu yang lebih ekstrem. Inilah yang disebut oleh psikolog sebagai hedonic treadmill, di mana manusia terus berlari mengejar kebahagiaan tanpa pernah merasa cukup.

Syukur memotong treadmill itu. Ia tidak menuntut lebih banyak, tapi mengajarkan kita untuk menyadari bahwa cukup itu bukan jumlah, tapi sikap.

Syukur dalam Perspektif Psikologi Positif

Dalam kerangka psikologi positif, syukur ditempatkan sebagai kekuatan karakter (character strength) yang penting. Dalam klasifikasi VIA (Values in Action), syukur termasuk dalam kategori transcendence, yakni kekuatan yang membantu individu terhubung dengan makna yang lebih tinggi dan di luar dirinya.

Christopher Peterson dan Martin Seligman dalam bukunya Character Strengths and Virtues menjelaskan bahwa individu yang bersyukur cenderung memiliki pandangan hidup yang lebih optimis, lebih sehat secara emosional, dan lebih terhubung secara sosial.

Apa yang menarik, syukur bukan hanya efek samping dari kebahagiaan—ia bisa menjadi penyebabnya. Ini berarti, kita bisa melatih rasa syukur, bahkan ketika tidak sedang merasa bahagia. Dan latihan ini, jika dilakukan terus-menerus, akan memperkuat fondasi batin kita terhadap tekanan hidup.

Melatih Syukur Tanpa Menunggu Bahagia

Syukur, karena ia adalah sikap, bisa dilatih dan dipelihara. Salah satu metode paling efektif yang diajukan oleh para psikolog adalah journaling. Cukup dengan menulis tiga hal yang kita syukuri setiap hari—apapun itu. Mungkin hanya secangkir kopi hangat, tawa anak, atau nafas yang masih bisa kita tarik pagi ini.

Di sisi lain, kita juga bisa melatih syukur lewat mindfulness, yakni menyadari kehadiran momen sekarang tanpa menghakimi. Ketika kita benar-benar hadir, kita lebih mudah melihat detail kebaikan yang selama ini terlewat. Syukur tidak datang dari hal-hal besar saja, tapi dari kemampuan kita menyadari hal-hal kecil yang penuh makna.

Dalam buku The How of Happiness karya Sonja Lyubomirsky, disebutkan bahwa latihan syukur adalah salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan kebahagiaan jangka panjang. Dan yang lebih penting, ia melindungi kita dari penyakit hati seperti iri, marah, dan frustrasi.

Penutup: Belajar Membedakan Agar Bisa Memilih

Rasa senang adalah bumbu dalam kehidupan, tapi syukur adalah pondasi. Kita butuh keduanya, tapi tidak dalam proporsi yang sama. Jangan tertipu oleh kesenangan yang datang dan pergi, lalu merasa kehilangan makna ketika ia memudar. Bangunlah rumah hati di atas fondasi syukur—karena di sanalah kita bisa berteduh dari badai kehidupan, bukan sekadar berdansa di bawah sinar matahari.

Syukur tidak selalu membuat hidup kita lebih menyenangkan, tapi ia membuat kita lebih kuat, lebih damai, dan lebih utuh. Dalam dunia yang penuh perbandingan dan pencapaian, syukur mengajarkan kita satu pelajaran paling penting: hidup yang cukup bukanlah tentang memiliki segalanya, tapi tentang menyadari bahwa kita tidak kekurangan apa-apa.

Aku pernah duduk sendirian di kamar, memandangi langit-langit yang retaknya makin jelas. Udara pengap. Tagihan numpuk. Hati terasa sempit. Lalu aku berkata pelan pada diri sendiri, “Aku harus bersyukur.”

Tapi anehnya, setelah berkata begitu, aku tidak merasa lebih tenang. Tidak juga lebih bahagia. Justru ada rasa bersalah, seperti aku belum cukup baik karena tidak bisa merasakan syukur itu sebagaimana mestinya.

Dari situlah aku mulai menyadari:
Bersyukur dan merasa senang ternyata tidak selalu berjalan berdampingan.


Bersyukur adalah kesadaran batin yang dalam, semacam penerimaan penuh hormat pada hidup—meski tidak selalu menyenangkan.
Sedangkan merasa senang dengan apa yang kita miliki saat ini lebih ke arah emosi atau rasa puas yang muncul karena situasi terasa cukup atau sesuai harapan.

Contohnya begini:
Aku pernah berada dalam hubungan yang retak. Tidak ada lagi percakapan yang hangat. Tapi aku tetap bangun pagi, membuat teh, menyapu rumah, dan berkata dalam hati, “Terima kasih, Tuhan… aku masih diberi waktu.” Itu bukan karena aku senang dengan keadaannya, tapi karena aku belajar menerima bahwa rasa sakit pun bisa punya tempat dalam hidup yang tetap layak dijalani.

Syukur itu tetap hidup meski hatimu tidak sedang bahagia. Ia seperti api kecil di malam yang dingin—cukup untuk bertahan, meski tidak membuatmu menari.


Jadi, mana yang lebih penting?

Menurutku, bersyukur lebih penting, karena rasa senang sifatnya fluktuatif. Ia datang dan pergi, tergantung banyak hal: gaji, cuaca, kabar dari orang tersayang, atau bahkan jumlah likes di media sosial.

Tapi syukur adalah akar.
Ia tidak tumbuh dari hal-hal yang menyenangkan, tapi dari keberanian untuk tetap tinggal di hidupmu sendiri, tanpa berharap ia harus selalu ideal dulu baru bisa kau hargai.

Dan anehnya, semakin dalam syukur itu, semakin mudah pula kita merasakan kebahagiaan yang sederhana. Bukan kebahagiaan yang meledak-ledak, tapi yang tenang dan tidak menuntut banyak.


Maka kalau hari ini kamu tidak sedang merasa senang, tidak apa-apa.
Jangan paksa dirimu tertawa.
Mungkin cukup duduk sebentar, dan berkata dengan jujur:
“Aku tidak bahagia sekarang. Tapi aku masih di sini. Dan itu pun layak disyukuri.”


“Kebahagiaan adalah bunga, tumbuh dari akar syukur yang tersembunyi di dalam tanah. Tak selalu mekar setiap hari, tapi akarnya setia menopangmu untuk tetap hidup—meski tak ada yang melihat.”

Semoga suatu hari nanti, saat semuanya terasa sunyi, kamu menemukan satu momen kecil… dan mengakuinya sebagai berkah. Itu sudah cukup. Itu sudah indah.

Ada satu momen yang sering terasa sangat tenang, tetapi juga membingungkan.

Ketika seseorang duduk diam, melihat hidupnya—apa yang ia punya, apa yang telah ia capai—lalu berkata dalam hati,
“Harusnya aku bersyukur.”

Namun anehnya, kalimat itu tidak selalu diikuti dengan rasa hangat.
Kadang justru terasa hampa.
Kadang bahkan terasa seperti kewajiban.

Di sisi lain, ada momen-momen kecil yang tidak direncanakan—
tertawa tanpa alasan jelas, menikmati secangkir minuman, atau sekadar merasa cukup…
dan di situ muncul rasa senang yang ringan, tanpa usaha.

Dua hal ini sering dianggap sama: bersyukur dan merasa senang.
Padahal, keduanya berasal dari tempat yang berbeda di dalam diri.

Dan memahami perbedaannya sering kali mengubah cara seseorang melihat hidupnya sendiri.


Bersyukur: sebuah sikap yang bisa hadir bahkan saat hati tidak ringan

Bersyukur sering dipahami sebagai “merasa bahagia dengan apa yang dimiliki”.

Namun dalam banyak pengalaman nyata, bersyukur tidak selalu terasa seperti kebahagiaan.

Ada seseorang yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya—
relasi yang retak, rencana yang tidak berjalan, bahkan rasa aman yang perlahan memudar.

Namun di tengah semua itu, ia masih bisa berkata,
“Aku masih punya sesuatu yang bisa kupegang.”

Kalimat itu tidak datang dari rasa senang.
Tidak juga dari perasaan puas.

Melainkan dari sebuah kesadaran:
bahwa di antara kekurangan, masih ada yang tersisa.

Dalam kajian gratitude oleh Robert Emmons dan Michael McCullough, bersyukur dipahami sebagai kemampuan untuk mengenali dan menghargai kebaikan yang ada dalam hidup, bahkan ketika hidup tidak sepenuhnya baik.

Artinya, bersyukur bukan kondisi emosional yang selalu menyenangkan.
Ia lebih dekat dengan cara seseorang memandang hidup.

Bersyukur adalah lensa.
Bukan suasana hati.


Merasa senang: pengalaman emosional yang datang dan pergi

Berbeda dengan itu, merasa senang adalah sesuatu yang jauh lebih spontan.

Ia bisa muncul karena hal sederhana:

  • makanan yang enak
  • percakapan yang hangat
  • kabar baik yang tidak diduga

Namun ia juga bisa hilang dengan cepat.

Dalam pendekatan psikologi emosi, perasaan senang termasuk dalam positive affect—emosi yang sifatnya fluktuatif, dipengaruhi oleh situasi, kondisi fisik, dan bahkan hal-hal kecil yang tidak disadari.

Ada seseorang yang memiliki banyak hal yang secara objektif “cukup”—
pekerjaan stabil, lingkungan yang baik, kehidupan yang relatif aman.

Namun ia sering merasa datar.
Tidak sedih, tetapi juga tidak benar-benar senang.

Dan di sisi lain, ada seseorang yang hidupnya penuh keterbatasan,
namun bisa tertawa dengan lepas dalam momen-momen kecil.

Ini menunjukkan satu hal penting:

Rasa senang tidak selalu berkaitan langsung dengan seberapa banyak yang kita miliki.
Ia lebih berkaitan dengan bagaimana kita mengalami momen.


Mengapa bersyukur dan merasa senang sering tertukar

Di permukaan, keduanya terlihat mirip.

Orang yang bersyukur sering tampak lebih tenang.
Orang yang merasa senang juga terlihat puas dengan hidupnya.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, arah keduanya berbeda.

  • Merasa senang bergerak dari luar ke dalam (situasi → emosi)
  • Bersyukur bergerak dari dalam ke luar (kesadaran → cara melihat situasi)

Masalah muncul ketika seseorang mencoba memaksakan bersyukur sebagai cara untuk merasa senang.

Seperti berkata pada diri sendiri,
“Aku harusnya bahagia. Lihat, hidupku tidak seburuk itu.”

Namun yang terjadi justru sebaliknya—
muncul rasa bersalah karena tidak merasa cukup bahagia.

Ada seseorang yang terus mencoba “bersyukur” dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih sulit.

Namun alih-alih merasa ringan, ia justru merasa tertekan.

Karena bersyukur yang dipaksakan sering kali berubah menjadi penyangkalan terhadap perasaan sendiri.

Bersyukur tidak berarti menolak kesedihan.
Ia hanya berarti tidak menutup mata terhadap hal-hal yang masih bernilai.


Ketika bersyukur hadir tanpa rasa senang

Ada momen dalam hidup yang tidak akan pernah terasa menyenangkan.

Kehilangan.
Kegagalan.
Kekecewaan yang dalam.

Namun di beberapa momen itu, bersyukur masih bisa hadir—
meskipun dalam bentuk yang sangat sunyi.

Bukan bersyukur karena kejadian itu,
tetapi bersyukur karena masih ada sesuatu yang tersisa:

  • orang yang tetap tinggal
  • kekuatan yang tidak disangka
  • atau sekadar kemampuan untuk tetap bertahan

Dalam penelitian tentang post-traumatic growth (Tedeschi & Calhoun), ditemukan bahwa setelah mengalami peristiwa sulit, sebagian orang justru mengembangkan apresiasi yang lebih dalam terhadap hidup.

Bukan karena hidup mereka menjadi lebih mudah,
tetapi karena mereka melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Ada jenis syukur yang tidak membuat tersenyum…
tetapi membuat seseorang tetap berdiri.


Ketika merasa senang tidak membutuhkan syukur

Sebaliknya, merasa senang tidak selalu membutuhkan refleksi atau kesadaran mendalam.

Ia bisa hadir begitu saja.

Seorang anak kecil tertawa bukan karena ia bersyukur.
Ia tertawa karena ia mengalami sesuatu yang menyenangkan.

Ini penting, karena sering kali orang dewasa kehilangan kemampuan ini.

Mereka terlalu sibuk mengevaluasi:

  • apakah ini cukup baik
  • apakah ini pantas disyukuri
  • apakah ini sesuai dengan harapan

Sehingga momen sederhana yang sebenarnya bisa dinikmati…
justru terlewat.

Dalam konsep savoring (Bryant & Veroff), kemampuan untuk menikmati pengalaman positif adalah keterampilan tersendiri.

Dan menariknya, ini tidak selalu otomatis.

Ada seseorang yang memiliki kebiasaan mengkritik dirinya bahkan dalam momen bahagia.

Ketika sesuatu berjalan baik, ia justru berpikir,
“Ini tidak akan bertahan lama.”

Dan perlahan, rasa senang itu menghilang.

Merasa senang membutuhkan kehadiran penuh.
Sementara bersyukur membutuhkan kesadaran yang lebih luas.


Mana yang lebih penting?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak hitam-putih.

Karena keduanya memiliki peran yang berbeda.

Merasa senang memberi warna pada hidup.
Ia membuat hidup terasa hidup.

Tanpa rasa senang, hidup bisa terasa datar, bahkan kosong.

Namun bersyukur memberi kedalaman.
Ia membuat hidup tetap memiliki makna, bahkan ketika warna itu memudar.

Ada seseorang yang hidupnya penuh dengan momen menyenangkan,
namun ketika menghadapi kesulitan, ia merasa hancur.

Karena ia terbiasa hidup dalam kondisi yang menyenangkan,
bukan dalam kesadaran yang stabil.

Di sisi lain, ada seseorang yang jarang merasakan kebahagiaan yang besar,
namun ia memiliki ketenangan yang tidak mudah goyah.

Karena ia memiliki cara melihat hidup yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan.

Jika harus memilih, bersyukur lebih mendasar.
Karena ia tetap bisa hadir bahkan ketika rasa senang tidak ada.

Namun hidup yang hanya berisi syukur tanpa rasa senang…
juga bisa terasa kering.


Ketika keduanya mulai berjalan bersama

Ada fase di mana seseorang tidak lagi melihat bersyukur sebagai kewajiban,
dan tidak lagi mengejar rasa senang sebagai tujuan utama.

Di titik itu, keduanya mulai berjalan berdampingan.

Seseorang bisa merasa sedih, tetapi tetap bersyukur.
Seseorang bisa merasa senang, tanpa harus menganalisisnya.

Tidak ada lagi tekanan untuk selalu bahagia.
Tidak ada juga keharusan untuk selalu kuat.

Yang ada hanyalah hubungan yang lebih jujur dengan hidup.

Dalam penelitian Barbara Fredrickson tentang broaden-and-build theory, emosi positif seperti rasa senang dapat memperluas cara berpikir dan memperkuat sumber daya psikologis.

Namun emosi positif yang berkelanjutan sering kali tidak muncul dari mengejar kesenangan itu sendiri,
melainkan dari fondasi yang lebih dalam—termasuk rasa syukur.

Syukur memberi akar.
Kesenangan memberi bunga.

Dan hidup yang utuh membutuhkan keduanya.


Referensi

  • Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens. Journal of Personality and Social Psychology.
  • Bryant, F. B., & Veroff, J. (2007). Savoring: A New Model of Positive Experience.
  • Fredrickson, B. L. (2001). The Role of Positive Emotions in Positive Psychology. American Psychologist.
  • Neff, K. (2011). Self-Compassion.
  • Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic Growth. Psychological Inquiry.

Mungkin pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi kita cukup alasan untuk merasa senang.

Namun sering kali, ia masih menyisakan cukup hal untuk disyukuri.

Dan di antara keduanya—
antara rasa yang datang dan pergi, dan kesadaran yang lebih tenang—

ada ruang di mana seseorang tidak lagi bertanya,
“Apakah aku cukup bahagia?”

tetapi mulai menyadari sesuatu yang lebih sunyi:

bahwa bahkan dalam hidup yang tidak sempurna,
ia masih bisa menemukan cara untuk tidak sepenuhnya kehilangan makna.

Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi ketika membicarakan kehidupan yang “cukup”: orang menganggap bahwa bersyukur dan merasa senang adalah hal yang sama.

Padahal, jika dilihat lebih dalam, keduanya bisa berjalan bersama—tetapi juga bisa berdiri sendiri, bahkan saling bertentangan.

Saya pernah mengenal seseorang yang hidupnya terlihat sangat baik. Ia memiliki pekerjaan yang stabil, keluarga yang utuh, dan tidak kekurangan secara materi. Ia sering mengatakan bahwa ia bersyukur atas hidupnya.

Namun di satu kesempatan yang lebih tenang, ia berkata, “Aku tahu aku harus bersyukur… tapi aku tidak merasa bahagia.”

Kalimat itu tidak terdengar dramatis, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Karena bersyukur dan merasa senang ternyata bukan dua hal yang selalu datang bersamaan.


Bersyukur: Sebuah Sikap yang Melampaui Perasaan

Bersyukur sering kali dipahami sebagai perasaan positif. Namun secara lebih mendalam, bersyukur sebenarnya adalah sebuah sikap mental—cara seseorang memaknai apa yang ia miliki, terlepas dari bagaimana perasaannya saat itu.

Dalam banyak penelitian, gratitude tidak selalu identik dengan kebahagiaan yang intens. Ia lebih berkaitan dengan kemampuan untuk:

  • Mengakui hal-hal yang bernilai dalam hidup
  • Menyadari bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk tetap berarti
  • Melihat apa yang ada, bukan hanya apa yang kurang

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang sedang berada dalam masa sulit. Ia kehilangan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Namun ia tetap mengatakan bahwa ia bersyukur.

Bukan karena ia merasa senang. Justru sebaliknya—ia merasa sedih, lelah, bahkan hampa.

Namun di tengah semua itu, ia masih bisa melihat bahwa hidupnya belum sepenuhnya hilang.

Di titik ini, bersyukur bukan lagi emosi, tetapi pilihan cara melihat.


Merasa Senang: Respons Emosional yang Lebih Dinamis

Berbeda dengan bersyukur, merasa senang adalah pengalaman emosional yang lebih fluktuatif.

Ia sangat dipengaruhi oleh:

  • Kondisi saat ini
  • Lingkungan
  • Hormon dan sistem saraf
  • Pengalaman langsung

Dari sudut pandang neurobiologi, perasaan senang sangat terkait dengan sistem dopamin dan reward di otak (Berridge & Kringelbach, 2015). Artinya, ia sering muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang dianggap menyenangkan atau memuaskan.

Namun ada satu karakteristik penting dari perasaan ini: ia tidak bertahan lama.

Fenomena hedonic adaptation menunjukkan bahwa manusia cenderung kembali ke baseline emosional setelah mengalami hal-hal yang menyenangkan (Brickman & Campbell, 1971).

Itulah mengapa sesuatu yang dulu membuat kita sangat senang, lama-lama terasa biasa saja.


Ketika Bersyukur Ada, Tapi Kesenangan Tidak

Ada fase dalam hidup di mana seseorang bisa tetap bersyukur, tetapi tidak merasa senang.

Ini sering terjadi pada orang-orang yang sedang lelah secara emosional.

Saya pernah mengenal seseorang yang menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Ia tetap menjalankan perannya dengan baik, tetap menghargai apa yang ia miliki, dan tidak kehilangan rasa syukur.

Namun ia tidak lagi merasakan kegembiraan seperti dulu.

Ketika ditanya, ia berkata, “Aku tidak merasa buruk. Tapi aku juga tidak merasa hidup.”

Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi bukan hilangnya rasa syukur, tetapi menurunnya kapasitas otak untuk merasakan kesenangan—yang dalam beberapa kasus berkaitan dengan kondisi seperti anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan).

Ini menunjukkan bahwa bersyukur tidak selalu cukup untuk membuat seseorang merasa bahagia.


Ketika Senang Ada, Tapi Bersyukur Tidak

Sebaliknya, ada juga orang yang sering merasa senang, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Mereka bisa menikmati banyak hal:

  • Pencapaian
  • Hiburan
  • Pengalaman baru

Namun setelah itu, selalu ada rasa kurang.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang memiliki banyak hal yang ia inginkan. Ia sering merasa senang—bahkan sangat senang—ketika mendapatkan sesuatu.

Namun setelah itu, ia segera mencari hal berikutnya.

Ketika ditanya apakah ia merasa cukup, ia terdiam.

Karena kesenangan tanpa rasa syukur sering kali berubah menjadi siklus yang tidak pernah selesai.


Perbedaan Inti: Stabilitas vs Fluktuasi

Jika disederhanakan, perbedaan antara keduanya terletak pada sifatnya:

  • Bersyukur → lebih stabil, lebih kognitif, lebih dalam
  • Merasa senang → lebih fluktuatif, lebih emosional, lebih cepat berubah

Bersyukur bisa tetap ada bahkan ketika emosi sedang tidak baik.
Sementara merasa senang sangat bergantung pada kondisi saat itu.

Bersyukur adalah fondasi. Merasa senang adalah gelombang di atasnya.


Mana yang Lebih Penting?

Pertanyaan ini sering muncul: mana yang lebih penting?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.

Namun jika harus melihat dari sisi ketahanan mental, bersyukur memiliki peran yang lebih mendasar.

Mengapa?

Karena bersyukur memberikan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh perasaan senang: stabilitas.

Dalam kondisi hidup yang tidak selalu bisa diprediksi, perasaan senang akan naik turun. Tidak mungkin seseorang merasa bahagia sepanjang waktu.

Namun kemampuan untuk tetap melihat nilai dalam hidup—bahkan ketika keadaan tidak ideal—memberikan dasar yang lebih kuat untuk bertahan.

Penelitian dalam bidang kesehatan mental menunjukkan bahwa praktik gratitude berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis dan penurunan gejala depresi (Emmons & McCullough, 2003).

Artinya, bersyukur bukan sekadar sikap moral, tetapi juga mekanisme psikologis yang membantu seseorang tetap bertahan.


Namun Bersyukur Bukan Pengganti Kebahagiaan

Meskipun bersyukur penting, ada satu hal yang perlu diingat: ia bukan pengganti dari kebutuhan emosional manusia.

Saya pernah mengenal seseorang yang terus memaksa dirinya untuk bersyukur. Setiap kali ia merasa sedih atau tidak puas, ia segera mengingatkan dirinya bahwa ia harus bersyukur.

Namun alih-alih merasa lebih baik, ia justru semakin tertekan.

Karena yang ia lakukan bukan bersyukur, tetapi menekan emosinya.

Bersyukur yang sehat tidak meniadakan perasaan lain. Ia justru berjalan berdampingan dengan kejujuran emosional.


Mengintegrasikan Keduanya

Kehidupan yang lebih utuh bukanlah tentang memilih antara bersyukur atau merasa senang, tetapi tentang bagaimana keduanya bisa hadir dengan seimbang.

Ada momen untuk menikmati kebahagiaan secara penuh.
Ada juga momen untuk tetap bersyukur meskipun tidak merasa bahagia.

Saya pernah berbincang dengan seseorang yang akhirnya menemukan keseimbangan ini. Ia berkata, “Sekarang aku tidak lagi memaksa diri untuk selalu bahagia. Tapi aku juga tidak kehilangan rasa syukur.”

Di titik itu, hidupnya tidak selalu terasa menyenangkan, tetapi terasa lebih nyata.

Dan mungkin, di situlah bentuk kesejahteraan yang lebih dalam—bukan kehidupan yang selalu terasa baik, tetapi kehidupan yang tetap bisa diterima, bahkan ketika tidak sempurna.


Refleksi yang Lebih Sunyi

Jika dipikirkan lebih jauh, mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang mana yang lebih penting antara bersyukur dan merasa senang.

Karena keduanya memiliki tempatnya masing-masing dalam kehidupan manusia.

Namun ada satu hal yang lebih mendasar dari keduanya:

apakah kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri—cukup jujur untuk merasakan apa yang ada, dan cukup sadar untuk melihat apa yang masih layak disyukuri, tanpa harus memaksa salah satunya menghilangkan yang lain?


Referensi

  • Berridge, K. C., & Kringelbach, M. L. (2015). Pleasure systems in the brain. Neuron.
  • Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders.
  • Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society.
  • Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens. Journal of Personality and Social Psychology.
  • Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don’t Get Ulcers.
  • Siegel, D. J. (2010). The Mindful Brain.